Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Reina Datang


__ADS_3

Reina tersenyum menatap bungkusan di tangannya. Kata Gabriel kemarin Hansen susah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Karena itu Reina memasakkan makanan kesukaan Hansen yaitu asam udang. Dari mana ia tahu ? Itu semua tentu saja dari Gabriel. Reina memaksanya untuk memberitahu apa saja yang disukai Hansen dan apa yang tidak disukainya. Reina menekan bel pintu Apartemen Hansen beberapa kali.


CEKLEK !


" Kau benar benar datang ?" tanya Gabriel yang membukakan pintu untuk Reina.


" Tentu saja kerena pekerjaanku susah selesai."


Gabriel menggeser tubuhnya ke samping agar Reina bisa lebih mudah masuk ke dalam Apartemen. " Perhatian sekali." sindirnya.


" Tentu saja, namanya juga untuk pujaan hati." bakas Reina sambil berjalan masuk.


Gabriel bergidik geli mendengarnya. Dasar buaya wanita, kata katanya manis sekali namun terdengar menggelikan di telinganya. Tidak salah kalau Gabriel merasa Reina cocok dengan Hansen. Mereka terlihat benat benar seperti sepasang buaya darat.


Malas mendengarkan bualan Reina yang menggelikan. Gabriel berjalan ke kamar Hansen untuk memanggilnya. Tadi ia lihat Hansen sedang bersiap siap mau mandi. Sekarang mungkin dia sudah selesai mandinya. Gabriel membuka pintu kamar Hansen dan melihat pria itu sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


" Ada apa ?" tanya Hansen.


Melihat itu Gabriel merasa tembakkannya menang benar. " Reina datang."


" Sudah kau suruh masuk ?"


Gabriel berdecak mendengarnya. " Kalau dia tidak kusuruh masuk. Dia mau menunggu dimana ? Tidak mungkin kan dia menunggu di depan pintu Apartemen ini ?"


Hansen terkekeh geli dan meletakkan sisirnya keatas meja. Lalu berjalan keluar kamar melewati Gabriel. Namun sebelum itu Hansen menepuk pundak Gabriel beberapa kali. " Aku hanya mengetesmu saja." setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya menemui Reina.


Gabriel terperangah mendengarnya kemudia mendelik kesal. " Kau memang mengesalkan. Aku berdoa kau berjodoh dengan Reina agar kau tahu bagaimana rasanya menghadapi orang mengesalkan yang satu spesies denganmu !"


Hansen mengabaikan teriakkan Gabriel. Ia tersenyum saat tatapannya bertemu dengan manik indah milik Reina yang duduk di ruang tamu. Gadis itu pasti sedang menunggunya sekarang. Beruntung rasa kesalnya pada Reina sudah memudar. Kalau belum, mungkin Hansen tidak akan mau bertemu dengan gadis itu lagi.


Lagi pula itu hanya sebatas pelukan yang masih bisa Hansen terima. Namun kalau lebih dari itu seperti Hansen tidak akan menerimanya lagi. Mungkin bukan hanya ia saja yang seperti itu. Semua pria kalau melihat gadis yang dekat dan mengejar ngejarnya tapi berpelukkan atau berciuman dengan pria lain. Mereka pasti juga akan menjauh seperti apa yang akan Hansen lakukan.


" Hans kau sudah makan ?" Reina berdiri dari duduknya dan tersenyum manis menatap Hansen. Dalam keadaan luka seperti ini saja Hansen masih terlihat tampan di matanya.


Hansen menggeleng sekilas lalu duduk di samping Reina. " Aku mau membeli makanan tadi tapi aku ingin mandi dulu."

__ADS_1


Senyum di wajah cantik Reina semakin lebar. Itu tandanya Hansen belum makan malam. Reina mengambil bungkusan yang tadi di bawanya. " Aku memasakkan asam udang untukmu."


" Woah ! Benarkah ?"


" Ya." Reina memberikan bungkusan yang berisi masakannya itu.


Hansen mencium aroma dari masakan itu. Sangat harum dan masih hangat, pasti rasanya enak sekali. Hansen menjadi tidak sabar ingin cepat cepat mencicipi masakan Reina. " Terima kasih Rein."


" Kembali kasih Hans. Mau aku ambilkan piring ?" tawar Reina .


" Iya."


.


...*****...


.


