Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Pertanyaan


__ADS_3

" Kembali lagi di berita pagi hari ini. Pemirsa saat ini kepolisian sedang berduka atas meninggalnya seorang Letnan polisi yang bernama Sarga Yulian bersama delapan belas orang polisi lainnya..."


" Letnan Sarga meninggal ?! Aku tidak percaya ini." Hansen melihat berita di televisi dengan tatapan tak percaya. Baru beberapa hari lalu mereka berdebat dan saling mengejek sekarang pria itu sudah meninggal ?.


" Kenapa ?" Gabriel bertanya sambil membawa segelas susu.


Hansen menunjuk televisi. " Aku tidak menyangka dia meninggal."


Gabriel duduk di sebelah Hansen dan ikut melihat televisi. " Kasihan sekali dia. Setelah selamat dari pengeboman di kantor polisi tempo hari dia malah meninggal."


" Padahal menurutku dia orang yang baik. Kau ingat, saat ada dua wanita seksi yang saling bertengkar karena berebut suami. Seluruh polisi di kantor itu menyerah mengangkat tangan karena bingung menghadapi wanita yang bertengkar. Tetapi Letnan Sarga masih bersabar mencoba mengatasi permasalahan dua wanita seksi itu. Padahal saat itu dia juga harus mengawasi kita." ucap Hansen.


Gabriel menatap televisi dengan tatapan menerawang. " Ya, kau benar. Dia orang yang baik diantara sekian banyaknya orang buruk. Sayang sekali nasib bagus tidak berpihak kepadanya."


" Oh iya, kau sudah mendapat kabar tentang barang bukti itu ?" tanya Hansen.


Gabriel mengangguk. " Kita bisa bebas sekarang."


Hansen tersenyum dan menepuk pundak Gabriel. " Syukurlah."


" Hansen seandainya suatu saat nanti aku berbuat buruk kepadamu. Apa yang akan kau lakukan kepadaku ?"


Kening Hansen berkerut bingung menatap aneh Gabriel yang bertanya seperti itu kepadanya. " Kenapa memangnya ?"


" Jawab saja."


" Em..., tidak ada."


" Tidak ada ?" kali ini Gabriel yang menatap Hansen bingung.


Hansen tersenyum dan kembali menepuk bahu Gabriel. " Kau temanku. Kau juga orang yang membantuku disaat aku masih berada di panti asuhan sampai aku bisa menjadi seperti sekarang. Bagaimana aku bisa membalasmu ? Sedangkan kau satu satunya orang yang aku anggap keluarga di hidupku yang sebatang kara ini."


Gabriel tertegun mendengar jawaban Hansen yang begitu menyentuh hatinya. Sungguh, Gabriel tidak mau jika harus menjauhi Hansen seperti permintaan ayahnya selama ini. Tapi jika tidak, masih bisakah Hansen tersenyum dan berteman dengannya seperti sekarang ?.


" Hei teman ! Ada apa denganmu ? Kau berbeda pagi ini." Hansen menatap Gabriel dengan alis terangkat sebelah.


Gabriel menggeleng lemah.


" Kau yakin ? Kau bisa berbagi masalahmu denganku Gabriel."


Bagaimana aku bisa membagi masalahku denganmu jika masalahku yang sebenarnya adalah pertemanan kita, batin Gabriel.


" Aku hanya bertanya saja tadi dan tidak menyangka kalau jawabanmu begitu menyentuh hatiku." ucap Gabriel.


Hansen tertawa mendengarnya. " Aku tahu itu. Sekarang giliranku bertanya."


" Apa ?"


" Bagaimana kalau suatu saat nanti pertemanan kita terputus karena sebuah rahasia ?"


" Kau memiliki rahasia ?"

__ADS_1


" Tidak, itu kan jika seandainya."


Gabriel terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Hansen. " Tergantung rahasianya."


" Kenapa seperti itu ?"


" Kalau rahasiamu kelak kau akan berselingkuh dengan istriku di belakangku tentu saja aku tidak akan bisa menerima hal itu."


" Hei, bukannya kita sering berbagi ? Istri bukanlah masalah."


Gabriel melotot kesal. " Kau ! Tarik kembali ucapanmu itu. Aku tidak akan sudi berbagi istri denganmu, ingat itu !"


Hansen terkekeh. " Kalau istrimu yang mau berbagi denganku bagaimana ?"


" Sialan kau !"


" Aku hanya bercanda teman." Hansen mengedipkan sebelah matanya menatap jahil pada Gabriel.


" Aku tahu, tapi selain itu. Apapun yang terjadi kau tetap temanku."


...*****...


