Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Hansen Modelnya


__ADS_3

" Hans tolong tegakkan sedikit tubuhmu." pinta Reynand yang sekarang menjadi fotografer sementara.


Hansen berdecak kesal sebelum mengikuti permintaan itu. Sungguh menjadi model bukanlah bakat sama sekali. Ia lebih memilih menjadi pengamen jalanan dibandingkan menjadi bahan foto seperti ini.


" Hans santailah sedikit, kau terlihat kaku sekali." Reynand meminta lagi.


" Ayolah Hans, tunjukkan wajah tampanmu. Anggap saja kamera itu adalah gadis tercantik yang pernah ada." ucap Tera.


Hansen menghela napas mencoba bersabar sambil mulai menenangkan dirinya agar terlihat lebih santai. Ia berjanji setelah semua ini selesai. Hansen akan mengamuk pada Gabriel yang berani memaksanya.


" Hansen bisa tolong jangan terlalu lebar membuka matamu. Kau seperti akan membuat foto kartu identitas saja." Reynand berucap lelah. Ini sudah satu jam lamanya tetapi Hansen belum juga bisa menjadi modelnya. Postur tubuhnya terlalu kaku belum lagi ekspresinya yang terlihat seperti orang tertekan. Reynand rasa tidak ada yang bisa diambil dari Hansen saat ini selain bentuk tubuhnya yang bagus.


" Ehem, maaf." Hansen berucap canggung. Ia merasa malu saat tanpa sengaja matanya melihat rekan rekanya yang sedang menahan diri untuk menertawakannya.


" Tidak apa apa." Toni menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tidak kelepasan menertawakan Hansen.


Termasuk Tera yang menutup wajahnya dengan map tipis yang sedari tadi dipegang olehnya.


" Ayo kita mulai lagi Hans. Sekarang cobalah tersenyum memandang kamera." ucap Reynand.


Hansen menarik kedua sudut bibirnya dan mencoba tersenyum menatap kamera di depannya. Tetapi Reynand malah terlihat frustasi melihat itu.


" Hans ada apa dengan senyummu itu ? Kenapa kau malah terlihat seperti seorang psikopat ? Senyummu menyeramkan sekali tanpa ada manis manisnya sedikitpun." Reynand mendesah lelah.


" Lalu aku harus bagaimana ?! Kalian tahu aku tidak suka berfoto apalagi menjadi model yang memiliki banyak ide untuk bergaya. Jika kalian ingin protes, maka proteslah pada bos kalian yang menyebalkan itu !" Hansen berteriak kesal. Saat ini ia sudah habis kesabaran sampai ingin memukul wajah Gabriel dan semua rekan rekannya.


Melihat Hansen yang seperti itu, Reynand mengangkat kedua tangannya keatas tanda menyerah. Ia menatap Toni dan Tera sebelum menggelengkan kepalanya sebagai isyarat bahwa dirinya tidak sanggup lagi menjadi fotografer jika Hansen yang menjadi modelnya.


" Hans cobalah sekali lagi." Tera mencoba membujuk Hansen.


Hansen menatap tajam Tera yang berdiri di sebelahnya. " Kau saja yang menjadi modelnya kalau begitu. Aku sudah mengulang selama satu jam lamanya dan kau memintaku untuk mengulangnya kembali ?!"


Toni memijat pangkal hidungnya karena merasa bingung dengan keadaan saat ini. Toni kira tuntutan dari bosnya itu terlalu mudah karena hanya meminta Hansen menjadi model yang berpose di depan kamera. Tetapi siapa sangka ternyata Hansen lebih sulit dihadapi dan juga lebih menyeramkan dari pada bosnya.

__ADS_1


" Aku menyerah." ucap Tera pada Toni.


Toni mengangguk pasrah. Sepertinya ia harus merelakan gajihnya satu bulan ini.


Hansen melepaskan pakaian yang dipakainya saat ini dan kembali memakai kemeja putihnya. Wajahnya saat ini terlihat menahan kesal yang membuat siapa saja tidak berani mengganggunya.


Hansen melirik rekan rekannya yang terlihat takut menatapnya. Lihat saja ia pasti akan membuat perhitungan pada mereka. Setelah merapikan penampilannya Hansen berjalan keluar ruang pemotretan dengan membawa ransel tanpa kameranya.


