
Jalanan sudah cukup ramai, ketika Hanna berdiri di tepi jalan menunggu angkutan umum. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan matanya yang sembab. Pikirannya terus terngiang kata-kata Reyhan.
Tak akan ada lagi pria humoris dan romantis yang mewarnai harinya. Tak ada lagi sosok Reyhan yang setia menunggunya di tangga, hanya demi meledeknya menghalangi jalan dengan badan besarnya.
Tiba-tiba klakson mobil sedan hitam mengagetkan lamunannya.
"Ayo, kamu bisa telat kalo nunggu angkot!" ajak seseorang dari dalam mobil.
Hanna sedikit melirik pria berkaca mata hitam itu, Hendi dengan rambut klimis dan seutas senyum menyambutnya.
"Macet parah banget di depan," lanjutnya.
Hanna yang sebenarnya enggan diganggu, merasa malas untuk menaiki mobilnya.
"Duluan aja, pak. Saya ...." Belum sempat dia meneruskan kata-katanya, pria itu turun dari mobil dan menarik tangannya.
"Udah masuk, nggak usah bawel." ucapnya seraya membukakan pintu mobil depan. Dengan berlari kecil dia segera menuju kemudi.
"Tumben ni orang maksa, biasanya sopan banget." Gumamnya dalam hati.
"Kamu udah sarapan?" tanya Hendi dengan semyum mengembang.
"Bb-sudah, Pak." jawab Hanna cepat.
"Mmm, sore ini ada waktu?"
"Sore ini? Sepertinya ada acara sama Sinta deh, Pak."
"Oh gitu, oke deh next time aja."
Hanna terdiam, "maaf Hen, aku harus melakukan ini agar kamu tidak berharap banyak padaku. Dan tak akan banyak kenangan tercipta diantara kita. Sehingga perpisahan tak semenyakitkan itu," ucap Hanna dalam hati.
Satu jam kemudian mereka sampai di parkiran kantor. Matahari sudah cukup terik, menerpa wajah sendu Hanna. Jauh berbeda dengan ekspresi riang pria di sebelahnya.
"Oh iya, hubunganmu sama Reyhan gimana?" Sebelum Hanna keluar dari mobil Hendi menarik lengannya.
"Mmm, nggak gimana-gimama pak. Memangnya kenapa?" jawabnya seraya mengernyitkan dahi.
"Kamu udah tau kabar tentangnya?"
"Kabar apa pak?" Hanna membuka pintu berusaha menyembunyikan riak wajahnya. Disusul Hendi yang segera memutar mendekatinya.
Belum sempat Hendi menjawab pertanyaan Hanna, tiba-tiba seorang OB berlari dengan cepat ke arah mereka.
"Mba Hannaa, gawat Mbaa!! Gawat!" teriaknya panik.
"Gawat? Gawat kenapa? Pak Ujang mau kemana?"
"Ya kesini! Itu di receptionis ada perempuan teriak-teriak manggil nama Mba Hanna!" jelasnya.
"Siapa?" tanya Hanna heran.
"Ya nggak tau! Dandanannya menor, bahenol deui."
"Ih, ngomong apa sih Pak Ujang?!"
"Ya udah, ayo coba kita liat," ajak Hendi. Reflek tangannya menggenggam jemari Hanna.
Hanna terdiam, matanya memandang ke arah tangan mereka.
"Oh iya, maaf." Lagi-lagi wajah pria berkemeja putih itu memerah.
Wanita itu hanya tersenyum tipis, dengan langkah cepat mengejar ob yang sudah jauh di depan.
"Ada apa ini?" tanya Hendi ketika mereka memasuki kantor.
Semua menengok ke arah mereka. Termasuk wanita berbaju merah dengan tubuh gempal dan berwajah sinis itu.
Deg! Hati Hanna tersentak melihat wanita itu. Kilas balik beberapa tahun lalu seolah terjadi di depan matanya. Saat keputusan sulit ia ambil saat itu.
Mata mereka bertemu, terlihat gurat kebencian dari sorotan mata wanita itu.
__ADS_1
"Oh, jadi di sini sekarang kerjanya sang pelakor!" ucapnya dengan keras. Perlahan dia mendekati Hanna, tangannya mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Hanna yang sudah waspada mengawasi setiap gerak wanita itu. Dia masih ingat jelas, ketika sebuah gunting terlempar hampir menyentuh wajahnya.
"Selamat! Kali ini kamu menang, pelakor!" teriaknya sembari melempar kertas ke wajah Hanna. Sontak dia mundur beberapa langkah. Dengan sigap Hendi pun menghalangi wanita itu.
"Maaf Bu, anda siapa?" tanyanya.
Sinta yang baru saja tiba langsung memegang lengan Hanna. "Lu nggak papa, Han?" tanyanya khawatir.
