
Gabriel melangkah cepat memasuki ruang kerja ayahnya. Matanya menyorot tajam memandang siapa saja yang berani mendekatinya.
" Aku tidak tahu ayah begitu ingin memperalatku sampai tega menjodohkanku dengan putri mentri perdagangan." ucap Gabriel setelah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kursi yang diduduki ayahnya.
George menghentikan jemarinya yang tadi mengetik lincah di atas keyboard. Ia mengangkat pandanganya melihat putranya yang kini tengah menatapnya tajam. " Apa masalahnya ?"
" Tidakkah ayah tahu bagaimana putri daru mentri perdagangan itu ?"
George mengangkat sebelah alisnya sebelah. " Dia cantik dan berpendidikan, apa masalahnya ?"
" Masalahnya ?! Apa ayah pernah melihat bagaimana bentuk dan rupa gadis itu ?!" Gabriel bertanya kesal.
George menjadi bingung melihat putranya yang terlihat kesal. Biasanya putranya itu akan merespon biasa saja meskipun dia tidak menyetujui saran George yang ingin menjodohkannya. " Belum, tetapi ayahnya bilang dia dia memiliki gadis yang sangat cantik. Karena itulah alasan mengapa mentri perdagangan tidak pernah mengenalkan putri semata wayangnya pada media."
Gabriel yang mendengar itu mengacak rambutnya sebagai pelampiasan rasa kesalnya. " Dan ayah percaya begitu saja ?!"
" Y..ya kenapa memangnya ? Tidak ada salahnya kan kita mencoba dulu." melihat tingkah putranya yang seperti itu. George menjadi ragu, apa ada yang salah di sini.
" Coba ayah lihat keluarga mentri perdagangan di internet. Aku yakin ayah akan menyesal setelah setelah melihatnya." ucap Gabriel yang sudah merasa lelah. Bagaimana nasibnya nanti bila ayahnya tetap akan menjodohkannya dengan gadis monster itu. Gabriel yakin, belum ada sehari ia sudah lebih dulu memilih meminum racun untuk mengakhiri hidupnya.
George yang penasaran terpaksa melihat internet. Tangannya mengetikkan nama mentri perdagangan beserta keluarnya. Setelah terlihat hasilnya mata George langsung membulat sempurna. Sekarang ia tahu mengapa putranya sampai kesal seperti itu. George mengusap pelipisnya yang terasa sakit memikirkan kecerobohan yang telah dilakukannya.
George memang ingin menjodohkan Gabriel untuk kelangsungan bisnisnya. Tetapi kalau bentuknya saja tidak bisa dilihat dan mendekati kata buruk rupa George pasti tidak akan pernah menjodohkan Gabriel dengan gadis itu. George kira putri dari mentri perdagangan itu sama seperti putri putri pejabat lainnya yang cantik dan berpendidikan. Namun siapa sangka kalau bentuk rupa putri dari mentri perdagangan mampu membuatnya langsung sakit mata saat pertama kali melihatnya.
__ADS_1
" Aku tidak mau dijodohkan dengannya ayah. Aku pasti tidak akan sanggup menanggung beban berat yang datang karena." ucap Gabriel dengan wajah lesu.
" Beban berat ?" tanya George.
Gabriel menganggukkan kepalanya. " Beban berat badannya, beban berat malunya, dan beban berat makanannya. Aku tidak akan sanggup menanggung itu semua seumur hidupku ayah."
Mendengar itu, George hampir saja tertawa lepas kalau tidak cepat cepat menahan diri. Untuk kali ini George mengakui bahwa di sini ialah yang salah. " Ehem ! Kali kali ini kau bisa menolaknya."
" Ayah tidak ingin menjodohkanku dengannya lagi kan?"
Kepala George menggeleng lemah.
" Bagus ! Kalau begitu ku pergi dulu." Gabriel tersenyum lebar setelah mendengar kepastian dari perjodohannya. Untung saja ayahnya masih normal, jika tidak maka tamatlah riwayatnya.
Gabriel berjalan keluar dari ruangan ayahnya dengan wajah kesal dan juga datar. Tetapi setelah menjauh dari pintu ruang kerja ayahnya Gabriel langsung bersorak senang. Perjodohan itu tidak akan dilanjutkan dan Gabriel tidak akan pernah lagi menemui gadis jelek itu.
