
Ansell terperangah melihat postingan story salah satu teman kantornya. Terlihat sosok Martin bosnya tengah berkeliling di ruang produksi.
"Mati aku! Si bos hari ini ke kantor!" pekiknya mengagetkan semua orang yang tengah beristirahat di bawah pohon rindang tepi pantai.
"Bos siapa?" tanya Athifa sang kakak.
"Pak Martin, Kak. Sepertinya dia sudah pulih," jawabnya seraya menanyakan kebenaran kabar itu pada rekan kerjanya.
"Duh, aku melewatkan kesempatan ini," gumamnya.
"Jadi papa nyesel piknik sama kita?" Zea melirik suaminya.
"Apaan sih? Kan papa nggak bilang nyesel," jawab Ansell mengurungkan niat menghubungi temannya.
"Tapi ngeluh gitu kaya nggak ikhlas aja," gerutu Zea memalingkan wajahnya.
"Udah deh, kalian berdua ini ya selalu aja debat. Ini loh kalian lagi piknik nikmati coba jangan bahas kerjaan dulu," ucap Athifa menengahi sebelum perdebatan berubah jadi pertengkaran.
"Ah kakak aku kan cuma nanya aja," sangkal Zea melihat ke arah pantai tempat anak-anaknya sedang bermain bersama pengasuhnya.
"Ya awalnya nanya, lama-lama intimidasi dan lain sebagainya. Ingat yah, jika pernikahan kalian ingin langgeng sudah harus bisa membedakan dan sadar ketika pembicaraan berubah menjadi pertengkaran."
"Pernikahan yang bahagia itu dengan membuang ego masing-masing, kalian tidak bisa mempertahankan keduanya." sambungnya melihat kedua orang di depannya bergantian.
Zea yang sejak berangkat sudah dibuat rusak mood-nya menjadi sangat sensitif. Dia merasa pernikahannya selalu tidak baik-baik saja. Apalagi saat ini pikirannya kacau memikirkan wanita yang dibencinya berhasil menikahi bos suaminya. Firasatnya buruk mengenai hal ini.
Terlihat Ansell berdiri menjauh untuk menghubungi rekan kerjanya.
"Halo, Vin, beneran ada pak Martin?" tanyanya saat panggilannya terjawab.
"Iya Sell, semua staff dan manager pada meeting juga tadi."
"Ke ruangan gue nggak dia?"
"Enggak sih, ke arah produksi mereka."
"Syukur deh kalo nggak nyariin gue," jawab Ansell lega.
"Ngomongin apa aja tadi?" tanyanya lagi.
"Yang gue denger sih, pak Martin udh nyerahin jabatannya secara resmi sama anaknya si Michael. Terus ada anak ketiganya sama menantunya juga tadi," jelasnya.
Ansell bergeser lebih jauh lagi dari keluarganya.
"Menantunya? Hanna maksudmu?" Matanya melirik sang istri yang tengah sibuk curhat sama kakaknya.
"Iya Bu Hanna, denger-denger dia juga bakal ngantor di sini buat bantu suaminya mimpin perusahaan."
Ansell menarik napas panjang mengusap wajahnya. Ada sedikit gurat kecemasan pada wajahnya.
"Serius lu? Terus apa lagi?"
"Gue nggak tau banyak juga kan nggak ikutan meeting. Tadi pak Andrew cuma spill itu doank. Eh iya, apa bener bu Hanna itu ... mantan istri lu sell?" tanyanya ragu.
Degh! Jantung Ansell tersentak. "Akan ada rumor menyebar di pabrik nih," batinnya.
"Kata siapa?"
"Tadi ada anak-anak yang nyebarin gosip nggak jelas. Gue sih nggak percaya masa secantik bu Hanna mau sama lu!" tawa meledak di sebrang telepon.
Ansell tersenyum kecut. Kevin, teman seruangannya itu memang baru satu tahun bekerja di sana dia sama sekali tidak tahu masa lalu antara mereka berdua.
