Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Mimpi Hansen


__ADS_3

Di Mansion besar seorang anak laki laki berlari menuruni tangga sambil tertawa nakal. Dia berlari menghindari pengasuhnya yang sudah pucat pasi melihatnya berlari menuruni tangga tanpa takut terjatuh.


" Tuan muda berhentilah berlari. Anda bisa terjatuh nanti ! Tuan muda saya mohon berhenti !" pengasuh itu berteriak khawatir.


Akibat suara teriakkan itu yang cukup kencang dan mengganggu. Seluruh pelayan dan penjaga langsung menoleh melihat kearah pengasuh yang sedang berteriak sebelum mereka melihat tuan muda mereka berlari menuruni tangga. Spontan mata para pelayan bersama para penjaga terbelalak dan seketika menjadi panik.


" Tuan muda !" mereka berteriak khawatir dan ikut mengejar anak laki laki itu.


Anak laki laki itu tertawa dan menghindar. " Ayo nani, paman, bibi, kejar aku !"


" Tuan muda jangan berlari !"


" Tuan muda bagaimana jika anda terjatuh !"


" Tuan muda anda bisa dimarahi tuan besar !"


" Tuan muda kami mohon berhentilah berlari !"


Anak laki laki menghiraukan teriakan dari pengasuh, para pelayan, dan juga para penjaganya. Kaki kecilnya terus berlari dan menghindar agar tidak ada yang bisa menangkapnya.


" Ayo kejar aku !"


BRUG !


" Aduh !"


Anak laki laki itu hampir saja terjatuh saat tanpa sengaja menabrak benda keras di depannya. Manik cokelatnya melihat benda yang ditabraknya itu sebelum terkejut mengetahui bahwa benda keras yang ditabraknya barusan adalah ayahnya sendiri.


" Orion jangan berlari. Ibumu pasti akan menangis setiap kali melihatmu terluka."


" Tuan Hansen." melihat tuan mereka yang telah kembali. Pengasuh Orion, para pelayan, dan para penjaga yang tadinya berlari mengejar sekarang membungkuk hormat menyambut tuan mereka.


" Pergilah biarkan aku yang mengurus anak nakal ini."


" Baik tuan."


Hansen membungkuk menatap Orion lalu menggendongnya. " Kau nakal sekali hari ini."


Orion menggelengkan kepalanya dan menatap ayahnya dengan mata bulatnya yang berbinar. " Aku anak baik ayah."


" Benarkah ?"


" Ya !"


" Lalu kenapa kau membuat nani, pelayan, dan para penjaga itu berlari mengejarmu tadi ?" Hansen memandang anaknya dengan alis terangkat sebelah.


Orion yang menyadari kesalahannya mulai berkaca kaca ingin menangis. " Aku tidak nakal." ucapnya pelan.


" Kau nakal."

__ADS_1


" Tidak, aku tidak nakal ayah !"


" Bagi ayah kau nakal hari ini."


Orion terisak menangis saat mendengar ayahnya menganggapnya nakal hari ini.


Hansen terkekeh dan mengecup pipi bulat Orion. Putranya sungguh menggemaskan sekali. " Ayah hanya bercanda."


Orion yang masih terisak mencoba mengangkat pandangannya. Tetapi tiba tiba tempatnya berada telah berubah menjadi genangan darah dengan mayat di mana mana.


Orion terkejut dan menoleh menatap ayahnya namun bukannya melihat ayahnya yang sedang menggendongnya ia malah melihat tubuh ayah dan ibunya yang sudah bersimbah darah.


" Ayah, ibu !" Orion berlari mendekati tubuh kedua orang tuanya.


" Ayah, ibu bangun !" Orion mencoba membangunkan dengan cara mengguncang tubuh orang tuanya.


Namun seberapa keras usahanya. Orion tetap tidak bisa membangunkan orang tuanya. Ia memandang sekelilingnya dan melihat pengasuhnya yang berjongkok di pojok ruangan.


" Nani !" Orion berlari mendekati pengasuhnya.


" Nani, ayah dan ibuku tidak mau bangun !" adunya.


" Nani ?" Orion menarik lengan pengasuhnya yang masih terdiam dengan posisi jongkok.


BRUG !


Mata Orion terbelalak lebar melihat tubuh pengasuhnya yang ambruk ke lantai dengan kening yang telah berlubang.


" Tidak ! Nani jangan tinggalkan Ion sendiri !" Orion menangis melihat keadaan pengasuhnya.


" Nani bangun, tolong bantu Ion ! Siapapun tolong bantu Ion !"


