Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Di Lampu Merah


__ADS_3

" Dari mana kau ?" Gabriel bertanya sambil menyusun makanan ke atas meja. Ini bukanlah masakannya tetapi ia memesannya dari sebuah Restoran terkenal di negara Z. Gabriel cukup kasihan dengan Hansen bila harus memakan masakannya. Ia tidak mau Hansen harus masuk rumah sakit lagi apabila memakan masakannya yang memiliki segala rasa.


Hansen mencuci tangannya lalu berjalan ke meja makan. Mengambil piring dan menuangkan nasi serta sayur dan ikan ke dalam piringnya.


" Lari pagi."


" Tangan dan kakimu ?" tanya Gabriel.


" Sudah bisa digerakkan seperti biasa. Tapi belum bisa kalau mengangkat barang berat." jawab Hansen.


Gabriel mengangguk dan mengambil makanannya. Dicicipinya makanan itu dan menurutnya masakan di Restoran yang dipesannya ini cukup enak oleh indera perasanya.


" Aku sudah selesai makan. Aku akan bersiap dulu." Hansen beranjak mengambil piring kotornya lalu mencucinya. Setelah selesai Hansen mengambil minuman dingin dari kulkas dan membawanya ke kamar.


Karena hari ini keadaannya sudah membaik Hansen memilih untuk bekerja saja. Lagi pula di Apartemen pun ia tidak memiliki pekerjaan apapun. Tiba tiba seekor lalat hinggap di cermin lemari pakaiannya. Hansen memicingkan matanya untuk menatap lebih jelas lalat itu.


" Kami memantaumu."


Hansen menekan anting hitam di telinga kanannya. Benar benar mereka ini, padahal sudah tahu kalau ia pasti akan baik baik saja.


" Pergilah jangan di kamarku karena aku mau ganti pakaian."


Lalat itu mengepakkan sayapnya keluar dari kamar Hansen melalu jendela yang terbuka. Hansen merasa lega sekarang karena mata mata RB sudah pergi dari kamarnya. Saiph memang orang aneh. Di dunia ini hewan kecil yang terbang bukan hanya lalat saja. Ada nyamuk, kumbang, kupu kupu, ngengat, dan masih banyak lagi termasuk burung.


Tapi kenapa Saiph malah memilih lalat yang menjadi hewan pemantau ?.


" Hans jangan terlalu lama. Ini sudah jam tujuh lewat !"


Suara Gabriel dari luar kamarnya membuat Hansen terkejut. " Aku sudah selesai, tunggi sebentar."


Hansen mengambil tas ranselnya lalu berjalan keluar kamar. Di sana Gabriel sudah berdiri bersandar di dinding menunggunya.


" Sudah ?" tanya Gabriel.

__ADS_1


" Hm." Hansen hanya membalas singkat.


Gabriel berjalan bersama Hansen keluar Apartemen. Mereka melangkah bersama layaknya adik kakak. Gabriel dangan setelan jasnya yang siap bekerja. Sedangkan Hansen dengan tas ransel dan pakaian kemeja serta celana jinsnya yang membuatnya terlihat seperti akan pergi kuliah.


Orang orang yang akan memulai hari juga keluar dari Apartemen mereka. Keadaan pagi ini cukup ramai karena rata rata penghuni di bangunan ini adalah seorang pekerja. Saat Gabriel dan Hansen berjalan, orang orang yang melihatnya berhenti melangkah. Mereka menatap Gabriel dan Hansen yang memiliki rupa begitu menawan dan juga nama yang terkenal. Sangat beruntung mereka bisa melihat Gabriel dan Hansen pagi pagi seperti ini.


Biasanya mereka jarang melihat keberadaan Gabriel maupun Hansen karena pekerjaan mereka. Tetapi kali ini sepertinya hari sedang bagus.


Hansen menekan tombol lift menuju lantai bawah. Gabriel yang berdiri di sampingnya hanya diam saja. Meski banyak orang di dalam lift Gabriel enggan menyapa mereka. Padahal dia tahu kalau orang orang itu terus menatap kearahnya dan juga Hansen.


" Kita seperti artis kan ?" bisik Hansen.


Gabriel meliriknya. " Tidak usah percaya diri. Kau saja ketakutan setiap kali difoto berkhayal ingin jadi artis."


" Terserah akulah. " Hansen membalas sinis.


.


.


