
Hansen menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Tidak jauh dari tempatnya berdiri Gabriel tengah berbaring miring memperhatikannya.
" Aku perhatikan kau sering sekali mandi pagi akhir akhir ini Hans." ucap Gabriel.
Hansen menoleh sekilas. " Bukannya malah bagus biar tubuhku ini bertambah sehat ?"
" Tapi kalau paginya jam dua subuh seperti ini yang ada bukannya tubuhmu sehat malah penyakit yang mulai berkembang biak."
Hansen hanya tertawa lalu mengambil pakaiannya di dalam lemari dan membawanya ke kamar mandi.
" Hei ! Aku berbicara serius !" Gabriel berucap kesal karena melihat Hansen yang tidak menghiraukan ucapannya.
Hansen keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah diganti. Ia mendekati Gabriel dan ikut tiduran di atas ranjang. " Aku insomnia akhir akhir ini. Jadi satu satunya caranya agar aku bisa tertidur ya dengan olahraga lalu mandi. Dari pada aku meminum obat tidur kan ?"
" Kau mau ke dokter ?" Gabriel menjadi merasa khawatir. Insomnia bukanlah penyakit yang ringan. Efek sampingnya bisa mengganggu kinerja otak dan juga bisa menyebabkan seseorang mudah untuk mengalami depresi.
" Aku sudah ke sana tapi resep dokter tetap tidak berfungsi untukku. Karena itu aku sering olahraga sampai aku merasa lelah. Mandi dengan air dingin dan barulah aku bisa tidur nyenyak setelah itu."
Gabriel bergidik ngeri membayangkan kebiasaan tidur Hansen yang aneh. Olahraga dimalam hari lalu mandi dengan air dingin disaat musim dingin seperti ini. Baginya itu sama saja bunuh diri secara perlahan.
" Sudah jangan kau pikirkan. Aku mengantuk sekarang. Kau kalau masih mau di kamarku terserah tapi kalau tidak segeralah pergi dari sini."
" Aku mau ke kamarku saja." Gabriel beranjak bangun lalu berjalan keluar dari kamar Hansen. Tahu begini Gabriel tidur saja di kamarnya tadi.
Hansen tersenyum kemudian mengambil ponselnya di atas nakas sebelah ranjangnya. Jemarinya mengetikkan beberapa kalimat ke dalam aplikasi pesan lalu mengirimkannya kepada anggota Rasi Bintang.
Setelah itu barulah Hansen bisa tenang memejamkan matanya. Semoga besok pagi apa yang ia inginkan mereka sudah mendapatkannya.
Sedangkan orang yang mendapatkan pesan dari Hansen sudah menggenggam erat ponselnya menahan kesal. Rigel rasa Hansen atau Orion itu sudah kehilangan akalnya. Dengan mudahnya dia meminta mereka untuk mengambil kepala Dekandra besok.
" Ada apa ?" tanya Saiph.
Rigel menunjukkan pesan di ponselnya pada Saiph. " Lihat ketuamu ini, sangat sangat baik hati sekali."
" Ketuamu kau bilang ? Pergi kau ! Kau bukan anggota di Rasi Bintang." Saiph mendorong tubuh Rigel agar menjauh darinya.
Rigel berdecak dan berjalan menghampiri Bellatrix dan Mintaka yang tengah bermain catur. Tanpa berbicara Rigel meletakkan ponselnya begitu saja di tengah tengah papan catur. Lalu berbalik pergi ketempat duduknya di sebelah Saiph.
" Hei, kau merusak permainan !" Bellatrix berteriak tidak terima karena pion caturnya yang telah berserakan sebelum sempat gilirannya bermain.
__ADS_1
Mintaka terperangah melihat perbuatan Rigel sebelum mengambil ponsel itu dan membacanya. " Aku tidak sanggup !" teriaknya menolak.
" Hei, jangan berteriak bodoh !" Bellatrix terkejut dan melotot kesal.
" Kau juga berteriak bodoh !" balas Mintaka berteriak juga.
.
...*****...
.
" Hei kalian sesama orang bodoh jangan saling berteriak. Berisik tahu !" Alnilam datang bersama Alnitak yang membawa semangkuk besar salad buah.
Mintaka dan Bellatrix langsung berhenti berdebat kemudian menoleh. Mereka saling memandang lalu membuang pandangan mereka ke samping secara bersamaan.
Sesama orang bodoh katanya ?.
