Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Hobi Baru Gabriel


__ADS_3

Hansen turun dari taksi setelah mobil itu berhenti di depan perusahaan tempatnya bekerja. Tangannya memegang gagang payung lebih erat sebelum berlari menghindari derasnya hujan. Seperti ramalannya tadi pagi, hari ini akan terjadi hujan seharian. Hansen mengetahui itu dari ponselnya yang menunjukkan tentang perkiraan cuaca yang lebih rendah dari biasanya. Karena itulah Hansen bisa meramal tentang hari ini akan terjadi hujan seharian. Hansen melipat payungnya dan berjalan masuk ke dalam perusahaan.


" Pagi Hans."


" Pagi Cloe." Hansen tersenyum membalas sapaan dari salah satu rekan kerjanya.


" Kau kehujanan ?" Cloe melihat pakaian Hansen setengah basah.


Hansen mengangguk dan menunjuk bagian pakaiannya yang basah. " Terkena hujan saat aku turun dari taksi."


" Kau harus cepat menganti pakaianmu atau kau akan sakit karen dingin."


" Mau kulakukan. Kalau begitu aku duluan Cloe, selamat bekerja."


" Kau juga selamat bekerja."


Hansen melanjutkan langkahnya berjalan menuju ruangannya. Beruntung ruangannya terletak di lantai dua. Kalau tidak mungkin Hansen harus rela berdesak desakkan menggunakan lift untuk masuk ke dalam ruangannya sendiri.


Hansen membuka pintu ruang kerjanya dan masuk ke dalam lalu menguncinya agar orang lain tidak bisa mengganggunya saat ini. Setelah itu Hansen meletakkan payungnya di dinding dekat pintu. Kemudian membuka pakaian atasnya yang sedikit basah terkena hujan.


Hansen berjalan ke lemari kecil yang tidak jauh darinya dan mengambil satu setel pakaian yang baru dari sana. Tepat saat Hansen akan membuka resleting celananya, sebuah siulan nakal muncul dari belakang tubuhnya.


" Aku tidak tahu kau suka bertelanjang di ruanganmu sendiri. Kalau tahu sejak awal aku pasti akan mengajak Reina ke sini setiap hari."


Hansen memutar mata malas ketika mengetahui siapa pemilik siulan itu. " Apa kau memiliki hobi baru Gabriel ?"


" Tadinya tidak tapi setelah melihatmu pagi ini sepertinya iya." Gabriel yang dari tadi duduk di kursi kerja Hansen menyeringai senang saat melihat punggung temannya itu yang tidak tertutupi kain. Andai saja wanita diluaran sana melihatnya mungkin mereka akan menjerit kegirangan melihat Hansen yang setengah telanjang dan menampakkan tubuh atasnya yang terlihat kekar dan terjaga. Hah, sayang sekali Gabriel terlahir menjadi laki laki dan membuatnya memandang biasa tubuh Hansen yang sebenarnya itu luar biasa menggiurkan bagi para wanita.


" Hentikan tatapanmu itu. Kau seperti pria gay yang telah menemukan sasarannya. Kau harua tahu kalau aku ini masih seorang pria sejati yang menginginkan seorang wanita tulen." ucap Hansen sebelum mengambil pakaiannya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Gabriel tertawa seraya memutar kursi kerja Hansen sesuka hatinya. " Kenapa aku harus menjadi seperti itu sedangkan aku juga memilikinya."


" Tapi seharusnya tadi aku memotretnya dan membagikannya ke media sosial. Aku yakin seluruh wanita di negara ini akan sangat berterima kasih kepadaku." lanjutnya.


Gabriel tersenyum membayangkan berapa keuntungan yang akan dia dapatkan setelah memposting tubuh Hansen yang tadi dilihatnya ke media sosial. Kalau kurang Gabriel akan menjadikan Hansen sebagai modelnya.


" Ternyata memiliki teman yang sempurna dalam fisik bisa menguntungkan juga." Gabriel bergumam pelan takut jika Hansen mendengar ucapannya dan temannya itu mengamuk kepadanya.


Sepertinya mulai detik ini Gabriel memang memiliki hobi baru yaitu membujuk Hansen agar mau menjadi salah satu model pria di perusahaannya ini.