...*****...


" Nani jangan pergi. Ayah, ibu jangan tinggalkan aku sendiri !"


" Ayah, ibu bangun !"


" Nani bangun, tolong bantu aku !"


" Tidak, tolong jangan tinggalkan aku !"


" Ayah, ibu !"


" Nani !"


" Hansen." Gabriel menepuk pipi Hansen membangunkannya. Jack berlari mengambil es batu di dalam kulkas.


" Hansen !" Gabriel mengencangkan tepukannya.

__ADS_1


" Ayah, ibu, nani." Hansen terus menangis di dalam tidurnya dengan tubuh bergetar.


" Hansen sadarlah !" Gabriel yang sudah tidak memiliki pilihan lain mengguncang kencang tubuh Hansen. Tetapi tetap saja temannya itu tidak terbangun dari tidurnya.


" Tuan biar saja yang coba membangunkannya." ucap Jack yang telah membawa es batu dan juga pisau buah.


Melihat pisau di tangan Jack, tatapan Gabriel berubah tajam. " Untuk apa itu ?! Kau tidak berniat membunuhnya kan ?"


" Tidak tuan tetapi pisau ini akan saya gunakan untuk menggores telapak tangan Hansen. Karena jika dia merasakan sakit, dia bisa terkejut di bawah alam sadarnya dan terbangun dari tidurnya. Tuan tenang saja saya tidak akan menggoresnya terlalu dalam. Saya juga sudah menyiapkan es batu untuk menghentikan pendarahannya nanti." jelas Jack.


" Apa itu akan berhasil ?" Gabriel bertanya ragu karena baru kali ini ia mengetahui metode aneh seperti itu.


Jack mengangguk yakin. " Saya mempertaruhkan nyawa saja tuan. Anda bisa mengawasi saya."


Gabriel terdiam dan memikirkan saran itu. " Lakukan."


" Baik tuan."


Gabriel menyingkir dan membiarkan Jack melakukan metode anehnya itu. Jack menekan pangkal hidung di pertengahan alis Hansen dan berbisik di telinga kirinya.


" Hans, Hansen tenanglah. Aku akan membantumu. Teriaklah dan ikuti aku saat kau merasakan sakit." Jack mengambil telapak tangan kiri Hansen dan menggoresnya cukup dalam.


" Tidak ! Siapapun tolong aku !"


CRAS !


" Akh !"


Hansen berteriak dan langsung membuka matanya dengan napas tersegal segal. Matanya memandang kosong ke depan lalu beralih melihat telapak tangan kirinya yang telah terluka.


" Hansen." Gabriel menepuk pundak Hansen dan memanggilnya.


Jack segera mengambil kain kasa dan mengikat luka Hansen lalu mengompresnya dengan es batu. " Hans kau sudah sadar ?"


Hansen hanya diam dengan padangan kosong. Hal itu membuat Gabriel dan Jack khawatir.


" Hans ayo kita ke rumah sakit." Gabriel menatap Hansen khawatir. Ini cukup mengejutkan untuknya karena ia baru kali ini melihat Hansen dalam keadaan seperti itu setelah mereka berteman cukup lama.


" Hans kau har..." sebelum Jack selesai berbicara Hansen lebih dulu menarik tangan kirinya.


" Biarkan saja." ucap Hansen dengan pandangan tajam dan dingin. Ia beranjak berdiri dan melangkah pergi tetapi Gabriel dengan cepat menahan bahunya.


" Hans ada apa ?" tanya Gabriel yang bertambah khawatir.


Hansen memandang tajam Gabriel. Tanpa berbicara ia melepas kasar tangan Gabriel dari bahunya. Hansen menatap Gabriel dengan pandangan yang belum pernah ia tampilkan sebelumnya.


Amarah, kesedihan, kerinduan, kesepian, dan juga penyesalan menjadi satu di manik mata Hansen yang berbinar redup tetapi tatapannya tajam dan juga dingin. Seakan akan ia sedang berusaha menyimpan semua perasaannya dari orang lain tanpa tahu bahwa mata adalah cermin kejujuran.


Gabriel tersentak melihat cara Hansen memandangnya. Pandangan mata yang entah mengapa membuat Gabriel merasa bersalah.

__ADS_1


Hansen segera mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan pergi tanpa berbicara atau menoleh ke belakang. Kedua tangannya terkepal erat guna menahan amarahnya yang sedang menguasai dirinya saat ini.


Kenapa mimpi itu muncul kembali ? tanya Hansen dalam hati.


__ADS_2