Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Mobil


__ADS_3

Gabriel menatap tajam Klein dan Letnan Sarga. Sepertinya kedua pria ini dari awal memang ingin mencari masalah dengannya. Pantas saja dari sekian banyak saksi yang melihat kejadian kecelakaan itu hanya Gabriel dan kedua temannya yang diminta untuk datang ke kantor polisi.


" Wakil Jenderal jujur saja dari awal anda sudah menargetkan saya bukan ?"


Klein tersenyum tipis mendengarnya. " Terus terang kami mencurigai anda tuan Gabriel. Perusahaan ayah anda yang membuat mobil itu dan bukan mustahil jika mobil tersebut di modifikasi sedemikian rupa. Ditambah sikap anda seperti berbanding terbalik dengan yang dibicarakan banyak orang membuat kami terpaksa harus menyelidiki anda." jelasnya.


" Lalu apa hubungannya denganku dan Hansen tuan Wakil Jenderal yang terhormat ?" Reina bertanya dengan nada penuh penekanan.


Klein mengusap peluh di dahinya dengan sapu tangan. Nona muda di depannya ini memang benar benar membuatnya merasa serba salah.


" Aku akan menghubungi pengacaraku kalau begitu." ucap Gabriel. Sepertinya kali ini masalah yang cukup serius, pikirnya.


" Silahkan tuan Gabriel. Itu hak anda, tapi kami di sini hanya ingin meminta keterangan dari anda saja." balas Klein.


Gabriel berdecak pelan. Begitu pula dengan Hansen yang sudah menahan geram karena sedari tadi dirinya tidak dianggap.


" Em..., bisa tolong ganti pertanyaan Wakil Jenderal ? Aku merasa dari tadi anda hanya bertanya pada Gabriel saja." ucap Hansen.


Klein beralih melihat Hansen. Pria tampan yang Klein tahu berprofesi sebagai seorang fotografer terkenal. " Tunggu giliran anda tuan Hansen."


Hansen menganggukkan kepalanya paham. " Kenapa tidak anda tanya saja kami sekaligus ? Saat itu kami berada di tempat, waktu, dan kejadian yang sama. Maaf saja Wakil Jenderal, aku dan Gabriel sudah terbiasa saling berbagi dalam berbagai hal termasuk pertanyaan dari anda."


" Jadi, tolong jangan beri kami pertanyaan secara bergiliran karena itu membuatku tidak nyaman." lanjutnya.


Klein terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang Hansen ucapkan. Mencoba mencerna setiap kata dalam ucapan yang keluar dari Hansen sebelum mengangguk mengerti.


" Ternyata kekuatan persahabatan cukup menarik juga." Klein terkekeh sambil merubah posisi duduknya menjadi lebih santai untuk mencairkan suasana yang sedari tadi terasa mulai memanas. Padahal niatnya hanya ingin mengambil keterangan dari Gabriel tanpa berniat membawanya pada pihak berwajib ataupun menahannya sebagai tersangka. Tapi siapa sangka Klein malah melihat persahabatan yang sangat jarang terjadi di jaman sekarang.


Hansen tersenyum lalu merangkul bahu Gabriel dan menatap Klain penuh arti. " Suatu saat nanti anda akan melihat hal luar biasa dari persahabatan kami Wakil Jenderal."

__ADS_1


" Akan saya tunggu tuan Hansen. Jadi..., bisa anda jelaskan apa yang sedang kalian lakukan saat berada di Restoran waktu itu ?" tanya Klein.


Hansen melepaskan rangkulannya pada Gabriel. " Kami sedang makan saat itu sebelum Reina datang menghampiri Gabriel lalu berkenalan denganku, karena waktu itu aku tidak tahu kalau Gabriel memiliki teman masa kecil yaitu Reina. Lalu saat kami sedang saling berbicara tiba tiba kami mendengar suara benturan keras dari depan Restoran. Kemudian kami memutuskan untuk melihatnya dan yang ternyata itu sebuah kecelakaan besar. Bukan hanya itu, Reina ternyata memiliki phobia darah. Jadi kami memutuskan pergi sebelum para media mengetahui kami berada di sana. Dan..."


