Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Mereka Yang Masih Sama


__ADS_3

" Kita kaya ! Hu... !" Mintaka berteriak girang sambil menaburkan uang ke atas. Lalu berputar putar menikmati di bawah uang yang berjatuhan dengan mata terpejam dan tangan yang direntangkan.


Rigel, Saiph, Bellatrix, Alnilam, dan Alnilam menatap jengah melihat tingkah Mintaka yang menurut mereka terlalu kekanak kanakkan.


" Dia seperti tidak pernah melihat uang sebanyak itu." celetuk Bellatrix.


" Dan seperti gelandangan yang tidak pernah punya uang." tambah Saiph.


" Kalau menurutku dia terlihat seperti orang gila yang menghayal ingin jadi orang kaya." ucap Alnilam.


Alnitak tertawa mendengar komentar ketiga saudaranya. " Bukankah dia malah terlihat imut ?"


" Imut katamu ?!" tanya Rigel dengan mata melotot tak percaya lalu beranjak pergi memuntahkan isi perutnya. Mintaka imut, mengingat itu saja membuat perutnya bergejolak.


" Dia kenapa ?" Alnilam bertanya saat melihat Rigel yang beranjak bangun dengan tangan menutup mulut seperti sedang menahan sesuatu.


Alnitak mengangkat bahu acuh. " Aku bilang Mintaka itu imut dan dia malah ingin muntah setelah mendengarnya."


" Kau bilang Mintaka imut ?!"


" Iya, kenapa ?"


Alnilam segera menutup mulutnya dan beranjak pergi mengikuti Rigel.


Saiph dan Bellatrix yang melihat itu tertegun diam melihat kepergian Alnilam. Ada apa dengan perkataan Mintaka yang dibilang imut oleh Alnitak. Saiph dan Bellatrix berganti melihat Mintaka yang masih bermain main dengan uang. Seketika mereka paham mengapa Rigel dan Alnilam bisa menjadi seperti itu.


" Pantas saja mereka berdua seperti itu. Dibandingkan imut Mintaka lebih tepat dibilang seperti anak idiot yang tumbuh besar menjadi gila." ucap Saiph.


" Jangan lupakan tingkahnya yang tidak pernah ada benarnya itu." Bellatrix bergidik ngeri membayangkan selama ini dirinyalah yang menjadi korban keusilan dan kebodohan Mintaka.


" Aku juga jadi ingin muntah membayangkan Mintaka yang menjadi imut." ucap Saiph sebelum menutup rapat mulutnya dengan tangan karena menahan mual.


Alnitak tertawa mendengar ucapan yang para saudaranya lontarkan untuk Mintaka. Kasihan sekali adik kecilnya itu yang menjadi bahan nistaan mereka. Andai Orion tahu pasti saudaranya itu akan mengamuk kepada mereka dan memarahi mereka layaknya orang tua.


" Ada apa dengan kalian ?"


Ah, baru saja Alnilam memikirkannya. Orion sudah langsung saja tiba tiba datang.


" Kami hanya bermain." jawab Bellatrix.


Orion terlihat berpikir dan memandangi Saiph, Bellatrix, dan Alnitak bergantian sebelum beralih melihat Mintaka. " Kalian bermain bersama di sini tapi membiarkan Mintaka sendirian di sana ?"

__ADS_1


Saiph tampak gelagapan ingin menjawab. Rasa mualnya langsung hilang seketika mendengar pertanyaan itu dari Orion. Yang benar saja mereka ikut bermain uang seperti yang Mintaka lakukan itu. Umurnya pasti akan dipertanyakan kepastiannya oleh malaikat penjaganya nanti.


" Kami lelah sekali karena melihat lelang itu. Oh iya, bagaimana pekerjaanmu ?" tanya Alnilam.


Orion tersenyum dan duduk di sebelah Alnitak. " Seperti biasa."


" Kau terhibur ?"


" Tidak."


" Kenapa ?"


" Aku tidak bisa memakan buruanku yang satu ini karena permainannya tidak akan seru kalau buruanku itu mati begitu saja." jawab Orion.


Rigel dan Alnilam kembali duduk bersama. Alnilam yang melihat Orion segera beranjak berdiri dan memeluk saudaranya itu.


" Kenapa kau memelukku Nilam ? Kita hanya berpisah beberapa jam saja tadi."


" Sebagai ucapan terima kasihku karena kau telah memperbolehkanku memakai gaun bewarna merah muda tadi." Alnilam berucap dengan mata yang berbinar.


