Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Janji Berujung Penyesalan


__ADS_3

" Hans kau diminta bos untuk datang ke ruangannya."


Hansen yang sedang mengedit foto di komputernya langsung berhenti dan menatap Jack di depannya. " Untuk ?" tanyanya.


Jack mengangkat bahunya tidak tahu. Ia hanya menjalankan perintah dari Gabriel saja. " Mungkin makan siang bersama, bukankah sebentar lagi jam istirahat ?"


" Iya, kau duluan saja kalau begitu. Aku akan datang sebentar lagi."


Jack mengangguk dan melangkah pergi. Hansen menyimpan editannya lalu mematikan komputernya. Kemudian dilihatnya jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu tengah hari. Ternyata memang sudah mau istirahat, pantas saja perutnya terasa lapar. Hansen beranjak bangun dan berjalan keluar ruangannya.


Hari ini setelah kejadian tadi pagi yang dimana ia bertemu dengan si penghianat. Hansen belum menyalurkan rasa kesalnya sedikitpun. Gara gara George si penghianat itu Hansen harus kesusahan menahan rasa kesalnya. Sekarang kemana, dimana, dan bagaimana rasa kesalnya ini dilampiaskan ?.


" Tumben kau cepat datang ?"


Hansen menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan itu. " Kau mau aku lambat datang ?"


" Jangan membalas pertanyaan dengan pertanyaan Hans, itu tidak sopan." ucap Gabriel yang tanpa sadar mengingatkan Hansen pada percakapannya dengan George tadi pagi.


" Aku lapar itulah jawabannya." ucapnya malas.


Gabriel tertawa dan menunjukkan layar ponselnya. " Kita menunggu Reina karena dia yang akan membawa makan siangnya."


Hansen merebahkan tubuhnya di atas sofa tanpa melepaskan sepatunya. Tangan kanannya terlipat di bawah kepala dan tangan kirinya menutupi matanya dari cahaya lampu. Bagus sekali, sekarang rasa kesalnya semakin bertambah dan itu perbuatan dari sepasang anak ayah dalam kurun waktu setengah hari. Tadi pagi ayahnya yang membuatnya kesal dan sekarang anaknya yang ikut membuat rasa kesalnya kian bertambah lagi. Mereka benar benar cocok sekali menjadi keluarga.


" Gabriel." panggil Hansen.


" Hm ?"


" Kau masih ingat janjimu ?"


" Janji..., yang mana ?"


Hansen beranjak bangun menatap Gabriel. " Yang kau bilang ingin menjadi rekanku saat akan menjadi model. Kau ingat ?"


Gabriel terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum tersenyum. " Aku ingat ! Ada apa ?"


" Aku ingin menjadi model hari ini dan berfoto bersamamu."


" Tidak masalah tapi apa kau baik baik saja ? Kau tidak akan sakit seperti yang sudah terjadi saat itu kan ?" Gabriel bertanya khawatir.

__ADS_1


" Tidak akan. Kau tenang saja, jadi kau mau ?"


Gabriel mengangguk dan berjalan mendekati Hansen lalu duduk di sampingnya. Tanpa disadarinya Hansen yang diam diam menyeringai kejam menatapnya.


" Hai, kalian menunggu menungguku ?" Reina datang dengan membawa dua kantung kresek berlogo restoran terkenal.


" Perut kami yang menunggumu Rein. " jawab Gabriel.


Reina tertawa lalu mengeluarkan kotak makanan dari dua kantung kresek yang dibawanya. " Kalian menungguku dari tadi ?" tanyanya lagi.


" Menurutmu ?" Gabriel balik bertanya dengan pandangan sinis.


" Iya sih."


Gabriel berdecak kesal mendengar jawaban singkat dari Reina. Sedangkan Hansen sudah lebih dulu memakan jatah makan siangnya.


Reina meletakkan kotak makan siang ke depan Gabriel lengkap dengan sendok dan juga air minumnya. " Makan dulu sampai kenyang baru kau lanjutkan lagi kecerewetanmu itu."


Gabriel langsung memakannya tanpa menoleh lagi. Hansen dan Reina terperangah melihatnya, lalu mereka saling memandang satu sama lain. Seakan akan apa yang ada dipikiran mereka itu sama, Hansen dan Reina kemudian mengangguk bersamaan.


" Dia terlihat seperti gembel." bisik Reina.


" Benar juga."


...*****...


