
Hendi meringis kesakitan, ujung bibirnya terlihat berdarah.
Hatinya panas, darah pun terasa mendidih. Dia teringat kisah tiga tahun lalu. Saat Reyhan merebut gadis incarannya. Hanya karena dia tak berani mengungkapkan perasaanya.
Ya, Hendi memang tipe introvert dia lebih suka menyendiri dan memendam perasaannya.Sedangkan Reyhan tipe extrovert, dia banyak teman, pandai bergaul termasuk pandai meluluhkan hati wanita.
Jelas kontras terlihat, Reyhan yang humoris, romantis dan manis. Dengan badan besar, tinggi dan berwajah babyface.
Sedangkan Hendi, pendiam, kaku, cuek, dingin, beku dan sejenisnya tapi ganteng luar biasa. Dengan badan sixpack, tinggi, putih dan hidung mancung, membuat banyak wanita mengaguminya.
Salah satunya Siska, yang pernah mengagumi Hendi dan terus mendekati untuk mendapatkan perhatian dan cintanya. Sampai akhirnya Hendi pun memiliki perasaan yang sama, namun dia belum mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
Sampai suatu hari Reyhan datang menjadi karyawan baru dan mengagumi Siska karena selain cantik, Siska juga pintar, bertubuh gempal, tinggi dan hitam manis.
Setelah melewati proses pendekatan dengan kata-kata romantis dan berbagai perlakuan istimewa yang tidak dia dapatkan dari Hendi, Reyhan berhasil meluluhkan hatinya. Dan dia baru tau setelah mereka berpacaran, ternyata ada Hendi pun menyukai gadis itu. Perkelahian pun sempat terjadi, pria putih itu memukul rahang Reyhan.
Siska tidak kuat berada di posisi yang tidak nyaman seperti itu. Sehingga mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Pada akhirnya ia memutuskan resign dan mengakhiri hubungannya dengan Reyhan. Lalu, meninggalkan mereka yang sempat perang dingin selama berbulan-bulan.
Sejarah pun berulang, tiga tahun kemudian. Bedanya, kali ini Hendi yang mendapat pukulan itu.
Siska dan Hanna adalah dua gadis yang berbeda, tapi memiliki daya tarik yang sama buat mereka. Diam-diam Hendi mulai memperhatikannya saat di kantor. Mekipun mereka berbeda divisi, tapi sering kali berpapasan.
Namun, Hanna lebih pendiam dari Siska dia sering menunduk bila berjalan. Dan tak sadar bahwa Hendi sering menatapnya.
Entah perasaan apa yang Hendi miliki, yang jelas dia penasaran dengan diri wanita itu dan tertarik lebih jauh mengenalnya.
*********
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang receptionist muda dan cantik, menyapa ibu berumur 40 tahun dengan seorang bayi umur 1 tahunan lebih yang tertidur di gendongannya.
"Siang mba, maaf, saya mau nanya di sini ada karyawan yang bernama Hanna Kartika?"
__ADS_1
"Ooh mba Hanna, ada Bu. Maaf dengan siapanya yah?"
"Saya Ratna, ibunya." jelasnya tersenyum ramah.
Matanya berbinar, saat mengetahui ia berada tepat di kantor tempat anaknya bekerja. Hanna memang sempat memberitahu tempatnya bekerja di awal interview kepada ibunya.
Dengan berbekal alamat itu, Bu Ratna nekat berangkat dari kampung untuk menemui Hanna. Karena anaknya itu tak pernah menjawab telpon ataupun pesan yang ia kirimkan. Dan tak pernah menghubunginya semenjak diterima bekerja. Bahkan ia pun sepertinya sudah melupakan Anin anaknya.
Bu Ratna datang tepat jam istirahat kantor, terlihat beberapa karyawan turun untuk keluar makan siang. Ruko dengan 3 lantai itu terlihat minimalis dari luar. Tetapi, ketika masuk ke dalamnya banyak lukisan menggantung di dinding, serta ukiran pada meja dan kursi di ruang tunggu, terlihat jelas bahwa pemiliknya menyukai seni.
Ya, pak Candra adalah seorang pecinta seni, dengan pembawaan yang santai dan terkadang humoris. Tak heran seluruh karyawan menghormatinya dan betah bekerja dengannya.
Setelah mengajak semua karyawannya berlibur selama 2 hari, hari ini mereka kembali masuk kantor dengan wajah yang fresh. Serta senyum sumringah.
