Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Rumah Tetua


__ADS_3

Orion tersenyum mendengar mereka telah setuju. " Tidak masalah, tapi sebelum itu tolong terimalah ini dari kami."


Bellatrix dan Saiph membawakan banyak bungkusan dari mobil sesuai yang Orion perintahkan.


" Ini untuk kami ?" tanya salah satu orang dari mereka dengan wajah yang terkejut dan tak percaya.


" Tentu saja. Kami bukanlah musuh kalian dan makanan ini terjamin keasliannya dari racun atau hal hal berbahaya lainnya." jawab Rigel.


Sekumpulan orang orang itu langsung berebut mengambil bungkusan itu dan bersorak kesenangan.


" Bahkan kalau kami mati akhirnya pun kami tidak masalah. Karena sebelum kami masih bisa diberi kesempatan untuk menikmati makanan manusia yang normal."


" Terima kasih tuan."


" Terima kasih tuan."


" Kami pasti akan memakannya bersama keluarga kami. Terima kasih tuan !"


Alnilam menyembunyikan wajahnya di pundak Alnilam menahan tangisannya. Menyedihkan sekali mereka, bahkan Alnilam yang seorang anak yatim piatu saja tidak pernah mengalami hal seperti mereka.


" Tapi bisakah kalian panggilkan yang lainnya untuk datang kemari karena kami juga ingin membagikan itu dengan mereka." ucap Rigel.


" Tentu saja tuan !"


" Kami akan memanggil saudara kami yang lainnya."


" Tuan mohon bersabar menunggu kami kembali."


" Hei semuanya ! Ayo kita beritahu yang lainnya !"


" Ayo !"


Sekumpulan orang orang itu terlihat sangat bahagia. Mereka berlari menjauh dengan arah yang berbeda untuk memanggil lebih banyak orang.


" Padahal itu hanyalah beras dan telur tapi mereka sudah sangat bahagia." ucap Bellatrix.


" Mereka pasti sangat menderita." Mintaka menatap sedih bungkusan yang berisi bahan pokok.


" Kalian benar." gumam Orion dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari arah perginya orang orang itu.

__ADS_1


" Dan sepertinya nama Frendick masih kekal diingatan mereka. Sungguh, hebat sekali ayahmu Orion." Rigel tersenyum sambil memandang Orion sekilas.


" Memang, aku bahkan iri kepadanya." balas Orion.


" Kau menangis Alnilam ?" Saiph yang terkejut melihat kekasihnya menangis di pelukan Alnitak.


Alnilam mengusap air matanya dan menoleh. " Aku sedih melihat penderitaan mereka."


Saiph tersenyum dan mengusap kepala Alnilam. " Kita akan mengurangi penderitaan mereka sayang. Tenanglah, kita masih bersama Orion. Dia pasti bisa mengatasi semua itu. Kau lihat tadi kan ? Kita hanya menyebutkan nama bangsawan Frendick tetapi mereka langsung bahagia dan percaya begitu saja."


Alnilam mengangguk lalu tersenyum menatap Saiph. " Kalau begitu biarkan aku yang memberikan itu pada mereka nanti."


Saiph menoleh menatap Orion meminta persetujuan.


" Lakukan saja."


Saiph tersenyum dan kembali menatap kekasihnya. " Ya, lakukan semaumu. Biar aku bersama yang lain memindahkan bahan pangan itu."


" Tuan kami telah membawa mereka !"


" Kami datang tuan !"


Rigel mengangkat tangannya ke atas sebagai tanda mereka harus diam dan tenang. " Tertib dan berbarislah ! Kami akan membagi sama rata asal kalian tenang dan tidak saling berebut !"


Orang orang itu mengikuti arahan Rigel tanpa banyak bicara. Sehingga Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, dan Mintaka yang melihat itu terkejut. Mereka mengira akan terjadi kerusuhan dan juga aksi saling berebut satu sama lain. Ternyata apa yang mereka pikirkan tentang orang orang itu salah.


" Alnilam, Alnitak bagikan bungkusan itu. Yang lainnnya angkut bungkusan yang kurang dari dalam mobil." ucap Orion.


" Baik ketua."


Orion berdiri di dekat Alnilam dan Alnitak yang sedang membagikan bungkusan beras dan telur. Ia memandangi setiap wajah rakyatnya yang sedang mengantri.


