
Gabriel kali ini benar benar sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Biasanya ia hanya melihat temannya itu yang menggoda para gadis. Sekarang Gabriel melihat Hansen yang digoda seorang gadis. Entah mengapa rasanya begitu menggelikan untuk dilihatnya.
" Kenapa kau tertawa Gabriel ?" tanya Reina.
Hansen berdecak pelan karena tahu kalau Gabriel saat ini pasti sedang menertawakannya. Memang kurang ajar temannya itu.
" Aku bahagia melihatmu bisa akrab dengan temanku Rei." Gabriel tersenyum jahil menatap Hansen.
Reina tersenyum lalu memeluk lengan kekar Hansen. " Menurutmu kami cocok tidak ?"
Hansen melotot menatap Reina kemudian beralih menatap tajam penuh ancaman pada Gabriel. Awas saja kalau temannya itu membuat jawaban yang buruk.
" Cocok, sangat cocok." Gabriel menunjukkan dua ibu jarinya kearah Hansen dan Reina di depannya.
Gabriel sialan ! Batin Hansen. Rasanya ia ingin memukul wajah Gabriel yang sedang tersenyum itu sekarang.
Senyum Reina semakin lebar. Jawaban Gabriel membuatnya merasa bahagia karena memang itulah yang ia harapkan.
BRAK !
" Aaa !"
" Tolong !"
BRAK !
" Aaa !"
Reina menjerit dengan semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Hansen.
" Apa itu ?" tanya Gabriel yang juga merasa terkejut mendengar suara tabrakan besi yang sangat kencang.
Hansen menggelengkan kepalanya tetapi tanpa sadar tangannya kini memeluk Reina yang tengah ketakutan. " Ayo kita keluar Gabriel. Sepertinya suara itu berasal dari luar Restoran ini."
Gabriel mengangguk lalu beranjak bersama Hansen yang sedang memeluk Reina. Di luar Restoran mereka melihat puluhan mobil saling berhimpitan termasuk mobil Gabriel yang beberapa saat lalu terparkir rapi di depan Restoran.
" Astaga !" Reina menjerit melihat puluhan orang terluka di depannya. Bahkan ia melihat beberapa orang yang tengah terhimpit di dalam mobil mengulurkan tangannya meminta tolong. Tangan Reina gemetar menunjuk kearah orang orang itu sambil menangis.
Hansen menggenggam tangan Reina lalu menyembunyikan kepalanya di dada bidang miliknya.
Gabriel mengusap kasar rambutnya saat menemukan mobilnya yang berharga puluhan miliar sekarang gepeng tidak terbentuk lagi.
" Mobilku." gumamnya.
" Gabriel." panggil Hansen.
Gabriel menoleh menatap Hansen. " Hm ?"
__ADS_1
" Kau ingin ikut andil atau pergi dari sini ?"
" Pergi, aku tidak mau terkena masalah yang tidak terlalu penting." jawab Gabriel yang segera menghubungi bawahannya untuk menjemput mereka.
Hansen menatap kosong ke depan melihat kekacauan yang terjadi. Banyak orang yang menjadi korbannya. Hansen melihat banyak orang meminta tolong pada para petugas medis dan keamanan yang mulai berdatangan membantu.
Gabriel menepuk bahu Hansen. " Kita harus jalan menjauh karena jalanan pasti akan segera ditutup sementara."
Hansen mengangguk dan berjalan mengikuti Gabriel. Hansen tahu seharusnya mereka menolong orang orang yang kecelakaan itu. Tetapi Hansen dan Gabriel bukanlah orang baik yang suka rela membantu.
Ini adalah negara Z, dimana di sini memiliki peraturan sangat ketat. Jika mereka membantu maka penegak hukum pasti akan bertanya tanya pada mereka dan itu pasti akan menarik banyak media. Karena Gabriel termasuk ke dalam orang yang berpengaruh di negara ini.
" Reina masih menangis ?" Gabriel melihat Reina di dalam pelukan Hansen.
" Iya."
Gabriel tersenyum tipis lalu menatap ke depan. " Reina takut darah, mangkanya dia menjadi seperti itu saat melihat kecelakaan tadi." jelasnya.
Hansen hanya diam saja mendengar itu. Namun ia menghentikan langkahnya lalu menggendong Reina bridal style begitu saja. Hal itu membuat Gabriel dan Reina terkejut menatapnya.
