Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Memulai


__ADS_3

Orion berjalan mendekati teman temannya yang sedang berdiskusi di ruang tamu. " Apa persiapannya sudah selesai ?"


Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph dan Mintaka langsung menghentikan diskusi mereka.


" Sudah, kami tinggal menunggu perintah darimu untuk memulai semuanya." ucap Rigel.


Orion mengambil tempat duduk di sebelah Mintaka. Matanya memandang temannya satu persatu lalu menganggukkan kepalanya. " Lakukanlah."


" Em..., Rion ini tentang kabar negara N." Mintaka berucap ragu.


" Sebutkan."


" Negara kita..."


" Jangan menyebutnya negara kita Taka. Sedangkan kita tak ada untuk membela negara N disaat mereka dalam keadaan kesulitan. Kita tak pantas menyebut negara N itu sebagai negara kita." Orion berucap dingin. Rahangnya mengeras dengan pandangan menajam dan tangan yang terkepal erat.


Mendengar itu Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, dan Mintaka menundukkan kepala mereka merasa bersalah. Apa yang diucapkan Orion ada benarnya. Mereka tidak pantas menyebut negara N sebagai negara mereka sedangkan mereka tidak ada melakukan apapun untuk negara N disaat negara itu dilanda kesulitan.


" Rakyat negara N semakin hari semakin mengenaskan. Bahkan mereka seperti tidak memiliki niat hidup lagi. Bahkan ada yang terang terangan bunuh diri akibat frustasi. Ada juga yang mati karena kelap..."


" Cukup." Orion dengan cepat menghentikan penjelasan Mintaka yang membuat hatinya bergetar sakit mendengarnya.


" Orion bisakah kita membantu mereka ? Maksudku..., meskipun kita tetap menjalan misi setidaknya kita juga meluangkan waktu untuk memantau mereka tanpa ketahuan oleh musuh kita." ucap Alnilam.


Orion terdiam dan berpikir. Kepalanya melihat peluang peluang yang tidak merugikan mereka tetapi tetap bisa memantau keadaan rakyatnya.


" Orion bukankah selama ini nama Rasi Bintang belum diketahui oleh siapapun ? Kita bisa menggunakan nama itu untuk mengelabui para musuh disaat kita terdesak." Bellatrix ikut berbicara.


" Untuk dana bukankah harta kita cukup untuk negara N ? Belum lagi hasil dari penjualan mutiara kita." Alnitak ikut menambahkan.


" Dan jangan lupakan penghasilan kita dari bar dan juga penjualan informasi." Saiph juga ikut mengingatkan tentang kelebihan harta mereka untuk meringankan beban negara N.


" Kita juga bisa melatih mereka secara diam diam sebagai perlindungan disaat kita menyelesaikan misi ini." melihat usulan usulan yang datang dari teman temannya Rigel juga ingin memberikan idenya.


Orion melihat keinginan dimasing masing teman temannya dalam membantu rakyat negara N. Mereka terlihat menatapnya dengan binar memohon penuh kesedihan. Melihat itu Orion sadar satu hal bahwa selama ini ia telah berlaku salah. Selama ini Orion terlalu mementingkan balas dendamnya dan melupakan penderitaan rakyatnya. Ini masihlah awal dari balas dendamnya tetapi rakyatnya telah mengalami hal yang begitu sulit. Bisakah mereka bertahan sampai balas dendamnya tercapai ?.


Orion rasa itu tidaklah mungkin. Rakyatnya telah menunggu bertahun tahun untuk tetap bertahan dan berharap bahwa keajaiban dari tuhan datang kepada mereka. Orion rasa sebelum terlambat ada baiknya jika ia juga bergerak untuk rakyatnya. Jika suatu saat Orion mati bersama musuhnya ia tidak akan menyesal dan malu untuk bertemu kedua orang tuanya diakhirat nanti.


" Baiklah kita lakukan keinginan kalian dan bekerja keraslah demi menjamin rakyat negara N." ucap Orion setelah memutuskan untuk mengikuti saran teman temannya.

__ADS_1


" Ya !"


" Terima kasih Rion."


" Kami pasti bekerja keras."


Orion tersenyum tipis melihat balasan semangat dari teman temannya. Mereka terlihat bahagia dan bersemangat. " Ayo lakukan bersama."


