
Orion berjalan di lorong berdinding tanah dengan obor sebagai penerangnya. Tangan kanannya tersimpan di saku celananya dan tangan kirinya memegang sebotol alkohol yang masih tertutup rapat.
Sebentar lagi Orion akan bermain dan alkohol selalu menjadi temannya. Orion mengetuk dua kali pintu besi di depannya.
Pintu besi itu terbuka dari dalam. Rigel tersenyum tipis menyambutnya. " Ada di dalam."
Orion masuk ke dalam. " Bertahan berapa lama ?"
" Cukup lama padahal sudah hampir kehabisan darah. Untung saja Bellatrix cepat menanganinya." Rigel menutup pintu sebelum mengikuti Orion.
" Itu wajar untuk pembunuh tingkat atas sepertinya. Aku dulu pernah melihat yang lebih dari itu."
" Benarkah ? Seperti apa ?" melihat yang tadi saja sudah membuatnya berdecak kagum karena Rigel kira itu adalah hal langka. Tetapi ternyata ada yang lebih mengagumkan lagi. Sayang sekali Rigel tidak pernah melihatnya.
" Memakan dagingnya sendiri saat kelaparan di tengah hutan."
" Apa ?!" Rigel melotot mendengar kata memakan dagingnya sendiri. " Ma..maksudmu memakan tubuhnya sendiri begitu ?"
Orion menganggukkan kepalanya. " Biasanya mereka memilih di lengan kiri atau bagian paha."
" Itu menyeramkan sekali !" tubuh Rigel tiba tiba merasa merinding. Memakan bagian tubuhnya sendiri itu terdengar gila untuknya.
" Memang, malah hampir mirip seperti kanibal. Tapi mau bagaimana lagi, mereka masih dalam masa pelatihan dan harus bisa bertahan hidup kalau tidak ingin mati sia sia di dalam hutan." jelas Orion.
Rigel menatap Orion curiga. " Kau dulu pasti juga mendapatkan pelatihan seperti itu kan ? Jangan bilang kau juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan orang orang itu."
Orion tersenyum sebelum menggelengkan kepalanya. " Aku memakan tanaman jika tidak ada hewan. Bahkan dulu aku pernah keracunan gara gara asal memakan tumbuhan."
" Wah ! Bagaimana bisa kau masih hidup sampai sekarang ?" tanya Rigel.
" Aku meminum bisa ular yang tidak sengaja kutemui dari atas pohon."
Rigel berdecak kagum memandang Orion. Pantas saja papinya begitu memuja Orion layaknya seorang raja. Tidak hanya tangguh Orion juga memiliki kecerdasan yang mengagumkan.
" Kau hebat." puji Rigel.
" Belum seberapa dibandingkan ayahku dulu." ucap Orion.
" Orion." Saiph berjalan mendekati Orion yang berjalan bersama Rigel.
" Sudah kau lakukan ?" tanya Orion.
__ADS_1
" Sudah, aku sudah mencabut semua kukunya dan mengukir nama Monica di tubuhnya"
Orion tersenyum mendengar jawaban Saiph. " Kau memang bisa diandalkan."
Orion menepuk pundak Saiph sebelum berjalan melewati pria itu menuju seseorang yang terikat rantai di dinding. Orion tertawa melihat tubuh orang itu penuh dengan darah akibat luka yang dilakukan Saiph. Tapi itu belum cukup baginya, Orion membuka alkohol yang sedari tadi dibawanya lalu menyiramkannya ke orang itu.
" Akh !" orang itu berteriak kencang.
Senyum Orion semakin lebar. " Hai..., Zero."
Orang itu menatap Orion dengan mata sayu tak bertenaga. " Ka..kau ?"
" Kau melupakanku ? Sayang sekali, padahal dulu kita pernah berada dalam satu pelatihan."
" O...Orion." Zero menyebutkan nama Orion dengan terbata bata.
" Kau mengingatku ? Mengharukan sekali."
" Ke..napa kau mem..perlakukanku be..gini ?"
Senyum di bibir Orion menghilang seketika berganti dengan senyum bengis dan tatapan tajamnya. Tangannya mencengram rahang Zero. " Karena kau membunuh kekasihku."
" Gadis yang kau bunuh di dalam Apartemennya. Pada hari Selasa pukul sebelas malam."
Tubuh Zero menegang dengan mata terbelalak menatap mata tajam Orion. " Jadi dia..."
