
Sebelum tinju melayang dari tangan Adri, Gerdi pengawal Michael dengan sigap menghadang di antara keduanya.
"Siapa anda?" tanya Michael yang terkejut melihat pria itu tiba-tiba menyerangnya.
Hanna membuka tirai yang memisahkannya dengan Michael, sontak matanya membulat melihat bapak sambungnya itu kembali akan melayangkan tinjunya.
Tentu saja sang pengawal akhirnya mendorong pria itu menjauh dari Michael.
"Pak, hentikan! Ini rumah sakit, Pak. Istighfar!" seru Ratih memegangi lengan suaminya.
"Bapak, sudah! Jangan membuat masalah," sergah Hanna berusaha turun untuk menghampiri bapaknya itu.
"Kamu jangan turun! Tetap di sana!" seru Adri kepada Hanna dengan mata yang tajam masih melihat Michael yang terlihat kaget.
Dalam hati Michael menyadari kalo pria ini adalah suami dari Ratna yang berarti bapak sambungnya Hanna. Tapi, ia masih saja terdiam sekilas melirik pria yang tengah emosi itu.
"Kamu nikahi dia sekarang juga!" lanjutnya kemudian.
Ratih kembali menarik tangan suaminya.
"Bapak apa-apaan?" tanyanya hendak menarik suaminya keluar ruangan.
Namun belum sempat membuka pintu, keluarga Michael terlihat masuk. Ada Martin yang menggunakan kursi roda, Belinda sang istri dan David anak bungsu mereka yang tengah mendorong kursi itu.
Mereka saling terdiam canggung, membiarkan keluarga itu masuk.
"Bisa kita bicara?" tanya Martin melihat pada Adri.
Sekilas pandangan David bertemu dengan Michael yang terlihat kurang suka padanya. Lalu, melirik Hanna yang sedang duduk di tepi ranjang dengan tangan memegang tiang infusan. Tadi wanita itu pasti berniat menyusul bapak dan ibunya keluar.
"Saya memang berniat untuk menikahkan mereka, sebagai bentuk tanggung jawab kami. Hanya saja, tidak mungkin dilakukan di sini di tempat yang serba terbatas seperti ini." kata Martin.
Pria bule itu membuka pembicaraan. Terlihat Adri memalingkan wajahnya menatap langit-langit kamar yang lumayan luas itu. Suasana masih terasa canggung saling terdiam.
"Sebelumnya saya ingin bertanya pada Kak Hanna, apa kamu bersedia menikah dengan Michael?" David mencoba buka suara.
"Jangan tanya anak saya, tapi orang ini! Bisakah dia bertanggung jawab atas kekacauan yang telah terjadi. Harga diri Hanna, pekerjaannya dan rumah kami yang sembarangan kalian kuasai. Dengan tanpa ijin sudah membongkarnya!" sanggah Adri geram.
"Pak ...." Ratna mengelus punggung tangan suaminya yang terlihat emosi itu.
"Maka dari itu saya akan membuatnya mempertanggungjawabkan semua perbuatannya."
Suasana kembali hening saling terdiam.
***
Beberapa minggu kemudian.
Sebuah pesta mewah digelar keluarga Delopez di sebuah hotel bintang lima. Terlihat para tamu memenuhi ruangan yang didominasi warna putih itu.
"Gila! Gadis dari keluarga biasa, tampangnya juga biasa aja, bisa nikah sama anak konglomerat pemilik pabrik bonafid pula!" komentar beberapa wanita di sela-sela tamu undangan.
"Denger-denger wanita ini juga janda punya anak satu dan mantan sekertaris pak Martin," sahut yang lainnya.
__ADS_1
"Pake susuk apa ya dia?" kelakar salah satu dari mereka yang disambut gelak tawa dari yang lainnya.
"Ya itulah keberuntungan, kita tidak akan pernah tahu usaha dan pengorbanan apa yang telah dia lewati hingga bisa mendapatkan semua ini." jawab seorang wanita tengah baya.
"Penasaran secantik apa sih dia?" celetuk lainnya.
Pembicaraan mereka terhenti saat iring-iringan calon mempelai wanita memasuki gedung beserta keluarganya. Sementara Michael dan keluarganya sudah menunggu di kursi pelaminan.
Beberapa wanita yang menggosipkan Hanna terlihat terperanjat dengan mulut menganga, melihat wanita itu berjalan anggun perlahan melewati mereka.
Suasana sejenak hening, semua mata tertuju pada Hanna. Wanita itu mengenakan kebaya warna putih dengan kain transparan di pundaknya menjuntai panjang ke belakang. Riasannya tipis, terlihat flawless mulus dan glowing. Alis matanya terukir sempurna bak berbie dengan bibir tipis.
Meski tanpa senyum, ia tampak cantik berjalan di tengah kedua orang tuanya. Hatinya berdegup kencang, ia berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan terus memegang tangan sang mama. Anindira anaknya, tampak berjalan di sisi sang nenek dengan balutan kebaya warna senada dengan Ratna dan Ardi.
Keluarga Michael tak kalah terkejut melihat kecantikan calon menantunya. Selama ini mereka selalu melihat wanita itu tanpa riasan, dengan wajah kusut. Tapi hari ini, ia bagaikan disulap seperti bidadari.
"Kak, kedip napa? Itu iler hampir jatoh." bisik Laura menyenggol lengan kakaknya.
