Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Perhiasan Mutiara Biru


__ADS_3

" Itu mutiara asli ?"


" Wah, lihat mutiara itu sangat berkilau di bawah cahaya lampu !"


" Benar, aku ingin sekali memilikinya !"


" Aku juga mau !"


Suasana menjadi ricuh setelah barang terakhir lelang dikeluarkan. Inilah yang ditunggu tunggu oleh Hansen dan beberapa orang lainnya. Sepertinya barang itu akan membuatnya memiliki banyak uang malam ini.


" Tuan dan nona tolong tenanglah dulu. Kami membutuhkan ketenangan tuan dan nona sekalian untuk melanjutkan acara ini. " pria di atas panggung mengangkat tangannya ke atas untuk mencoba menenangkan para tamunya.


Mendengar ucapan pria itu, para tamu menghentikan pembicaraan mereka. Suasana kembali hening dengan aura ketengan yang kental karena tanpa sadar setiap orang mulai bersaing untuk mendapatkan perhiasan mutiara biru itu.


" Baiklah, terimakasih atas pengertiannya. Sekarang kita mulai dengan harga satu miliyar !" ucap pria di atas panggung itu.


" Sepuluh miliyar !"


" Lima belas miliyar !"


" Tiga puluh miliyar !"


Mata Hansen terlihat melebar mendengar tawaran orang orang di sekitarnya hanya untuk perhiasan mutiara biru itu.


" Reina kau tidak ingin menawar juga ?" tanya Gabriel.


Reina melambaikan tangannya menolak. " Aku masih waras dalam menghabiskan uangku hanya untuk membeli perhiasan itu."


" Aku pun juga begitu. Entah mengapa aku tidak tertarik dengan perhiasan yang hanya ada satu di seluruh negara itu." ucap Gabriel.


" Mungkin itu karena kau tidak memiliki wanita. Perhiasan itu kan untuk dipakai para wanita." celetuk Hansen.


Gabriel melotot kesal menatap Hansen. Mulut temannya itu lemas sekali kalau tentang mencibirnya. Ingin sekali Gabriel bertanya kenapa tidak dia saja yang membelikan Reina perhiasan itu. Tetapi Gabriel ingat kalau hal itu pasti akan sangat menyinggungnya karena Hansen yang berasal dari kalangan orang biasa.


" Maafkan aku, aku hanya bercanda tadi." melihat Gabriel yang hanya diam tanpa membalasnya membuat Hansen merasa menyesal. Mungkin saja Gabriel merasa tersinggung dengan ucapannya tadi.

__ADS_1


" Aku tahu kau hanya bercanda barusan jadi tidak perlu meminta maaf." Gabriel tersenyum seperti biasanya. Rasa kesalnya menguap begitu saja setelah melihat wajah Hansen yang terlihat menyesal.


" Dua ratus miliyar !"


" Lima ratus miliyar !"


Reina menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tidak berteriak terkejut. Gila, mereka benar benar gila menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah perhiasan mutiara buru yang langka. Bahkan Reina yang sangat menyukai perhiasan saja masih bisa berpikir jernih dalam mengeluarkan uangnya.


" Mereka benar benar orang yang serakah." gumam Hansen yang masih bisa didengarkan Gabriel dan Reina.


" Kenapa ?" tanya Gabriel.


" Mereka rela mengeluarkan uang yang bernilai fantastis hanya untuk sebuah barang langka. Padahal barang itu tidak ada gunanya selain keindahannya saja. Tetapi mereka memperebutkannya seakan akan itu adalah nyawa dunia." jawab Hansen.


" Mereka seperti itu hanya agar mendapatkan pujian dan tatapan iri dari orang lain. Karena mereka telah berhasil mendapatkan barang langka yang hanya ada satu di seluruh negara." ucap Reina.


Hansen dan Gabriel mengangguk setuju. Kehidupan para bangsawan di negara mereka memang seperti itu. Mereka akan melakukan apa saja agar bisa mendapatkan pujian dari orang lain. Mangkanya tak jarang pula di balik kesuksesan mereka yang banyak dipuji orang itu ternyata menyimpan banyak kejahatan.


" Dua ratus triliun !"


...*****...


" Ada yang ingin menawar lagi ?" tanya pria di atas panggung.