.
...*****...
.
Reina mendengus kesal. " Dasar pengganggu." ucapnya sinis.
" Hei ! Jika tidak karena aku, kau tidak mungkin bisa bertemu pria seperti dia." ujar Gabriel yang membuat Reina terdiam.
Benar juga, pikir Reina. Meskipun Hansen terlihat tidak menyukainya saat berkenalan tadi. Tetapi pria itu rela memeluk dan menggendongnya sampai mereka menemukan mobil yang telah Gabriel siapkan.
" Kau benar Gabriel." Reina berucap pelan.
" Kau benar benar menyukainya Rei ?" tanya Gabriel.
Reina mengangguk.
" Secepat itu ?" Gabriel bertanya lagi.
Reina mengangguk.
" Kau yakin itu suka bukan kagum ?"
" Kau yang tidak pernah merasakannya diam saja Gabriel. Yang kurasakan ini bukan sekedar rasa suka tetapi cinta. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya."
Gabriel menepuk dahinya. " Aku tidak percaya ini. Bagaimana bisa kau menyebutnya cinta sedangkan kau saja tidak tahu apa apa tentangnya. Bahkan kau baru berkenalan dengannya tadi."
__ADS_1
" Cinta tidak memandang apapun Gabriel." balas Reina.
" Itu karena cinta tidak memiliki mata untuk melihat. Bagaimana cinta bisa memandang sedangkan cinta itu tidak memiliki mata ?" Gabriel bertanya dengan bodohnya.
Reina terbelalak mendengar pertanyaan bodoh Gabriel. " Diam kau, aku malas berbicara dengan orang bebal cinta sepertimu !"
Di negara N
Seorang pria tua sedang duduk bersantai sambil menonton berita televisi yang menayangkan tentang kecelakaan besar di negara Z hingga mengakibatkan kerugian besar dan korban jiwa.
Di tengah suara televisi berbunyi. Suara langkah kaki terdengar menghampiri pria tua itu.
" Paman."
Pria tua itu menoleh ke belakang lalu tersenyum menyambutnya.
" Orion !"
Orion duduk di sebelah pria tua itu. " Bagaimana kabarmu paman Neus ?"
" Setelah melihat anda kabar saya menjadi sangat baik tuan muda." jawab Neus.
" Paman aku ingin membicarakan tentang keputusanmu." Orion langsung membicarakan niatnya tanpa berbasa basi lebih lama lagi.
" Tuan muda..." Neus terlihat sedang berpikir keras sebelum kembali melanjutkan ucapannya. " Tolong percayalah kepada saya. Saya tidak akan berbuat buruk pada anda tuan muda."
" Aku tahu paman, aku percaya kepadamu." balas Orion.
" Selama sepuluh tahun saya menjadi pengawal. Saya sangat mengenal seluruh orang di Mansion Frendick, termasuk mereka. Dibalik kejahatan yang telah mereka lakukan sebenarnya mereka adalah orang orang yang cerdas dan berbakat. Karena itulah mereka menjadi orang kepercayaan di Mansion Frendick."
" Bukan hanya itu, pengalaman yang mereka dapatkan membuat mereka banyak mengerti taktik tuan muda. Sebab itu juga saya mengirimkan keenam anak angkat saya untuk membantu anda." ucap Neus menjelaskan.
" Aku bisa melakukannya sendiri paman."
Neus tersenyum mendengar kegigihan Orion. " Tuan muda anda tahu apa penyebab gajah bisa kalah dari semut padahal gajah lebih besar dan kuat ?"
" Karena gajah terlalu besar dan sulit bergerak." jawab Orion.
Neus menggelengkan kepalanya. " Itu karena semut memiliki kelompok untuk saling membantu dan bekerjasama. Semut memang kecil tetapi memiliki akal yang cerdik hasil dari pemikiran kelompoknya."
Orion terdiam mendengar jawaban Neus. Kepalanya menunduk menatap kedua tangannya.
" Saya ingin anda dan keenam anak angkat saya bisa menjadi semut untuk dapat mengalahkan gajah." Neus mengusap pundak Orion.
" Harapan saya Rasi Bintang dapat menguasai langit." lanjutnya.
" Aku mengerti maksudmu sekarang paman Neus." ucap Orion.
__ADS_1