
" Kau sudah selesai ?" tanya Reina yang melihat Gabriel memberesi makanan siangnya.
" Ya, ini sudah waktunya aku bekerja. Jangan lupa ajak Hansen pulang karena sepertinya dia sedang demam."
" Ouh ! Pak bos ini perhatian sekali."
Gabriel terkekeh lalu mengedipkan sebelah matanya. " Maka jaga hati hati kalau kau tidak ingin kena tikung olehku."
" Jangan berani beraninya kau. Ingat gendermu itu." Reina meliriknya sinis, ingin menikungnya mimpi saja kau Gabriel. Hansen hanya miliknya saja. Meskipun mereka tidak berjodoh Reina akan merelakan Hansen dengan wanita lain bukan sesama jenisnya.
Gabriel hanya tertawa dan melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik pintu kerja Hansen. Reina mengusap lembut rambut Hansen dari belakang. Wajah pria ini sangatlah tampan apalagi saat tertidur seperti sekarang, terlihat polos sekaligus seksi di matanya.
" Andai saja kau bisa kudapatkan Hans. Mungkin hidupku menjadi semakin bertambah bahagia karena memiliki dua orang pria yang begitu kucintai selama hidupku ini." gumam Reina sambil terus memandang wajah lelap Hansen.
Dua puluh menit kemudian Hansen menggeliat dalam tidurnya. Kemudian matanya perlahan terbuka dan mengeluh pusing. Padahal tadi sudah minum obat tapi rasa pusingnya tidak berkurang sama sekali malah bertambah.
" Apa sangat sakit ?"
Hansen menoleh melihat Reina yang berjalan mendekatinya. Gadis itu mengapa masih di ruangannya, apa dia tidak bekerja ?.
" Gabriel menyuruhku untuk membawamu pulang."
Hansen mengerutkan keningnya menahan denyutan di kepalanya lalu mengangguk lemah. Tetapi sebelum itu Hansen menghubungi Bellatrix.
" Ada apa ?"
" Kepalaku berdenyut sakit sekali."
" Kau demam ?"
" Tidak tahu."
" Ck, badanmu terasa panas tidak ?"
" Iya."
" Itu berarti kau demam bodoh. Akan kusiapkan obatnya."
__ADS_1
" Antar ke Apartemenku." Hansen langsung mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
" Dari siapa ?" tanya Reina.
" Kenalanku yang berprofesi sebagai dokter."
Reina mengangguk mengerti. " Ayo biar aku bantu. Kita pakai mobilku saja agar lebih mudah."
Hansen beranjak dengan setengah bersandar pada Reina karena kepalanya yang berdenyut sakit. Berusaha sekuat mungkin agar tubuhnya tidak terlalu membebani tubuh Reina yang ramping. Kasihan juga kalau Reina harus menahan beban tubuhnya yang kekar. Bisa bisa baru beberapa langkah saja mereka pasti akan jatuh bersama.
Reina membantu Hansen masuk ke dalam mobilnya secara perlahan lalu memasangkan seatbeltnya. Setelah itu menutup pintu dan berjalan memutari mobil ke kursi kemudi.
" Maaf merepotkanmu." ucap Hansen setelah Reina masuk ke dalam mobil.
" Tida apa apa, asal itu kau aku tidak masalah."
Hansen langsung mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela mobil dengan telinga memerah. Melihat itu hampir saja Reina kelepasan tertawa kencang andai saja tidak mengingat kalau Hansen saat ini sedang sakit.
" Kau tidak bekerja ?"
Setelah jawaban itu Hansen bingung ingin berbicara apa lagi. Apalagi detak jantungnya yang tidak bisa diajak kerjasama ini membuatnya sulit untuk menjari bahan obrolan.
" Kepalamu masih terasa sangat sakit ? Mau ke rumah sakit ?"
" Tidak usah, kepalaku juga sudah mendingan efek obat yang kuminum tadi."
" Baiklah." Reina memarkirkan mobilnya di parkiran Apartemen Hansen.
Hansen keluar dari dalam mobil dan tersenyum memandang Reina yang juga keluar dari dalam mobil lalu memapahnya berjalan ke Apartemennya.
...*****...