Di rumah sakit terbesar negara Z, semua orang ilmuan kesehatan dari berbagai negara sibuk mengatasi satu masalah. Mereka kebingungan tentang masalah yang dialami dokter jenius milik negara Z yaitu Dekandra. Dokter yang mereka kenal akan kejeniusannya dan juga bakatnya dalam menciptakan obat obatan kini tiba tiba saja menjadi gila mendadak. Padahal menurut orang orang yang sempat bertemu dengannya kemarin mengatakan bahwa Dekandra masih baik baik saja. Tetapi entah mengapa pagi ini Dekandra hanya terdiam layaknya patung dengan tatapan kosong lalu tiba tiba berteriak ketakutan.
Para ilmuan terkenal itu akhirnya menarik kesimpulan bahwa Dekandra mengalami gangguan kejiwaan. Tetapi untuk kejelasan tentang mengapa hal itu bisa terjadi mereka belum bisa menemuka alasanya.
Jenderal Jin yang memiliki sedikit waktu luang harus dapat mengatasi masalah ini sendirian. Karena Galiendro dan juga George belum bisa datang membantu mengatasi masalah yang dialami Dekandra.
" Klein rasanya otakku akan meleleh sebentar lagi." celetuk Jenderal Jin.
__ADS_1
Klein yang selalu mengikuti kemana pun Jenderal Jin pergi hanya bisa diam mendengarkan keluhan dari atasannya itu. Ingin membantupun Klein tidak bisa berbuat apa apa selain mengikuti perintah yang diberikan Jenderalnya.
" Klein rasanya aku ingin pulang dan memeluk putriku untuk mengurangi rasa penatku ini." ucap Jenderal Jin dengan tubuh bersandar di dinding dan mata terpejam.
" Tapi Jenderal, nona muda sedang berada di negara Timur." Klein mengingatkan Jenderalnya bahwa nona muda sedang berada di negara yang jauh dari negara mereka untuk masalah pekerjaan. Jadi akan sia sia saja bila Jenderal Jin pulang ke rumahnya saat ini.
Jenderal Jin menghela napas lelah. Masalah tentang kematian Samuel saja ia belum menemukan jalan keluarnya. Apalagi tentang kematian Sersan Sarga ditambah dengan tulisan dan juga gambar orang yang sedang memegang panah itu. Semuanya belum Jenderal Jin atasi karena setiap bukti yang ia temukan akan berhenti pada itu saja tanpa bisa dicari lebih jauh lagi informasinya.
Sekarang masalah baru datang kembali tanpa disangka sangka. Setelah Samuel, sekarang Dekandra temannya yang menjadi sasarannya. Jenderal Jin terus berpikir untuk mengingat siapa musuh mereka yang dapat membuat kekacauan seperti ini.
" Jenderal."
Jenderal Jin membuka matanya lalu menoleh menatap seorang dokter yang juga membantu mengatasi masalah Dekandra. " Ada apa Dokter ?"
" Jenderal kami telah memeriksanya berulang kali tetapi kami tetap tidak menemukan masalah apapun di tubuh dokter Dekandra. Bahkan otaknya masih berfungsi layaknya orang normal biasa. Tetapi melihat keadaannya membuat kami ragu Jenderal karena dokter Dekandra bersikap layaknya orang yang tidak waras. Jadi kami memutuskan untuk mengobati dokter Dekandra dengan terapi secara bertahap." jelas dokter itu.
Jenderal Jin menganggukkan kepalanya. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana dalam membantu Dekandra saat ini. " Lakukan apa saja untuk menyembuhkannya Dokter."
" Baik Jenderal, kalau begitu saya permisi."
" Silahkan Dokter."
Setelah Dokter itu pergi Jenderal Jin mengusap kasar wajahnya. Ia berharap Dekandra dapat disembuhkan secepat mungkin. Jangan sampai temannya itu berakhir seperti Samuel karena Jenderal Jin tidak ingin kehilangan salah satu temannya lagi.
__ADS_1
" Klein kita harus cepat menemukan pelaku yang telah membuat semua kekacauan ini. Kau juga harus mencaritahu siapa pemilik dari gambar orang memanah itu." perintah Jenderal Jin.
" Baik Jenderal, saya akan berusaha menemukannya." Klein menjawab patuh.