Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Kematian Dekandra


__ADS_3

" Seharusnya kami yang pergi yang baru pulang ke rumah. Ini kenapa malah kau yang baru kembali entah dari mana ? Bahkan kami yang memiliki acara pun bisa sampai duluan." ucap Gabriel.


" Aku habis bermain tadi." Hansen melepaskan sepatunya dan menaruhnya di rak belakang pintu.


" Bermain ?" tanya Gabriel penasaran. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum jahil sambil menatap Hansen. " Di Klub ?" tanyanya jahil.


Hansen memutar mata malas. " Jangan aneh, bermainku bukan tentang hal yang seperti itu."


Gabriel terkekeh melihatnya. Ia berbalik duduk di sofa dan kembali menonton televisi. Hansen berjalan masuk ke dalam kamarnya. Malam yang menyenangkan namun sekaligus melelahkan. Tidak ada malam yang lebih menyenangkan dibandingkan malam ini menurut Hansen.


.


Berita saat ini.


Tiba tiba saja kabar mengejutkan sekaligus mengharukan bagi seluruh rakyat negara Z. Bahwa dokter terkenal sekaligus salah satu orang berpengaruh milik negara kita yaitu dokter Dekandra ditemukan tewas akibat kecelakaan. Setelah kembali menghadiri pesta yang diadakan oleh Presiden kita saat dini hari tadi.


Tidak hanya itu, dokter jenius yang baru menerima penghargaan juga ikut dalam peristiwa kecelakaan itu dan mengalami luka parah. Sedangkan satu orang pria yang diduga sebagai supir juga ikut tewas dalam kecelakaan itu.


Untuk informasi selanjutnya kami akan menayangkan langsung dari tempat kejadian...


.


" Hans !" Gabriel berteriak memanggil Hansen yang baru saja bersiap ingin mandi.


" Hansen !"


" Apa ?!" Hansen menjawab dengan nada tinggi. Ia berjalan keluar kamar dan menghampiri Gabriel yang tengah melototi layar televisi miliknya.


" Lihat itu !"


Gabriel menunjuk layar televisi. Wajahnya tampak pucat dengan pandangan menatap tak percaya pada tayangan yang baru saja dilihatnya itu. Dokter Dekandra sahabat dari ayahnya dan si dokter jenius yang meminta untuk membantunya bertemu dengan Hansen mengalami musibah. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu.


" Apa hubungannya denganku ?" Hansen bertanya acuh dan duduk di sebelah Gabriel.

__ADS_1


" Kau lihat mereka ! Mereka itu yang baru saja bertemu denganku beberapa jam lalu dan sekarang sudah meninggal. Kecuali pria muda yang mengaku teman masa kecil itu !" Gabriel berbicara dengan suara kencang dan menggebu gebu.


Hansen yang melihatnya menjadi bingung sendiri. " Lalu ?" tanyanya yang masih belum mengerti.


" Ya aku sedih !" Gabriel berteriak kencang.


Hansen terkejut untuk beberapa saat dan setelahnya ia menghela napas lelah. Untung saja tidak jantungan di tempat barusan. Lagipula memangnya kenapa dengan berita kecelakaan itu. Yang terpentingkan bukan dia yang mengalaminya. Kenapa respon Gabriel heboh sekali seakan akan dia yang mengalami kecelakaan itu.


" Urusannya denganku apa ?" Hansen masih bertanya lagi.


Gabriel menghela napas menahan kesal karena Hansen yang belum juga mengerti. Padahal ia sudah menunjukkan kata kalau pria itu adalah teman masa kecilnya.


" Kau tidak merasa familiar saat melihat wajah dokter jenius itu ?"


Hansen memandang layar televisi cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. Tapi yang membuat Gabriel kesal adalah Hansen masih biasa saja tanpa panik atau terkejut sedikitpun.


" Kau tidak panik ?" tanya Gabriel lagi.


" Untuk ?" Hansen balik bertanya tak mengerti.


" Kenap malah dia yang marah ? Seharusnya yang kesal di sini kan aku karena dia yang tidak jelas begitu. Tapi kenapa aku yang dimarahi ? Mana ditinggal sendirian lagi." Hansen berucap kesal dan juga bingung bingung sendiri.


.


...*****...


.