" Gabriel tunggulah amukanku kali ini." Hansen berucap pelan menahan geram.


...*****...


BRAK !


Hansen menendang pintu ruang kerja Gabriel. " Gabriel bajingan dimana kau ?!"


Gabriel yang sedang berdiskusi bersama Jack setelah mereka selesai meeting terlonjak kaget. Mata mereka melotot ngeri melihat Hansen yang dengan kasar menendang pintu ruang kerja Gabriel. Mereka melirik engsel pintu yang telah rusak lalu beralih melihat Hansen yang sedang menatap tajam kearah mereka. Gabriel dan Jack meneguk ludah mereka dengan susah payah.


Merasa belum puas Hansen menendang tubuh Gabriel hingga membuatnya berteriak kesakitan. Jack yang melihat itu segera menghentikan Hansen secepat mungkin.


" Hans, tenanglah. Dia temanmu !" Jack mencekal tangan Hansen yang bersiap meninju kembali wajah Gabriel.


Hansen mendengus kesal dan menyentakkan cekalan Jack lalu duduk di sofa untuk menenangkan diri.


" Ma..af Hans. Aku tidak tahu kalau kau begitu marah." Gabriel meringis memegang wajahnya dan berjalan kearah sofa bersama Jack yang menuntunnya.


" Ketidak sukaanku bukanlah lelucon Gabriel. Aku benar benar tidak menyukai apa yang kau perbuat ini." Hansen berucap dingin.


" Aku minta maaf untuk itu." Gabriel menatap Hansen penuh rasa bersalah.


Jack yang merasa canggung karena hadir ditengah tengah pertengkaran mereka mengusap tengkuknya. Ia berlalu pergi mengambil kompres untuk meringankan lebam Gabriel.


" Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat."

__ADS_1


" Apa ?" tanya Gabriel.


Hansen menyeringai memandang teman bodohnya itu. " Kau harus menjadi pasanganku saat foto nanti."


" Itu mudah, baiklah aku akan menjadi pasanganmu nanti."


" Kau yakin ?" Hansen tersenyum miring dengan mata berbinar licik. Ia akan membuat Gabriel malu sama sepertinya yang tadi menjadi bahan tertawaan di ruang pemotretan. Tapi Hansen berterima kasih pada Tera yang telah menunjukkan sebuah ide gila kepadanya.


Tiba tiba Gabriel merasa ragu saat melihat senyum Hansen yang mengandung arti tertentu. Perasaannya menjadi gelisah dan jawaban yakin yang akan diutarakannya tertahan di ujung lidahnya.


" Kau yakin Gabriel ?" Hansen mengulang pertanyaannya.


" I..iya."


Hansen menjentikkan jarinya lalu tersenyum senang memikirkan rencananya akan berhasil nanti. " Bagus, jangan sampai kau menarik kata katamu itu."


Jack yang telah menunggu cukup lama memberanikan diri untuk mendekat. " Tuan biarkan saya mengompres luka anda."


Gabriel melihat Jack yang telah membawa kompres untuknya. " Biar saya saja. Kemari, berikan kompres itu padaku."


Jack memberikan kompresnya. Saat ingin pamit pergi, Gabriel meliriknya tajam dan berbicara tanpa suara padanya untuk tetap disini selama Hansen masih ada di ruang kerja bosnya itu. Dengan kaku Jack mengambil tempat duduk di sofa single yang berada diantara Gabriel dan juga Hansen. Sebenarnya Jack ingin sekali mencairkan suasana di ruangan ini tetapi ia takut melihat senyum yang terus ditampilkan Hansen saat ini.


Hansen melirik Jack sekilas dan menyadarkan tubuhnya di punggung sofa sambil memejamkan matanya dengan lengan sebagai penutupnya. Tanpa Gabriel sadari, sikapnya hari ini menumbuhkan rasa tidak suka dihati Hansen yang awalnya hanya biasa saja.


Hansen sangat tidak menyukai orang lain yang begitu lancang kepadanya. Apalagi sampai mengganggu privasinya dan memaksanya seperti yang Gabriel lakukan sebelumnya.


" Kau masih mau menjadi modelku Hans ?" Gabriel bertanya tiba tiba.


Hansen berdehem tanpa membuka matanya.


" Kenapa ?"


" Karena kali ini aku modelnya."

__ADS_1


__ADS_2