
Setelah makan siang selesai Gabriel mendapat kabar dari para petinggi perusahaannya yang ingin mengadakan rapat mendadak mengenai masalah keuangan. Gabriel berjalan cepat diikuti Jack ke ruang rapat. Sebelum masuk ia memejamkan matanya merapalkan sebuah doa yang diucapkannya di dalam hati. Kemudian membukanya kembali lalu mengangguk kearah Jack memberi perintah secara tersirat.
Jack yang mengerti segera membuka pintu ruang rapat tersebut. Tersenyum kepada Gabriel untuk memberi selamat. Bagaimanapun juga, masalah ini bukan hanya berdampak pada Gabriel saja tetapi dirinya dan seluruh karyawan di perusahaan ini juga ikut terkena imbasnya.
" Maaf saya datang terlambat." Gabriel membungkuk meminta maaf dengan sopan pada semua orang yang telah hadir lebih dulu di ruang rapat.
" Tenang saja Gabriel, kami juga baru saja tiba disini."
Gabriel tersenyum sebagai formalitas pada pria tua yang baru saja berbicara dengannya. Dia adalah salah satu petinggi di perusahaannya yang memiliki keramahan dan juga perkataan manis namun diam diam menyimpan pisau disetiap tindakannya.
" Sekali lagi saya meminta maaf." Gabriel melangkah ketempat duduknya bersama dengan Jack yang dengan setia mengikutinya.
" Kita langsung saja membahas inti permasalahan ini." pinta salah satu petinggi yang duduk tidak jauh dari Jack.
" Benar, karena ini rapat mendadak dan bersamaan itu banyak jadwal yang harus diundur." ucap yang lainnya.
Gabriel mengangguk singkat dan menegakkan tubuhnya dengan wajah menatap serius setiap orang di ruang rapat. " Tentang masalah yang dialami negara ini dan berdampak besar untuk perusahaan kita. Saya tidak memiliki pilihan lain selain memberikan setengah dari gajih karyawan yang meminta uang tunai. Karena masalah ini uang kita bukanlah hilang tetapi kita harus menunggu sementara sampai pemerintah bisa mengganti uang kita."
" Untuk itu saya akan memberikan hak pribadi saya terlebih dahulu untuk membayar gajih karyawan dan menurunkan harga jual barang kita pada luar negeri agar bisa mengatasi masalah ini." Gabriel menghela napas lega setelah mengeluarkan semua pemikirannya.
Orang orang di ruang rapat tampak saling berbisik mendiskusikan keputusan Gabriel. Ruangan yang tadinya terdengar hening kini hanya berisi gumaman rendah dari mereka.
" Melihat bagaimana kesungguhanmu dalam mengatasi masalah ini. Kami memutuskan akan membantumu. Kami juga akan ikut memberikan uang pribadi kami untuk masalah gajih karyawan. Bukan hanya itu kami juga akan membantumu menjual produk kita tanpa mengurangi nilai jualnya." ucap pria tua yang duduk di depan Gabriel.
" Ya itu benar, lagi pula untuk apa gunanya relasi bisnis kita yang begitu banyak itu kalau tidak dimanfaatkan bukan ?" tambah seorang wanita paruh baya dengan ciri khas wanita karir.
Gabriel langsung tersenyum mendengar itu. Ada rasa lega sekaligus bahagia di dalam hatinya. Setidaknya ia telah mendapatkan petunjuk solusi dari masalah ini. Gabriel berdiri dari tempat duduknya lalu membungkuk pada seluruh orang di ruang rapat.
__ADS_1
" Terima kasih atas bantuan anda anda sekalian. Saya sangat berterima kasih dan saya berjanji akan menganti uang kalian setelah pemerintah bertanggung jawab atas uang kita di Bank negara." Gabriel menegakkan tubuhnya dan tersenyum menatap semua orang di ruang rapat itu.
" Kami hanya melakukan apa yang kami bisa Gabriel. Bagaimanapun juga kami tidak ingin rugi dalam hal ini." ucap pria tua yang duduk di sebelah Jack.