" Bagaimana ini bisa terjadi !" Galiendro berteriak marah. Pria itu mengamuk di hadapan para pengawalnya dan juga dua orang teman lainnya. Barang barang yang tersusun rapih di ruangan itu kini terlihat berserakan dengan beberapa pecahan barang di lantai.


Jenderal Jin mengacak rambut hitam miliknya. Pikirannya tertuju pada kabar yang baru saja di dapatkan dari salah satu anak buahnya.


Bagaimana ia bisa kecolongan lagi ? Dulu Samuel dan sekarang Dekandra !.

__ADS_1


Jenderal Jin mengamuk di dalam hati dengan pikiran berkelana jauh. Ia merasa dirinya ini tidak berguna sebagai seorang teman.


" Tenangkan pikiran kalian. Kita seharusnya melihat Dekandra bukannya malah mengamuk seperti ini." ucap George yang masih memiliki banyak kewarasan.


Iya, seharusnya mereka saat ini melihat keadaan Dekandra bukannya mengamuk seperti orang gila.


Galiendro memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya kembali. " Ayo kita selesaikan masalah Dekandra. Setelah itu kita cari pembunuh itu. Kecelakaan kata mereka ? Hah ! Dia kira kita bodoh hingga tidak bisa membedakan mana yang kecelakaan dan mana yang dibunuh ?"


" Kalian pergi dan urus Dekandra. Aku akan ketempat kejadian itu untuk memeriksa." ucap Jenderal Jin.


George mengangguk. " Kalau sudah selesai segera datang. Kita akan menguburnya bersama sama nanti."


" Ya." Jenderal Jin beranjak bangun dari tempat duduknya lalu berjalan pergi keluar dari ruangan itu.


George menoleh menatap Galiendro yang masih menahan amarah. Ia berjalan mendekat dan menepuk pelan pundaknya. " Kuasai dirimu Gal, kita semua kehilangan bukan hanya dirimu saja. Kematian Dekandra harus kita balas agar dia tenang di alam sana."


" Kau benar George, akan kucari siapapun itu orangnya yang telah berani membunuh temanku. Hidup atau mati aku harus melihatnya meskipun itu hanya kepalanya saja." setelah mengatakan itu Galiendro pergi meninggalkan ruangannya. Meninggalkan George sendiri dengan beberapa anak buahnya.


Melihat itu George mengepalkan tangannya erat. Matanya menyorot tajam memandang kepergian Galiendro. Entah mengapa firasatnya mengatakan kalau ini bukanlah hal yang mudah. Dimulai dari Samuel, lalu Dekandra, dan George merasakan kematian selanjutnya mengarah kepada mereka.


Sebelumnya Galiendro pernah bertanya kepada Dekandra tentang apa yang bisa membuatnya gila dalam semalam. Namun Dekandra mengatakan dia tidak mengingat apa apa. Terakhir ingatannya adalah dia salah mencampurkan cairan bahan percobaannya dan tidak sengaja menghirupnya hingga membuatnya berhalusinasi.


Itu yang dikatakan Dekandra. Namun George yang seorang bangsawan tidak pernah percaya itu. Tidak sengaja menghirup cairan bahan percobaannya sendiri, Dekandra tidaklah seceroboh itu.


Dan sebelum George dapat berbicara dengan Dekandra tentang kejadian itu. Temannya malah sudah tewas duluan di perjalanan pulang setelah pesta penyambutan.


Bukankah ini aneh ?.


George berjalan keluar ruangan untuk melihat keadaan terakhir Dekandra sebel dimakamkan. Semoga ia sanggup melihatnya nanti untuk yang terakhir kalinya.


" Kau lama." cibir Galiendro setelah melihat George baru masuk ke dalam mobil.


George hanya tersenyum tipis tanpa membalasnya. Pikirannya saat ini sedang kacau dan ia tidak mau mengeluarkan suara yang nantinya malah berujung masalah baru.

__ADS_1


" Hah ! Ya sudahlah ! Kau memang mirip seperti Jin yang mahal suara. Hei, kau ayo jalan menuju rumah sakit." perintah Galiendro pada supirnya.


George menghiraukan Galiendro di sampingnya. Tatapannya mengarah pada luar jendela mobil dengan rasa gelisah.


__ADS_2