Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Kabar Buruk


__ADS_3

Jenderal Jin memberi isyarat kepada anak buah bayangannya untuk membawa Neus malam itu juga ketempat rahasianya. Tanpa dia sadari semua perbuatannya disaksikan oleh seekor lalat kecil yang hinggap disalah satu bunga hias yang ada di dalam kamar itu.


Lalat itu terbang menuju salah satu penjaga bayangan yang sedang membawa tubuh Neus. Diam diam lalat kecil itu mengeluarkan kotoran mirip seperti serbuk sari dari ujung buntutnya ke salah satu punggung penjaga bayangan.


Setelah berhasil melakukannya, lalat kecil itu mengibaskan sayapnya dan terbang melalui pintu balkon kamar yang terbuka lebar. Dengan kecepatan maksimal lalat kecil itu berusaha melakukan tugas terakhirnya. Karena setelah pemiliknya mengetahui semua hal yang dilihatnya barusan maka disaat itu pula tubuhnya akan hancur menjadi butiran partikel partikel kecil seperti pasir.


Lalat kecil itu terbang memutari sebuah rumah sederhana dan masuk melalui jendela. Sembari mengurangi kecepatan terbangnya lalat kecil itu memindai keberadaan sang pemiliknya. Setelah terdeteksi lalat kecil itu kembali terbang secepat mungkin dan hinggap di punggung tangan pemiliknya.


" N kenapa kau di sini ?" Saiph terkejut melihat robot kecil berbentuk lalat hasil ciptaannya tiba tiba datang menghampirinya.


Lalat kecil yang bernama N itu menggelengkan kepalanya. Saiph yang melihat itu merasa curiga dan segera melirik Mintaka. " Ambilkan laptopku Taka, tolong."


Mintaka tanpa bertanya segera beranjak ke ruang penelitian Saiph. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak sejak ia melihat kedatangan lalat kecil itu. Setahunya lalat kecil yang bernama N itu adalah lalat yang diberikan Saiph untuk mengintai papi mereka disaat mereka tidak ada.


" Ini." Mintaka memberikan laptop itu pada Saiph.


Saiph membuka laptopnya dan mengetikan beberapa sandi kemudian mengambil sampel plastik putih. " N lakukan tugasmu dan terima kasih kerja kerasmu selama ini. Maaf karena aku menciptakanmu untuk berakhir seperti ini. Tapi jika kau tidak musnah maka musuh bisa saja mengetahui keberadaan kami, maafkan aku N."


N menatap Saiph sejenak sebelum menganggukkan kepalanya beberapa kali seolah mengerti. Kemudian terbang kembali menuju sampel plastik putih yang telah di sediakan. Perlahan N memutuskan kepalanya dan seketika itu juga tubuhnya melebur menjadi partikel partikel kecil bewarna hitam.


Saiph menggigit bibir bawahnya dengan perasaan sedih melihat itu. Walaupun N hanyalah sebuah robot yang ia ciptakan namun Saiph membuatnya hidup meski menggunakan teknologi.


Saiph membelah kepala kecil N dan mengambil kaca tipis di tengahnya yang digunakan sebagai otak untuk N dengan penjepit kecil. Setelah itu dimasukkan kaca tips itu ke dalam wadah kecil mirip seperti kartu memori. Barulah Saiph memasukkan kartu memori buatannya itu ke dalam modem untuk mengetahui maksud dari kedatangan N menggunakan laptopnya.


Namun belum sempat selesai ia melihat semuanya. Tangan Saiph sudah bergetar ketakutan dengan raut wajah yang sangat khawatir saat melihat wajah Jendral Jin yang berjalan mendekati papinya di dalam rekaman itu.

__ADS_1


Saiph menatap Mintaka di depannya. " Segera hubungi semuanya. Kita mendapatkan kabar buruk kali ini."


" Baik." Mintaka mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada semua teman temannya termasuk Orion.


Saiph kembali melihat layar laptopnya sampai rekaman yang telah disimpan oleh N selesai. Lalu Saiph menyimpan rekaman itu ke dalam file dan mulai mencari keberadaan penjaga bayangan yang telah membawa papinya. Dengan mengandalkan kotoran N yang lengket di punggung salah satu penjaga bayangan itu.


