Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Sidak


__ADS_3

"Kamu sudah mengenalkan istrimu kepada yang lain?" tanya Martin saat berada di ruangan Michael.


"Sekilas tadi sudah, waktu Michael berkeliling. Tapi secara resmi belum," jawabnya melihat sang ayah yang tampak menyapu pandangan ke segala arah.


Ia melihat beberapa perubahan di ruangan yang sudah puluhan tahun menemaninya merintis perusahaan ini.


"Sofa yang lama kamu kemanain?" Belinda melirik sofa abu-abu yang tampak baru itu.


"Di ruangan Laura," jawab Michael.


"Itu meja siapa?" Kini giliran Martin yang bertanya.


"Hanna," jawab pria itu melirik istrinya.


"Jadi, kau kasih jabatan apa istrimu itu?"


"Sekertaris." Lagi-lagi jawaban singkat jelas padat yang dilontarkan Michael.


"Lalu, sekertarismu yang dulu?"


"Sudah Mich pecat," jawabnya santai.


"Astagaa Michael! Kasian donk dia. Susah payah masuk sini malah kamu pecat."


"Dia pernah merendahkan istriku. Aku tak bisa bekerja dengan wanita yang membenci wanitaku," sahutnya mengalihkan pandangan.


Tiba-tiba perut Hanna mual mendengar bualan suaminya. Ingin sekali ia menonjok rahang runcing sang suami.


"Siapkan meeting dan laporan keuangan 30 menit lagi," ucapnya kemudian.


Jantung Michael tersentak mendengar kata laporan keuangan. Bulan ini ia belum selesai merevisinya dan juga memanipulasi beberapa pengeluaran yang ia sembunyikan untuk kepentingannya sendiri.


"Baik, Dad."


"David, antar Daddy berkeliling." perintah Michael pada adiknya.


"Siap laksanakan!"


"Hanna kamu ikut dengan saya," ajaknya pada menantunya itu.


Mereka pun keluar meninggalkan ruangan Michael.


Pria itu dengan cepat merogoh ponselnya dan menghubungi adik perempuannya.


"Laura, Daddy di sini cepat kamu kirim laporan keuangan. Tiga puluh menit lagi meeting, beritahu yang lain!"


"What? Kenapa Kakak tak memberitahuku Daddy kesini?"


"Aku juga baru tahu! Cepat kirim!" perintahnya.


"Oiya satu lagi, ulur waktu di produksi minta saran Daddy atau apalah sebisa kamu. Aku butuh waktu lebih!" serunya seraya menutup panggilannya.


"Ya sama, aku juga belum cek laporannya nggak bisa kalo langsung kirim sekarang," keluhnya panik.

__ADS_1


"Udah biar aku aja yang cek, kamu kirim aja semua!"


"Oke wait!"


Gadis itu pun kalang kabut memeriksa beberapa laporan yang sudah dikirim bawahannya tapi belum sempat ia periksa.


"Ah sial! Kak Michael keterlaluan," gerutunya.


Sementara itu Hanna mengekor di belakang ayah mertuanya. Di sampingnya berdiri ibu mertua yang jarang sekali terlibat percakapan dengan dirinya. Dia seolah menjaga jarak dengan menantunya itu.


Namun siang ini berbeda terlihat ia menoleh kepada Hanna yang sedang tertunduk.


"Kamu pernah kerja di sini kan?" tanyanya kemudian.


"Iya Mom," jawab Hanna pelan.


"Kamu tau kenapa suami saya sangat memercayaimu?"


"Tidak," sahutnya seraya menggeleng.


"Dedikasi yang kamu berikan pada perusahaan ini membekas di ingatannya. Sifatnya tak jauh dari Michael. Jika dia menemukan seseorang yang menurutnya pas untuk menjalankan sebuah peran, maka orang itu akan diberikan kepercayaan penuh. Tapi, jika dalam perjalanannya pilihan itu ternyata salah mereka tak akan segan untuk menyingkirkannya," terangnya setengah berbisik.


Hanna hanya tersenyum getir menanggapinya berusaha mencerna perkataan Belinda.


"Saya pun sepertinya begitu, Mom. Tapi ada sedikit perbedaan dalam penyelesaiannya. Bedanya jika ternyata pilihan itu salah maka akan saya gunakan opsi yang lain," jawab Hanna seraya tersenyum melihat ibu mertuanya itu.


"Baguslah, semoga kamu tidak kehabisan waktu saat menggunakan opsi yang lain itu." jawabnya menyeringai.


Mereka berdua saling melempar senyum kepada beberapa karyawan yang menunduk hormat saat berpapasan.


"Iya, Pak."


"Hahahhaa," Martin terbahak teringat beberapa tahun lalu saat Hanna masih menjadi sekertarisnya.


"Aku ini mertuamu Sekarang, jangan samakan dengan waktu dulu. Panggil saja Daddy seperti anak-anak yang lain," ucapnya.


"Sepertinya Kakak ipar mengalami dejavu, Dad." ucap David melirik Hanna dengan senyum meledek.


"Sepertinya begitu. Maaf Dad, perubahan status ini terasa mimpi bagi saya. Jadi, harap maklum jika saya masih sering keliru," jawab Hanna membungkukkan badannya.


"Tidak papa, semua butuh proses. Waktu akan membuatmu terbiasa."