Ketika Bu Ratna tengah asik meneliti setiap sudut ruangan, tiba-tiba Anin terbangun dan menangis. Karena mendengar riuh suara orang-orang yang menuruni tangga, sambil berbincang dan tertawa bersama yang lainnya.
Ratna menggendong Anin dan mencoba menenangkannya, namun tangisnya malah semakin pecah. Dan seketika menjadi pusat perhatian di dalam ruangan itu. Dengan segera Bu Ratna mengambil botol susu di tas dan memberikannya, dalam sekejap anak itu langsung diam meminum susunya.
Sedetik kemudian
Deg ... Jantungnya seakan berhenti berdegup, melihat ibunya dan seorang bayi sedang terduduk di kursi ruang tunggu. Wajahnya memerah, dia melihat sekeliling terlihat teman-temannya mulai menuruni tangga hendak keluar makan siang.
Akhirnya hal yang ia takutkan terjadi, identitas yang selama ini disembunyikan akan segera terbongkar.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengabaikan mereka? Pura-pura tidak mengenalnya tapi ... Aku tak kuasa menyakiti ibuku, bergumam dalam hati pikirannya kalut.
Dia berjalan mendekati ibunya, dengan cepat menarik tangan tua itu keluar kantor. Bu Ratna terperanjat melihat sikap Hanna, segera ia menggendong Anin.
"Apa-apaan sih ini, Mah? Ngapain ke sini? Nggak bilang Hanna dulu?!"
Setelah membawa Bu Ratna ke samping ruko yang lumayan sepi, Hanna mulai menegurnya.
__ADS_1
"Mamah khawatir Nak, kamu tidak pernah menjawab telpon ataupun sms dari Mamah."
Terlihat air mata tergenang di netranya.
"Aku baik-baik aja di sini, Mah. Nggak perlu Mamah ke sini apa lagi membawa dia!" Hanna melirik bayi yang tengah meminum susu di botolnya dengan sinis.
"Hanna, ini anakmu lihatlah, dia sangat lucu hidungnya mancung seperti kamu, kulitnya juga putih dan rambutnya pirang mirip banget kamu waktu kecil," pujinya. Matanya bersinar antusias bercerita.
Perlahan Hanna melihat bayi yang kini mungkin berusia 1 tahunan itu. Ya, benar, dia memang putih, hidungnya mancung namun sorot matanya mengingatkan ia kepada Ansell, ayahnya.
Laki-laki yang telah menorehkan luka sangat dalam dihatinya. Sehingga membuat kepercayaan dirinya hilang dan dengan susah payah dia membangun identitasnya yang baru saat ini. Mencoba menata masa depan dengan tertatih penuh luka.
"Mah, tolong pulanglah aku tidak ingin seisi kantor tau kalo aku sudah pernah menikah apalagi memiliki anak." rengek Hanna.
"Apa tidak ada sedikit saja, rasa sayangmu kepada anak ini? Bahkan setelah setahun berlalu rasa bencimu masih sebesar dulu, Nak?"
Air mata perlahan menetes, hatinya hancur ia tak menyangka anak yang begitu ia sayangi tega mengusirnya dan anaknya sendiri.
Bahkan ia tak memberi tahu Ardi, soal keberangkatannya menemui Hanna. Kebetulan dia tengah bekerja di luar pulau dan pulang sebulan sekali. Dengan susah payah ia mencari alamat dan bertanya kesana kemari. Sungguh perjuangan yang melelahkan, untuk sampai disini dan bertatap dengan anaknya.
Tapi semua seakan sia-sia dengan sikap dingin Hanna.
"Anin tidak berdosa Hanna, dia tidak tau apa-apa soal masa lalu kalian, yang dia tau sekarang hanya ingin kasih sayang. Mamah memang sudah menganggapnya seperti anak sendiri, tapi tak ingin kamu melupakan kewajiban sebagai seorang ibu, apalagi sampai tidak mengakui kalo Anin adalah anakmu."
Air mata Hanna jatuh perlahan menetes di pipinya, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Terlihat Anin meronta ingin turun dari gendongan Bu Ratna, setelah menurunkannya ia memeluk anaknya itu dengan erat.
Sejenak mereka menangis terisak bersamaan.
Tak sadar ada sepasang mata yang tengah memperhatikan pembicaraan mereka dari balik tembok depan.
Bersambung
__ADS_1