Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Pria Arogan


__ADS_3

"Baiklah, selama ini sudah cukup bagiku untuk diam dan menderita sendiri. Aku sudah mencoba mundur dan menghindari demi menyelamatkan keutuhan rumah tangga mereka. Tapi, dia tak tahu diri malah semakin menjadi," bisik Hanna dalam hati.


Terus menerus direndahkan dan dihina martabatnya, Hanna bertekad membalas rasa sakit hatinya. Ini adalah kali kedua ia dipandang rendah sebagai janda. Oleh Tante Viona dan juga Mamanya Reyhan. Bagi mereka status ini seolah aib yang tidak pantas bersanding dengan keluarganya.


Pagi itu ia berangkat ke kantor seperti biasa, menyelesaikan tugas yang sempat tertunda. Perihal pertunangannya kemarin sepertinya tak berjalan mulus. Mengingat mustahilnya permohonan dari calon mertuanya itu untuk ia wujudkan. Terlebih, Reyhan yang tidak bisa berbuat banyak demi mempertahankan hubungannya.


Hendi yang terlihat menaiki tangga di belakang, diam tanpa kata mendahuluinya.


"Pak, maaf, untuk meeting dengan gemilang grup bagaimana? Mau saya jadwalkan ulang?"


"Boleh, kalo bisa siang ini atau besok. Kamu konfirmasi sama Pak Ansell ada waktunya kapan dia," ucapnya seraya berlalu menuju ruangannya.


Hanna mengernyitkan kening, serasa ada yang beda dari Hendi. "Ah, bodo amat dia nggak gangguin gue lagi aja udah bersyukur banget." gumamnya lirih.


"Cieee yang abis lamaran, mana cincinnya ko disembunyiin?" Sinta merangkul pundak sahabatnya itu. Di kejauhan Hendi tampak melirik dengan ekor matanya.


Hanna terdiam memasuki ruangannya. Sinta yang menyadari ketidakberesan di wajah teman kantornya itu langsung memasang tampang serius.


"Ada apa? Reyhan nggak jadi dateng?" tanyanya penasaran.


Wanita itu menggeleng lesu, ia membuka laptopnya.


"Ya terus kenapa?"


"Lu inget perempuan yang tempo hari dateng ke kantor ngelabrak gue?"


Sinta tampak diam berpikir sejenak.


"Istrinya Ansell maksud lu?"


"Iya," jawabnya.


"Lah kenapa tuh nenek sihir?"


"Dia dateng ke rumah gue tau nggak?"


"What? Serius? Tau dari mana dia rumah emak lu?"


"Mana gue tau. Tiba-tiba banget dia muncul mengacaukan semuanya," keluhnya seraya menopang kepalanya.


"Gila sumpah! Gue greget banget sama tuh orang, maunya apa sih dia?" seru Sinta mendengus kesal.


"Yang jelas dia pasti penasaran sama kehidupan gue. Dan nggak rela suaminya kirim-kirim duit buat anaknya," jelas Hanna.


"Ya salaamm, itu kan kewajiban seorang ayah dan juga hak seorang anak. Mungkin ada yang namanya bekas istri tapi tak akan ada yang namanya bekas anak. Otaknya rada sengklek gue rasa dia." Sinta menggelengkan kepalanya.


"Liat aja, cukup bagi gue buat diem selama ini."


"Terus lu mau ngapain?"


"Kepooo!"


"Iiihh serius, lu mau ngapain?"


"Sssstttt, berisik!" Tak sadar beberapa pasang mata tengah mengarah kepada mereka.

__ADS_1


"Udah ah, gue mau kerja!" Hanna meraih gagang telepon kantor menghubungi Ansell selaku manager perusahaan gemilang grup.


Wanita itu tampak serius berbicara dengan seseorang di sebrang sana.


"Oooh, jadi Pak Ansell sudah pindah departemen sekarang, Mba?"


"Iya Mba, untuk saat ini penanggung jawabnya adalah saya, Laura."


"Laura? Bukankah dia ... anak dari Pak Martin?" tanyanya ragu.


"Dari mana anda tahu?"


"Aahh benar ternyata, saya pernah bekerja di gemilang beberapa tahun yang lalu. Mungkin Mba Laura lupa, waktu masih kuliah pernah datang ke pabrik dan bertemu saya." terang Hanna.


"Nama Mba tadi siapa? Hanna?" tanyanya lagi memastikan.


"Iya, Hanna Kartika."


"Ya ampuun Kak Hanna! Sekertarisnya Daddy kan dulu?" tanya Laura antusias.


"Iyaa," jawabnya girang.


"Daddy sekarang sudah tidak mengurusi perusahaan lagi, Kak. Semuanya dipegang Kak Michael," jelasnya dengan nada sedih.


"Kenapa? Kak Michael itu yang dulu kuliah di luar negeri bukan?"


"Daddy sakit, dia terkena stroke. Iya, lulus kuliah Kak Michael mengambil alih semua pekerjaan daddy. Dan tentunya aku juga," ucapnya lesu.


