
Setelah satu minggu Hendi dirawat di rumah sakit, kini ia diperbolehkan pulang. Hatinya membuncah bahagia, bukan hanya karena tubuhnya yang lebih bertenaga lagi melainkan ia akan segera bertemu dengan anak semata wayangnya itu.
Selama dirinya terbaring sakit, istri dan anaknya memang dilarang menjenguk demi kesehatan mereka berdua. Terlebih, Valen panggilan bayi mereka masih sangat kecil sehingga rentan terhadap penyakit.
"Apa nanti Siska jadi ikut menjemput, om?" tanyanya pada Chandra yang setia menemaninya.
"Tadi sih bilangnya begitu dia akan ikut Viona menjemputmu," jelas Chandra sambil menatap layar ponselnya.
Senyum sumringah mengembang di bibir Hendi. Hari ini Chandra tidak membawa mobil karena sedang diperbaiki di bengkel.
"Inget apa kata dokter, kamu nggak boleh melewatkan obat itu. Dan rutin memeriksakan kesehatanmu," kata omnya itu mewanti-wanti.
"Baik om, terima kasih atas semuanya. Hendi nggak tau gimana cara balas semua kebaikan om Chan dan Tante Vio."
Pria itu tertunduk sedih dengan mata berkaca-kaca.
"Dengan kamu sehat dan panjang umur saja sudah lebih dari cukup buat om, Hen. Sehat itu mahal, kamu juga kini mempunyai dua orang yang harus diperjuangkan. Jadi, hiduplah dengan optimis dan penuh semangat."
Hendi terus mengangguk dengan sesekali menyeka air matanya.
"Jika ada masalah dengan istrimu jangan pernah mencari solusi di luaran. Karena penyelesaiannya ada di dalam rumah itu sendiri," tegasnya menasehati.
"Banyak alasan untuk selingkuh, tapi hanya ada satu cara untuk tetap setia. Menjaga komitmen seumur hidup apa pun yang terjadi. Baik dan buruknya pasangan terima dengan hati yang lapang. Buruk perbaiki, baik pertahankan. Karena di luar sana belum tentu akan lebih baik dari yang kamu miliki saat ini," lanjutnya menatap Hendi lekat.
Lagi-lagi pria itu hanya mengangguk penuh penyesalan.
Tak lama kemudian, suster datang membawa amplop putih dan menyerahkannya kepada Chandra.
"Pembayarannya sudah beres, Pak. Pasien sudah boleh pulang dan ini kuitansi serta copy resep obat untuk pasien," ucapnya ramah.
"Baik sus, terima kasih banyak."
"Sama-sama Pak, saya ijin cabut jarum infus yaa."
Kedua lelaki itu mengangguk, sejurus kemudian wanita muda itu bersiap mencabut jarum yang masih menempel di tangan Hendi.
Setelah semua selesai dilakukan, Hendi dipindahkan ke kursi roda dan suster itu membantu mendorong keluar ruangan.
"Apa penjemput sudah datang, Pak?"
"Sepertinya sudah, Sus. Mereka menunggu di parkiran," kata Chandra seraya meraih koper dan sekantong baju kotor.
"Baik, saya bantu dorong ke lobi yah kasian si bapak pasti repot bawa koper."
"Wah, terima kasih banyak, sus."
Wanita itu tersenyum, matanya melirik Hendi yang terus tertunduk. Sejak dirawat di sana berat badannya terus merosot, matanya mulai terlihat cekung dan kulitnya kering karena mandi ala kadarnya.
Setelah sampai di parkiran Chandra merogoh ponselnya di dalam saku dan menghubungi istrinya.
"Mami dimana?" tanyanya celingukan.
"Tunggu di lobi Mami ke situ," jawab istrinya.
__ADS_1
"Sudah ada pak?"
"Sudah sus, sekali lagi terima kasih banyak."
"Baik pak, sama-sama. Semoga lekas pulih untuk pak Hendi," ucapnya seraya berbalik menuju meja kerjanya.
Chandra tiba-tiba terbelalak melihat email masuk ke dalam ponselnya.
"Apa-apaan nih orang?"
"Ada apa om?" tanya Hendi khawatir.
Pria setengah baya itu tampak terdiam dengan wajah tegang menatap layar ponselnya.
"Om, ada apa?"
"Oh, nggak papa nanti kamu duluan aja yah ikut mereka. Om mau ke kantor dulu," katanya tergesa matanya menangkap bayangan sang istri yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Gimana kabarmu, Hen?" tanya Viona mengelus kepala keponakannya itu.
"Baik Tante, Valen dan Siska jadi ikut?"
"Jadi, mereka di mobil. Nih kamu pake hand sanitizer dulu," ucap Viona seraya menyerahkan botol bening itu.
Dengan cepat ia meraih dan menyemprotkan ke tangan dan seluruh badannya.
