Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Perusuh di Apartemen


__ADS_3

Delapan jam telah berlalu dan sekarang susah memasuki waktu malam hari. Orion menatap jengah teman temannya yang belum juga pergi dari Apartemennya. Kalau begini caranya bukannya Orion sembuh malah ia akan bertambah sakit karena sulit istirahat.


" Kapan kalian akan pergi dari sini ?"


Mintaka tertawa melihat wajah Orion yang sedang tertekan. Kemudian memandang teman temannya yang menghiraukan ucapan Orion seakan akan mereka tidak mendengar apapun.


" Hei ! Kalian, aku berbicara pada kalian !" Orion berteriak kesal lalu memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Astaga Orion lupa kalau sekarang ia sedang sakit sekarang.


Bellatrix dan Saiph mengusap telinga mereka yang berdengung karena mendengar teriakan Orion. Rigel hanya diam saja sambil membaca buku. Alnilam dan Alnitak sibuk memakai masker di wajah mereka. Mintaka yang dari tadi memperhatikan mengangkat bahu acuh.


" Astaga !" Orion menghentakkan kepalanya ke bantal. Kalau begini bisa gila lama lama dirinya.


" Kau mau meminum obat lagi ?" tanya Bellatrix.


Orion mengangkat kepalanya melotot kesal menatap Bellatrix. " Jangan beraninya kau memberiku obat untuk hewan."


" Kenapa ? Kau dan hewan kan sama sama makhluk hidup ?"


" Altrix kau akan menjadi buruanku setelah Rigel. Tunggu saja saat aku sembuh nanti, habis kalian berdua." Orion meremas tangannya kearah Bellatrix sambil membayangkan kalau yang diremasnya itu adalah organ dalam kedua temannya itu.


GLUK !


Rigel menelan ludahnya susah payah. Padahal sedari tadi ia hanya diam saja tetapi Orion masih menyalahkannya. Apa kabar dengannya bila ia tadi ikut berbicara ?.


Bellatrix mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda menyerah. " Aku tadi hanya bercanda saja, sungguh."


Orion menggelengkan kepalanya tidak percaya. " Bercandamu niat sekali sampai menyiapkan tempatnya seperti obat biasa. Jangan jangan obat yang kau berikan untukku selama ini itu untuk hewan yang ingin hibernasi."


" Puf." Alnilam dan Alnilak menutup mulut merela kencang untuk menahan tawa agar tidak kelepasan.


" Wah, kau memang kejam sekali Bella." ucap Mintaka.

__ADS_1


" Diam kau."


Saiph tertawa melihat pertengkaran itu. Dengan asiknya ia memakan cemilan sembari menonton jegiatan teman temannya.


" Kapan kalian pergi dari sini ?!" Orion bertanya dengan nada tinggi.


" Besok." jawab Alnitak.


Mendengar itu Orion lansung menelungkupkan tubuhnya. Mulai saat ini Orion berjanji tidak akan sakit lagi atau para perusuh berwajah teman temannya itu akan mengganggunya. Tahu jika akan seperti ini lebih baik Orion meminta Reina saja untuk merawatnya. Tunggu, Reina ?.


Orion duduk di atas ranjang lalu mencari ponselnya. Tanpa sadar semua perlakuannya itu menarik perhatian teman temannya.


" Aku tebak dia pasti sedang bertukar pesan dengan pengacara cantik itu." celetuk Bellatrix.


Rigel, Saiph, dan Mintaka mengangguk bersama menyetujui ucapan Bellatrix. Dilihat dari raut wajah Orion yang tersenyum dengan mata berbinar sudah memastikan tebakan Bellatrix pastilah benar.


" Ehem ! Kau terlihat sedih sekali Rion." ucap Mintaka yang langsung membuat raut wajah Orion berubah keruh.


Dasar penghancur suasana, sudah menjadi perusuh di Apartemennya sekarang mereka juga merusak suasana hatinya. Orion menatap geram Rigel, Saiph, Bellatrix, dan Mintaka. Sepertinya Orion selama ini terlalu murah hati pada mereka hingga membuat mereka berani mengusiknya. Awas saja nanti setelah Orion sembuh dari demamnya ini. Ia akan merantai empat pria itu dengan posisi terbalik di atas kobaran api.


...*****...


TIK ! TIK ! TIK !


