Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Dialah Orion


__ADS_3

" Nah sudah sampai." Reina berucap riang. Setelah menghabiskan waktu bermain dan makan bersama Hansen dan Gabriel serta jalan jalan setelah kepulangannya membuat Rein merasa sangat senang hari ini.


Hansen keluar dari mobil dan memandang Gabriel. " Ingat bos besok aku ambil cuti tiga hari."


" Ya akan ku ingat nanti." Gabriel mengangguk singkat sebelum menutup pintu mobil.


" Hati hati di jalan !" Hansen melambaikan tangan lalu berbalik pergi menuju Apartemennya.


Menghela napas lelah, Hansen menekan pintu lift dan melihat ponselnya. Hari ini aktivitasnya belumlah selesai. Setelah seharian menemani Reina bersama Gabriel barulah sekarang saatnya menjalani waktunya sendiri.


Hansen menekan enam digit angka membuka pintu Apartemennya. Tangannya menekan saklar lampu di dekat pintu.


" Selamat datang Hans." gumamnya.


Ini sudah menjadi rutinitasnya setelah Monica tiada. Tidak ada yang menyambutnya setelah pulang ke Apartemen, tidak ada senyuman untuknya juga. Hansen merasa benar benar sendirian jika berada di dalam Apartemennya.


Hansen masuk ke dalam kamarnya lalu memandang jam di dinding kamarnya. Pukul Delapan malam, berarti Hansen harus cepat cepat bersiap. Atau kalau tidak Hansen akan tiba di negara N subuh nanti.


Hansen berjalan kearah cermin dan melihat bayangan wajahnya di sana. Ia mengambil cairan penghapus make up lalu mengusapkannya ke wajahnya. Setelah selesai Hansen mengambil softlens di manik matanya.


Dengan ringan Hansen menggerakkan wajahnya yang terasa kaku lalu kembali menatap cermin. Mata bermanik hitamnya kini berubah menjadi cokelat dengan tahi lalat cinabar di bawah mata kiri.


" Tidak berguna." ucapnya sebelum berjalan ke lemari pakaian untuk mempersiapkan keperluannya.


Hansen mengambil kunci motor di laci lemarinya. Lalu mengambil tas kulit hitam di bawah pakaian gantungnya. Hansen membuka tas itu dan memeriksanya isi di dalamnya satu persatu. Tangannya mengusap lembut sepasang belati dan juga pistol bergagang emas yang terukir namanya di sana.


Pistol ini adalah hadiah ulang tahunnya yang kelima dari ayahnya sedangkan ibunya menghadiahinya sepasang belati itu. Serta yang paling penting, Hansen mengangkat sebuah lencana logam yang berbentuk bintang. Itu adalah lambang bangsawan Frendick. Hansen akan membawa semua benda ini untuk rencananya kali ini.


Dirasa telah cukup mengenang, Hansen memasukkan kembali sepasang belati, pistol, dan lencana logam itu ke daam tas kulit hitamnya. Ia menggendongnya di punggung dan memakai sepatunya.


Hansen melangkah tegas berjalan keluar dari Apartemennya. Kali ini rencananya akan dikerjakan bersama teman temannya dan sekarang mereka telah sampai terlebih dahulu ke negara N.


Sebenarnya mereka ingin berangkat bersamanya tetapi Hansen tidak bisa karena ia harus mengurus Reina dan juga putra George itu. Mengingat nama penghianat itu rasanya Hansen ingin membawa pulang kepala George untuk ayah dan ibunya sebagai buah tangannya dari negara Z.

__ADS_1


Tetapi sayang sekali Hansen belum bisa melakukannya karena pamannya tidak memperbolehkan ia melakukan itu. Katanya belum saatnya, namun Hansen rasanya sudah tidak sabar lagi untuk memisahkan kepala George dari tubuhnya secara langsung.


Pasti Gabriel akan menangis histeris dan meraung marah setelah melihat mayat George yang terbujur kaku tanpa kepala. Ah, Hansen semakin menyukai kepala George untuk dibawanya pulang ke negera N.


Hansen naik ke atas motornya lalu memakai Helm dan memakai sarung tangan Sebagai pelindung. Selesai, Hansen langsung mengendarai motor sportnya dalam keadaan kencang.