Pria itu tampak salah tingkah dan mengalihkan pandangan ke segala arah. Tapi tetap saja, kilauan kebaya putih di terpa sinar lampu di depannya, membuat ekor matanya terus menarik untuk menatap ke arah rombongan itu.
Mendadak jantungnya berdegup kencang, keringat dingin muncul di dahinya padahal ruangan itu ber-AC seiring semakin dekatnya Hanna beserta keluarganya.
Namun ia tetap berusaha mengendalikan diri dengan bersikap sok cuek.
Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk berdampingan di sebuah kursi. Tanpa saling melihat tentunya, hanya ekor matanya yang berulangkali saling melirik.
"Kak Hanna cantik banget," bisik Laura di tengah keduanya saat menautkan kain putih di kepala mereka.
Acara itu menggunakan adat dari mempelai wanita, dan salah satu syarat yang diajukan Adri saat di rumah sakit adalah Michael harus masuk islam.
***
Hanna Kartika akhirnya sah menjadi istri seorang Michael Fernando Delopez. Selepas acara pernikahan mereka, wanita itu diboyong menuju rumah besar sang konglomerat.
Saat keluarganya hendak berpamitan pulang, Hanna mengikuti mereka sampai ke halaman depan tempat mobil sewaannya di parkir.
"Inget Mah, Pak, kasihkan design rumah yang udah kita siapkan ke para tukang dan buang design yang lama. Jika ada kekurangan bahan atau apa pun cepat hubungi Agra," kata Hanna kepada kedua orang tuanya.
"Apa tidak akan terjadi apa-apa denganmu, Nak?" tanya sang Mama khawatir.
"Mama tenang aja, Hanna bisa mengurus semuanya. Pokoknya kalian fokus untuk merubah bagunan itu, nanti aku akan cari tahu surat-surat dan perijinannya."
"Kalo bisa Bapak hubungi pak lurah secepatnya dan tanya sudah sejauh mana dokumen rumah itu berjalan," lanjutnya setengah berbisik.
"Iya, besok bapak ke kantor desa. Kamu hati-hati, sepertinya Ibu mertuamu kurang menyukaimu." Adri mengingatkan.
"Aku ngerti, Pak."
Tak lama mereka pun meninggalkan rumah mewah dua lantai itu. Perasaan cemas dan takut menyelimuti hati Ratna melepas anaknya kepada keluarga yang sama sekali tak dikenalnya. Terlebih samgat berbeda latar belakang dan sosial.
Hanna memasuki kamar yang ditunjukkan Laura kepadanya. Saat ia memasukinya terlihat sepi tak ada suaminya di dalam sana. Ia menyusuri setiap tempat sampai terakhir kamar mandi. Tak ada jejak manusia selain dirinya di sana.
"Sepertinya dia tak sudi satu kamar denganku. Baiklah itu lebih bagus," gumamnya kegirangan.
__ADS_1
Kamar yang dihias puluhan bunga mawar putih itu terlihat sangat cantik. Di kasur yang penuh dengan tebaran kelopak mawar putih itu ia merebahkan tubuhnya.
Baru beberapa menit ia tersadar.
"Sebaiknya aku mengunci pintu," gumamnya lagi seraya berjalan menuju pintu kamar.
"Nah, sekarang aman."
Dia menanggalkan pakaiannya dan berganti dengan baju tidur yang ia bawa di dalam kopernya. Lalu, kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
"Wangi ... empuk ... nyaman," bisiknya merasakan wanginya bunga yang semerbak memenuhi kamar itu.
Tak lama kemudian.
Tok ... tok ... tok ...
"Hey buka!" seru seseorang di luar sana membuat Hanna terperanjat.
"Suara si Michael!" Ia lalu bergegas berganti pakaian yang lebih tertutup.
"Woy buka pintunya!" serunya lagi.
"I-iya sebentar!" jawab Hanna gugup.
Saat ia membuka pintu, terlihat raut wajah kesal dari pria itu.
"Apa-apaan ini main kunci pintu seenak jidatnya?" tegurnya sambil ngeluyur masuk.
"Saya pikir Anda tidak tidur di sini," jawab Hanna polos.
"Maunya saya begitu. Sial! Daddy sampe kapan sih duduk di situ!" gerutunya sambil melempar kemejanya ke sembarang arah membuat Hanna berteriak melihat pria di depannya bertelanjang dada.
"Aaawww!" pekiknya sambil membalikkan badan.
"Apaan sih?"
"Ya Anda ngapain buka baju begitu?"
Michael baru sadar kalo ia lupa memakai kaos, biasanya kemeja yang ia kenakan selalu di double kaos di dalamnya.
Ia pun bergegas mengambil kaos di lemarinya.
"Halah! Jangan pura-pura, gue yakin anda sering melihat pria bugil kan!"
"Jaga ucapan anda!" sentak Hanna.
Wanita otu tampak salah tingkah diam mematung bingung hendak menuju ke arah mana.
"Udah kali! Mau sampai kapan anda berdiri di sana!"
Hanna lalu mengambil selimut di kasur menuju sofa dan merebahkan tubuhnya menghadap dinding. Tentunya dengan diam membisu.
Pria itu melirik cuek, ia merebahkan tubuhnya di kasur mengambil buku yang terletak di atas nakas dan membacanya. Tapi, fokusnya terbagi antara buku dan tubuh bak biola di depannya.
__ADS_1
"Mikir apa sih gue!" bisiknya dalam hati.
Bersambung...