"Ya udah kalo gitu, thanks ya infonya. By the way, kerjaan aman kan?" Dia memilih tak menjawab pernyataan temannya itu.
__ADS_1
"Aman ko lu tenang aja," jawabnya meyakinkan.
"Oke deh, bye."
Mereka pun mengakhiri panggilannya.
"Hanna, aku tak menyangka takdir di antara kita akan sedekat ini. Kau mengepakkan sayap sangat tinggi, hingga saat ini berada persis di atasku. Kita lihat dengan sayap itu akan kau gunakan untuk apa," batin Ansell sembari memungut kerikil di kakinya dan melemparkannya ke pantai.
***
Chandra tiba di rumahnya dengan wajah yang kusut. Langkah kakinya tampak gontai memasuki kamarnya.
"Kenapa Pi?" tanya sang istri saat melihat wajah suaminya ditekuk.
"Kacau Mi, perusahaan terancam kehilangan salah satu partner yang loyal."
"Loh, kenapa memang?" tanyanya seraya melepaskan kancing kemeja suaminya.
"Gemilang membatalkan kontrak sepihak," jelasnya.
"Ya nggak bisa gitu donk, Pi. Kita kan ada perjanjian, mana bisa mereka membatalkan kontrak begitu saja?"
"Masalahnya ... ada beberapa poin yang memang papi langgar dari perjanjian itu," jawabnya pasrah.
"Kenapa? Papi tak biasanya seperti ini?" Wanita itu mengerutkan alisnya.
"Entahlah, sifat manusia memang seperti ini bisa berubah sewaktu-waktu." Chandra menundukkan kepala duduk di tepi ranjang.
"Tapi, mereka tau dari mana papi melanggar perjanjian?"
"Ini masih menurut tebakan papi aja sih, karena tidak mungkin sekelas Gemilang melakukan tindakan bodoh."
"Atau jangan-jangan ada mata-mata di perusahaan, Pi?"
"Entahlah papi capek mau mandi dulu yah," Ia pun bangkit menuju kamar mandi.
"Oh iya, gimana kabar Hendi?" tanyanya sebelum melangkahkan kaki menuju ke dalam.
"Mendingan sih kayanya ga lemes lagi. Mami kasian banget sama dia, nggak mau deket-deket anaknya."
"Kenapa?"
"Dia sangat khawatir bisa menularkan penyakitnya pada anak dan istrinya," jawab Viona cemas.
"Makannya dia tinggal di kamar terpisah dari mereka. Peralatan makan dia pun ingin dipisah dari kita semua," lanjutnya.
"Loh, HIV nggak akan menular dengan cara seperti itu kan. Dia hanya menularkan virus lewat cairan seperti ******, darah, asi dan lewat luka-luka yang terbuka. Hendi kan udah nggak ada luka kan?"
"Baiknya papi kasih tau dia deh. Dia terlalu protect banget dan overthingking terhadap dirinya sendiri."
Pria itu menghela napas panjang, ia memijat pelipisnya yang sedikit cenut-cenut itu.
Sejak pulang dari rumah sakit Viona membawa Hendi dan keluarganya ke rumahnya. Supaya mereka bisa membantu menjaga bayi dan merawat Hendi bersama. Bagaimanapun Siska yang tak punya pengalaman akan repot harus mengurus keduanya sendirian.
Menjelang makan malam Chandra dan Viona turun menuju meja makan. Terlihat Sinta tengah menggendong bayinya sambil makan. Dengan sigap Viona memberinya kode untuk memberikan bayi itu padanya.
"Udah kamu makan dulu sana makan yang banyak," ucapnya pada wanita yang terlihat pucat itu.
"Hendi mana?" tanya Chandra saat mereka sudah berada di meja makan.
"Di kamar sebelah, Om."
"Bi, minta tolong suruh Hendi keluar dan makan malam bareng," perintahnya pada asisten rumah tangganya itu.
__ADS_1
"Kalo dia menolak, bilang saya yang panggil!" serunya saat wanita paruh baya itu sudah berjalan menuju kamar Hendi.
