
" Hans kau dari mana ?" tanya Jack yang baru saja selesai mandi.
" Olahraga, kau tidak lihat aku memakai baju olahraga pagi pagi begini ?"
Jack memandang pakaian yang Hansen gunakan lalu mengangguk paham. " Oh ya, kau semalam tidur di ranjang denganku ?"
" Tidak, aku tertidur di sofa ruang tamu setelah bermain game."
" Pantas saja tempat di sebelahku dingin. Ternyata kau tidur di ruang tamu."
" Hm." Hansen hanya berdehem dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jack memilih pakaian Hansen yang cocok untuknya. Ia bukan mencuri ya, tapi Hansen sudah mengizinkannya kemarin.
" Jack dimana Hansen ?" tanya Gabriel yang baru saja membuka pintu.
" Mandi."
" Kalau kalian sudah selesai ayo sarapan dulu."
Mendengar kata sarapan dari Gabriel. Tubuh Jack langsung menegang seketika. Ingatan akan makanan yang membuatnya muntah dan keracunan kembali terngiang di kepalanya.
" Tenang, makanan itu aku pesan dari Restoran terkenal." ucap Gabriel yang melihat wajah pucat Jack.
Tanpa sadar Jack menghela napas lega. Ternyata sarapan itu tidak hasil masakan Gabriel. " Nanti akan kuberi tahu dia."
" Baiklah." Gabriel menutup pintu kamar Hansen.
" Ada apa ?" tanya Hansen yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian.
" Bos mengajak kita sarapan." Jack menutup lemari Hansen setelah menemukan pakaian yang ia inginkan.
" Dia masak lagi ?"
" Tidak, tadi bos bilang dia sudah memesan makanan dari Restoran terkenal." jawab Jack sebelum masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaian.
" Syukurlah, setidaknya bukan racun yang harus ku telan pagi ini." Hansen berucap sendiri sambil berjalan ke lemari kaca yang berisi perawatan kulit dan parfum khusus pria.
Diambilnya cream bentuk gel dan dioleskannya pada wajah, leher, dan juga tangannya. Setelah itu Hansen menyisir rambutnya ke belakang lalu memakai parfum favoritnya agar lebih maskulin.
" Kau sudah terlihat seperti wanita yang tengah berdandan." ucap Jack yang bersandar di dinding sembari memperhatikan kegiatan yang dilakukan Hansen.
Hansen menoleh dan tersenyum tipis. " Aku terbiasa melakukannya."
" Kebiasaanmu cukup menguntungkan untuk masalah penampilan." komentar Jack.
__ADS_1
Hansen tertawa mendengarnya. " Tentu saja, kalau tidak mana bisa aku masuk ke dalam jajaran pria tertampan di negata ini."
" Menyesal aku memujimu kalau akhirnya kau sombong seperti itu."
" Bukan sombong tapi seperti itulah kenyataannya." sanggah Hansen.
Jack memutar mata malas. " Sudahlah ayo pergi, bosmu sudah kelaparan di meja makan."
" Bosmu ?" Hansen mengangkat alisnya sebelah.
" Iya bosmu."
" Oh jadi dia bukan bosmu tapi bosku ? Baiklah aku akan beritahu bosku itu tentang hal ini."
Jack mendelik mendengarnya. " Kau memang tidak bisa diajak bercanda Hans."
" Maaf saja, tapi melihat orang lain susah sudah menjadi hobiku." Hansen menjawab dengan mata berbinar jahil.
" Kurang ajar kau !"
Hansen berlari keluar menghindari Jack. " Gabriel !"
" Hans !" teriak Jack yang mengejar Hansen keluar dari kamar.
" Gabriel kau tahu ? Jack..."
" Hans !" Jack menatap Hansen penuh ancaman.
Gabriel melihat Hansen dan Jack bergantian dengan raut wajah penasaran. " Ada apa dengan Jack ?"
" Hans kau beritahu maka habis kau di tanganku." ucap Jack memberi ancaman.
Hansen tertawa tidak merasa takut. " Gabriel dia itu..."
" Hans." Jack menatap Hansen penuh peringatan.
" Jack biarkan Hansen berbicara. Apa masalahnya ?" tanya Gabriel yang sudah mulai kesal melihat perdebatan itu.