Orion tersenyum sembari mengacak gemas rambut Alnilam. " Jangan seperti ini atau Saiph akan cemburu kepadaku."


...*****...


" Aku bangga dengan pemikiranmu itu Saiph." Rigel menepuk pundak Saiph dengan pandangan bangga. Sebagai anggota yang tertua dikelompok ini Rigel memiliki tanggung jawab untuk mendidik saudaranya yang lain. Meskipun perannya selalu diambil alih oleh Orion.


" Jadi..., aku bisa memeluk Alnilam sesukaku Saiph ?" tanya Bellatrix.


" Tidak." Saiph menatap datar Bellatrix.


" Kenapa ? Kau tadi berkata tidak apa apa."


" Karena kau bukan saudaraku." Saiph berucap tanpa berpikir panjang.


Bellatrix terkejut dan mengerucutkan bibirnya lalu beranjak memeluk Orion. " Dia jahat sekali." adunya.


Mintaka menghentikan permainannya lalu berlari memeluk Orion. " Ayo kita berpelukkan."


Rigel dan Saiph saling bertatapan satu sama lain sebelum beranjak dan ikut memeluk Orion. Malam ini mereka akan bersenang senang dan mengenang masa kecil mereka bersama.


" Ayo kita ikutan juga." Alnilam menarik tangan Alnitak untuk memeluk Orion.

__ADS_1


" Kalian ini kenapa ?" Orion menatap bingung keenam saudaranya sekaligus temannya yang tiba tiba memeluknya seperti saat mereka kecil dulu.


" Kalian jangan memeluk Orion juga !" ucap Bellatrix.


" Orion ayo malam ini kita seperti dulu lagi." pinta Mintaka


" Iya, Mintaka benar. Ayo Rion !" Alnilam juga ikut meminta.


Orion terkekeh lalu menganggukkan kepalanya. " Ayo !"


Mereka tertawa bersama dan mulai melepaskan pelukan mereka. Rigel dan Saiph mengambil bantal sofa dan melemparkan satu untuk Orion. Alnilam dan Alnitak mengambil uang lalu berlari ke belakang Rigel dan Saiph. Sedangkan Bellatrix mengambil sapu dan Mintaka mengambil alat pembersih debu yang terbuat dari bulu ayam. Mereka akan berperan sebagai penjahat dipermainan ini.


" Taka kita kalahkan mereka dan kita ambil uang itu." ucap Bellatrix.


Mintaka menunjukkan ibunya jarinya pada Bellatrix. " Kita jatuhkan mereka lalu kita ikat mereka menjadi satu."


" Ayo. Sekarang, serang !"


" Serang !"


Bellatrix bersama Mintaka berlari menyerang Orion, Rigel, dan Saiph. Sedangkan Alnilam dan Alnitak hanya melihat dan memberi semangat sekaligus menjaga uang.


DUG !


" Aw, Bellatrix kepalaku terkena gagang sapumu !" Saiph berteriak di tengah petarungan mereka.


" Jauhkan bantal sofamu dari wajah tampanku Saiph ! Aku tidak bisa melihat apapun !" teriak Bellatrix.


" Rigel jangan jambak rambut badaiku !"


" Kalau begitu jauhkan bulu ayam itu dariku !"


" Hei kalian berdua jangan menarik bajuku !" Orio ikut berteriak.


" Kau menjauhlah dari kami. Jangan berada di tengah tengah kami !" teriak Mintaka.


" Kalau begitu lepaskan tarikan kalian dari pakaianku ! Aku tercekik !" Orion berteriak kesal karena kerah pakaiannya yang dicengkram dari arah berlawanan oleh Rigel dan Mintaka.


" Bellatrix pukul wajah Saiph dengan sapumu !" teriak Alnilam.


" Rigel jangan takut pada bulu bulu ayam itu !" teriak Alnitak.

__ADS_1


Malam ini rumah Orion dipenuhi oleh teriakkan teriakkan tidak jelas akibat tingkah konyol tujuh orang dewasa yang sedang mengenang masa kecilnya bersama. Meskipun begitu Orion tersenyum di tengah teriakkan itu.


Melihat teman temannya yang saling berteriak dengan binar mata bahagia membuat Orion menyadari sesuatu. Nyatanya mereka semua masih sama. Walau umur mereka yang telah dewasa, tanggung jawab mereka yang terus bertambah, dan masalah yang terus mereka hadapi setiap waktunya. Mereka masihlah saudara sekaligus teman temannya yang menyimpan segala kekonyolan mereka.


__ADS_2