"Enggak, dia cuma lempar kertas itu doank." Tunjuknya pada sehelai kertas yang tergeletak di lantai yang perlahan dia pungut. Matanya terbelalak melihat surat dari pengadilan agama.
"Mereka bercerai," gumamnya dalam hati.
"Tanya sama perempuan murahan ini siapa saya? Dia pasti sudah terbiasa kali ya di giniin. Tapi, nggak kapok-kapok dan masih saja gangguin rumah tangga orang!"
"Apakah ini istri dari Ansell?" Tanya Hendi dalam hati. Matanya terus memandang wajah panik Hanna.
"Bu, mari kita bicarakan di ruangan saya." Ajak Hendi.
"Jika wanita ini terus buka mulut perihal masa laluku, hancur sudah karirku." Gumam Hanna.
"Tidak perlu pak! Kalian semua tau nggak? Wanita ini, sudah merebut suami saya dan punya an ...."
Dengan cepat Hendi menarik tangan wanita itu dan membawanya keluar.
"Tolong jangan bikin keributan di sini, bu!" bentaknya geram.
"Anda siapa? Bos di sini?" tanya dengan kesal menghempaskan tangan Hendi.
"Saya calon suami Hanna! Jadi, saya minta silahkan ibu pergi dari sini dan jangan pernah ganggu dia!"
"Wah-waah hebat kamu ******! Jadi simpanan suamiku dan juga calon istri bos!" Teriaknya dengan sengaja.
Hanna tak kuasa membendung air matanya. Dia pasrah melihat nama baik yang selama ini dijaganya hancur oleh wanita itu. Status yang dengan susah payah ia sembunyikan terbongkar semuanya hari ini. Semua mata memandang ke arahnya.
"Siapa sih dia? Nyebarin fitnah keji banget, Han!" Tanya Sinta tangannya terus mengelus lengan sahabatnya itu.
"Saya tidak pernah sekali pun merebut suami anda, Bu! Dan saya juga bukan wanita simpanan. Jadi tolong, pergi dari kantor ini dan jangan pernah mengusik hidup saya!" teriaknya parau menahan bendungan air mata.
"Liat surat itu! Ansell menceraikanku, itu semua karna dia telah bertemu denganmu! Selama ini hubungan kami baik-baik aja. Sebelum akhirnya kamu datang dan menghancurkan semuanya, lagi!" Pekiknya. Guratan mata yang memerah menahan emosi tergambar jelas di wajahnya. Serta genangan air terlihat di pelupuk matanya.
"Lagi-lagi kamu datang menghancurkan semuanya! Sekarang puas kamu!" Plaaakkk! Tamparan Zea mendarat di pipi kiri Hanna. Rambutnya dijambak keras oleh wanita itu.bSemua mata terperanjat, berusaha memisahkan mereka.
"Cukup Bu! Ya Allah, kita bisa bicarakan baik-baik! Saya rasa ini salah paham!" teriak Sinta menghempas tangan Zea dan mendorongnya. Tangannya membantu Hanna merapikan kembali rambutnya dengan wajah yang sudah berlinang airmata dan menahan kesakitan.
Pak Chandra dan Viona tiba dengan wajah keheranan melihat Hanna ditampar oleh wanita itu.
"Ada apa ini? Kenapa anda melakukan tindak kekerasan terhadap karyawan saya?" tanyanya.
"Karyawan bapak ini memang pantas mendapatkannya. Dia telah merebut suami saya dan menghancurkan rumah tangga saya!"
Mata Viona terbelalak, menatap tajam Hanna yang sudah berlinang air mata. Dengan Hendi di sampingnya memeluk lengan wanita itu.
Seketika Viona menarik tangan Hendi dan membawanya menaiki tangga. Tetapi, lelaki itu menghempaskannya dan memilih tetap berada di samping Hanna.
"Saya akan panggil polisi sekarang, kalo Ibu masih membuat keributan di sini!" Reyhan langsung menarik tangan Zea.
"Reyhan, darimana munculnya pria itu?" ucapnya dalam hati
Hanna tertunduk hatinya berkecamuk menahan malu. Terutama pada Reyhan. Seketika dia berlari ke arah pintu dan keluar. Reyhan yang melihatnya langsung menyusul, begitu pula Hendi mereka mengejar wanita itu.
"Hendi!" Teriak Viona.
"Udah biarin aja, Vi." Ujar Chandra menarik tangan istrinya.
"Puas lu udah bikin keributan di sini!" Bentak Sinta pada Zea.
Sementara Viona mendekati wanita yang tengah menatap tajam Sinta, sahabat Hanna itu.
"Maaf, Ibu siapa? Dan ada masalah apa dengan Hanna?" Tanyanya.
__ADS_1
"Dia itu pelakor Bu! Hati-hati sama suaminya. Jaga dengan benar, jangan sampe kaya saya." ucapnya dengan mata melirik Chandra.
