Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Wanita Idaman Orion


__ADS_3

Rigel bersiul sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Pagi ini yang cerah, langit yang cerah, dan suasana hati yang cerah juga. Setelah ini Rigel ingin berlari dan berolahraga menyusuri hutan mumpung masih di rumah papinya. Rigel membuka kulkas dan mengambil minuman dingin. Baru saja ia ingin meminumnya sebuah tangan mengambil minumannya dari belakang.


" Kau...," suara Rigel tertahan saat melihat siapa yang mengambil minumannya.


Orion mengangkat alisnya sebelah menatap Rigel yang terkejut.


" Orion kapan kau datang ?"


" Dini hari." Orion membalas singkat dan berjalan ke meja makan.


Rigel menatap tubuh Orion dari kaki hingga ke kepala. Lalu tertawa kencang melihat Orion yang masih menjadi Hansen. " Kau betah sekali menjadi Hansen, Orion."


" Jangan mengejekku seperti itu. Gini gini inilah dandanan ayahku saat masih muda dulu."


Rigel meredakan tawanya dan mengangguk sambil ikut duduk di meja makan. " Kau tahu ? Wajahmu mungkin mirip dengan tuan besar tetapi gaya kalian berbeda. Tuan besar adalah pria yang lemah lembut dan anggun sedangkan kau adalah kebalikannya. Dari caramu memandang sekarang saja sudah terlihat kau tidak cocok memerankan karakter tuan besar."


Orion berdecak kesal dan menatap Rigel sinis. " Kau kira selama ini aku pernah menjadi Hansen pernah gagal ?"


" Itu karena kau pandai berakting atau biasa orang bilang bermuka dua." jawab Saiph yang baru saja datang dengan wajah bangun tidur.


" Apakah itu yang dinamakan orang munafik ?" Bellatrix ikut bergabung dengan Orion dan Rigel di meja makan.


Orion yang mendengar itu langsung melempar Bellatrix dengan buah apel di meja. Namun dengan santainya Bellatrix malah menangkap apel itu dan memakannya dengan senyum mengejek.


" Berkacalah kau dulu sebelum berbicara." Orion berucap sinis. Mulut lemas Bellatrix terkadang membuat ia ingin menyobeknya dan membordir kulitnya dengan benang merah.


" Yang lain masih tidur ?" tanya Rigel.


" Ya, kau tahulah sendiri." jawab Saiph.


Bellatrix beranjak mengambil susu di kulkas dan gelas kosong lalu kembali duduk di meja makan. " Jadi..., selanjutnya ?"


" Mungkin kita akan berjalan jalan dulu melihat suasana." ucap Rigel.


Saiph mengangguk setuju. " Itu bagus, kita bisa melihat dari mana kita akan memulai rencana kita."


" Aku ikut kalian saja. Orion kau bagaimana ?" tanya Bellatrix.


Orion menunjukkan ibu jarinya. " Aku ikut kalian saja."


" Bagus, berarti hari ini kita jalan jalan saja hari ini." ucap Rigel.

__ADS_1


" Tapi kalau terdesak kita turun tangan." perintah Orion.


" Siap ketua." Rigel, Saiph, dan Bellatrix berucap bersamaan dengan tangan kanan terkepal di dada kiri.


Orion terkekeh dan menghabiskan minumannya. Meski di dalam hatinya terasa gelisah dan juga sedikit rasa takut. Wajah Orion tetap seperti biasa. Inilah mungkin kenapa Bellatrix menyebutnya dengan munafik karena Orion yang pandai menyembunyikan ekspresi wajah yang sebenarnya.


" Oh, aku akan berolahraga ke hutan. Kalian lanjutkan saja pembicaraannya." Rigel beranjak dan mengambil sebotol air mineral dari kulkas sebelum pergi.


Saiph beranjak dan mengambil bahan bahan masakan di dalam kulkas untuk membuat sarapan. " Kalian sarapan ?"


" Aku tidak." jawab Bellatrix.


" Orion ?" tanya Saiph menatap Orion sekilas.


" Buatkan saja." balas Orion tanpa menoleh kearah Saiph.


" Hei, Orion. Kau membutuhkan obat lagi ?" Bellatrix bertanya dengan tangan yang memutar gelas di atas meja.


Orion terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepala. " Ya."


" Kalau begitu sehabis sarapan biarkan aku memeriksamu."


...*****...