...*****...


Di taman hiburan, Klein terlihat duduk sendiri dengan tubuh bersandar dan mata yang terpejam. Setelah semua masalah yang terjadi Klein memilih mengambil cuti dua hari untuk menghilangkan penatnya.


" Huh ! Bahagianya tanpa adanya kekacauan. Rasanya aku ingin terus begini kalau saja tidak mengingat negara ini." gumamnya.


Klein menyisir rambutnya ke belakang dan kembali membuka matanya. Ia memandang orang orang yang berlalu lalang di depannya tanpa rasa bosan. Sangat jarang sekali Klein bisa merasakan suasana seperi ini.


" Bukankah ini suasana yang menyenangkan untuk orang yang selalu bekerja tanpa mengenal waktu seperti kita ?"


Klein terlonjak kaget saat tiba tiba mendengar sebuah suara dari arah kirinya. Ia menoleh dengan mata yang membulat karena masih terkejut.


" Minum ?" bukannya merasa bersalah, orang pemilik suara yang tiba tiba datang itu malah menawarkan sebotol air dingin kepadanya.


" Manusia." jawab orang itu santai sambil membuka tutup botol minumnya dan menegaknya.


Klein terperangah mendengar jawaban singkat itu. Bukannya kagum tetapi Klein merasa tidak menyangka jika di zaman sekarang masih ada orang yang akan menjawab seperti itu. " Dari mana asalmu ?"


" Dari ayah dan ibuku."


" Mengapa kau ada disini ?"


" Duduk."


Klein merasa semakin kesal dengan orang di sampingnya ini. " Balasan apa itu ?" gumamnya.


Bagaimana bisa orang asing itu membalas pertanyaannya dengan jawaban yang bukan ia maksudkan tetapi ada benarnya juga. Klein menjadi meragukan kepintarannya sendiri setelah bertemu orang asing ini.


" Namamu ?" Klein tidak berhenti berhenti bertanya sebelum mengetahui siapa orang asing ini. Bisa bisanya dia membuatnya meragukan kepintarannya sendiri hanya karena jawaban aneh namun juga ada benarnya itu.


Orang asing itu tersenyum dan terlihat dua lesung pipi yang membuat siapa saja ingin mengenalnya lebih dekat. Klein sempat tertegun beberapa saat tetapi secepat mungkin ia menyadarkan dirinya bahwa orang asing itu sangat menyebalkan.

__ADS_1


" Namaku Rion." ucap orang asing itu.


" Hanya itu ?" tanya Klein.


" Orion Harsenal F. Biasa orang memanggilku dengan Rion."


Klein mengerutkan keningnya saat merasa familiar dengan nama itu tapi ia tidak bis mengingatnya. " F itu margamu ?"


Orion menganggukkan kepalanya.


" Namamu terdengar bukan berasal dari negara ini." ucap Klein.


" Memang benar, aku baru saja tiba disini karena mengikuti sepupuku yang akan berbisnis di negara ini." Orion membalas sambil bersandar dan melihat orang berlalu lalang di depannya.


Pantas saja, Klein tahu sekarang. Ternyata Orion itu orang asing yang baru saja tiba di negaranya. Pantas saja pria itu tidak tahu maksud dari pertanyaannya yang biasa disebutkan oleh orang orang negara ini.


" Namamu ?" Orion ganti bertanya.


" Klein."


" Hanya itu ?" Orion bertanya lagi dengan pertanyaan yang sam dengan yang ditanyakan Klein padanya.


Klein tersenyum dan menggeleng. " Klein Nouris."


" Nouris ? Margamu bagus terdengar seperti bangsawan."


Klein hanya tersenyum dan melihat kembali pemandangan orang yang tengah berlalu lalang di depannya.


" Minum ?" Orion kembali menawarkan minum yang lain miliknya dengan tutup botol yang masih tersegel.


Klein melirik botol minum itu lalu mengambil. " Terima kasih."


" Ya." Orion tersenyum tetapi dengan pandangan yang berbeda tanpa diketahui Klein.


" Kau bekerja apa ?" tanya Klein setelah meminum minumannya.


" Asisten setengah pengangguran kaya dibisnis sepupuku. Kalau kau ?"


" Hanya pegawai kantor biasa." Klein menjawab bohong untuk menutupi identitas pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2