...*****...
Hansen berjalan menuju balkon Apartemennya. Matanya memandang bintang di langit. Jika di gabungkan bintang itu terlihat seperti orang memanah yang berarti sebentar lagi akan musim panen. Tapi bukan itu yang Hansen pikirkan saat melihat bintang itu. Pikirannya teringat masa lalunya yang mungkin cukup menyenangkan.
" Namanya Orion Harsenal Frendick. Pewaris negara N yang sangat diagungkan oleh seluruh negeri karena kecerdasannya."
" Tapi kenapa namanya harus Orion ? Bukankah Orion kata lain dari pemburu ? Calon pemimpin tidak boleh jadi pemburu karena dia harus memimpin negaranya dengan bijaksana dan penuh kasih pada seluruh rakyatnya."
" Orion memang kata lain dari Sang Pemburu. Tetapi dengan harapan suatu saat nanti Orion bisa menjadi pemburu bagi setiap kejahatan yang berniat menghancurkan negara N."
" Tapi kenyataannya Orion sekarang menjadi menjadi pemburu bagi pembunuh orang tuanya bukan negaranya." Hansen tersenyum tipis menatap bintang di langit.
Hari ini sebuah kenyataan berhasil menghantam hatinya hingga membuatnya terasa sangat sakit bersama rasa sesak di dadanya.
Apa yang harus dilakukannya saat ini ?.
__ADS_1
Hanya Orion yang bisa menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Tetapi pikiran Hansen menolak untuk melakukannya. Inilah kenapa rasa bersalah terkadang datang kepadanya.
" Kau mau menjadi temanku ?"
" Ya."
" Namaku Gabriel, kau ?"
" Hansen."
" Baiklah Hans, itu panggilanku untukmu. Mulai sekarang kau adalah temanku untuk selamanya."
Hansen menghela napas berharap rasa sesak di dadanya dapat berkurang. " Bisakah kita menjadi teman selamanya Gabriel ?"
" Kenapa pertemanan kita lebih rumit dibandingkan kisah cinta yang tak direstui ? Apa kita harus mengikuti kisahnya Romeo dan Juliet dulu baru kita bisa berteman ?"
Hansen terkekeh saat menyadari jika dirinya sedang berbicara sendiri sambil menatap bintang di langit. Sepertinya Hansen sudah pantas dinobatkan dengan title orang gila.
Tapi mau bagaimana lagi ?.
Hansen hanya tinggal sendiri di Apartemennya. Setelah Monica pergi ke sisi tuhan, Hansen menjadi kesepian di sini. Sedangkan Gabriel entah kemana temannya itu sekarang sampai teleponnya pun tidak aktif.
Hansen mengira pertemanannya dengan Gabriel akan terlihat mudah selama mereka saling membantu disetiap keadaan. Namun lagi lagi kenyataan tak berpihak kepadanya. Kenyataan pahit yang satu persatu datang kepadanya secara bertahap membuatnya frustasi.
Disatu sisi Gabriel adalah temannya. Sedangkan disisi lainnya lagi Orion adalah tujuannya. Hansen tidak bisa memilih salah satunya. Jika Hansen memilih Gabriel, maka Hansen harus merelakan tujuannya. Tetapi jika Hansen memilih Orion, maka Hansen harus rela membunuh temannya.
Bukankah itu pilihan yang sulit ?.
Nasib rakyat negara N sekarang sedang bergantung kepadanya. Negara yang dulu hidup jaya serta makmur itu kini telah menjadi jajahan bagi negara lain. Karena hilangnya keluarga Frendick maka berarti hancurnya negara N.
Hansen menangkupkan tangannya. " Tuhan bantulah aku. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku tetapi aku juga tidak bisa membunuh temanku."
Keteguhan yang selama ini Hansen tanam di dalam hati ternyata tidak sekuat ucapannya. Rasa ragu itu terus datang kepadanya.
Kebaikan.
Satu kata yang sialnya diturunkan ibunya kepadanya. Serta didikan keras yang harus mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri membuat Hansen sulit menghilangkannya.
Hansen telah berusaha menutup rapat sifatnya yang satu itu tetapi tetap saja rasa bersalah masih datang menghampirinya. Bayangan orang orang tidak bersalah yang sedang mengerang kesakitan menghantuinya hingga sekarang.
Mana yang harus aku pilih ayah, ibu ? Batinnya.
__ADS_1