
Reina menatap bingung dan juga sedih kepergian Hansen. Ada apa dengan pria itu ? Bukankah sebelumnya mereka masih baik baik saja.
Bukan hanya Reina yang merasa aneh dengan tingkah Hansen. Gabriel dan Jack sedari awal sudah merasa ada yang aneh pun langsung menghentikan acara makan mereka. Selera makan mereka menghilang begitu saja melihat Hansen yang berbeda dari biasanya.
Gabriel menusuk nusuk lengan Reina dengan jari telunjuknya hingga membuat gadis itu menoleh menatapnya. " Dia kenapa ?"
" Kenapa kau bertanya kepadaku ? Aku baru saja pulang. Seharusnya aku yang bertanya begitu kepadamu. Kau apakan kesayanganku sampai dia acuh seperti itu ?" Reina balik bertanya karena merasa kesal mendapatkan pertanyaan dari Gabriel yang seakan akan ia mengetahui segalanya.
Gabriel tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Kemudian menoleh menatap Jack yang ternyata juga tengah menatapnya. Mereka saling menatap satu sama lain seakan mereka tengah berbicara lewat pandangan mata.
Merasa tidak mendapatkan jawaban Jack mengangkat bahunya acuh. Sedangkan Gabriel memutar mata malas. Kalau sudah begini hanya Hansen sendiri yang bisa menjawabnya.
Hansen datang membawa sebotol minuman dingin. Ia duduk kembali ditematnya dan meletakkan minumnya di atas meja. Dengan acuh Hansen melanjutkan makannya yang sudah hampir habis.
Reina, Gabriel, dan juga Jack memandang Hansen dengan tatapan yang berbeda. Meski di dalam hati dan pikiran mereka sama yaitu ada apa dengan Hansen hari ini ?.
" Apa ?" Hansen menatap Reina, Gabriel, dan Jack bergantian. Dirinya susah tidak tahan lagi dijadikan objek pandangan mereka.
" Kau kenapa ?" Gabriel yang pertama bertanya.
Hansen meneguk minumnya sampai habis dan meremas botol minum itu agar mudah dibuang.
" Aku kenapa memangnya ?" tanyanya balik. Hansen beranjak membuang bekas makannya ke tempat sampah.
" Kau terlihat aneh hari ini." jawab Jack yang diikuti anggukan setuju dari Gabriel.
Hansen kembali duduk dan menatap Jack. " Manurutmu saja."
Jawaban singkat dari Hansen membuat ruangan itu menjadi hening. Mereka tidak tahu harus berbicara apa lagi untuk mencairkan suasana yang canggung ini.
" Hans." Reina memanggil pria kesayangannya itu. " Kau baik baik saja ?" lanjutnya bertanya.
Hansen mengangkat sebelah alisnya dan menatap Reina penuh tanya. " Ya."
" Hm.., apa kau kesal karena sesuatu ?" tanya Reina lagi.
" Tidak." balas Hansen singkat.
__ADS_1
Gabriel dan Jack menghela napas frustasi. Dari cara Hansen yang berbicara singkat saja mereka sudah tahu kalau Hansen itu ada yang bermasalah hari ini.
" Tapi..."
" Sebenar apa yang ingin kau bicarakan ? Aku tidak memiliki banyak waktu karena kerjaanku menunggu." Hansen berucap cepat memotong ucapan Reina. Ia melihat gadis itu tersentak kaget dan juga sedih mendengar ucapannya barusan. Tapi inilah pilihannya, salahkan saja Reina yang membuatnya kesal dan juga menyesal. Menyesal kenapa hatinya lebih memilih Reina dibanding Monica yang dulu jelas jelas selalu ada untuknya.
" Ehem !" Gabriel berdehem kencang hingga menarik tiga pasang mata menatapnya. Berpura pura tidak melihat Gabriel menatap Jack yang duduk di sebelahnya.
" Jack kau janji mengganti kaos kakiku kemarin kan ?"
Jack terperangah lalu mengedipkan matanya beberapa kali mendengar pertanyaan bodoh dari Gabriel. Kapan ia mengusik kaos kaki bosnya kalau bosnya saja tidak pernah melepas sepatunya setiap berada di kantor.
" Jack." Gabriel tersenyum memanggil Jack namun matanya menata penuh ancaman pada asistennya itu.