Gabriel tersenyum menatap pria itu. Setelah ini ia akan bekerja keras meneror Presiden negara ini untuk mengganti uangnya yang hilang. Lagi pula Gabriel telah mengenalnya sejak ia masih kecil dan dia sudah seperti ayah kedua baginya.
Paman Galiendro tunggu aku di istanamu ! batinnya.
.
... *****...
.
Seekor burung elang emas mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi mengitari Mansion Galiendro. Perlahan burung itu menukik terbang ke bawah menuju sebuah tempat yang menjadi tujuannya.
Burung elang emas itu mengeluarkan suaranya yang kencang seakan terancam. Sayapnya masih terbentang lebar dan terbang di atas para pengawal seakan dia tengah menantang mereka untuk bertarung dengannya. Matanya yang tajam menatap penuh permusuhan pada para pengawal itu.
DOR ! DOR !
Para pengawal itu mencoba menembak burung elang emas yang berani masuk ke wilayah Mansion Presiden.
DOR ! DOR ! DOR !
Burung elang emas mengeluarkan suaranya lalu terbang tinggi menjauhi para pengawal itu. Sekilas burung emas melirik buntalan kertas di kakinya dan mengubah haluan menuju sebuah kamar. Di bawahnya para pengawal mengejarnya sambil menembaknya disetiap kesempatan.
" Dia menuju kamar Presiden !"
__ADS_1
" Ayo cepat kejar ! Presiden sedang terancam !"
Kecepatan terbang burung elang emas itu sangat hebat hingga dalam hitungan detik dia telah masuk ke dalam kamar Galiendro.
" Astaga !" Galiendro memegang dada kirinya akibat terkejut melihat seekor burung elang emas muncul tiba tiba di atas tempat tidurnya.
Burung elang emas terlihat tidak memperdulikan rasa terkejut yang dialami Galiendro. Dengan acuh burung elang emas menggigit seutas tali yang menjadi pengikat antara gulungan kertas dengan kakinya. Setelah terputus burung elang emas mendorong gulungan kertas itu ke depan dengan kepalanya. Lalu berteriak kencang mengeluarkan suaranya seakan meminta Galiendro mengambil gulungan kertas itu. Kemudian kembali terbang dengan kecepatan tinggi keluar dari kamar Galiendro melalui pintu balkon yang terbuka.
Galiendro yang sejak tadi memperhatikan burung elang emas terperangah melihatnya. Ada rasa kagum di dalam hatinya melihat apa yang dilakukan burung elang emas itu. Pemiliknya pasti orang yang cukup hebat sampai bisa melatih binatang karnivora itu.
Berbicara tentang pemilik burung elang emas itu. Galiendro berjalan mendekati ranjangnya lalu mengambil gulungan kertas itu dan melihat isinya. Lagi, Galiandro terkejut kembali setelah membaca deretan huruf yang tersusun rapi di kertas itu.
.
Kalau kau ingin membuat negara lain menyetujui keinginanmu. Datanglah ke klub malam yang baru dibuka di negaramu. Disana ada seorang informan yang bisa membantumu.
.
Galiendro melihat sebuah foto yang memperlihatkan seorang pria muda tampan sedang duduk di depan bartender. Dilihat dari cara orang yang memberikan foto ini sepertinya dia mengambilnya secara diam diam.
" Tapi..., siapa orang baik yang membantuku ? Apa itu pengagum rahasiaku ?"
Galiendro tersenyum lebar sambil menatap gulungan kertas yang tertempel sebuah foto itu. " Mungkin saja dia pengagumku. Siapa pun itu aku sangat berterima kasih kepadanya."
Galiendro menarik foto itu lalu melipat kertasnya dan memasukkannya ke dalam laci. Ia hanya mengambil foto pria muda itu untuk mencari dimana dia berada dan juga informasinya.
" Ternyata tidak semua rakyatku yang hanya bisa menuntut saja." Galiendro berucap penuh percaya diri mengira gulungan kertas itu berasal dari bantuan salah satu rakyatnya yang diam diam mengaguminya.
__ADS_1