"Mari jika ingin bercerita, kita bicara di ruangan saya." Ajaknya.
Chandra segera naik ke atas menghiraukan mereka. Matanya tajam menatap Viona, ia tidak setuju jika istrinya itu mengajak orang asing ke kantornya.
Baru beberapa langkah pria setengah baya itu berbalik, "Maaf, silahkan kalian bicara di sini saja. Saya akan adakan meeting pagi ini." Ujarnya seraya kembali berlalu.
Semua karyawan mengikuti Pak Chandra. Termasuk Sinta yang masih memandang sinis wanita itu.
*******
Hanna berlari sekencang mungkin, berusaha lari dari kenyataan pahit yang ia hadapi. Selama ini dia berpikir, kejadian ini tak akan terulang kembali. Tapi, nyatanya lebih memalukan dibanding beberapa tahun yang lalu.
Semua temannya sudah tau perihal masa lalunya, hal yang sengaja ia tutup rapat. Terlebih, ketika ia tak sanggup berkata-kata untuk membantah tuduhan itu. Karna pada kenyataannya, dia memang menjadi perusak rumah tangga orang.
Sekuat apa pun ia mengencangkan tali, pada akhirnya akan ada saatnya tali itu mengendur atau bahkan terlepas.
Ia terduduk di tepi jalan, ingin rasanya berteriak melepas sesak di dada. Hukuman apa yang tuhan berikan padanya. Hingga sudah sejauh ini pun ia berlari, masa lalu kelam itu masih saja mengejarnya.
Hendi dan Reyhan saling berpandangan ketika menyaksikan keterpurukan Hanna, wanita yang mereka sukai. Lagi-lagi mereka pun terikat masa lalu, ketika pernah mencintai wanita yang sama. Kali ini, itu pun terjadi.
"Ini salah gue," ucap Hendi seraya tertunduk. Reyhan hanya meliriknya sekilas.
"Padahal gue udah coba ikhlasin dia buat lu, tapi nyatanya gue nggak bisa diem ngeliat kaya gini. Siapa sih wanita tadi?" Reyhan memandang Hanna dari kejauhan dengan sendu.
"Gue rasa dia bininya Ansell, mantan laki Hanna." Jelasnya.
"Apa?! Hanna udah pernah nikah?" Matanya membulat memandang Hendi tajam. Hatinya tersentak, sudah sejauh ini cintanya dia masih belum tau betul masa lalu wanita itu.
"Ah, sial gue kira dia udah tau semuanya." Gumamnya dalam hati.
"Gue kira lu dah tau," jawab Hendi.
"Serius lu?"
"Ngapain gue bohong?"
"Dan lu tau semua ini, tetep ngejar dia?"
"Gue nggak peduli masa lalunya, yang gue tau dia yang sekarang." Mereka terduduk tak jauh dari Hanna.
Reyhan pun terdiam, membolak balikan rokok yang dipegangnya.
"Lu tau anak kecil yang waktu itu lu tolong? Yang bareng emaknya Hanna?" tanya Hendi.
"Adeknya Hanna kan?"
"Bukan, dia anaknya Hanna."
"What? Gila, pinter banget dia nyembunyiin statusnya ampe gue nggak ngeh. Semuda itu ternyata udah punya anak. Dan sepolos itu ternyata punya beban yang cukup berat."
"Jadi, apa yang wanita tadi ngomong beneran? Hanna ngerebut lakinya?"
"Gue nggak tau pasti kisahnya, yang jelas Hanna bilang dia nggak tau kalo si Ansell itu udah punya bini. Ketauan pas dia udah lahirin anak, jadilah dia pergi ninggalin lakinya."
"Eh, si Hanna cabut kemana tuh?" Reyhan berdiri berusaha mengejar Hanna. Tapi, wanita itu sudah terlanjur menaiki angutan umum.
"Biarin aja dia nenangin diri dulu deh," ucap Hendi. Pria itu berbalik kembali ke kantor.
Sementara Reyhan masih termenung memandang mobil yang sudah hilang berbaur di kerumunan.
"Hanna, kamu nggak percaya aku kan? Sampai kisah masa lalu pun kamu ceritanya sama Hendi. Sedekat itu kalian," bisiknya dalam hati.
"Baiklah, aku mundur lagi pula dengan statusmu yang janda anak satu belum tentu orang tuaku bisa menerimamu. Meskipun aku sama sekali tak keberatan soal itu," lanjutnya dalam hati.
Hatinya telah patah berkali-kali dan pada akhirnya dia menyerah.
"Rey, kamu udah tau semuanya kan? Masihkah cinta itu ada untukku?" bisik Hanna di sela tangisnya yang pecah. Dia tak peduli, beberapa penumpang melihat ke arahnya.
Bersambung...
__ADS_1