" A..ah iya, maaf bos aku hampir lupa." lebih tepatnya Jack tidak tahu apa apa sebenarnya. Bosnya ini mencari alasan kenapa aneh seperti itu.
Gabriel berdiri lalu menarik kerah baju Jack. " Kami ada keperluan, kami duluan ya." setelah itu Gabriel berjalan keluar dari ruangannya.
.
.
Reina menatap Hansen di depannya. " Kau ada masalah ?"
" Tidak." jawab Hansen.
" Apa masalahmu ?" tanya Reina lagi.
" Aku bilang aku tidak memiliki masalah."
" Dengan wajah kesal dan juga ucapan singkatmu kau bilang tidak ada masalah ? Siapa yang mau kau coba bohongi disini Hans ?"
Hansen menatap Reina dalam diam. Wajahnya mungkin bisa menipu tapi Reina bisa melihat ada kekecewaan di binar manik hitam itu.
" Aku menyukaimu dan kau pun tahu itu. Jika kau ada masalah yang berhubungan denganku tolong bilang saja. Jangan mengacuhkanku seperti ini." ucap Reina.
" Tidak ada masalah denganmu. Jika aku menghindarimu aku tidak akan mau makan siang satu ruangan denganmu." balas Hansen yang membuat Reina mulai merasa kesal.
__ADS_1
" Tapi aku merasakan kau menghindariku Hans. Apa kau risih dengan caraku mendekatimu ?"
Hansen menggeleng pelan. " Selama kau tidak menarik traumaku. Aku tidak masalah dengan itu."
" Lalu kenapa kau menolak saat aku ingin mengambilkanmu makan dan minum tadi ?"
" Aku belum terbiasa dengan itu."
Reina mencoba memahami Hansen kali ini. " Baiklah, aku akan lebih memahamimu."
Hansen menatap jam di pergelangan tangannya. " Jam istirahat sudah hampir selesai. Aku harus kembali bekerja, terima kasih makan siangnya."
Hansen beranjak pergi dari ruangan Gabriel. Namun langkahnya berhenti tepat di depan pintu. Tanpa menoleh ke belakang Hansen memanggil Reina. " Rein jika aku menyukai sesuatu, aku tidak suka berbagi meski itu hal kecil sekalipun."
Reina tertegun mendengarnya. Ia hanya bisa menatap kepergian Hansen dari ruangan Gabriel.
" Begitu juga denganku Hans." gumamnya.
Hansen berjalan menuju ruangannya dengan kepala berpikir keras. Reina, Reina, dan Reina, sejak kapan nama itu terus teringat olehnya. Bersamanya Hansen menemukan hal yang tidak pernah ia temukan pada Monica. Tetapi Hansen melupakan kenakalan Reina yang sudah menjadi rahasia umum di negara ini, dia memiliki banyak kekasih.
Disini Hansen yang salah, bukan Reina. Meski Reina menyukainya bukan berarti ia menjadi satu satunya.
Hansen duduk di kursi kerjanya lalu mengambil ponselnya menghubungi Mintaka.
" Kau sudah melakukan apa yang kuminta tadi ?" tanya Hansen setelah panggilannya tersambung.
" Ya, kau bisa melihatnya dikiriman email. Aku sudah mengirimnya delapan menit yang lalu."
Hansen langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Diletakkan ponselnya lalu membuka komputernya untuk melihat kiriman email dari Mintaka.
" Jadi mereka satu panti asuhan yang sudah seperti saudara kandung ? Tapi mereka tidak memiliki ikatan darah apapun dan itu mustahil terjadi." Hansen berkomentar melihat data diri dari pria yang berpelukan dengan Reina seperti foto yang Bellatrix kirimkan kepadanya tadi pagi. Terakhir, Hansen melihat rekaman dari kejadian itu.
" Lihatlah, kau bahkan tersenyum manis kepadanya. Bagaimana ini ? Aku tidak menyukai hal yang orang lain dapatkan." Hansen menghapus kiriman email dari Mintaka dan mematikan komputernya.
" Hah !" Hansen menghela napas lalu bersandar di kursi kerjanya sambil menutup mata. Rasanya sulit sekali jika menyukai seseorang. Kalau tahu begini lebih baik Hansen tidak pernah menyukai siapapun.
Tapi bagaimana caranya kalau rasa itu datang sendiri tanpa ia minta ?.
__ADS_1