Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Penyambutan Dokter Jenius


__ADS_3

" Sudahlah, dari pada kalian bertengkar lebih baik kita mulaikan saja acaranya. Karena banyak orang yang sudah menunggu." George berucap dengan wajah yang mulai jenuh dan bosan. Menunggu Galiendro dan Jenderal Jin berdebat tidak akan ada habisnya. Jangan sampai Dekandra juga ikut berdebat atau acara ini tidak akan pernah bisa dimulai sampai tahun depan.


Galiendro terpaksa mengalah. Ia berjalan ke atas panggung dengan wajah penuh wibawa. Bellatrix dan Mintaka yang melihat itu hampir saja memuntahkan isi perutnya karena merasa jijik. Sayang sekali Orion tidak ada di sini.


" Ehem ! Selamat malam semuanya. Sebelum acara ini dimulai saya ingin berterima kasih kepada anda sekalian yang berkenan hadir diacara saya yang sederhana ini." Galiendro menghentikan sejenak pidatonya dan tersenyum ramah menatap orang orang yang hadir di pestanya ini. Matanya memberi isyarat pada Bellatrix agar naik ke atas panggung bersamanya.


" Sebelumnya anda anda sekalian pasti sudah mendengar rumor tentang dokter terhebat di negara kita yaitu dokter Dekandra mengalami sakit parah. Saya dan beberapa petinggi negara sudah berusaha untuk menyembuhkannya. Namun tidak ada satu orang pun yang mampu mengobati penyakit dokter Dekandra. Sampai akhirnya kami menemukan satu orang dokter magang yang tanpa diduga bisa menyembuhkan penyakitnya. Karena itu diacara ini saya ingin memberinya penghargaan sebagai dokter jenius negara gara kita."


Setelah Galiendro selesai berbicara. Seluruh orang di ruang pesta itu bertepuk tangan. Mereka menunggu wajah dari seorang dokter magang yang akan menjadi dokter jenius do negara mereka.


Dekandra menepuk pundak Bellatrix dan berbisik pelan. " Majulah, kau pantas mendapatkan ini."


" Terima kasih tuan." Bellatrix membungkukkan tubuhnya pada Dekandra, Jenderal Jin, dan George sebelum berjalan kearah panggung.


Mintaka menggigit pipi dalamnya menahan umpatan untuk Bellatrix yang tidak membungkuk kepadanya. Memang sial itu temannya, disaat seperti ini masih sempat sempatnya dia sombong.


Bellatrix berhenti di sebelah Galiendro dengan wajah yang masih tetap tersenyum. Seorang wanita membawa kotak yang berisi sebuah bros emas berlambang burung Phoenix dengan berhias permata hijau.


Galiendro mengambil bros emas itu lalu berbalik hingga berhadapan dengan Bellatrix. Dipasangkannya bros emas itu pada jas Bellatrix.


Tepuk tangan sekali lagi bergema di ruang pesta setelah itu. Mereka tersenyum dan menatap kagum pada Bellatrix yang ternyata masih terlihat begitu muda.


Bellatrix membungkuk kepada Galiendro lalu berganti kepada semua orang yang ada di ruang pesta itu dari atas panggung. Sontak hal itu membuat banyak orang yang memuji betapa rendah hati dan sopannya dokter jenius di negara mereka. Tidak salah kalau Presiden memilihnya karena dia memang pantas mendapatkan penghargaan seperti itu diusianya yang makasih muda.


" Jangan kecewakan negara ini Alltrix. Aku berharap kau mampu menjadi pengobat kami dari setiap penyakit yang menyerang." ucap Galiendro yang diselingi gurauan hingga mengundang tawa dari beberapa orang.

__ADS_1


" Saya akan berusaha dengan keras untuk itu Presiden. Terima kasih karena anda sudah percaya kepada saya." Bellatrix menatap Galiendro dengan penuh percaya diri.


Mintaka yang melihat itu dari bawah panggung mendengus sebal. Lihatlah, betapa sombongnya wajah Bellatrix di atas sana sampai ingin ia pukul. Itu juga Galiedro si penghianat kenapa tidak membuat acara untuknya juga. Padahal yang membuat negara ini tentram kembali itu berkat dirinya.


Argh ! Rasanya Mintaka ingin berteriak di tengah pesta ini. Tapi ia takut Orion marah kepadanya.


