Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Sisi Lain Hansen


__ADS_3

" Jangan lakukan itu atau kau bisa merusak rencana kita."


Sebuah suara yang berasal dari anting hitam yang selalu dipakainya membuat Hansen menurunkan kembali belatinya.


Ia menekan anting hitamnya untuk berkomunikasi dengan teman temannya.


" Hanya sekali ini saja." pintanya.


" Tidak atau kau mau kuadukan pada papi sekarang juga ?"


Hansen menghela napas untuk meredakan emosinya. Setelah itu membuang belatinya ke bawah tempat tidurnya. Tangannya memegang erat anting hitamnya yang sebenarnya merupakan alat pengganti Earpiece yang selau digunakannya.


" Baiklah."


" Bagus, kami memantaumu terus di sini. Jadi jangan coba coba gegabah karena emosimu sendiri."


Hansen hanya diam tidak membalas lagi. Emosinya yang bergejolak membuatnya melupakan segalanya dan hampir saja membunuh Gabriel.


Merasa sesak dan butuh udara segar Hansen berjalan kearah balkon kamarnya. Ditatapnya bintang bintang kecil di langit. Begitu banyak dan bersinar terang layaknya batu permata.


Hansen mengambil rokok dan membakar ujungnya dengan korek api sebelum dihisapnya beberapa detik. Kemudian dikeluarkan asap yang mengumpul di dalam mulutnya hingga mengotori udara sekitarnya.


Gabriel.


Gabriel.


Gabriel.


Hampir saja Hansen melenyapkan pria itu karena rasa kesalnya. Sepertinya benar tentang kejiwaannya yang bermasalah. Atau mentalnya yang rusak sejak kejadian itu membuatnya bertingkah abnormal setiap kali merasa kesal atau terlalu emosi.


Penyakit ini juga bisa menghambat jalannya dalam menghadapi musuhnya. Emosi ini membuatnya sulit untuk berpikir jernih dan akan membuatnya terlalu tergesa gesa hingga menimbulkan masalah baru.


Hansen akan berusaha menyembuhkannya sesuai yang teman temannya inginkan. Tapi bagaimana caranya ?.


Apa bisa ia mengobati kelainannya ini ?.


Hansen membuang rokoknya ke bawah balkon. Lalu berbalik masuk ke dalam kamar setelah mengunci pintu balkon. Kemudian mengambil kunci motor dan jaket hitam serta belati kesayangannya yang selalu dibawanya kemana mana.

__ADS_1


Kali ini mungkin ia bisa melampiaskan rasa kesalnya dengan cara lain. Bukankah Bellatrix memiliki banyak kelinci percobaan di ruang laboratoriumnya. Hansen akan meminta satu mungkin itu tidak akan menjadi masalah.


Lagi pula kalau ia tidak melampiaskan rasa emosinya ini. Bisa gila lama lama dirinya kalau memendamnya terlalu lama.


Hansen mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sekaligus sebagai tempat markas bersama teman temannya.


Jarak yang tempuh saat ini sangat jauh hingga memakan waktu dua jam dalam berkendara kecepatan tinggi. Jadi karena ini sudah larut malam Hansen memutuskan untuk mengendarai motornya secepat mungkin.


Lagipula dengan melakukan hal ini adrenalinnya berpacu cepat. Dengan degup jantung kencang dan darahnya yang memanas. Hansen menyukai rasa ini karena merasa tertantang untuk melakukan hal yang lebih gila lagi.


Sampai akhirnya Hansen sampai di rumahnya. Sekaligus rumah Orion yang sederhana tetapi memiliki banyak rahasia di dalamnya karena sebagai markas Rasi Bintang.


Hansen turun dari atas motornya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tepat ketika pintu terbuka Hansen melihat teman temannya yang masih terjaga dengan kegiatan masing masing.


Rigel membaca buku bela dirinya, Bellatrix dengan beberapa buku kimianya, Alnilam dan Alnitak dengan perlengkapan maskernya, Mintaka dengan tabletnya, dan Saiph dengan rakitan pistol dan beberapa robot kecilnya.


" Kalian belum tidur ?" tanya Hansen.


" Orion ? Ah tidak, Hansen. Maaf lidahku belum terbiasa setiap kali melihatmu berdandan layaknya pria baik baik." ucap Bellatrix.


