
Sore itu Ratna termenung di halaman belakang villa, di depannya Anindira cucu satu-satunya tengah asik bermain air di kolam renang khusus anak. Terdapat tiga kolam renang di sana, untuk anak balita, remaja dan dewasa. Mengingat vila itu adalah tempat berlibur keluarga Delopez dari anak-anaknya masih kecil hingga saat ini.
Namun, belakangan mereka jarang terlihat bersama terlebih saat anak-anaknya telah beranjak remaja dan memilih kuliah di Amerika semua, negara kelahiran orang tuanya.
Meski kuliah di sana, ketiganya tetap bisa lancar berbahasa Indonesia karena memang lahir dan tumbuh di sini. Amerika hanya tempat berlibur dan pulang kampung. Kendati demikian mereka menguasai bahasa Inggris dengan lancar.
"Hanna, sedang apa kamu di luar sana? Ibu khawatir, Nak. Kenapa sampai sekarang tidak ada kabar apa pun darimu," ratapnya seraya memandang langit lepas.
Hatinya seolah tak karuan memikirkan anak perempuannya itu. Seharian ini ia banyak diam dan melamun.
"Ibuu, sinii, Anin dinginan," seru sang cucu di kejauhan.
Ratna tersadar dan langsung menuju gadis kecilnya itu.
"Kenapa sayang?" tanyanya menyingkap rambut basah yang menutupi wajahnya.
"Loh, badan kamu panas banget, Nak?" Ratna panik meraba kening dan leher Anin.
"Anin dingiin, Buu" katanya memeluk pundak sang nenek.
Meski neneknya gadis itu memanggilnya ibu karena ia menganggap Ratna adalah orang tuanya.
"Ya udah kita masuk yah, Ibu kompres keningnya nanti" ajaknya seraya menggendong tubuh mungil itu.
Anak itu hanya mengangguk melingkarkan tangannya pada leher wanita paruh baya itu.
"Pulang yuk, Bu," ajaknya kemudian saat mereka sudah berada di dalam rumah.
Ratna yang tengah menggantikan baju cucunya mendadak meneteskan air mata. Dalam hatinya ia pun rindu kampung halamannya yang tak pernah ditinggalkannya lebih dari satu hari.
"Ibu juga pengen pulang, Nak. Kita tunggu Mama Hanna jemput yah," katanya parau seraya meletakkan kain yang direndam air hangat di kening Anin.
"Mama ko lama sekali jemputnya? Apa dia tidak tau jalan ke sini?" tanyanya lagi, tubuhnya terlihat menggigil.
"Mmm ... Mama mungkin sedang banyak kerjaan yang nggak bisa ditinggal. Anin sabar yah," ucapnya menyeka air matanya.
"Ibu ko nangis?"
"Nggak papa, tadi Ibu kelilipan aja. Anin emang nggak suka tinggal di sini?"
"Sukaaa! Di sini rumahnya besal, ada kolam lenang, banyak bunga dan ada tangganya juga. Tapi ini bukan lumah Ibu kan?" tanyanya polos.
Benar sekali, meski di dalam rumah itu segalanya terpenuhi tapi hati mereka tak tenang. Terlebih, sejak surat rumah miliknya hilang entah kemana. Dan firasatnya mengatakan salah satu dari penjaga itu yang mencurinya. Bahkan ia pun dilarang menelpon siapapun. Menambah kecurigaannya.
"Sudah selesai. Anin istirahat dulu yah Ibu buatkan makanan," ucapnya mengelus rambut cucunya itu.
Ratna keluar kamar mencari obat di kotak p3k yang terletak di ruang tamu. Tapi, tak ada obat untuk anak-anak di sana.
Ia pun mencari Agra tapi tidak terlihat batang hidungnya.
"Mending aku kompres terus aja deh dulu, kalo sampe malem nggak turun juga baru aku cari Agra lagi." katanya seraya masuk kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Begitulah aktifitas mereka selama beberapa hari tinggal di villa itu. Pikirannya tak tenang, sering melamun dan bahkan menangis.
Menjelang malam panasnya tidak turun juga, malah semakin tinggi. Ia pun panik dan segera keluar kamar mencari pertolongan.
Terdengar beberapa orang tengah mengobrol di depan rumah. Segera ia membuka dan terlihatlah Agra di sana.
"Nak Agra, tolong Nak. Anin badannya panas banget," ucapnya.
"Mmm ... baik Bu coba saya hubungi tuan Michael dulu yah, untuk mendatangkan dokter ke sini." katanya sopan.
"Terima kasih ,Nak." Ratna masuk kembali ke dalam rumah.
Agra lalu menghubungi bosnya itu, tapi beberapa kali panggilannya tak kunjung dijawab.