" Hans kau yakin dengan ini ?" tanya Gabriel dengan tatapan ketakutan memandang cermin.


" Ya, kenapa tidak ? Tetapi janjimu Gabriel."


" Hahaha !" Reina tertawa kencang memenuhi ruang make up.


" Ka...kau luar biasa Gabriel." sambungnya dan kembali tertawa melihat Gabriel di dandani ala ratu kerajaan terdahulu yang terlihat cantik namun juga menyeramkan karena tubuhnya yang berotot.


Gabriel menatap sinis bayangan Reina di cermin. Awas saja gadis itu setelah urusannya selesai dengan Hansen, Gabriel pasti akan membalasnya. Ia melihat bayangannya sendiri di cermin lalu merengut tak suka. Lihatlah Gabriel terlihat cantik sekali sekarang. Dengan wajah yang tegas namun juga lembut, alis yang ramping, mata bermanik biru karena warna lensa mata yang dipasangkan dimatanya. Jangan lupakan hidung yang mancung dan bibir yang merona dan berisi. Wajah yang tirus dan juga lehernya yang jenjang serta wig rambut panjang yang dipakainya membuat Gabriel benar benar terlihat seperti seorang wanita.


" Coba kau lihat wajah cantikmu itu Gabriel." ejek Reina.


Gabriel yang mendengarnya langsung melotot kesal. Ia memandang Hansen penuh permohonan tetapi temannya itu malah berpura pura tidak melihatnya.

__ADS_1


" Hans kasihanilah aku."


Hansen menggelengkan kepalanya. " Tetapi janjimu."


" Hans jangan suka padanya ya." Reina memeluk leher Hansen dari belakang. Suaranya yang terdengar manja membuat Hansen tertawa sembari mengusap lembut tangan Reina di lehernya.


" Untuk apa kalau aku sudah memiliki yang jauh lebih cantik darinya."


" Tapi Gabriel terlihat cantik sekali." ucap Reina.


Hansen menatap Gabriel lalu tertawa. Dalam hatinya bersorak senang karena kali ini George yang akan merasakan kesal. Lihatlah apa yang akan Hansen lakukan kepada putra kesayangannya itu. Setelah ini si penghianat itu pasti akan merasa terhina karena sebaran berita dari putranya yang berdandan ala ratu kerajaan.


Jika George mencari masalah dengannya maka Gabriel yang akan menjadi sasarannya. Hansen tidak akan terima si penghianat itu berani mengancamnya. Mantan bangsawan terendah di negara N itu ingin bersikap layaknya bangsawan tertinggi yang ingin dihormati orang lain. Mungkin itu bisa dengan yang orang lain tetapi dengannya, mimpi saja.


" Hans." Reina menyandarkan kepalanya di bahu Hansen.


" Hei, kalian berhentilah bermesraan !" Gabriel berucap kesal. Tentu saja, di sini ia adalah satu satunya yang tidak bisa bermesraan dengan siapapun. Melihat Hansen dan Reina yang seperti itu membuatnya merasa iri.


" Lihat Rein, ratuku yang cantik itu cemburu."


" Hans !" merasa kesal mendengar Hansen memuji Gabriel, Reina menggigit bahu Hansen dari belakang. Namun sayang sekali, Hansen sama sekali tidak kesakitan. Pria itu terlihat biasa saja sembari tertawa melihat bayangan Reina di cermin.


Hansen menarik pelan Reina ke pangkuannya. Sekilas ingatan tentang Monica terlintas dipikirannya. Hansen mengerutkan keningnya merasa tidak suka.


" Hans kau kenapa ?" tanya Reina.


" Tidak apa apa." Hansen mengusap kepala Reina lalu menatap Gabriel. " Kau sudah selesai ratu ?"


Gabriel yang mendengar itu melototkan matanya kesal. Ia benar benar menyesal karena berjanji akan menjadi rekan pemotretan Hansen. Kalau tahu Gabriel akan didandani layaknya wanita, ia pasti tidak akan pernah mau melakukannya.


" Kau sengaja melakukan ini Hans ? Kau ingin mengerjaiku kan ?"


" Ya, itu untuk balasan karena kau sudah memaksaku menjadi model dadakan."


" Apa?!"


" Jadi..., nikmatilah hari ini ratuku." Hansen mengedipkan sebelah matanya menggoda Gabriel.


" Menjijikkan !" teriak Gabriel yang bergidik ngeri.

__ADS_1


__ADS_2