Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Kepala Samuel


__ADS_3

" Apa ?!" Jenderal Jin bertanya dengan suara kencang. Tangannya memegang kepalanya yang tiba tiba terasa sakit.


" Jenderal anda butuh sesuatu ?" Klein menatap cemas Jenderal Jin yang tiba tiba memegang kepalanya itu.


" Tidak." Jenderal Jin berjalan ke meja kerjanya lalu duduk dengan bersandar. " Jelaskan ?" perintahnya pada bawahannya.


" Jenderal telah terjadi pengeboman di kantor polisi pusat. Seluruh ruangan di kantor polisi berisi bom dan meledak secara bergiliran. Menurut informasi semua itu berawal dari penjara selatan dan seluruh tahanan belum diketahui keberadaannya. Mereka berhasil meloloskan diri dari penjara. Letnan Sarga dan delapan belas orang polisi lainnya terluka parah sedangkan sisanya meninggal akibat ledakkan itu."


Jenderal Jin mengerutkan keningnya. " Kenapa bisa ? Penjara pusat memiliki anggota polisi yang handal kan ? Kenapa mereka tidak bisa meloloskan diri ?"


" Kami belum tahu Jenderal. Tidak ada CCTV yang bisa melihat kejadian itu, bahkan salah satu anggota polisi yang berhasil kabur dan meminta bantuan hanya bisa memberikan beberapa kata sebelum akhirnya meninggal. Kami hanya bisa menunggu Letnan Sarga dan delapan belas orang polisi itu sadar untuk meminta kesaksian."


Klein yang tadi menyimak ikut bertanya. " Bagaimana ciri ciri luka polisi itu sampai bisa meninggal ?"


" Seluruh tubuhnya penuh sayatan pisau wakil Jenderal. Kami juga melihat beberapa jari tangannya hilang."


" Pisau ?" Klein menatap chip yang masih ada di mikroskop. Apa mungkin itu bukan pisau tetapi belati ?.


" Ini kasus yang cukup serius. Bawalah anggota yang cukup untuk menjaga Letnan Sarga dan delapan belas polisi lainnya. Kalian harus mengawasi dan menjaga mereka dengan ketat karena bisa saja orang yang memasang bom di kantor polisi itu masih mengincar mereka. Kita memerlukan kesaksian mereka setelah mereka cukup sehat nanti." perintah Jenderal Jin.


" Laksanakan Jenderal."


" Pergilah dan selamat bertugas." ucap Letnan Sarga.


" Siap Jenderal."


Jenderal Jin melihat Klein yang termenung seperti memikirkan sesuatu. Wakilnya itu pasti sedang berpikir kritis dengan segala prasangka.


" Apa yang kau dapatkan dari hasil pemikiranmu Klein ?"


Klein tersentak kaget namun segera mencoba mengatur kembali ekspresinya. " Jenderal saya masih ragu dengan pemikiran saya ini."


Jenderal Jin mengangkat alisnya sebelah. " Sebutkan saja."


" Saya ragu jika sayatan di tubuh polisi yang meninggal itu bukanlah berasal dari pisau tetapi belati. Polisi itu sengaja dibunuh agar tidak menyampaikan informasi apapun atau agar tidak bisa meminta bantuan kepada kita. Terlebih lagi Letnan Sarga masih bekerjasama membantu saya mengawasi tuan muda Gabriel dan temannya bersama nona muda Reina." jelas Klein.


" Apakah mafia di penjara lorong itu berhasil lolos ?"


" Saya belum tahu Jenderal. Kantor polisi hancur sekarang. Tetapi melihat dari keadaannya yang tidak memungkinkan bisa saja dia meninggal di sana." jawab Klein.


" Tidak, dia belum mati."

__ADS_1


" Maksud Jenderal ?" Klein menjadi bingung dan tidak paham.


Jenderal Jin memilih diam beberapa saat sebelum akhirnya terkekeh dengan tangan menyisir rambutnya ke belakang.


Belati, chip, bom, kenapa Jenderal Jin baru menyadarinya sekarang ?.


" Aku merasa kita sedang dipermainkan Klein. Gambar belati dan gambar yang ada di chip itu sama yang berarti pelakunya juga orang yang sama. Lalu bom di seluruh ruangan kantor polisi pusat dengan seluruh tahanan yang berhasil kabur itu bukanlah kebetulan." Jenderal Jin menjelaskan.