George menatap pemandangan kota Z melalui jendela kaca besar di ruang kerjanya. Matanya menatap bangunan bangunan tinggi dengan banyaknya pengendara di jalanan.


" Tuan."


" Bicara." perintah George tanpa mengalihkan mengalihkan pandangannya.


" Pergi."


" Baik tuan."


George mengambil ponselnya dan melihat gambar yang dikirim oleh bawahannya tadi malam. Gambar itu memperlihatkan Hansen bersama Monica yang sedang tertawa di taman.


George tersenyum sinis melihat gambar itu. Mereka hanyalah sekumpulan anak jalanan. Apa yang putranya lihat dari mereka ?.


Gabriel beralih menghubungi Gabriel dan mencoba bertanya kembali.


" Ayah."


" Kau mengabaikan ayah Gabriel ?"


George tersenyum saat Gabriel terdiam di sana. Tangannya mengusap kaca jendela di depannya sembari menunggu jawaban yang akan diucapkan putranya.


" Ayah aku sedang sibuk sekarang."


" Benarkah ?" George terkekeh saat mendengar jawaban yang tidak diinginkannya.


" Ayah..."


" Jangan bermain dengan ayah Gabriel. Kau akan menyesal nanti."

__ADS_1


" Ayah, aku akan memikirkannya lagi nanti."


" Sekarang."


" Apa ?"


" Putuskan sekarang Gabriel. Ayah mau kau memilihnya sekarang."


" Ayah..., Hansen sudah seperti saudara bagiku. Dia juga tulus berteman denganku..."


" Baiklah, itu pilihanmu." George segera mematikan panggilan tanpa menunggu Gabriel selesai berbicara. Tanpa dilanjutkan pun George susah tahu jawabannya akan berakhir penolakkan. Putranya itu benar benar keras kepala.


George menghubungi bawahannya. " Bunuh dia !" perintahnya sebelum kembali mematikan panggilan sepihak.


Masih menatap pemandangan kota. George tertawa sambil memainkan ponsel di tangannya. " Kau yang memilihnya putraku. Sekarang tanggung pilihanmu sendiri."


Di rumah makan terkenal di kota Z. Gabriel menatap panik ponselnya setelah ayahnya memutuskan panggilan sepihak.


" Kau kenapa ?" Hansen menatap aneh melihat Gabriel yang tiba tiba panik setelah tuan George menghubunginya.


" Kau mau dijodohkan lagi ?" tanya Hansen.


Gabriel menggeleng lalu mengambil tisu untuk mengusap keningnya yang berkeringat. Sekuat tenaga Gabriel menekan rasa takutnya dan segala pikiran buruknya.


" Lalu ?" Hansen bertanya lagi.


" Ayahku..., ayahku hanya ingin menginap di Apartemenku. Ya itu saja ! Kau tahu kan kalau Apartemenku sering berantakkan ? Aku..., aku hanya takut ayahku mengamuk nanti." Gabriel menjawab dengan cepat lalu tartawa bodoh.


Hansen memicingkan matanya menatap Gabriel penuh curiga. Kenapa perasannya berkata lain. " Kau tidak berbohong kan ?"


" Berbohong ? Untuk apa ?" Gabriel kembali tertawa. Diam diam Gabriel menyembunyikan telapak tangannya yang terasa dingin dan lembab.


" Kau tahu ayahku pecinta kesempurnaan. Segala hal harus sesuai dengan keinginannya dan Apartemenku yang berantakkan bukanlah sesuai dengan keinginannya. Bahkan aku lupa mencuci piring bekas makanku saat aku mau menginap di Apartemenmu." lanjutnya menjelaskan.


" Kau...," Hansen mengantungkan ucapannya.


Tangan Gabriek semangkin banyak mengeluarkan keringat. Wajahnya menjadi tengang menunggu kelanjutan dari ucapan Hansen. Temannya itu pasti tidak percaya dengan ucapannya tadi.


" Ceroboh."


" Apa ?!" Gabriel terbelalak menatap tak menyangka.


Hansen tertawa. " Kau ceroboh Gabriel. Sudah tahu ayahmu pecinta kesempurnaan tapi kau masih saja sering melakukan kesalahan yang menarik kemarahannya."


Gabriel menghela napas lega lalu kembali tersenyum seperti biasanya. " Aku tidak tahu kalau ayahku mau datang."


" Mangkanya belajarlah disiplin. Kau hebat dalam mengurus perusahaan tapi kau lemah dalam hal ayahmu. Berubahlah dan buat dia bangga sesekali." ucap Hansen.


Andai saja bisa, batin Gabriel.


" Akan aku usahakan." Gabriel menatap kosong wajah Hansen yang sedang tersenyum.

__ADS_1


Apa keputusannya ini benar ?.


__ADS_2