" Siapkan barang barang kita !" Saiph yang bertugas memperhatikan semua barang bawaan mereka terus saja mengomando Mintaka, Bellatrix, Alnilam, dan Alnitak membawa barang sesuai tugas mereka.


" Kalian akan berangkat sekarang ?" tanya Neus.


" Iya papi, Orion tidak memiliki waktu banyak. Dia hanya bisa tiga hari saja di sini." jawab Rigel yang duduk bersama Orion di sofa.


" Kau tahu sekali tentangku seakan akan kau adalah istriku." ucap Orion yang tengah meminum segelas kopi.


Neus tertawa mendengarnya. Inilah yang tidak berubah dari Orion yaitu jahil dan pintar membuat orang lain merasa kesal.


" Sebagai informasi aku ini adalah wakilmu di Rasi Bintang." Rigel menatapnya kesal.


Orion pura pura berfikir dengan jari telunjuk yang mengetuk ngetuk dagunya. " Benarkah ? Aku kira kau istriku."


" Istrimu tertinggal di negara Z."


" Siapa ?" kali ini Orion benar benar bertanya.

__ADS_1


Rigel tersenyum miring lalu melemparkan tatapan penuh makna pada papinya yang ternyata disambut baik karena papinya mengerti maksudnya. " Aku lupa namanya. Siapa ya ?"


" Kalau tidak salah namanya Re, Re, siapa ya ? Apakah Reno ?" tanya Neus yang ikut ke dalam permainan Rigel.


" Bukan papi, istrinya Orion itu wanita tulen." ucap Rigel.


Neus berpura pura terkejut menatap Rigel. " Benarkah ? Dia saja saja dulu menolak Monica yang cantiknya luar biasa. Bahkan dulu dia berteriak bahwa dia tidak akan menyukai wanita cantik selain ibunya. Apa istrinya yang sekarang itu memiliki rupa yang jelek atau dia wanita tapi dalamnya pria ?"


" Tidak papi, wanita itu seorang pengacara terkenal di negara Z. Dia cantik dan..., sesuai wanita idaman Orion."


" Apa itu ?" tanya Neus.


" Apa lagi selain pemberani, cantik, cerdas, cakap, seksi, dan meng..."


" Lanjutkan dan kau akan mandi kopi pagi ini." Orion menatap tajam Rigel yang tertawa bersama Neus. Temannya yang paling waras setelah Saiph jika bergabung dengan Neus maka dalam hitungan menit akan berubah menjadi Mintaka kedua. Menyebalkan dan bermulut lemas dalam membuatnya kesal.


" Dia marah papi." ucap Rigel di tengah tawanya.


" Biarkan saja, papi senang melihatnya." dengan kurang ajarnya Neus menertawakan kekesalan Orion.


Orion menyeringai menahan kesal. Jangan berfikir ia akan diam saja setelah mereka membuatnya kesal. Bagaimana pun setiap rasa yang Orion rasakan ia harus melampiaskannya agar tidak tertekan. Mungkin mereka melupakan fakta itu.


" Mungkin aku tidak akan membalas paman Neus. Tapi tidak denganmu Rigel, siapkan dirimu karena kali ini aku akan memburumu."


Rigel menegang mendengar itu. Tawanya langsung berhenti dan berganti dengan wajah pucat ketakutan. Rigel melupakan fakta bahwa Orion memiliki kelainan dalam mengekspresikan perasaannya. Semua yang dirasakannya harus dia lampiaskan atau mentalnya yang menjadi taruhannya. Jika saja Orion benar benar melampiaskan rasa kesalnya kepadanya maka habislah Rigel nanti.


" Kuatkan hatimu dan mentalmu Rigel sebelum kau menghadapi Orion." Neus menepuk pundak Rigel untuk memberi semangat.


Rigel menatap horor papinya. Bukannya membantu papinya malah seperti tidak meras bersalah sama sekali. " Papi tega sekali. Lagi pula aku berkata benar tentang wanita idamanmu Orion."


" Ya." Orion membalas acuh.


" Lalu kenapa kau memburuku Rion ?"


" Karena kau tahu wanita idamanku."


Rigel mengerutkan keningnya bingung. Masalahnya ada dimana ? Apa salahnya Rigel mengetahui hal itu. Lagi pula itu tidak memalukan kecuali Orion mengidamkan seorang pria. " Masalahnya dimana ?"


" Masalahnya kau mengganggu privasiku."


" Hah ?!"

__ADS_1


__ADS_2