" Zairan Galendra, tidak mungkinkan pelaku bom itu melewatkannya begitu saja ?" lanjutnya bertanya.


...*****...


Bellatrix bergidik ngeri melihat benda yang di pegang Orion dengan hati hati. Apa yang bagus dari benda itu sampai Orion tersenyum terus menerus layaknya orang yang sedang melihat benda terindah di dunia ?.


Mintaka bahkan muntah saat melihat benda itu tadi. Sedangkan Alnilam dan Alnitak memilih untuk merawat diri dengan perawatan kulit di dalam kamar. Berbeda dengan Rigel dan Saiph yang malah ikut menatap benda itu tanpa ekspresi apapun.


" Bukankah ini bagus Atrix ?" Orion menunjukkan kepala Samuel Alteus yang telah di awetkannya selama sebulan kepada Bellatrix.


" Apa ?! A...ah iya bagus." Bellatrix mengusap tengkuknya dan berusaha tersenyum.


Saiph memutar mata malas melihat tingkah Bellatrix. " Dia takut kan ?" bisiknya pada Rigel.


Saiph tertawa pelan, untung saja Bellatrix tidak mendengarnya.


Orion tersenyum puas mendengar jawaban Bellatrix. Dengan hati hati Orion memasukkan kepala Samuel Alteus ke dalam kotak kaca bening dan menutupnya. Tangannya mengusap pelan wajah Samuel Alteus melalui permukaan kaca.


" Paman aku akan membawamu kepada ayah dan ibuku. Mereka pasti senang melihatmu datang." Orion berucap lirih.


" Kau harus menepati janji untuk terus berada di samping ayahku paman Sam." lanjutnya.


Orion tertawa senang lalu bersiul sambil memasukkan kotak bening itu kedalam tas hitam. " Aku ingin ke negara N. Kalian ikut ?"


Bellatrix langsung menggelengkan kepalanya. " A..aku masih harus menyelesaikan penemuanku."


Orion mengangguk paham lalu menatap Rigel dan Saiph. " Kalian ?"


Saiph menggelengkan kepala sebagai jawaban.


" Aku yang akan mengikutimu Rion. Saiph harus mengurus benda yang berisi chip itu." ucap Rigel.


" Baiklah, ayo kita berangkat sekarang. Aku ingin bertemu ayah dan ibuku." Orion beranjak dari tempat duduknya dengan tas hitam di punggungnya.

__ADS_1


" Iya." Rigel berjalan mengikuti Orion.


Bellatrix menghela napas kencang setelah melihat Orion dan Rigel pergi dari ruangan ini. Dengan lemas Bellatrix meluruskan kedua kakinya yang terasa kesemutan sejak tadi. Orion benar benar sudah seperti psikopat sejati.


Saiph tertawa dan mengusap gemas kepala Bellatrix. " Kau masih terlalu lemah Bella."


Bellatrix melotot kesal saat Saiph menyebutnya dengan nama Bella. " Kau mau kuracuni Saiph ?"


" Baiklah." Saiph mengangkat kedua tangannya ke atas lalu beranjak pergi sembari bersiul.


PLAK !


PLAK !


BUG !


" Dasar anak tidak berguna !"


BUG !


Di mansion, George mengamuk mendengar berita bahwa Gabriel masuk ke dalam kantor polisi.


" Aku sudah bilang jangan berteman dengan anak jalanan itu lagi !"


BUG !


George menendang tubuh Gabriel untuk yang kesekian kalinya. Tangannya terkepal dengan rahangnya yang mengeras. Matanya menatap marah pada Gabriel yang babak belur di lantai.


" Di...dia te..manku ayah." Gabriel berucap terbata bata menahan sakit di tubuhnya. Pukulan ayahnya tidak main main, bahkan Gabriel yakin perutnya pasti sudah membiru sekarang.


BUG !


George menarik kerah baju Gabriel. " Kau berani membantahku sekarang ?!"


Gabriel menggeleng lemah.


George tertawa kemudian mengusap wajahnya. " Aku yang membesarkanmu dan merawatmu. Tapi kau malah mengikuti temanmu itu ?! Apa yang harus kulakukan Gabriel ? Apa aku harus menghancurkan temanmu itu baru kau menjadi penurut begitu ?"


" Ja..ngan a..ayah."


" Jauhi temanmu itu atau aku akan berbuat nekat kali ini. Menghancurkan hidup seorang fotografer jalanan bukanlah hal yang sulit Gabriel, ingat itu."

__ADS_1


__ADS_2