
Setelah menempuh perjalanan yang hampir satu jam lamanya. Akhirnya Klein bisa merasa lega saat melihat mobil yang dinaikinya perlahan mulai berhenti tepat di depan gerbang utama Mansion mewah milik sang Presiden.
Klein mengangguk sekilas pada supir sebelum berjalan keluar dari mobil mengikuti Jenderal Jin. Seiring langkahnya Klein mempersiapkan sebuah tanda pengenal berbentuk kartu berwarna gold di balik jasnya. Lalu menunjukkan tanda pengenal itu kepada dua penjaga pintu utama Mansion Presiden. Tetapi anehnya kedua penjaga itu malah terlihat bingung saat melihat kedatangannya bersama Jenderal Jin. Klein mengerutkan keningnya dan juga ikut menjadi bingung di balik wajah datarnya.
" Ada apa ?" tanya Jenderal Jin yang juga merasa aneh dengan respon yang diberikan kedua penjaga itu.
" Tuan bukankah anda tadi sudah masuk ke dalam ?" salah satu penjaga balik bertanya dengan wajah bingung.
" Apa yang kalian ucapakan ? Jenderal baru saja sampai ke sini." balas Klein.
" Maafkan kami wakil Jenderal. Tetapi kami benar benar melihat Jenderal datang sendiri dan menunjukkan tanda pengenalnya sebelum masuk." jelas penjaga yang lain.
Jenderal Jin mengangkat alisnya sebelah lalu menoleh memandang Klein yang ternyata juga tengah menatapnya. Sepertinya mereka sama sama merasakan ada hal ganjil di sini.
" Berapa orang yang telah masuk kemari hari ini ?" tanya Klein.
" Sekitar dua ratus lebih wakil Jenderal." jawab kedua penjaga itu.
" Dan apa kalian mengingat wajah mereka satu persatu beserta namanya ?" Klein bertanya kembali.
Kedua penjaga itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan itu.
" Lalu kenapa kalian bisa menyimpulkan Jenderal sudah datang tadi. Padahal jelas jelas Jenderal saat ini masih berdiri di depan kalian dan baru juga datang kemari hari ini." ucap Klein dengan suara tegasnya.
" Maafkan kami Jenderal, wakil Jenderal. Kami tidak akan mengulang kesalahan hari ini." kedua penjaga itu membungkuk meminta maaf sebelum membukakan pintu utama masuk ke dalan Mansion milik Presiden negara Z.
Jenderal Jin hanya menepuk pundak kedua penjaga itu sebelum masuk ke dalam Mansion diikuti Klein yang berjalan di belakangnya.
" Bukankah itu aneh Klein ?" tanya Jenderal Jin dengan pandangan mengarah ke depan.
__ADS_1
" Benar tuan." balas Klein.
Jenderal Jin merasa apa yang dikatakan dua penjaga itu adalah kebenaran. Mana mungkin mereka berani berbicara seperti itu tanpa ada bukti ataupun penyebabnya. Ditambah lagi mengingat pangkatnya di negara ini dan juga namanya yang dikenal sebagai teman baik Presiden mustahil dua penjaga tadi hanya iseng berkata seperti itu kepadanya.
Klein memandang punggung Jenderal Jin sambil menebak nebak siapa orang yang memiliki perawakan mirip seperti atasannya itu. Tubuh kokoh, tinggi, tegap, serta berkulit hitam juga suara Jenderal Jin yang khas dan sulit untuk ditiru. Klein rasa mustahil ada orang yang bisa menyerupai Jenderal Jin di negara ini. Tapi kedua penjaga itu juga tidak mungkin berbohong jika mereka memang tidak mengalaminya. Klein menjadi ragu dan juga bingung sekarang.
" Klein apa yang kau pikirkan tentang kejadian barusan ?" Jenderal Jin bertanya tiba tiba tanpa menghentikan langkahnya berjalan menuju ruang Presiden.
" Penyusup, meskipun saya masih ragu." Klein berucap pelan yang hanya bisa didengar oleh Jenderal Jin.
Jenderal Jin tersenyum simpul. Wakilnya memang orang yang teliti dan selalu berpikir kritis. " Waspadalah kalau itu memang benar kita akan menangkapnya."
" Baik Jenderal."
...*****...