...*****...


Hansen memarkirkan motornya di depan rumah papan yang berada di tengah hutan. Ia dengan santai turun dari motornya dan melangkah masuk ke dalam rumah itu.


" Kau sudah sampai ?"


Hansen menoleh dan melihat Neus yang duduk di sofa ruang tamu bersama tongkatnya. Kenapa dijam segini pak tua ini belum juga istirahat. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu dengan kesehatannya. Pasti itu akan merepotkan rencananya jika terjadi sesuatu pada pak tuan itu.


" Kau belum tidur paman ?"


Neus menggeleng pelan dan menepuk tempat di sebelahnya. Minta Hansen untuk duduk di sana. " Aku menunggumu tuan muda."


" Aku bukan anak kecil lagi." Hansen duduk di sebelah Neus dan bersandar di sandaran sofa.


" Dan bagiku kau masihlah tetap orang tuaku setelah ayah dan ibuku." balas Hansen yang menatap Neus dengan pandangan seperti ia sedang memandang ayah dan ibunya.


" Saya terharu mendengarnya tuan muda. Saya merasa..., saya tidaklah seistimewa itu."


Hansen berdecak mendengar kerendahan hati Neus. Pria tua yang dulu menjadi supir sekaligus sekarang berubah menjadi pria tua yang kemana mana memakai tongkat. Padahal umur neus masihlah empat puluh lima tahun tetapi pria itu sudah memakai tongkat layaknya orang yang sudah tua renta.


" Paman sudah tahu kedatanganku kali ini kan ?"


Neus mengangguk singkat. " Rigel sudah memberitahukan itu pada saya."


" Dan paman setuju ?" tanya Hansen.


" Ya, saya tidak mungkin menghalangi jalan anda untuk berbuat baik pada rakyat yang memang seharusnya itulah tugas anda tuan muda."

__ADS_1


Tugas menjadi seorang pemimpin, Hansen ingat itu. Bahkan saat memejamkan matanya pun Hansen mengingat rakyat dan negaranya. Hanya saja untuk mengerjakan tugasnya dan melakukan pekerjaan yang seperti teman temannya inginkan Hansen memerlukan keberanian lebih untuk itu.


" Aku takut mereka tidak percaya kepadaku paman." Hansen berucap lirih.


" Tuan muda, rakyat negara N bukanlah rakyat yang bodoh. Kasih sayang mereka kepada pemimpinnya membuat mereka langsung tahu bahwa anda adalah tuan muda mereka. Ditambah wajah anda yang sagat mirip dengan tuan besar. Saya yakin mereka pasti langsung percaya kepada anda. Tapi jika anda masih ragu, tunjukkan lencana keluarga anda." jelas Neus.


Hansen tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Untuk apa cemas jika Hansen memiliki bukti jika nanti rakyat tidak mempercayainya sebagai tuan muda mereka. Calon pemimpin mereka dulu yang sangat mereka puji dan banggakan.


" Anda terlihat dekat dengan gadis yang menjadi teman masa kecil dari putra George itu tuan muda." ucap Neus.


" Kami berteman paman."


" Saya tidak menanyakan hubungan kalian tuan muda."


Hansen mengangkat alisnya sebelah menatap Neus di sebelahnya. " Apa maksud paman sebenarnya. Langsung saja karena aku bukanlah orang yang bisa basa basi."


" Saya tidak berani mengungkapkannya tuan muda. Itu bukanlah hak saya."


" Katakan saja, aku ingin mendengarnya."


Neus terdiam cukup lama mempertimbangkan apakah ia harus berucap jujur atau tidak.


" Paman kau membantah perintahku ?"


Neus terlihat gelagapan dan ketakutan. " Tidak tuan muda, tolong maafkan saya.'


" Kalau begitu katakan."


" Saya hanya berpikir ada baiknya jika anda jangan menjalin hubungan asmara terlebih dahulu apalagi itu gadis dari negara Z."


" Aku tahu."


" Maafkan saya tuan muda Orion."

__ADS_1


" Tidak masalah paman Neus." Hansen menyeringai mendengar namanya di sebutkan oleh Neus kali ini.


__ADS_2