Tidaka yang menjawab, ruangan itu masih tetap hening. Lagipula siapa orang yang berani menawarkan lagi dengan harga melebihi dua ratus triliun untuk sebuah perhiasan langka yang hanya bisa dipakai oleh para wanita itu.


" Baiklah, selamat untuk tuan di meja nomor 2. Silahkan selesaikan akun di belakang panggung nanti tuan yang terhormat." ucap pria di atas panggung itu.


" Dua ratus triliun ? Yang benar saja ?!" Reina memandang pria itu ngeri.


" Mungkin saja perhiasan itu untuk istrinya atau kekasihnya." ucap Gabriel.


Hansen hanya diam saja tanpa niat imut berkomentar. Mendengar tawaran harga yang begitu tinggi itu berhasil membuat otaknya berpikir keras tentang semua rencananya. Matanya melirik orang orang berpakaian yang mencolok di sebelah mejanya. Mereka terlihat bahagia memandangi pria yang berhasil menawar perhiasan mereka dengan harga tinggi itu.


" Ayo kita pulang." ucap Reina.

__ADS_1


" Hm, aku juga sudah mengantuk." Gabriel berdiri dan merenggangkan otot otot punggungnya yang kaku akibat terlalu lama duduk.


Hansen tanpa banyak bicara beranjak berdiri dan berjalan pergi diikuti Reina dan Gabriel di belakangnya. " Malam yang melelahkan." gumamnya.


Tapi setelah ini Hansen masih memiliki pekerjaan yang harus ia lakukan. Sudah lama negara ini tidak terjadi kekacauan lagi dan itu terlihat sepi menurutnya. Hansen masuk ke dalam mobil lalu memasang pengamannya. Sebelum menyetir Hansen memastikan Reina dan Gabriel telah masuk juga ke dalam mobil. Setelah itu melihat kedua temannya itu sudah memasang pengaman barulah Hansen menjalan mobilnya.


Di perjalanan baik Hansen, Reina, dan Gabriel tidak ada yang berniat membuka suara. Mereka memilih untuk saling diam satu sama lain. Seperti Gabriel yang bersandar sambil memejamkan matanya. Reina yang menatap pemandangan luar dari balik kaca mobil. Serta Hansen yang menatap fokus ke depan dan menjalankan tugasnya yaitu menyetir dengan baik agar mereka semua selamat sampai rumah masing masing di tengah larutnya malam ini.


" Kita sudah sampai." ucap Hansen.


Gabriel membuka mata menatap Hansen. " Biar aku yang menyetir."


" Hm." Hansen memandang Reina yang juga tengah menatapnya. " Biarkan Gabriel mengantarmu." sambungnya.


Reina tersenyum lalu mengangguk. " Selamat malam."


Melihat senyum manis Reina, Hansen tanpa sadar juga ikut tersenyum. " Selamat malam."


Gabriel berdecak dan keluar dari mobil. " Cepatlah Hans !"


" Ya !" Hansen memandang Reina sekali lagi sebelum keluar dari mobil untuk Gabriel menggantikan posisinya.


" Kami pergi." pamit Gabriel sebelum pergi.


" Berhati hatilah karena ini sudah larut malam." pinta Hansen.


" Hm." balas Gabriel.


Hansen menatap kepergian mobil Reina yang mulai berjalan menjauh. Setelah mobil itu tidak terlihat lagi oleh pandangannya Hansen berbalik melangkah masuk ke dalam Apartemennya.


Saatnya menjalankan pekerjaannya yang lain. Hansen tersenyum miring lalu mengambil kotak hitam dari belakang lemari. Ia membuka kotak itu perlahan hingga memperlihatkan pakaian bewarna hitam dengan sepasang belati di dalamnya.


Hansen mengamatinya untuk sesaat lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian bewarna hitam itu. Setelah selesai, Hansen merapikan pakaiannya dan berjalan ke balkon kamarnya. Ia menatap langit yang telah dihiasi banyak bintang.


" Aku tidak akan menyerah untuk membela ayah, ibu, dan negaraku." Hansen berucap tegas dengan mata yang masih memandangi bintang di langit. Bibirnya tersenyum sendu dengan pandangan menyimpan kerinduan.

__ADS_1


" Aku merindukan kalian." gumamnya lirih.


__ADS_2