" Berhentilah memasang ekspresi seperti itu Dekandra, Galiendro."
Dekandra terkekeh mendengarnya lalu menuangkan bir ke dalam gelas yang berisi es batu sebelum memberikannya kepada Jenderal Jin. Berbeda dengan Galiendro yang semakin melebarkan senyumannya.
" Bagaimana kabar putrimu yang cantik itu Jin ?" tanya Galiendro dengan senyuman yang menurut Jenderal Jin sangat menyebalkan.
" Tentunya dia akan semakin cantik. Aku sempat melihatnya di televisi tentang kasus yang tengah ditanganinya saat ini." ucap Dekandra yang dengan mudahnya menjawab pertanyaan Galiendro tanpa melihat wajah Jenderal Jin yang memerah menahan kesal.
KLEK !
Jenderal Jin tiba tiba beranjak berdiri dari tempat duduknya sambil menodongkan pistol tepat di depan kepala Dekandra. " Ucapkan sekali lagi maka kuhancurkan kepala kotormu itu."
" Wow ! Santai teman. Kau tahu aku hanya bercanda tadi." Dekandra mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
" Turunkan pistolmu Jin. Ini di Mansionku, kau tidak bisa mengangkat pistolmu seperti saat kau berada di medan perang Jin." ucap Galiendro.
" Presiden tua bangka yang tidak tahu diri. Berhentilah melihat putriku. Dan kau dokter tidak beretika berkacalah untuk melihat wajahmu sebelum kau berucap tentang putriku." Jenderal Jin menarik kembali pistolnya dari kepala Dekandra.
Galiendro hanya tertawa menghiraukan raut kesal yang terlihat jelas di wajah Jenderal Jin. Begitupula dengan Dekandra yang terkekeh sembari mengambil bir lalu meminumnya. Pria berpangkat Jenderal itu ternyata memiliki hati ibu singa, itulah pikiran Galiendro dan Dekandra.
" Kau harus belajar bergurau Jin. Banyak banyaklah bergaul bersama kami agar hidupmu tidak membosankan seperti itu." ucap Galiendro
Jenderal Jin berdecak mendengar ucapan Galiendro. " Kalau pengelihatanmu masih normal, kau pasti bisa melihatku selalu ada disetiap pertemuan membosankan ini."
" Dengan paksaan yang berujung hukuman untuk wakilmu ?" Dekandra ikut berbicara sambil melirik Klein yang berdiri tidak jauh di belakang Jenderal Jin.
" Itu urusanku." balas Jenderal Jin sebelum meminum habis birnya di dalam gelas dalam satu tegukan.
" Baiklah baiklah, sekarang mari kita makan dulu setelah itu kita berbicara." Galiendro menatap sekilas penjaganya memberi perintah.
" Ngomong ngomong aku belum mendengar George berbicara dari tadi." ucap Dekandra.
" Dia pasti sedang memikirkan bisnisnya saat ini. Beruntung dia tidak membawa berkas pekerjaannya di sini." Galiendro terkekeh mengingat George saat dulu mereka masih muda. Pria itu dulu selalu membawa buku kemanapun mereka pergi dan selalu melihat keuntungan disetiap kesempatan.
George menatap tajam Galiendro dan juga Dekandra bergantian. Dua pria yang tidak pernah berubah dan selalu mengabaikan usia sehingga saring kali lupa diri.
" Wow ! Tempatkan tatapanmu pada tempatnya kawan. Aku pemimpinmu, kau harus ingat itu." ucap Galiendro yang merasa tersinggung dengan tatapan George.
Tepat saat George mengalihkan pandangannya. Para pelayan masuk membawa makanan dan mulai mengaturnya dengan hati hati di meja makan. Saat itu juga Jenderal Jin mulai merasa waspada. Bisa saja penyusup itu menyamar sebagai pelayan ataupun pengawal di Mansion ini. Jenderal Jin menatap tajam para pelayan itu. Sampai tatapannya berhenti pada seorang pelayan berbadan tinggi yang tengah mengatur wine di meja makan.
" Kau yang mengatur wine, siapa kau ?" tanya Jenderal Jin.
Pelayan berbadan tinggi itu tersentak dan menoleh melihat kearah Jenderal Jin dengan tatapan ragu. " Saya..."
__ADS_1