.


... ***** ...


.


Orion mengepalkan tangannya sebagai pelampiasan rasa marah yang ia rasakan saat melihat rekaman yang Saiph tunjukkan. Jenderal Jin sialan itu berani sekali melukai pamannya Neus.


" Dimana sekarang ?" tanya Orion dengan pandangannya yang masih memandang rekaman.


" Tapi aku dengar di sana juga pernah menjadi tempat pembuangan seluruh mayat dari rakyat yang meninggal akibat tertular virus mematikan zaman dulu." Mintaka berucap untuk menambahkan informasi.


" Berarti tempat itu pasti mengandung banyak penyakit dan bakteri mematikan. Atau bisa juga hewan hewan menjijikkan yang sudah bertranformasi." ucap Bellatrix sambil bergidik ngeri.


" Aku jadi semakin khawatir pada papi. Jin sialan itu membawa papi kesana untuk apa ? Jelas dari rekaman itu dia tidak membunuh papi." Alnitak menatap cemas pada rekaman itu.


Alnilam melebarkan matanya mengingat sesuatu. " Papi kan tidak tahan pada udara dan tempat yang kotor. Apa papi bisa bertahan ditempat itu?" tanyanya cemas dengan mata yang menahan tangis.


Rigel dan Orion saling memandang. Mereka telah memutuskan sesuatu dengan rangkaian rencana untuk menyelamatkan Neus. Setelah berhasil mengerti pemikiran satu sama lain Rigel menganggukkan kepalanya dan Orion mengalihkan pandangannya pada teman temannya.

__ADS_1


" Kita akan pergi ke sana untuk menyelamatkan paman Neus. Tapi di sinilah akhir dari persembunyiannya kita. Jin sengaja tidak membunuh paman Neus karena dia yakin kalau ada orang yang membantu paman dari belakang. Karena itulah dia sengaja tidak membunuh paman Neus agar kita terpancing untuk menyelamatkannya dan Jin bisa mengetahui keberadaan kita." ucap Orion.


" Lalu bagaimana dengan penyamaranmu Orion ?" tanya Saiph.


Orion mengangkat bahu acuh. " Mungkin seperti biasa, mangkir dari pekerjaan dan dipotong gajih bulanan plus mendapatkan ucapan pedas dari sang atasan yang terhormat."


" Bersyukur kau tidak dikeluarkan." balas Saiph.


" Tidak kerja pun aku tidak akan jatuh miskin." ucap Orion.


" Kembali kepembahasan kita. Saiph kau sudah menyalin denah pulau itu ?" Rigel berganti mengambil alih sebagai wakil dikelompok Rasi Bintang.


" Sudah." Saiph mengetik beberapa saat sebelum layar yang memperlihatkan rekaman kini berganti dengan sebuah denah.


Rigel dan yang lainnya memperhatikan denah itu dengan cermat. Namun dikelompok mereka tidak ada yang lebih handal dalam menyusun strategi selain Orion dan juga Rigel. Jadi Saiph, Bellatrix, Mintaka, Alnilam, dan Alnitak hanya bisa menunggu keputusan dari kedua orang itu.


" Kau atau aku yang menjelaskan ?" tanya Rigel pada Orion.


" Aku saja dan selebihnya baru kau yang mengaturnya." balas Orion.


" Baiklah."


Orion menatap teman temannya satu persatu sebelum memberitahu tugas mereka. " Kita mulai dan dengarkan baik baik."


" Siap." Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, dan Mintaka membalas bersamaan.

__ADS_1


" Mintaka kau pergilah ketempat Zairan untuk menyiapkan kapal selam, helikopter, dan kendaraan air yang tercepat. Kau memantau kami dari jauh karena bisa saja pulau itu tidak memiliki koneksi jaringan. Aku mengandalkanku dalam hal penyelamatan terakhir. Bila yang di udara gagal, kita akan menggunakan kendaraan air yang tercepat. Tapi kalau itu masih membuat kita kesulitan dan terkepung maka kita pakai kapal selam itu."


__ADS_2