Detik jam terdengar di sunyinya malam. Orion membuka matanya lalu melihat teman temannya yang tertidur. Di tatapnya jam yang menunjukkan tengah malam di dinding kamarnya.


Orion menyeringai kejam sambil beranjak bangun. Saatnya mengunjungi buruannya yang sudah tidak waras itu. Pasti dia merindukannya di sana dan menanti kedatangannya. Orion membuka lemari pakaiannya dan mengambil setelan hitam yang sering dipakainya dengan masker dan juga jubah hitam. Dengan pelan Orion menutup lemari agar tidak menimbulkan suara.


" Rion."


Orion berbalik ke belakang dan melihat Rigel yang berdiri di depan pintu kamarnya sambil melipat tangan di depan dada.

__ADS_1


" Kau ingin kemana ?"


" Mengunjungi buruanku." jawab Orion sembari mengganti pakaiannya.


" Aku ikut."


Orion mengangguk lalu mengambilkan jaket, topi, dan masker hitam dari dalam lemari pakaiannya. Setelah itu melemparkannya kearah Rigel yang dengan sigap menangkapnya. Setelah selesai Orion mengambil kunci motornya.


" Ayo."


Rigel berjalan mengikuti Orion keluar dari Apartemen. " Kau ingin mengunjungi siapa ?"


" Dokter jenius kita."


" Dia masih hidup ?" Rigel bertanya takjub, tentu saja. Dekandra telah disuntik dengan cairan hasil eksperimen Bellatrix yang bernama cairan perusak otak atau CPO. Hampir seluruh makhluk hidup tidak bisa bertahan lama setelah disuntikkan cairan itu. Rigel pernah mengujinya dengan seluruh petarung terkuat yang menjadi buruannya Orion. Tetapi mereka tidak ada yang bertahan dan jika bertahan itu pun hanya tiga hari saja. Setelah itu mereka akan mati dengan sendirinya karena otak yang sudah tidak berfungsi lagi. Namun Dekandra berbeda, dia bisa bertahan sampai lebih dari seminggu dan itu sudah luar biasa didengarnya.


" Hm." Orion memakai helm dan memberikan satu helm lagi pada Rigel.


" Hebat sekali dia." ucap Rigel sebelum naik ke atas motor Orion.


Tentu saja dia hebat karena dia dulu bekerja di mansion Frendick, batin Orion. Bahkan seingatnya para pelayannya pun juga hebat bertarung terutama para koki yang ahli menggunakan pisau. Ibunya yang terlihat lemah lembut seperti itu saja ahli menggunakan pedang dan panah. Kalau ayahnya, dia bisa dibilang makhluk ciptaan tuhan yang hampir sempurna. Hanya kebaikannya saja yang menjadi kelemahannya dan berujung kematiannya sendiri.


Seluruh pekerja di mansion Frendick semuanya orang orang pilihan. Jadi tidak heran kalau para penghianat itu bisa sehebat itu. Karena suka tidak suka Orion harus mengakui kalau para penghianat itu masuk ke dalam urutan kedua terhebat setelah ayahnya. Terutama Jenderal Jin dan juga George. Dua orang itu adalah yang tersulit dan Orion sedang mencari cara untuk mengetahui kelemahan mereka.


Orion menghentikan motornya di bawah pohon rindang yang tidak jauh dari rumah sakit tempat dimana Dekandra dirawat. Rigel turun lebih dulu lalu membuka helmnya. Matanya melihat sekitar dan memutar jam tangannya kesegala arah untuk memeriksa apakah disini ada CCTV tersembunyi. Setelah beberapa menit Rigel mematikan jam tangannya.


" Aman." ucap Rigel.


Orion membuka helmnya dan memasang tudung jubahnya. " Tetap waspada, mana tahu mereka sedang mempersiapkan ke datangan kita."


" Baik." Rigel kembali menghidupkan jamnya sambil mengikuti Orion dari belakang guna mengawasi sekitar. Tiba tiba jam tangan dipergelangan tangannya menunjukkan getaran. Rigel langsung menahan pundak Orion untuk berhenti.

__ADS_1


" Ada apa ?"


Rigel melihat jam tangannya kemudian menemukan titik merah dan hijau di arah jarum jam miliknya. " Ada yang berjaga disekitar sini."


__ADS_2