Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Gila dan Bodoh


__ADS_3

Orion terjatuh di depan pintu rumahnya tepat setelah pintu itu terbuka. Tangannya memegang erat kepalanya yang terasa sangat sakit.


" Orion !" Alnilam berlari mendekati Orion yang tergeletak di lantai. " Saiph, Rigel, Mintaka tolong !"


" Ada ap..., Orion !" Saiph berlari membantu Alnilam membawa Orion ke ruang tengah. Bersamaan dengan itu Rigel dan juga Mintaka datang menghampiri dengan wajah bingung.


" Ada apa ?" tanya Rigel.


" Aku tidak tahu tapi saat aku memasak di dapur aku mendengar suara benda terjatuh dan kulihat Orion telah tergeletak di sini." jelas Alnilam.


" Taka ambilkan minyak aromaterapi di ruang kerja Bellatrix." pinta Saiph.


" Baik."


Saiph menatap cemas wajah Orion yang terlihat sangat pucat. " Rigel coba telpon Bellatrix."


" Ya." Rigel mengambil ponselnya dan menghubungi Bellatrix. Satu kali panggilannya tidak terbalas, dua kali masih sama, Rigel menggenggam erat ponselnya menahan geram. Jika sekali ini Bellatrix tidak juga mengangkat panggilannya Rigel akan menjualnya pada wanita kurang belaian di kota ini. Rigel menunggu panggilan terakhirnya diterima.


" Hal..."


" Cepat pulang, Orion membutuhkanmu." setelah berbicara seperti itu Rigel langsung mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban Bellatrix.


Saiph yang melihat cara menelpon Rigel terperangah tak percaya. " Sudah ?" tanyanya.


Rigel menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


" Kau kalau menelpon orang seperti itu ?"


Rigel kembali menganggukkan kepalanya.


" Pada Orion dan papi juga ?"


" Hm."


Saiph menghela napas dan bergumam. " Untung bukan aku yang dia telpon."


" Ini minyak aromaterapinya." Mintaka datang dengan membawa sebotol kecil minyak aromaterapi ciptaan Bellatrix.


Saiph mengambilnya lalu mencium minyak itu dan mengangguk sebelum memberikan minyak itu pada Alnilam.


" Kenapa Alltrix lama sekali." ucap Rigel.


" Mungkin dia masih di jalan." balas Saiph.

__ADS_1


" Benar kata Saiph, kita tunggu saja dia. Aku juga sudah menghubungi Alnilak untuk cepat pulang." ujar Mintaka.


Rigel memandang Orion, kenapa temannya itu bisa seperti menjadi sepeti ini. Apa yang menyebabkan Orion melemah dan tak berdaya. Rigel beralih menatap Mintaka di dekatnya. " Taka cari tahu apa yang telah dilakukan Orion sebelumnya."


" Baik." Mintaka melangkah pergi mengambil laptopnya.


Alnilam memijat kepala Orion dengan minyak aromaterapi. Saiph dan Rigel duduk di sofa menunggu Mintaka. Namun tatapan mereka terus memperhatikan Orion.


" Dimana Bellatrix sebenarnya ?" tanya Rigel.


Saiph menatapnya sekilas. " Dia mencari penyebab para tetua itu berkhianat dan lebih menjadi seorang penjilat."


" Pantas dia lama sekali datang kemari."


" Yah, aku rasa sekarang dia menyetir mobil dengan kecepatan penuh."


Rigel terkekeh mendengar itu. " Kurasa juga begitu karena Orion adalah adik kesayangannya."


" Lalu Alnitak ?" sekarang Saiph yang ganti bertanya.


" Dia berbelanja saham untuk rencana kita." jawab Rigel.


" Aku rasa Orion mengulang kesalahannya kali ini." Mintaka datang membawa laptop lalu duduk di sebelah Rigel.


Mintaka memberikan laptopnya kemudian membantu Alnilam mengoleskan minyak aromaterapi pada Orion. Saiph dan Rigel terkejut setelah melihat laptop Mintaka, mereka saling memandang satu sama lain.


" Dia gila, hanya orang gila yang merusak dirinya sendiri demi pelampiasan semata." Saiph menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Orion yang menurut merugikan diri sendiri.


" Semua orang tahu Orion adalah orang tergila yang pernah ada. Tapi aku tidak pernah tahu kalau dia termasuk orang yang bodoh juga." Rigel tersenyum layar laptop Mintaka.


...*****...