Hansen berdecak dan duduk di sebelah Rigel. " Padahal kau sudah memakai kaca mata tetapi masih salah menyebut namaku. Biasakan hal itu, kalau sewaktu waktu kau salah sebut bisa bisa banyak orang curiga nanti. Sebut namaku sesuai dengan penampilan yang kupakai."


.


...*****...


.


" Ada apa kau datang ?" tanya Rigel tanpa mengalihkan pandangan dari buku bacaannya.


" Aku kesal saat ini dan membutuhkan beberapa pelampiasan. Alltrix berikan aku kelinci percobaanmu." pinta Hansen.


Bellatrix mengalihkan perhatiannya dari buku dan menatap Hansen. " Kau harus bisa menahannya dan mencoba mengatur emosimu."


" Tidak bisa ! Ayolah Alltrix, berikan aku setidaknya satu saja kelincimu itu. Aku bisa benar benar gila kalau seperti ini. Atau kalau terlalu lama yang ada kalianlah yang akan menjadi sasaranku sekarang."


Bellatrix mengangguk dan beranjak berdiri. " Ayo, tapi hanya satu dan tidak lebih dari lima belas menit."

__ADS_1


" Apa apaan itu ? Lima belas menit terlalu cepat. Aku tidak mau, beri aku waktu setengah jam paling sedikit."


" Lakukan atau tidak sama sekali. Ingat kata papi kalau kau tidak mau terapi kedokter psikologi maka aku yang akan menjadi doktermu."


Ucapan Bellatrix itu membuatnya terpaksa mengalah dan berjalan mengikuti dari belakang. Sungguh kalau dokternya pemaksa seperti Bellatrix yang ada bukannya sembuh malah tambah gila dirinya karena terus menahan kesal.


Bellatrix membuka ruang laboratoriumnya. Hansen masih mengikuti dari belakang dengan pandangan kesal.


" Pilih tapi hanya satu dan waktumu hanya lima belas menit." Bellatrix menunjuk lima sel yang ada di dalam laboratoriumnya.


Hansen menoleh dan menatap setiap orang yang ada di dalam sel itu. Tidak salah lagi, kelinci percobaan Bellatrix adalah makhluk hidup yang bernama manusia. Asli dan bukan palsu karena mereka diambil dari setiap anak buah para penghianat itu dan mata mata yang berusaha menguak kematian Samuel selama ini.


" Aku ingin yang masih waras karena aku mau dia berteriak memohon ampun kepadaku." ucap Hansen.


Bellatrix menunjuk sel nomor empat. " Ambil yamg di dalam sel itu."


Hansen mengangguk dan menepuk pundak Bellatrix sebagai ucapan terima kasihnya.


" Jangan lupa hanya lima belas menit dan akan kutunggu di luar. Kalau lebih dari itu akan kusuruh Rigel dan Saiph menyeretmu keluar dari ruang laborku."


Bellatrix berjalan keluar dari ruang labornya dan menutup pintunya. Ia berdiri bersandar di dinding sembari memejamkan matanya. Tangannya terlipat di depan dada dan berpikir bagaimana caranya menyembuhkan penyakit sisi lain Hansen ini.


Dia terlalu menyeramkan untuk ukuran manusia. Sebutan pemburu saja sudah layaknya predator ganas. Tetapi kalau sisi lainnya ini kambuh Hansen sudah mirip seperti anjing gila yang sulit dikendalikan.


Untung saja ruang labornya ini kedap suara. Kalau tidak mungkin sekarang Bellatrix akan mendengar jeritan jeritan kesakitan dari orang yang disiksa Hansen sebagai pelampiasan rasa kesalnya.


CEKLEK !


Pintu laboratorium itu terbuka dan menampakkan Hansen dengan pakaian terkena noda darah. Melihat itu Bellatrix mengangkat tangan kanannya untuk melihat jam.


" Hm, empat detik lagi pas lima belas menit. Berarti kau tidak telah dan berhasil menjadi calon pasienku yang penurut."


Hansen memutar mata malas. " Diamlah jangan membuatku menjadi kesal lagi "


" Baiklah, jadi bagaimana perasaanmu sekarang ?" tanya Bellatrix.


Hansen tersenyum lebar dan menatap bangga noda merah berbau amis di pakaiannya. " Menyenangkan dan membuatku ingin terus melakukannya."

__ADS_1


" Dasar gila." ucap Bellatrix.


__ADS_2