"Oh iya, bagaimana menurutmu keadaan perusahaan sekarang dan dulu?"


"Mmm ... Sepertinya pabrik ini semakin maju, karyawan, line dan gedung juga bertambah banyak saya lihat. Beberapa macam produk juga terlihat baru, semakin beragam jenisnya. Apa Daddy mengeluarkan merk baru selain yang selama ini dipakai?"


"Tidak, ini masih satu merk yang sama. Hanya model saja yang berbeda," jawabnya.


Hanna terlihat manggut-manggut mendengarnya.


"Bukan hanya itu, dari tahun ke tahun permintaan pasar semakin meningkat. Berbagai jenis sample berdatangan. Jadi, kita selalu kewalahan dan mengharuskan membuka gedung baru untuk model yang berbeda."


"Malah, Daddy ingin sekali membuka cabang di luar kota memisahkan style yang baru ini. Tentunya dengan tetap mengedepankan kualitas," imbuhnya.

__ADS_1


"Iya, meski di luar sana banyak sekali tiruan tapi kualitas kita tetap nomor satu Dad," timpal David yang setia mendorong kursi roda sang ayah.


"Terkadang untuk sesaat, orang akan tergoda barang murah. Tetapi jika mereka jeli dalam perhitungan, membeli barang murah dengan kualitas rendah hanya akan membuat pengeluaran semakin banyak." Hanna menimpali.


"Lambat laun orang akan semakin banyak yang sadar dan bijak dalam memilih. Lebih baik membeli barang mahal tapi awet, dari pada barang murah dan cepat rusak." kata Martin.


"Yang sedang Daddy pikirkan adalah bagaimana menyuguhkan barang murah tapi kualitas bagus," lanjutnya.


"Ya betul sekali dan itu yang selalu dicari pembeli kan, Dad." ujar David.


Mereka berhenti di salah satu line dan memeriksa hasil produksi salah satu karyawan. Terlihat wanita muda di balik mesin itu keringat dingin menunggu respon dari sang presdir.


Namun, tak lama kemudian rombongan itu berlalu membuat dirinya bernapas lega. Beberapa manager produksi dan staf bergabung dengan rombongan itu. Mereka membentuk arak-arakan seolah sedang investigasi lokasi.


Hanna seolah mendapat ide baru untuk proyek yang sedang digarap di kampung halamannya itu.


Terlihat Laura dari jauh berlari menyusul rombongan yang tengah berkeliling itu. Napasnya terengal ketika sampai di samping Hanna.


"Siang Dad," sapanya.


Martin hanya mengangguk dan memberi isyarat untuk lanjut ke bagian bahan mentah.


Ia melempar senyum kepada karyawan yang tengah membungkukkan badan kepadanya.


"Silahkan lanjut bekerja," ucapnya ramah pada mereka.


Senyum tanda kerinduan akan sosok pemimpin ramah mengembang di bibir mereka. Selama ini mereka hanya melihat wajah dingin sang anak yang selalu mencari kesalahan. Bisik-bisik dari beberapa orang terdengar di belakang.


"Mari kita ke ruang meeting," ucap Martin kemudian.


"Sebentar Dad, Laura ingin menanyakan sesuatu."


Gadis itu merebut dorongan kursi roda yang sedari tadi dipegang David.


Mereka menuju ujung bangunan yang terdapat tanah kosong di sana.


"Dad, rencananya Laura ingin membangun mini market di sana. Menyediakan berbagai kebutuhan para karyawan. Dari bahan pokok, sembako dan kebutuhan sekunder lainnya."


"Pembayarannya pun nanti bisa potong gaji otomatis menghindari lambat bayar. Agar mereka bisa terbantu mencukupi kebutuhan harian dan tidak perlu berhutang keluar," lanjutnya.


Pria tua itu pun terlihat manggut-manggut.


"David rasa kalo langsung potong gaji kita memaksa hak mereka donk, Kak. Apa tidak lebih baik inisiatif mereka aja buat bayar jadi tidak perlu otomatis dipotong gitu," kata David memberi saran.


"Maaf pak, kalo tidak langsung dipotong nanti mereka akan menyepelekan dan khawatir nanti malah menambah beban pada mereka juga," sahut manager produksi.


"Hhmm ... silahkan kalian bahas dirapat nanti. Usahakan tidak menambah beban karyawan dan juga perusahaan. Jangan sampai gara-gara uang yang tidak seberapa membuat hubungan kita dengan karyawan rumit," jelas Martin memberi kode untuk lanjut jalan.


"Baik, Dad. Terima kasih," ucap Laura kembali mendorong kursi roda sang ayah menuju ruang meeting.


Jarak dari ujung gedung menuju ruang meeting lumayan jauh, Laura harap itu cukup untuk kakaknya menyelesaikan laporan keuangan yang dikirimnya.


Selama masa transisi Martin memang sengaja menyuruh Michael mengecek dan mengerjakan laporan keuangan perusahaan sendiri. Dengan mengumpulkan data dari manager keuangan dan Laura selaku manager HRD.

__ADS_1


Dari kejauhan terlihat Michael sudah berdiri di depan ruang meeting bersama para staff. Begitu melihat Martin mereka langsung masuk ruangan dan duduk di kursi masing-masing.


Pria itu melirik Hanna yang juga tengah melihat ke arahnya. Seketika mereka melempar pandangan ke segala arah.


__ADS_2