" Bersama kita menari, bernyanyi dan memainkan irama ini ~." Hansen bernyanyi mengikuti lagu yang diputar oleh Gabriel di dalam mobil. Tangannya terangkat dengan tubuh yang bergoyang mengikuti irama musik.


Gabriel yang melihatnya hanya diam saja. Pemandangan yang biasa baginya melihat tingkah Hansen yang tidak bisa diam. Temannya yang satu ini benar benar tipe pria ceria dan hiperaktif.


" Aku menyukaimu sepanjang umurku ~."


Gabriel menggeleng pelan sembari menghentikan mobilnya saat lampu lalulintas berganti merah. Diliriknya jam di pergelangan tangannya. Pukul tujuh lebih dua puluh tiga menit. Berarti masih ada tiga puluh tujuh menit lagi waktu mereka sampai ke kantor. Untung saja Gabriel membuat jam masuk kantornya pukul delapan pagi.


Gabriel menoleh saat Hansen tidak bernyanyi lagi. Dilihat temannya itu sedang meminum air dingin dari dalam botol yang dia bawa dari Apartemen tadi.


" Apa kita tidak akan telat kalau seperti ini ?" tanya Hansen yang baru saja selesai minum.


Gabriel mengangkat bahunya tidak tahu. " Ini macet."

__ADS_1


Hansen melihat keadaan jalan dari kaca mobil. Ternyata memang benar benar macet pagi ini.


" Hah, aku ingin sekali memiliki jalan sendiri agar tidak terus terusan mengalami macet seperti ini." Gabriel bersandar di kursi pengemudi.


Hansen memberikan sebotol air dingin miliknya pada Gabriel. " Kau harus bisa menjadi lebih kaya lagi dari sekarang ini."


" Aku tidak mau menjadi incaran pemerintah." ucap Gabriel sambil membuka tutup botol lalu meminumnya hingga tersisa setengah.


" Tapi kan pemerintah kita tidak memiliki anak perempuan Gabriel, kau bisa tenang."


" Tapi bukan berarti aku bisa bebas menjadi bidak caturnya nanti."


Hansen mengusap dahinya. " Aku tidak mengerti tentang hal yang seperti itu. Politik memang tidak cocok denganku Gabriel. Bahkan kepalaku langsung pening begitu mendengar dasar dasar tentangnya saja."


Gabriel tertawa mendengar ucapan Hansen. Rasa bosannya menunggu lampu berganti kini hilang hanya karena berbicara dengan Hansen. " Ya terserah kau saja."


" Memang..., Hei ! Gabriel lampunya sudah berganti. Ayo jalan !" Hansen berucap heboh karena merasa senang. Siapa yang mau berlama lama di dalam mobil hanya untuk menunggu sebuah lampu berganti.


Gabriel menjalankan mobilnya perlahan. " Hans kau nanti bisa pulang sendiri kan ?"


Hansen menoleh memandang Gabriel dengan tatapan bertanya.


" Aku ditelpon ayahku untuk pulang ke rumahnya. Kau bisa bawa mobilku dan aku akan meminta diantar supir." ucap Gabriel.


Namun sayang sekali Hansen menggelengkan. kepalanya. Ia tidak mau mencari ribut hari ini dengan si penghianat itu.


" Aku akan menggunakan taksi saja. Aku takut tanganku belum bisa menyetir apapun." Hansen memberikan alasannya. George pasti marah kalau tahu mobil putranya dipakai olehnya. Bisa bisa dia langsung menyewa pembunuh bayaran lagi untuk mencelakainya.


Bukannya Hansen merasa takut. Hanya saja tubuhnya baru saja sembuh dari luka pengeroyokkan kemarin. Sekarang ia bahkan belum menemui orang orang yang mencelakainya. Semoga saja mereka tidak dimakan Alnitak dan Alnilam di sana. Belum lagi Bellatrix yang membutuhkan tikus percobaan. Hansen ingin menemui mereka secara utuh untuk memberikan mereka pelajaran yang berharga.


" Jangan melamun, kita sudah sampai." Gabriel menepuk lengan Hansen. Tadi saja temannya itu terus berbicara seperti burung berkicau. Sekarang dia malah terdiam layaknya patung di dalam mobilnya.


Hansen tersentak kaget dibuatnya. Ia menoleh dan benar mereka sudah berada diarea parkiran kantor.

__ADS_1


__ADS_2