.


...*****...


.


Di pojok kanan ruang pesta Saiph, Rigel, Alnilam, dan Alnitak melihat Bellatrix yang ada di atas panggung.


" Dari sekian lama aku mengenalnya. Baru kali ini aku melihatnya normal dan juga begitu sopan." ucap Alnilam.


" Itu bukan apa apa dibandingkan adik kecil kita yang tengah cemburu." Alnitak tersenyum geli menunjuk Mintaka dengan tatapannya.


Rigel melihatnya juga lalu berdecak. " Anak manja itu pasti akan mengadu setelah ini."


" Yah sesuailah, namanya adik kecil kita bukan ?" Saiph bertanya dengan menahan geli.


Alnilam memutar mata malas. " Padahal Orion yang seharusnya kita panggil seperti itu."


" Tapi entah kenapa Orion begitu memanjakan dia dan Bellatrix. Aku kadang suka kesal setiap kali mereka mengulah dan berakhir Orion pasti membantu mereka." Alnitak mengeluarkan keluh kesahnya. Bukan karena iri sebab Mintaka dan Bellatrix lebih dimanja oleh Orion. Ia hanya kesal karena setiap kali Bellatrix atau Mintaka bertingkah jahil kepadanya Orion pasti akan membantu mereka lolos darinya.

__ADS_1


Alnilam memeluk Alnitak sekilas untuk menghiburnya. " Mereka lebih banyak mengandalkan otak dibandingkan otot Al. Kau harus tahu kalau Orion memperlakukan kita sama."


Alnitak menghela napas lalu mengangguk. Kembarannya benar, Mintaka dan Bellatrix tidak semahir mereka dalam bertarung ataupun menembak. Meski mereka juga hebat dalam hal membela diri namun itu masih kalah jika dibandingkan dengannya atau teman temannya yang lain. Karena Mintaka lebih mahir dengan komputernya dan Bellatrix mahir dengan racunnya.


" Hei lihat." Saiph menunjuk kearah seberang mereka yang terdapat meja khusus makanan dan minuman. Namun bukan itu fokusnya karena Saiph sedang memandang sepasang manusia yang terlihat serasi di pesta ini.


Rigel, Alnilam, dan Alnitak mengikuti arah yang ditunjukkan Saiph. Di sana mereka melihat Gabriel dan pengacara handal yang bernama Reina tengah menikmati hidangan.


" Entah kenapa aku tidak menyukai kedekatan mereka." ucap Alnilam.


" Lebih dari itu, aku mencium bau bau wanita murahan." timpal Alnitak.


Rigel dan Saiph saling memandang penuh arti. Bellatrix sudah memberitahu mereka tentang kedekatan Hansen dengan pengacara itu. Seperti gambaran Bellatrix, pengacara itu memiliki daya pikat layaknya mawar merah. Menawan dan juga berani berbanding terbalik dengan Monica yang lembut, cantik, dan juga manja. Pantas saja Hansen tertarik kepadanya.


" Menurut kami dia cukup cantik." ucap Saiph.


Alnilam meliriknya sinis. " Kau buaya tidak akan bisa mencium aroma murahan darinya. Jadi diam dan jangan ikut dalam pembicaraan kami yang sedang menilainya."


Saiph langsung mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Rigel yang di sebelahnya menjadi tertawa.


" Kau cemburu Nilam ?" tanya Rigel.


" Diam kau ! Jangan menggangguku atau kau kuhapus dari daftar saudara iparku." ancam Alnilam.


Kini giliran Rigel yang mengangkat kedua tangannya mengalah. Kalau sudah berhubungan dengan kekasihnya Rigel tidak bisa lagi berkutik sedikitpun. Karena dihidupnya hanya ada tiga hal yang dapat membuatnya mengalah. Pertama papinya, kedua Orion, dan yang ketiga adalah kekasihnya.

__ADS_1


Alnitak menurunkan kedua tangan Rigel lalu menggenggamnya. Ia menatap kesal saudara kembarnya. " Jangan mengancam kekasihku Nilam. Rigel tidak ada sangkut pautnya dengan rasa kesalmu itu."


Alnilam hanya memutar mata malas menghitaukan ucapan Alnitak. Lalu kembali memandang Reina penuh kecurigaan.


__ADS_2