Mintaka bahkan tidak mau jika harus disamakan dengan Bellatrix yang seorang dokter gadungan. Dengan menggunakan dalih sebagai dokter yang ahli membedah pasiennya. Bellatrix sebenarnya adalah pembunuh berdarah dingin yang gemar mengiris daging orang. Setelah itu, dia membuat mangsanya mati dengan dengan alasan si pasien gagal operasi.
Mintaka mana sudi disamakan dengan pembohong itu. Meskipun ia akui dirinya juga sering membunuh orang namun Mintaka tidak membunuh mereka dengan kedua tangannya sendiri.
Alnitak mengambil ponsel itu lalu tersenyum dan memandang Alnilam penuh arti. " Kau mau ?"
" Tentu saja, lumayan hiburan." jawab Alnilam.
" Yah kalian saja yang mengambil tugas itu. Aku tidak akan sanggup melihatnya nanti." ucap Mintaka.
Bellatrix beranjak pergi begitu saja menuju kamarnya. Apapun itu tugasnya paling nanti ia yang mengawetkan kepala itu. Jadi biarkan sekarang Bellatrix beristirahat dulu.
" Dia menolak dengan halus." ucap Alnitak yang memperhatikan kepergian Bellatrix.
" Biarkan saja dia. Rigel kau mau mengambil tugas ini ?" tanya Alnilam.
Rigel menggelengkan kepalanya. " Kalau aku mau tidak mungkin aku mengopernya pada Mintaka dan Alltrix tadi."
Tatapan Alnilam berganti pada Saiph yang hanya diam memperhatikan. Meski Alnilam tahu kekasihnya itu tidak akan mau mengambil tugas begini.
" Kau sudah tahu jawabannya sayang." ucap Saiph.
__ADS_1
" Jangan terlalu baik kalau kau masih ingin menjadi kekasihku sayang." Alnilam tersenyum memandangnya sebelum beralih menatap Alnitak.
" Kapan ?" sambungnya bertanya.
Alnitak mengetuk dagunya berpikir. " Bagaimana kalau nanti malam saja ?"
" Terserahmu saja."
" Baiklah sudah diputuskan kalau kita akan pergi nanti malam. Kau siapkan saja karung yang banyak. Sekalian kita beri Orion bonus malam ini."
Alnilam menatap kembarannya itu untuk beberapa saat. Setelah tahu apa maksudnya barulah Alnilam tersenyum senang. Bonus untuk Orion sama dengan kesenangan untuknya. Tugas nanti malam pasti akan menyenangkan.
" Oh iya, kalian ada yang mau salad buah ?" tanya Alnitak.
" Aku mau !" Mintaka mengangkat tangan kanannya ke atas.
" Aku juga !" tambah Saiph.
" Jangan lupakan bagianku." pinta Alnilam.
" Sayang aku ingin yang pertama !" ucap Rigel.
Alnitak memutar mata malas lalu membuang papan catur di atas meja. Diletakkannya mangkuk salad buahnya di sana dan duduk di tempat Bellatrix tadi.
" Ayo siapa cepat dia dapat."
Mendengar itu Rigel dan Saiph berlari mendekat. Sedangkan Mintaka dan Alnilam sudah mengambil sendok buah. Mereka memakan salad buah bersama. Masalah tugas yang Orion berikan kepada mereka untuk sekarang sudah tidak teringat lagi.
Hanya salad buah dan waktu kebersamaan mereka yang ingin mereka nikmati untuk sekarang ini.
" Heh ! Kalian aku juga mau !" Bellatrix berteriak dari kejauhan.
Rigel, Saiph, Alnitak, Alnilam, dan Mintaka yang mendengar teriakkan itu langsung saling menatap satu sama lain. Setelah itu mereka serempak cepat cepat menghabiskan salad buah yang ada di dalam mangkuk.
" Sisakan untukku !" Bellatrix berlari mendekat.
Namun Rigel, Saiph, Alnitak, Alnilam, dan Mintaka langsung meninggalkan mangkuk buah yang sudah kosong. Mereka berlari memencar menjauhi Bellatrix yang sudah mendekat.
" Aku ma...u." Bellatrix merasa telinganya saat ini sudah mulai berasap. Melihat mangkuk salad yang sudah kosong dan teman temannya yang berlari memencar menjauhinya. Bellatrix rasanya sekarang ia sudah siap untuk memakan orang bulat bulat.
__ADS_1
" Sialan ! Kalian jangan lari !" Akhirnya Bellatrix berteriak lagi.