"Ya ampuun, cepet sembuh ya untuk Pak Martin. Oh iya, bulan ini adalah meeting tahunan bersama perusahaan kami, apa Mba Laura punya waktu siang ini atau besok mungkin?"


"Aku siang ini bisa. Besok juga bisa. Pak Ansell sudah memberitahuku beberapa hari lalu, dan sudah menyiapkan semuanya."


"Aku nggak tau, yang jelas dia mendadak sekali resign-nya, Kak. Baiklah sampai ketemu nanti siang yaa," kata Laura ramah.


"Baiklah, terimakasih Laura." Hanna mengakhiri teleponnya.


Dia tertegun sejenak, penasaran kenapa mantan suaminya itu bisa resign.


Pak Martin adalah direktur utama sekaligus pendiri perusahaan gemilang grup. Sebelum Hanna menikah dengan Ansell yang merupakan rekan kerjanya di sana, ia adalah sekertaris pribadinya. Tak heran jika ia kenal dengan beberapa anak beliau. Kecuali Michael, karena dia tengah kuliah di luar negeri saat itu.


"Woi, bengong!" Lagi Sinta menepuk pundak Hanna.


"Apaan si lu, sakit tau!" kata Hanna meringis mengusap pundaknya.


"Lagian bengong. Dipanggil Hendi noh!"


Hanna segera membawa dokumen menuju ruangan Hendi.


"Bagaimana? Sudah kamu hubungi?" tanyanya kemudian.


"Sudah, Pak. Tapi sepertinya kita akan bertemu orang baru. Karena Pak Ansell sudah resign dari sana, Pak." jelas Hanna.


"Resign? Siapa penggantinya?"


"Laura Anastasya, anak ketiga dari Pak Martin selaku direktur utama perusahaan gemilang."

__ADS_1


"Bagus, berarti kedepannya akan sangat mudah mendapat akses menuju direktur utama langsung." Hendi melihat Hanna.


"Kapan dia ada waktu?"


"Hari ini bisa, besok pun bisa."


"Baiklah kita berangkat 30 menit lagi,"


"Siap, Pak." Hanna permisi dari hadapan Hendi.


"Takdirku memang tak bisa memililikimu, tapi setidaknya takdir masih bersikap baik membiarkanmu tetap di sampingku meski pernah kau berniat pergi." bisik Hendi dalam hati.


***


Perusahaan Gemilang Grup


Hendi tengah sibuk mencari parkiran mobil yang terlihat penuh. Perjalanan dua jam lebih membuat tubuhnya lemah. Hampir saja ia menyenggol sebuah mobil yang terparkir di luar gerbang.


"Parkir paralel aja kali, Pak." saran Hanna.


"Iya, sepertinya tidak ada pilihan lain." kata Hendi seraya menepikan mobilnya.


Setelah beberapa saat, mereka keluar dari mobil dan langsung menuju ruangan manager yang sekarang dijabat Laura itu.


Namun, belum juga mereka melangkah masuk lobby sebuah klakson menggema dari parkiran.


"Pak ada apa yah itu?" tanya Hanna.


"Nggak tau, jangan-jangan mobil kita ngalangin yang lain? Coba kamu cek saya mau ke toilet dulu sudah tidak tahan," ucap Hendi melemparkan kunci mobil yang ditangkap Hanna. Segera ia setengah berlari menuju parkiran.


Dan benar saja, sesampainya di sana terlihat seorang lelaki tengah berkacak pinggang di belakang mobil Hendi dengan wajah yang merah.


"Ini mobil anda?" tanyanya saat Hanna menghampiri mobil itu.


"Iya, ada apa yah?"


"Masih nanya. Kalo parkir paralel jangan rem tangan donk Bu. Nyusahin orang tau!" seru pria berkulit putih itu yang terlihat kesal.


"Oohh, i-iya sori Pak." jawab Hanna gugup seraya masuk ke dalam mobil melepaskan rem tangan.


"Sudah, Pak." jawabnya.


Tak lama kemudian sang pria mendorong mobil Hendi maju, agar mobil yang tadi tertutup olehnya bisa keluar.


"Satpam pada kemana kali!" ocehnya masih bersungut. Terlihat kemeja putihnya banjir keringat, begitu pula dahinya.


"Tadi saya lihat sedang patroli, Pak." jawab Hanna ragu.


Sejenak dia tertegun menyadari sesuatu. Lalu berhenti mendorong dan mengatur napas sambil mengelap keringatnya lalu berkata, "Kenapa saya dorong mobil anda? Bisakan dinyalakan mobilnya, Bu?" tanyanya geram.


"Aahh iya yah, kenapa saya nggak kepikiran. Maaf Pak, maaf. Sa-saya majukan mobilnya dulu yah," ucap Hanna terbata seraya menuju pintu.


"Telat!" seru pria itu.


Dia tampak kesal dan segera masuk ke dalam mobilnya. Dia berlalu tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


"Arogan sekali tuh orang! Mentang-mentang punya mobil mewah. Liat aja gue bakal punya lima dan nggak akan sombong!" gerutunya kesal mengusap dahinya yang mulai berkeringat.


Bersambung....


__ADS_2