" Dia terlalu banyak mengonsumsi obat penenang yang kuberikan. Dosis obat yang kuberikan hanya bisa diminum satu kali sehari tapi mungkin dia mengonsumsinya lebih dari itu." jelas Bellatrix.


" Jadi bagaimana keadaanya ?" tanya Rigel.


" Aku sudah menyuntikan obat penetralisir untuk meredakan dosis obat penenang di tubuhnya. Jadi kita tunggu saja, mungkin lima jam atau paling lama besok baru dia akan sadar."


" Dia gila." celetuk Alnitak.


" Bukan hanya gila tapi dia juga bodoh." tambah Alnilam.


Bellatrix tertawa mendengarnya. Orion memang gila dan semua orang yang mengenalnya tahu itu. Karena itulah kenapa Orion harus melampiaskan semua rasa kesalnya dengan caranya sendiri untuk menjaga kewarasannya tetap ada. Bellatrix tidak heran lagi jika Orion harus melakukan hal nekat dengan berfoto selama berjam jam di depan kamera. Padahal cahaya kamera itu dapat membuatnya mengingat hal yang paling menakutkan dimasa lalu. Orion melakukan itu demi melampiaskan rasa kesalnya tapi mungkin juga melawan rasa takutnya.

__ADS_1


" Kau tidak marah melihat kebodohannya Alltrix ?" tanya Saiph.


" Tidak."


" Tidak ?" Saiph kembali bertanya tidak mengerti.


" Iya, karena dia melakukan hal yang benar."


Saiph menepuk keningnya mendengar jawaban Bellatrix. " Kau dan dia sama sama gilanya."


" Karena itulah kami cocok." Bellatrix tersenyum menatap Saiph.


" Ya tuhan, ampunilah dosaku sampai kau berhenti membuatku memiliki teman seperti mereka ini." Saiph berucap frustasi.


Mintaka tertawa pelan melihat percakapan antara Bellatrix dan Saiph. Rigel mendekati ranjang dan mengamati wajah Orion yang masih tertidur. Meskipun wajah itu sudah tidak pucat lagi namun Orion akan terbangun beberapa jam lagi.


" Dia..., bodoh." ucap Rigel.


Mintaka, Saiph, Bellatrix menoleh. Mereka melihat Rigel menatap kesal wajah Orion yang tertidur.


" Kami akan memasak makan malam dulu." Alnilam menarik Alnitak ke luar dari kamar.


Bellatrix menghela napas lalu berjalan mendekati Rigel. " Dia tidak sebodoh yang kau pikirkan Rigel. Dia hanya ingin menjaga kesadarannya sebelum dia mehilangan kewarasannya. Kau tahu kalau dia itu tidak bisa memendam perasaan apapun termasuk rasa kesalnya. Itu bukanlah salahnya tetapi keadaan yang membuatnya seperti ini."


Rigel terdiam membenarkan ucapan Bellatrix. Masa lalu Orion bukanlah hal yang mudah untuk anak di bawah umur alami. Melihat seluruh orang meninggal dengan cara mengenaskan termasuk orang tua dan juga pengasuhnya. Ditambah lagi diumurnya yang kedua belas tahun Orion harus ikut ke dalam pelatihan pembunuh bayaran. Mungkin anak normal seusianya juga akan mengalami hal yang serupa jika menjadi Orion.


" Dan dugaan terakhirku mungkin saja dia ingin melawan traumanya. Karena itu dia melakukan hal bodoh seperti tadi siang." ucap Bellatrix melanjutkan ucapannya.


" Menghilangkan traumanya ?" Mintaka bertanya dengan raut bingung.


Bellatrix menganggukkan kepalanya. " Trauma yang membuatnya lemah. Kau tahu Orion tidak menyukai kelemahan karena itu dia tidak pernah mau mencintai Monica."


Rigel, Saiph, dan Mintaka tidak bisa berkata apa apa lagi. Karena nyatanya Orion memang membenci hal hal yang akan membuatnya lemah. Orion ingin menjadi sempurna karena baginya kelemahan hanya akan membawanya pada kekalahan.


" Kalau kalian tidak percaya dengan dugaanku ini tanyakan saja padanya nanti kalau dia sudah bangun." Bellatrix berucap lagi.


" Tapi kalau dia terus seperti ini sama saja dia bunuh diri." ucap Rigel.


Bellatrix menggelengkan kepalanya. " Tidak kalau dia memiliki keinginan. Kita harus membantunya secara perlahan."


" Aku mengikutimu." ucap Mintaka.


" Kau lebih tahu. " ujar Rigel.

__ADS_1


" Kami mendukung saranmu ini." tambah Saiph.


__ADS_2