Jack langsung terdiam namun matanya melotot menatap Hansen.
" Jack tadi..." Hansen menggantungkan ucapannya sambil tersenyum jahil menatap Jack.
" Jangan bertele tele Hansen. Ucapkan cep.."
" Jack mimpi basah !"
__ADS_1
belum sempat Gabriel menyelesaikan ucapannya. Hansen sudah berteriak kencang yang berhasil membuat Gabriel melotot tak menyangka dan Jack yang menutup wajahnya menahan malu.
.
...*****...
.
" Jadi wanita mana yang berhasil masuk ke dalam mimpimu Jack ?" tanya Gabriel yang tidak pernah berhenti sejak tadi.
" Bos." Jack mengusap wajahnya yang memerah menahan malu. Ini semua gara gara kejahilan dan mulut lemas yang dimiliki Hansen. Karena pria itu Jack terus digoda oleh bosnya yang bertanya siapa wanita yang masuk ke dalam mimpinya.
Demi tuhan, Jack mengalami mimpi itu hanya sekali waktu remajanya dulu yang menandakan masa pubertasnya. Setelah itu ia tidak pernah memimpikan apapun lagi sampai sekarang.
Hansen tertawa puas melihat Jack yang menahan malu dan rasa kesalnya. " Aku tidak menyangka kau bisa begitu Jack. Apa tadi malam kau ada melihat atau menonton sesuatu ?"
" Aku hanya menonton film kartun." balas Jack.
Gabriel tersentak kaget mendengarnya. " Jangan jangan wanita yang ada di dalam mimpimu itu kartun wanita yang kau tonton Jack."
Seketika tawa Hansen semakin kencang mendengar ucapan bodoh yang dikeluarkan Gabriel.
" Bos kartun yang kutonton itu tentang robot." Jack berucap kesal.
" Hei jangan salah ya, robot ada juga yang wanita."
" Argh ! Terserahmu saja bos !" Jack berteriak frustasi.
" Kenapa kau begitu ? Hans aku benarkan kalau robot juga ada yang wanita ?" Gabriel bertanya bingung.
Hansen hanya bisa menganggukkan kepalanya karena menahan keram akibat terlalu lama tertawa. Kasihan sekali Jack memiliki bos yang bodoh seperti Gabriel. Tapi Hansen suka melihat wajah mengenaskan dari Jack.
Jack menghela napasnya beberapa kali untuk mencoba bersabar. Sekarang ia tahu mengapa Hansen bisa berteman dengan Gabriel. Karena mereka ternyata sama sama memiliki tingkat kejahilan yang tidak terbatas lagi. Jack menatap Hansen yang terlihat bahagia di tengah kekesalannya. Memang kurang ajar sekali pria satu itu. Sudah membuatnya ketar ketir karena aduannya dan sekarang malah membuatnya malu dengan mulut lemasnya.
" Jack bukannya robot wanita itu dalamnya mesin semua ya ? Bagaimana caranya kau memasukinya ?" tanya Gabriel lagi yang berhasil membuat Jack ingin menghilang dari dunia ini secepatnya.
" Bos aku tidak bermimpi robot wanita itu !"
" Ooh, kalau tidak robot. Berarti kau memimpikan kartun wanita yang tadi. Tidak salah sih, aku juga pernah melihatnya dan itu cantik cantik seperti bone..."
" Bos." Jack memotong ucapan Gabriel karena sudah tidak tahan lagi. Sepertinya hari ini adalah hari tersial yang pernah dialaminya.
Besok lagi Jack tidak akan mau diajak liburan lagi oleh bosnya itu meskipun dijamin dengan bonus besar. Jack tidak tahan dengan mulut lemas milik Hansen dan juga ucapan ucapan bodoh yang Gabriel lontarkan. Bagaimana bisa bosnya yang terkenal cerdas memiliki pemikiran seperti itu seakan akan Jack bukanlah orang waras.
Bagaimana pun juga Jack masihlah pria normal. Sangat memalukan bila memang ia memimpikan hal yang tidak nyata seperti itu. Mulai besok Jack akan menandai Hansen sebagai orang pembawa sial diharinya. Jack sebisa mungkin akan menghindari Hansen demi keselamatan harga dirinya.
__ADS_1