" Anda tentu tahu apa itu image dan reality dalam dunia bisnis kan Wakil Jenderal ? Suka atau tidak suka image harus tetap yang terbaik untuk diutamakan." lanjut Hansen dengan senyuman khasnya menatap Klein.


...*****...


" Jadi seperti apa reality kalian ?" tanya Klein.


Hansen duduk bersandar dan mengangkat bahu acuh. " Yang aku tahu, aku dan Gabriel bukanlah orang yang cukup baik untuk mengurus sesuatu yang tidak berguna bagi kami."


" Karena sebenarnya itu cukup merepotkan. Wakil Jenderal semua perbuatan pasti ada alasan dibaliknya. Memiliki niat yang tersembunyi seperti yang anda lakukan saat ini." ucap Gabriel.


Klein terkejut mendengar ucapan Gabriel yang terbuka untuknya. " Saya tidak seperti itu."


Klein menghela napas. " Saya hanya menjalankan tugas dari atasan nona Reina."


Reina berdecak dengan tatapan sinisnya. Alasan orang militer kalau sudah tersudut selalu saja begitu.


" Apakah kalian tidak takut kalau keterangan kalian saat ini akan saya lampirkan di media besok pagi ?" melihat keberanian dari Gabriel, Hansen, dan Reina. Klein menatap penasaran tiga orang di depannya saat ini.


" Coba saja dan lihat reaksinya. Saja yakin anda akan menjadi berita utamanya Wakil Jenderal." Gabriel mengangkat dagunya menantang Klein.


" Image hal yang terpenting Wakil Jenderal. Bahkan seorang raja sekalipun akan jatuh jika tidak memiliki image yang bagus di mata rakyatnya. Nama baik itu nomor satu." ucap Hansen.


" Dan jangan lupakan kalau aku berprofesi sebagai pengacara Wakil Jenderal." Reina ikut berbicara.


" Aku tahu benar tentang hukum dari masalah ini." lanjutnya.

__ADS_1


Klein mengusap pelipisnya. Kenapa sepertinya keadaan sedang terbalik untuknya. Seharusnya Klein yang mengancam mereka bukan sebaliknya. " Tuan tuan dan nona. Saya tidak mungkin melakukan hal ini tanpa bukti. Semua yang saya lakukan sesuai dengan barang bukti."


" Sama seperti anda Wakil Jenderal, kami pun juga tidak akan menjawab apapun pertanyaannya sesuai pemikiran anda karena kami tidak melakukannya." ucap Hansen.


" Kalau begitu tolong jelaskan bagaimana mobil yang berasal dari perusahaan tuan George bisa di berjalan sendiri tanpa pengemudi." pinta Klein.


Hansen, Gabriel, dan Reina terdiam memikirkan masalah mobil yang bisa berjalan sendiri itu di luar akal logika mereka.


" Apakah anda telah menyelidiki mobil itu ?" tanya Hansen.


Klein mengangguk. " Sudah bahkan Jenderal langsung yang menyelidikinya sendiri. Tetapi tetap saja kami tidak menemukan apa apa."


" Bagaimana dengan para ilmuan teknologi ?" kali ini Gabriel yang bertanya.


" Masih tetap sama tuan Gabriel." jawab Klein.


" Apakah anda sudah membongkar mobil itu ?" Hansen bertanya lagi.


" Sudah tapi kami tetap tidak menemukan apa apa." balas Klein.


Hansen berpikir kembali sementara Gabriel terus mencari akal untuk jalan keluar dari masalah ini. Jika sampai masalah ini tidak dapat dipecahkan maka karirnya akan dipertaruhkan di sini. Bahkan perusahaan ayahnya akan ikut terkena imbasnya.


Hansen menepuk pundak Gabriel. " Tenang, kita cari jalan keluarnya bersama sama."


Gabriel tersenyum tipis menatap Hansen tanpa berniat membalas ucapannya.


" Wakil Jenderal ayo bertaruh di sini. Jika aku bisa menemukan barang bukti bahwa kami tidak bersalah, kau harus melepaskan kami." ucap Hansen.


" Baik." Klein mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2