Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Monica


__ADS_3

" Hah !" Mintaka menghela napas kasar setelah sampai di atas tebing air terjun menggunakan tali dinamis yang sudah dirancang oleh Saiph sebelumnya.


Saiph masih membantu Alnilam, Alnitak, dan Rigel yang hampir sampai memanjat tebing. Orion membantu Zairan menyiapkan tali statis untuk mereka turun melalui aliran air terjun dengan berlahan.


Bellatrix mengatur napasnya setelah sampai ke atas tebing. Lalu ikut membantu Orion dan Zairan menyiapkan tali.


" Kenapa kita tidak langsung masuk saja saat naik tebing tadi ?" tanyanya pada Zairan.


" Aliran airnya terlalu deras dan kita tidak akan bisa masuk ke balik airnya karena arah kita yang berlawanan." Zairan menjawab sambil membagikan tali statis pada Mintaka, Saiph, Alnilam, Alnitak, dan Rigel.


" Sudah ?" Orion bertanya sembari menatap temannya satu persatu yang di balas anggukkan kepala dari mereka.


" Zairan, Mintaka, dan aku akan turun duluan. Alnilam, Alnitak, kalian turun setelah kami. Sedangkan Rigel, Bellatrix dan Saiph kalian turunlah setelah para gadis. Awasi mereka dari atas dan aku yang memantau mereka dari bawah." lanjutnya.


" Baik." ucap Rigel. Saiph dan Bellatrix mengangguk paham.


Alnilam dan Alnitak tersenyum menatap Orion. Mereka yakin Orion tidak mungkin mengabaikan mereka meski di tengah bahaya sekalipun.


Orion menatap Zairan dan Mintaka memberi kode sebelum turun perlahan mengikuti derasnya aliran air terjun diikuti teman temannya.


Tidak hanya menahan aliran air yang deras mereka ternyata juga harus pintar berpegangan pada batu tebing yang licin. Bukan sesekali mereka terpeleset dan hampir terjatuh, mereka juga harus menjaga ransel mereka agar tidak terjatuh.


Orion memberi kode Zairan untuk masuk terlebih dahulu ke balik air bersama teman temannya. Sedangkan Orion akan memantau sampai mereka benar benar masuk ke balik air baru dirinya akan ikut masuk.


Mintaka yang melompat mendadak saat masuk ke dalam balik air terjun tanpa sengaja terpeleset.


" Akh !"


" Awas !" Zairan langsung menarik tali Mintaka agar pria itu tidak terjatuh.


" Mintaka !" Orion segera membantu dan menarik Mintaka.


" Huh, hampir saja. " gumam Bellatrix.


" Untung saja kau tidak terjatuh Mintaka. Kalau tidak mungkin kau sudah menjadi santapan ular piton di bawah sana" Zairan tanpa sadar berbicara.


" Apa ?!" Mintaka berteriak kencang merasa sangat terkejut dan jantungnya berdegup kencang seketika.

__ADS_1


Bellatrix melotot begitu pula dengan Saiph dan Alnitak. Rigel menjatuhkan tubuhnya ke tanah, Alnilam yang berubah pucat seketika. Mereka tidak menyangka ternyata saat ini mereka sedang bertaruh hidup dan mati dengan keberuntungan dari hewan buas berbentuk reptil.


Orion berjalan cepat mendekati Zairan lalu mencekiknya kencang. " Apa maksudmu Zairan. Kau tidak ada menyebutkan itu sebelumnya !" matanya menatap tajam penuh amarah pada Zairan.


" A..a...ku ter...pa..ksa. Ma...af...kan a...ku." Zairan berucap dengan susah payah.


Orion mengangkat tubuh Zairan lalu melemparkannya ke tanah. Kakinya menginjak dada Zairan dengan tangannya terkepal erat.


" Jelaskan."


Zairan terbatuk sebelum menjawab. " Jika aku memberitahu sebelumnya kalian tidak akan mau mengambilnya. Sedangkan kita membutuhkannya kan ? Sebelumnya aku juga sudah meminta anak buah kepercayaanku untuk membawa helikopter agar kita bisa kembali. Maafkan aku, aku tidak ada niat buruk apapun pada kalian. Aku bersumpah !"


Orion menatap mata Zairan kemudian menarik kakinya kembali. " Ini kesempatan terakhirmu."