...*****...


" Rion semua sudah selesai."


Orion tersentak dan terkejut melihat orang orang yang tadi mengantri kini sudah tidak ada lagi kecuali lima orang dewasa yang sepertinya sedang menunggu mereka.


" Yang lainnya mana ?"

__ADS_1


Rigel berdecak kesal mendengar Orion yang malah bertanya. " Mereka sudah lebih dulu pergi ke rumah tetua."


" Lalu kita ?" Orion bertanya lagi dengan masih dalam keadaan bingung.


" Kita apa ?! Kami ini sedang menunggumu melamun dari tadi !" Bellatrix yang sudah lama menunggu menjadi tidak sabar dan tanpa sadar berteriak kencang.


" Oh, ya sudah."


Bellatrix menatap tajam Orion yang berbicara dengan santainya. Rigel menepuk pundak Bellatrix untuk memahami Orion. Sebenarnya dibandingkan mereka maka Orion lah yang sering bersabar dengan tingkah mereka.


" Mari tuan kami antar ke rumah para tetua."


Orion mengangguk dan mengikuti lima orang itu bersama Rigel, Alnilam, Alnitak, Saiph, Mintaka, dan Bellatrix yang menggerutu sepanjang langkahnya.


Di perjalanan Orion terus memandangi sekitarnya begitu pula dengan teman temannya. Dari mulai rumah, pepohonan, tanah, dan suasana lingkungan yang menurut mereka tidak layak untuk di tempati lagi. Ini masih satu daerah, belum daerah yang lain di seluruh negara N.


Rigel memandang Orion yang berjalan di depannya. Dalam hati ia berjanji untuk membantu dan melindungi Orion sampai temannya itu berhasil mewujudkan impiannya. Melihat keadaan hari ini Rigel tahu bahwa mulai sekarang beban yang harus ditanggung Orion menjadi lebih banyak. Tiba tiba sebuah tangan lembut menggenggam tangannya. Rigel menoleh dan melihat kekasihnya yang menatapnya tersenyum.


" Aku tahu apa yang kau pikirkan Rigel. Kau tidak sendirian karena aku dan yang lainnya juga akan mempertaruhkan hidup hanya untuknya." ucap Alnitak.


" Aku takut dia tidak bisa bahagia Alni. Hidupnya lebih menyeramkan dibandingkan kita." gumam Rigel.


" Jika memang benar maka itu takdirnya. Tugas kita hanya berusaha membantunya sampai akhir. Setelah itu apapun akhirnya kita serahkan pada takdir."


Rigel menghela napas dan tidak berbicara lagi. Entah kenapa Rigel selalu merasa Orion akan menghilang setelah semua ini berakhir.


" Tuan inilah rumah tetua kami."


Orion dan teman temannya memandang rumah yang terlihat lebih besar dibandingkan rumah rumah sebelumnya. Di depan rumah itu juga telah berkumpul banyaknya orang yang menunggu informasi dari mereka. Dari dalam rumah keluarlah lima orang pria tua yang datang menghampiri mereka.


" Selamat datang di kediaman kami yang sederhana ini tuan tuan dan nona nona sekalian." para tetua itu membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


" Terima kasih tetua, kami merasa tersanjung atas sambutan kalian." Rigel membungkukkan tubuhnya setelah berbicara. Ini adalah cara mereka menghormati satu sama lain di daerah ini karena negara N masih menganut sistem kerajaan.


" Silahkan tuan tuan dan nona nona kita berbicara di dalam."


" Ya dan tolong bimbing kami." Rigel tersenyum dan merentangkan tangan kanannya untuk mempersilahkan para tetua berjalan terlebih dahulu.


Orang orang yang melihat cara Rigel berbicara dengan para tetua membuat mereka merasa penasaran. Ditambah lagi diantara mereka ada satu pria yang setengah wajahnya ditutupi masker. Mereka semakin penasaran siapa pria itu dan bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi tentang pemimpin mereka setelah sekian tahun lamanya.

__ADS_1


Merasa diperhatikan Orion membenarkan maskernya dan memastikan bahwa itu bisa menutupi dari setengah wajahnya. Sepertinya banyak orang yang penasaran dengannya kali ini.


__ADS_2