Hansen menghela napasnya mencoba bersabar dengan tingkah teman temannya yang memperlakukannya layaknya anak kecil. Beruntung Reina sudah pulang karena memiliki urusan mendadak tepat saat akan masuk ke dalam Apartemennya. Jika saja gadis itu masuk ke dalam dia pasti akan melihat teman temannya yang sudah siap menunggunya di ruang tamu.
Ini semua karena Bellatrix yang ingin balas dendam dengannya karena memutuskan panggilan begitu saja. Pria itu kesal dan memberitahu teman temannya yang lain bahwa Hansen saat ini sedang demam dan terjadilah keadaan dimana ia hanya menginginkan obat tetapi yang datang ke Apartemennya malah perusuh.
Seperti sekarang, Alnilam dan Alnitak sibuk menyuapinya bubur dan obat. Saiph yang mengompresnya. Sedangkan Rigel, Bellatrix, dan Mintaka hanya melihat dengan pandangan geli dan mengejek.
__ADS_1
" Ayo sekali lagi." pinta Alnilam yang bersiap menyuapkannya sesendok bubur ayam.
Hansen menggelengkan kepalanya. " Aku kenyang. Mulutku juga pahit, aku tidak mau makan lagi."
Bellatrix tertawa geli melihatnya. Hansen atau bisa kita sebut juga Orion karena mereka adalah orang yang sama namun jika situasi berbeda maka nama mereka akan berbeda juga. " Ayolah, tunjukkan kekejamanmu Orion. Di sini hanya ada kita saja jadi kau tidak usah bertingkah lemah lembut seakan kau itu Hansen. Jujur saja kau dan tuan Hansen memiliki karakter yang berbeda jauh meskipun wajah kalian mirip."
Orion mendengus kesal lalu mendelik kesal menatap Bellatrix. " Jangan memancingku Altrix. Meskipun tubuhku lemah tetapi tanganku masih berfungsi normal untuk menembak kepalamu."
" Owh ! Takutnya aku...!" bukannya takut Bellatrix malah semakin menggoda Orion dengan ucapan menyebalkan miliknya. Suruh siapa Orion mematikan panggilan sebelum ia sempat berbicara. Padahal Bellatrix tadi sedang menjalani operasi yang mempertaruhkan nyawa seseorang. Tetapi Orion dengan seenaknya memerintahnya untuk mengantar obat ke Apartemen temannya itu. Benar benar sialan sekali Orion itu, sekarang rasakan saja balasan darinya.
" Sudah ini obatmu, minumlah cepat agar kau cepat sembuh." Alnitak meletakkan empat butir pil ke telapak tangan Hansen yang membuat pria itu melotot melihat ukuran pil itu.
" Hei, ini bukan obat tapi jempol kaki manusia, besar sekali !" Hansen histeris melihat ukuran pil di tangannya yang besar besar dan juga tentunya sangat pahit. Tatapannya langsung menghunus Bellatrix dengan tajam. Pasti ini kerjaan temannya itu, dia sengaja memberikannya pil yang berukuran sangat besar agar ia tidak bisa menelannya.Benar benar teman yang licik dia itu.
" Apa ?" tanya Bellatrix yang pura pura tidak tahu.
" Jangan berpura pura, aku tahu kau tengah mengerjaiku Altrix."
Bellatrix tidak bisa menahan lebih lama lagi pun langsung tertawa kencang. " Itu sesuai dosis. Kau harus meminum obatmu pria baik hati."
" Obat apa ini ?!" Orion bertanya dengan nada tinggi.
" Obat sakitlah dan itu juga sesuai dosis kau tenang saja."
Bukannya merasa tenang Orion malah merasa curiga. Pasalnya obat yang di tangannya ini sangatlah besar meskipun baunya sama seperti obat pada umumnya. Orion bahkan tidak mencium bau racun atau obat tidur di dalam pil di genggamannya. Jika memang ini obat demam manusia mengapa bentuknya sangat besar ?.
Bellatrix menggigit pipi dalamnya menahan tawa melihat Orion yang terus memeriksa pil yang dibuatkan langsung olehnya.
" Dosis apa yang kau maksud ?"
" Dosis untuk yang memiliki bertubuh gempal dan berdaging lemak."
" Seperti ?"
" Em..., seperti gajah, buaya,..."
" Bellatrix sialan kau !"
__ADS_1