" Tidak usah aku sudah membawanya." ucap Gabriel yang membawa piring, minuman dingin, dan sendok makan dari dapur.


Hansen melihat barang yang dibawa Gabriel lalu mengerutkan keningnya. " Kenapa banyak sekali ?"


" Tapikan Reina bilang dia memasakkan makanan ini untukku. Berarti hanya aku yang boleh memakannya kau tidak boleh."


Gabriel mendelik kesal mendengarnya. Setelah itu diletakkan piring, minuman dingin, dan sendok makan dengan sedikit kasar keatas meja hingga menimbulkan suara. Setelah itu Gabriel kembali ke dapur untuk menambil nasi tanpa berbicara apapun.


Sedangkan Hansen menatap bingung tingkah Gabriel. " Apa aku kelewatan ?" tanyanya pada Reina.


Reina menggelengkan kepalanya. " Aku rasa kalian sudah biasa seperti ini."


" Iya memang tapi kenapa dia seperti tersinggung sekali. Biasanya dia tidak apa apa apa meski aku menyindirnya sekalipun."


Gabriel datang membawa nasi. Ia duduk di sofa lalu meletakkannya di atas meja. Reina mengambilkan nasi untuk Gabriel dan Hansen tanpa diminta terlebih dahulu.


" Kau.., marah ?" Hansen menatap Gabriel ragu.

__ADS_1


Gabriel menggelengkan kepalanya.


" Tersinggung ?" tanya Hansen lagi.


Gabriel kembali menggelengkan kepalanya.


" Lalu kenapa kau diam seperti itu ? Biasanya juga kau itu banyak bicara seperti wanita. Kenapa sekarang kau diam saja ? Apa kau kerasukan setan bisu ? Tapi kau kan sejenis mereka. Apa..."


" Diam kau ! Aku lapar !" Gabriel berteriak frustasi. Menghadapi Hansen yang sudah kesifat jahilnya. Membuat Gabriel harus banyak banyak bersabar dan tentunya makan untuk menambah tenaga.


Reina tertawa melihat percakapan Hansen dan Gabriel yang bisa dibilang aneh. Meskipun begitu interaksi mereka terlihat lucu dan menggemaskan. " Kalian lucu tapi semoga saja tidak berjodoh karena Hansen hanya milikku."


" Dasar ! Kau sama dia sama saja." Gabriel menatap Reina sinis.


Hansen menonton perdebatan mereka sambil berusaha menyuapkan makanan ke mulutnya. " Kalian cocok." komentarnya.


" Kau." Gabriel menunjuk tepat di depan wajah Hansen. " Dan dia itu yang cocok. Cocok karena sama sama menyebalkan." lanjutnya menunjuk kearah Reina.


" Aku memang cocok dengannya. Dia itu kan calon jodohku." Reina berucap tidak mau kalah.


" Ya terserah yang satu spesies. Aku yang manusia harus diam saja." ucap Gabriel.


" Kau manusia ? Manusia apa ? Manusia purba maksudmu ?" tanya Hansen dengan nada mengejek.


Gabriel melotot marah menatapnya. " Ucapkan sekali lagi aku pasti akan mencekikmu."


Hansen tersenyum polos tanpa dosa. Tangannya masih berusaha menyuap makanan dengan menggunakan sendok tetapi gagal. Karena udang di piringnya tidak mau masuk ke dalam sendoknya. Hanya sedikit nasi yang bisa masuk ke mulutnya dan itupun tanpa daging udang.


Kenapa pula ia harus sakit dan sulit untuk makan. Kenapa juga dirinya harus mendapatkan penyakit yang menyusahkan seperti sekarang. Mana ia harus makan dengan tangan satu lagi, dan kenapa juga udang di piringnya ini besar besar dan sulit untuk dipotong ?.


Hansen merasa tertekan di dalam batin. Bagaimana ia bisa menikmati daging udang di piringnya itu.


" Sini biar aku yang menyuapimu." Reina mengambil alih piring Hansen ke pangkuannya. Lalu memotong udang yang ada di piring menjadi beberapa bagian.


Hansen tersenyum senang mendengarnya dan dengan senang hati langsung membuka mulutnya menerima suapan dari Reina. " Kedatanganmu membuat perutku kenyang Rein."

__ADS_1


" Hanya itu ?" tanya Reina.


" Mungkin ada yang lain tapi aku tidak tahu apa itu."


__ADS_2