"Kemana si bos? Tumben banget jauh dari ponselnya," keluhnya tampak bingung.
Ia pun terus mencoba menghubungi Michael.
Entah panggilan ke berapa akhirnya dijawab, tapi suaranya terdengar lemah.
"Halo, tuan! Ada apa? Suaranya kecil tuan, halo!" teriak Agra.
Sepertinya bosnya itu mengatakan sesuatu tapi tak terdengar jelas.
"Ce-ce-cepat ke tu-gu pe-per-batasan. Sa-ya ja-tuh ju-jurang!" ucap Michael terbata.
"Apa? Tugu perbatasan? Jurang! Halo, tuan Halo!" teriak Agra tampak bingung. Tak lagi terdengar suara bosnya itu.
"Kenapa Gra?" tanya mereka penasaran.
"Nggak jelas suara tuan Michael, kayanya lemes banget dia."
"Lagi sama cewek kali dia," ledek yang lainnya.
"Tapi dia nyebut jurang di tugu perbatasan."
Mereka tampak diam dan berpikir.
"Wah jangan-jangan tuan Michael jatuh di jurang di tugu perbatasan depan sana, Gra!" pekik temannya.
"Astaga! Iya bener!"
Mereka pun kalang kabut masuk rumah mengambil kunci mobil.
"Cepat telpon ambulan sekarang! Saya duluan ke sana!" teriak Agra panik.
"Ada apa yah rame banget," batin Ratna sambil membuka pintu kamarnya.
Ia melihat Agra dan seorang penjaga keluar rumah dengan berlari. Wajahnya tampak panik. Lalu, seorang asistennya tengah menelpon dengan tangan gemetar.
Ratna mendekat ke salah satu pria yang tengah berdiri melihat temannya tengah menghubungi rumah sakit. Wajah mereka tampak pucat.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?" tanyanya penasaran.
"Itu Bu, Tuan Michael sepertinya kecelakaan mobilnya masuk jurang," katanya dengan cemas.
"Apa? Dia sama siapa?"
"Kurang tau, ini mau pada ke sana."
Ratna terdiam, jantungnya berdegup kencang.
"Apa dia bersama Hanna?" tanyanya dalam hati.
Ia pun keluar rumah melihat sebuah mobil keluar garasi dengan kencang, Agra yang menyetir tampak cemas dari kejauhan.
***
Sayup terdengar suara ponsel berdering, dua orang yang terlihat lemas dan terjepit di dalam mobil itu perlahan membuka matanya. Seatbelt yang melingkar di tubuh mereka terasa kencang membuatnya sesak.
Airbag yang mengembang sempurna menutupi penglihatan Michael. Ia meraba-raba di tengah kesakitan tangan kanannya mencari ponsel yang berdering itu.
Sementara Hanna merasakan sakit luar biasa di lehernya, ia melirik sekitar menyingkap air bag di depannya. Tapi, pandangannya terbatas karena di luar sana tampak gelap.
"Ha-halo, to-long Ag-ra ...."
Suara Michael tampak parau manjawab ponselnya yang terlihat nama anak buahnya terpampang di layar.
""Ce-ce-cepat ke tu-gu pe-per-batasan. Sa-ya ja-tuh ju-jurang!" ucapnya terbata sekuat tenaga.
Ponselnya pun jatuh terlepas dari tangannya. Ia tampak meraba pintu mobilnya hendak membukanya. Tapi, tangan kanannya tak bisa digerakkan.
Hanna yang menyadari itu langsung berusaha bangun hendak melepaskan seatbeltnya.
"Jangan!" seru Michael melarang Hanna melepas sabuk pengaman.
"Kita -tu-tunggu mereka," ucapnya lemah.
Mobil yang mereka tumpangi menabrak sebuah pohon besar, masuk ke jurang yang jaraknya lumayan jauh dari jalan. Dan beberapa meter di depannya terdapat sungai yang lumayan dalam. Michael menyadari itu. Karena tadi sempat melihat tugu perbatasan sebelum jembatan.
Kepala Hanna terasa pusing dan perutnya mual, tak lama kemudian ia pingsan.
Michael yang memperhatikan perempuan itu terlihat panik melihatnya terpejam.
"Hanna! Sadar! Hanna," teriaknya memegang pundak wanita itu.
"Aaww," pekiknya.
Saat ia hendak menggerakkan kakinya mendekati perempuan itu, terasa sakit luar biasa. Ia melepaskan seatbelt menggunakan tangan kirinya dan meraba kakinya. Terasa ada benda cair yang menempel pada celananya.
"Darah!" pekiknya dalam hati.
Tak lama kemudian ia pun pingsan, melihat banyaknya darah mengalir di kakinya.
__ADS_1
Bersambung...