Zairan terbatuk sambil memegang lehernya. " A...ayo kutunjukkan hartaku lalu kita pulang."


...*****...


CEKLEK !


Monica masuk ke dalam apartemennya lalu menghidupkan lampu. Monica merasa ada yang aneh saat ini, matanya memandang sekelilingnya. Tidak ada siapapun, pikirnya. Monica menggeleng pelan mengusir perasaan buruk dari dalam hatinya.


Monica berjalan masuk ke dalam kamar dan kembali menghidupkan lampu. Namun setelah lampu menerangi ruang kamarnya sebuah benda dingin menempel di pelipisnya. Monica tersentak kaget dengan mata terbelalak saat melihat seorang pria berpakaian hitam sedang menodongkan pistol ke pelipisnya.


" Hai, nona." pria berpakaian hitam itu menyeringai kejam melihat wajah pucat dan ketakutan dari Monica.


" Si...siapa ka..kau ?" tubuh Monica bergetar hebat menahan tangis.


" Zero, itulah namaku. Semua korbanku juga mengetahuinya tapi biasanya semua orang yang sudah mengetahui namaku mereka semua..." Zero mendekatkan wajahnya menatap manik indah milik Monica yang meredup tertutup air mata.


" Mati." lanjutnya berbisik.


Air mata Monica menetes tanpa bisa ditahan lagi. Monica menangis dengan tubuh bergetar hebat. Pikirannya tertuju pada Hansen saat ini, jika pria itu tahu ada orang yang ingin menyakitinya. Hansen pasti akan menghabisi pria bernama Zero ini.


Zero menjauhkan wajahnya dan tersenyum manis layaknya psikopat. " Sut..., jangan menangis nona. Kau semakin cantik nanti."


" Kenapa ? Kenapa kau mengincarku padahal aku tidak pernah menyakitimu ?" Monica bertanya lirih.

__ADS_1


" Bukan kau tapi kekasihmu. Dia perlu disadarkan tentang posisinya berada." Zero berjalan mundur dua langkah ke belakang kemudian menembak dada kiri Monica.


DOR !


" Akh !" Monica terjatuh ke lantai dengan tangan memegang dada kirinya yang tertembak.


DOR !


DOR !


Zero kembali menembak punggung Monica sembari menatap remeh tubuh tak berdaya gadis itu. " Kekasihmu bahkan tidak datang saat kau berada diambang kematian nona."


Zero mengambil tas Monica dan menggeledah isinya. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Zero segera menghancurkannya dengan cara menginjaknya di depan Monica.


" Ja...jangan." Monica berusaha menggapai ponselnya.


" Ups ! Ponselmu sudah hancur nona." Zero tersenyum lalu melihat jam yang ada di dinding kamar Monica.


" Sepertinya jam kerjaku sudah selesai. Terima kasih atas waktumu nona. Semoga nanti kita bisa bertemu di neraka." lanjutnya sebelum beranjak pergi meninggal Monica yang bersimbah darah di lantai.


Monica mengangkat pandangannya dan menangis merasakan sakit di dadanya yang sekarang menjalar keseluruh tubuhnya.


" Ha...n..sen." ucapnya lirih.


Monica berusaha merangkak menuju meja riasnya. Tanpa memperdulikan darahnya yang terus keluar dari dada dan punggungnya Monica terus berusaha sambil mengucapkan nama Hansen.


" Han...sen."


Air matanya kembali menetes saat tubuhnya terasa sangat sakit. Setelah sampai di meja riasnya. Monica mengambil alat rekaman yang sengaja dirinya tempelkan tepat di bawah meja riasnya dengan tangan gemetar. Tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menahan sakit yang dirasakannya saat ini.


" Han...sen."


Monica tidak ingin menghubungi siapapun untuk meminta bantuan karena dirinya tahu itu percuma saja. Tubuhnya tidak akan bertahan lebih lama lagi.


Monica tersenyum sendu melihat alat rekaman yang masih hidup di tangannya. Untunglah, ini adalah harapan terakhirnya.


" Han...sen, aku mencintaimu. Aku berha...rap kau bi...sa memelukku u..un..tuk yang terakhir ka..linya."

__ADS_1


Monica kembali menempelkan alat rekaman itu di bawah meja rias dengan sisa tenaganya sebelum matanya terpejam.


Tuhan, jagalah kekasih hatiku saat aku tiba di sisimu nanti ! Batin Monica.


__ADS_2