"Baik, pak."
"Pak Hendi! Permisi!" panggilnya seraya mengetuk pintu di depannya.
Tak lama kemudian pria yang dimaksud membuka pintunya meski hanya menongolkan kepalanya saja.
"Bapak nyuruh Den Hendi untuk makan malam bersama," ujarnya.
"Nggak Bi bilangin Om, Hendi makan di kamar aja. Minta tolong bawa sini makanannya yah," perintahnya pelan.
"Tapi kata Bapak, Den Hendi dipanggil kesana."
"Duh Om Chandra ini ada apa sih?" gumamnya dalam hati.
"Baiklah, nanti saya kesana."
"Baik, Den."
Wanita itu pun berlalu menuju dapur.
"Gimana Bi? Mau dia?" tanya Chandra yang tengah gantian menggendong cucunya itu.
"Iya Pak, nanti katanya kesini."
"Oke, makasih Bi."
Wanita itu menundukkan kepalanya dan kembali ke dapur.
Selang beberapa menit kemudian Hendi keluar dari kamarnya dengan celana dan baju panjang, serta syal yang menutupi leher sampai kepalanya, juga kaus kaki yang menutupi seluruh kakinya.
Mereka bertiga yang ada di meja makan saling berpandangan sejenak, lalu melihatnya dengan alis berkerut.
"Kamu ngapain Hen? Kedinginan?" tanya Chandra mendekatinya.
"Jangan dekat-dekat om!" pekiknya kaget. Ia melirik omnya itu yang sedang menggendong sang anak.
"Tolong jangan bawa anakku mendekatiku Om. Aku nggak mau nanti dia kenapa-kenapa," katanya dengan suara bergetar.
Siska tak kuasa mendengarnya, air matanya jatuh seketika menundukkan kepalanya di meja.
"Hendi dengar Nak, penderita HIV itu bukan untuk dijauhi dan menjauh dari yang lain." kata Viona mendekati Hendi namun pria itu kembali mundur beberapa langkah.
"Tante, Hendi nggak mau terjadi apa-apa pada kalian semua. Tolong jangan seperti ini," ratapnya dengan pundak terguncang.
"Virusnya tidak semudah itu menular, kamu pasti sudah tahu kan caranya dia menularkan virusnya. Ada pun kalo apa yang kamu pakai atau makan terdapat virus dia nggak akan bertahan lama di luar tubuh," lanjutnya memegang lengan keponakannya itu.
"Kamu nggak usah takut, apalagi malah menjauh dari keluargamu. Kami di sini ada untukmu, kamu boleh pegang dan gendong anakmu jangan kau tahan seperti itu. Kasian anak dan istrimu. Jangan kau membentengi diri secara berlebihan. Bebaskan pikiranmu, anggap kau tak sakit apa pun agar cepat proses penyembuhannya." Chandra menimpali.
Hendi tersadar dia mulai menguasai dirinya kembali. Ketakutan berlebih membuatnya jadi terlalu posesif terhadap keluarganya.
"Maafkan Hendi om, tante," ucapnya parau.
Ia melirik istrinya yang kini tengah mengambil anaknya dari gendongan Chandra. Perlahan Hendi mendekati mereka berdua lalu memeluk erat anak dan istrinya.
Seketika tangis keduanya pecah, pundaknya saling terguncang menahan kerinduan beberapa hari terpisah. Begitu pun Chandra dan Viona air matanya tanpa sadar meluncur bebas di kedua pipinya, mereka tak kuat melihat adegan memilukan di depannya.
Pria itu pun mengusap wajahnya kasar dan kembali duduk di meja makan.
"Ayo semuanya kita makan dulu," katanya berusaha mencairkan suasana.
"Terima kasih atas kesempatan kedua yang engkau berikan, Tuhan. Kau selau punya cara untuk mendekatkan yang jauh dan mengikis jarak yang sempat terbentang di antara kami," bisik Hendi dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...