Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Pengacau Muncul


__ADS_3

"Ini rumahmu kan? Ternyata kamu masih tinggal sama pak Chandra. Bagus. Sekali tepuk dua tujuan akan kudapatkan." Tulis Siska dalam pesan yang dikirimnya untuk Hendi.


Wanita itu memasuki halaman rumah mewah dua lantai, yang di dominasi warna putih dan hamparan taman bunga di kiri kanan jalan menuju pintu utama.


"Sebentar lagi kita bakal tinggal di sini, sayang." Ucapnya seraya mengusap perutnya.


Dari kejauhan tampak Chandra sedang menelpon seseorang dan Viona tengah menyiram beberapa bunga di pot.


"Iya-iya, pokoknya lu tolong siapin semuanya. Dari dekor, catering dan undangan para rekan bisnis. Masalah make up biar si Hanna aja yang pilih," terangnya.


Matanya bertemu dengan Siska yang sudah berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu melirik Viona, memberi isyarat untuk menemui tamu yang pagi sekali sudah menyambangi rumah mereka. Sementara dia, melanjutkan telponnya.


"Maaf, ada keperluan apa yah?" tanya Viona mendekati Siska.


Bukannya menjawab, wanita itu malah menangis tersedu. Akting yang sudah dilatihnya semalam, akan segera ditampilkan.


"Hei! Kenapa? Ko tiba-tiba menangis? Anda siapa?" tanya Viona waspada.


Chandra yang tadi tengah sibuk bicara di telpon, mendadak mematikan ponselnya dan segera mendekati Siska dan Viona.


"Apa apa, Siska?" tanyanya disela tangis sesenggukan wanita itu.


"Papi kenal sama wanita ini?" selidik istrinya.


"Dia mantan karyawan kantor kita, Mi," jelasnya.


"Maaf pak, saya benar-benar frustasi nggak tau lagi harus kemana dan pada siapa mengadukan beban berat ini." tuturnya dengan mata yang sudah berlinang air.


"Maaf sebelumnya, ini tentang apa? Saya sama sekali tidak pernah ada urusan dengan kamu kan, Siska?" tanya Chandra yang melihat kepanikan di wajah Viona.


"Ceritalah, apa ini ada kaitannya dengan suami saya?" Tiba-tiba hatinya nggak enak, ia merasa akan ada masalah besar menanti di depan sana.


"Saya-saya hamil, Pak." jawabnya dengan terbata.


"Papi! Apa-apaan ini?!" pekik Viona yang bangkit dari duduknya. Matanya nanar memandang suaminya itu.


"Apaan sih?" Chandra yang kaget melihat reaksi Viona mengerutkan alis.

__ADS_1


"Hendi yang menghamili saya, Bu." terang Siska.


"Apa? Hendi hamilin kamu?" teriak Chandra tak percaya.


"Tolong kamu jangan main-main yah? Hendi tidak mungkin melakukannya," bela Viona menatap tajam wanita di depannya itu. Dia merasa malu menatap mata suaminya, hampir saja tinju melayang di hidung suaminya itu.


Tangis Siska semakin pecah, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Mana buktinya Hendi telah menghamili kamu?" tanya Chandra


"Silahkan bapak dan ibu, tanyakan langsung pada lelaki itu."


Chandra dan Viona saling berpandangan, mendadak pria setengah baya itu memijat pelipisnya yang terasa cenut-cenut.


"Silahkan duduk," suruh Viona yang kini sudah sedikit melunak melihat pundak Siska bergetar.


"Pi, coba telpon Hendi," pintanya.


"Hari ini dia pergi meeting ke Gemilang grup, Mi bareng Hanna." jelasnya seraya melirik Siska.


Ekor mata mereka bertemu, Chandra baru ingat kalo wanita ini memang pernah ke kantornya mencari Hendi. Lalu, dia pun menelpon keponakan satu-satunya itu.


"Saya sudah menghubungi Hendi, mari kita tunggu di dalam." ajaknya melirik Viona.


Mereka bertiga pun memasuki rumah mewah itu.


"Gila parah! Gue nggak bisa bayangin kalo bisa sampe tinggal di sini!" pekik Siska dalam hati.


"Hendi pernah menginap di rumahmu?" selidik Viona.


"Pernah, Bu." jawabnya datar seraya menunduk.


"Kapan itu?"


"Sudah beberapa minggu yang lalu, Bu. Pas saya ngerasa pusing dan mual akhir-akhir ini, pergilah saya ke dokter kandungan dan benar saja setelah di tespack dan usg hasilnya sama. positif." jelasnya.


"Kemaren malam apa dia juga menginap di rumahmu?" tanya Chandra ikut nimbrung.

__ADS_1


Siska diam sesaat, kemudian menjawab. "Iya, Pak." jawabnya singkat.


Namun, Chandra yang sudah biasa menghadapi banyak orang dapat membaca gelagat panik sejenak dari sorot mata wanita itu.


"Lalu apa yang kamu inginkan,?" Chandra memberikan umpan.


"Saya hanya ingin dia bertanggung jawab pak itu saja," jawabnya.


"Bertanggung jawab materi atau menikahimu?"


"Ya semuanya! Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada saya." serunya seraya meninggikan suaranya.


"Sepertinya, mami salah menilai Hanna selama ini, Pi." Viona tiba-tiba berbisik.


"Dan papi salah menilai Hendi," ucapnya mengusap kasar wajahnya.


"Kami khilaf pak, bu. Saya minta maaf tidak bisa menjaga diri, terlebih Hendi pun memaksa saya." tuturnya seraya tertunduk menyadari kedua orang di depannya ini berbisik-bisik.


"Gue nggak boleh lepas kendali nih, bisa ancur mimpi yang baru aja gue susun." gumamnya dalam hati.


"Bohong! Saya tidak pernah memaksa kamu, Siska!" seru Hendi dari belakang tempat wanita itu duduk.


"MAU KAMU APA? Saya sudah berikan atm dan nyuruh kamu gugurin anak itu, kenapa malah bikin masalah semakin besar?" teriaknya dengan mata yang membulat.


"Tuh kan, Bu pak. Dia sama sekali tidak bertanggung jawab! Dimana nurani kamu, Hendi?" bentaknya.


"Saya tidak menginginkannya, dan lagi saya curiga kamu memasukkan sesuatu pada minuman saya waktu itu."


"Cukup Hendi! Kamu pikir aku serendah itu? Aku tidak menyangka kalo kamu sebrengsek ini!" serunya seraya melempar kartu atm ke wajah Hendi.


"Saya tidak butuh kartu ini! Kalo kamu tidak mau bertanggung jawab, akan kubawa masalah ini ke jalur hukum!" ancamnya seraya melangkah dari hadpaan semuanya.


"Tunggu Siska!" pinta Chandra.


"Saya akan menikahkan kalian!" serunya kemudian.


"PAPI!" teriak Viona menatap heran pada suaminya itu.

__ADS_1


"Tidak Om! Jika saya harus menikah, orang yang ingin kunikahi saat iniadalah Hanna. " bisiknya dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2