...*****...


" Hansen."


" Tidak." Hansen menjawab dengan nada tinggi.


" Kau coba saja dulu, mana tahu kau menyukainya." Gabriel menatap Hansen penuh permohonan.


" Tidak akan pernah."


Gabriel menghela napas sambil terus memikirkan cara untuk membujuk Hansen. " Hans, tidakkah kau menyadari fisikmu yang hampir sempurna itu ?"


" Tidak, bagiku fisikku tidak akan berguna jika ujung ujungnya aku akan berakhir menjadi tengkorak di dalam tanah."


" Maka dari itu pergunakanlah mulai sekarang fisikmu itu sebelum kau menjadi tengkorak dikemuadian hari."


Hansen menggelengkan kepala untuk tetap menolak permintaan Gabriel. Meskipun Hansen berprofesi sebagai fotogtafer tetapi bukan berarti dirinya senang menjadi bahan foto.


" Hah, sayang sekali kau menyiakan nyiakan sumber daya fisik yang bisa mengahasilkan banyak uang." Gabriel berucap lemah. Mungkin lain kali ia akan mencobanya kembali. Mana tahu Hansen akan mengabulkan permintaannnya itu.

__ADS_1


Sebagai pengusaha yang telah menumbuhkan banyaknya model model internasional. Gabriel tidak bisa mengabaikan begitu saja hal yang menurutnya menarik untuk menghasilkan keuntungan. Salah satunya Hansen yang memiliki fisik yang hampir sempurna. Ditambah pria itu termasuk ke dalam jajaran pria tertampan di negara Z. Hal itu membuat Gabriel bisa membayangkan betapa populer Hansen bila temannya itu mau menjadi modelnya.


" Han..."


" Diam." Hansen langsung memotong suara Gabriel yang akan mengucapkan kata kata bujukkan untuknya lagi.


" Ak..."


" Diam Gabriel." Hansen memotong lagi.


" Tap..."


" Aku tidak mau mendengar suaramu lagi." ucap Hansen.


Gabriel memejamkan matanya sembari menarik napas dalam sebelum berteriak kencang penuh kekesalan. " Aku ingin keluar sialan ! Kau mengunci ruanganmu dan membuatku tidak bisa keluar dari sini !"


Hansen tercengang mendengar teriakkan itu lalu tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya. Telinganya terlihat memerah akibat menahan malu.


" Bilang dari tadi." Hansen memberikan kunci ruangannya.


" Sudah dari tadi pekerja ! Kau saja yang sok tahu memotong ucapanku !" Gabriel berteriak lagi dan mengambil kunci itu untuk membuka pintu ruang kerja Hansen yang terkunci.


BRAK !


Gabriel menutup pintu itu dengan cara menariknya kencang dari luar hingga menimbulkan suara nyaring.


Hansen meringis meihat kekasaran Gabriel pada pintu ruang kerjanya. Kenapa pria itu terlihat lebih menyeramkan saat kesal dibandingkan dengan wanita yang lagi datang bulan ?.


Ternyata hobi baru Gabriel cukup mengerikan juga karena selain menginginkannya menjadi seorang model. Pria itu juga memiliki hobi baru untuk berteriak dan marah marah menyaingi mulut para wanita.

__ADS_1


Hansen jadi kasihan dengan jodoh Gabriel nanti. Pasti wanita itu merasa tertekan karena mendapatkan Gabriel yang ternyata lebih menyeramkan daripada dirinya saat datang bulan. Bahkan Hansen juga membayangkan betapa mengenaskannya jodoh Gabriel nanti saat wanita itu kalah saing dalam hal berdebat karena ternyata Gabriel memiliki mulut yang sama lemasnya seperti para wanita bar bar diluaran sana.


" Aku jadi meragukan gendernya saat dia sedang kesal dan marah marah seperti itu. Apa sebenarnya dia itu seorang wanita tetapi karena sebab tertentu tuhan membentuknya menjadi pria ? Mana tahukan luarnya pria tapi dalamnya wanita ?" Hansen bertanya sendiri sambil terus menatap pintu ruang kerjanya.


__ADS_2