"Papi, kenapa?" Viona baru sadar sang suami masih termenung.
Viona dan Hendi berpandangan heran melihat tingkah Chandra. Langkah kaki pria itu tampak terburu-buru.
"Mi, kalian pulang duluan yah. Papi ada urusan di kantor," katanya sambil menutup pintu bagasi.
"Urgent?" tanya snag istri.
"Banget, ya udah yah Papi mau naik taxi di depan."
Chandra berjalan ke arah pintu keluar dan mendapat taxi yang memang sedang parkir di sana.
Dia baru saja membaca email dari perusahaan gemilang grup terkait pembatalan kontrak mereka. Tangannya gemetar, berulang kali ia mengusap wajahnya kasar.
***
"Halo ... udah gue duga lu pasti bakal ngubungi gue, makannya sengaja nggak gue blok nomor lu. Kenapa? Pak Chandra panik yah?" tanya Hanna meledek.
"Map kontrak kerja dengan perusahaan gemilang ada dimana? Apa lu masih ingat nomor serinya berapa?" tanya Sinta tanpa basa-basi apalagi menjawab pertanyaan Hanna.
"Tolong di load speaker biar bos lu denger," pintanya.
Sinta pun menekan tombol pengeras suara.
"Mana gue inget, lagian gue bukannya udah dipecat yah. Dipecat secara tidak hormat, jadi nggak etislah yah minta bantuan sama gue."
"Hanna, ini saya Chandra tolong kamu ingat-ingat dimana dokumen itu? Ini urgent, kamu kan yang handle proyek ini jadi tolong tanggung jawabnya."
__ADS_1
"Aduh, bapak lucu sekali. Tanggung jawab? Bapak lupa, saya kan sudah bukan karyawan di Yukka lagi. Tanggung jawab seperti apa yang bapak maksud?" Hanna terkekeh.
"Ya kan kamu yang simpan jadi wajar donk saya tanya kamu."
"Pak Chandra tolong dengar baik-baik. Bapak bahkan tidak memberi saya waktu untuk serah terima jabatan sama karyawan baru bapak itu. Eh salah, karyawan lama yang naik jabatan maksud saya. Jadi, manalah sempat saya perisapkan dan cari dokumen lama itu. Tapi yang pasti ada di antara tumpukan kertas di lemari. Bapak bisa kan nyuruh karyawan bapak untuk membongkar semua kertas itu, dari pada nggak ketemu repot kan?"
Hanna mematikan ponselnya, senyum tersungging dari bibirnya.
Kontrak yang ia dapat dengan menjatuhkan harga dirinya di depan mantan suaminya itu. Kontrak yang ia dapat dengan tetesan air mata, karena harus terlibat dengan masa lalu kelamnya itu tak pantas disimpan. Ia telah menghancurkannya. Meski awalnya tak tahu pada akhirnya akan menjadi seperti ini.
"Sombong sekali dia!" seru Chandra kecewa.
Dia lalu menurunkan semua dokumen di lemari hingga tampak kosong dan kertas berserakan di lantai.
"Cepat panggil Gio dan satu orang lagi untuk membantumu, cari sampai dapat."
"Sebentar pak, memangnya untuk apa bapak mencari dokumen itu? Bukankah jika mereka membatalkan kontrak sepihak, kita bisa menuntutnya sesuai undang-undang perjanjian?"
Chandrs terdiam tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Saya akan merevisi beberapa poin," jawabnya gugup.
"Kenapa?" Sinta yang penasaran merasa janggal.
"Udah jangan banyak tanya cepat cari," perintahnya dengan nada kesal.
"Pak,"
"Apalagi?"
"Apa bapak tahu, Hanna sudah menikah dengan Michael. Ceo gemilang grup."
"A-apa? Bagaimana bisa?"
"Kamu tau dari mana?" tanyanya seolah tak percaya dengan kabar itu.
Sinta membuka tasnya dan mengambil surat undangan yang tampak berkerut-kerut itu karena diremas tangan Reyhan tadi. Lalu, ia memberikannya kepada Chandra.
Pria itu membukanya dengan kedua alis menyatu.
"Jadi, apa ini semua perbuatan si Hanna?" tanyanya pada Sinta.
"Bisa jadi, mendengar perkataannya yang sepede itu tadi."
Kini, Chandra yang meremas surat itu lalu melemparnya pada kaca. Tangannya mengepal emosi, ia tahu betul kesalahan yang sudah ia perbuat terhadap kontrak itu. Dan Hanna pun pasti tahu apa yang terjadi selama ini.
Mendadak tubuhnya roboh ke atas kursi, lemas tak bertenaga. Ia memegang kepalanya yang terasa pening.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Sinta cemas.
"Ya ... cepat kamu panggil Gio dan satu anak lagi. Cari dokumen itu sampai ketemu," perintahnya lemah.
Bersambung...
__ADS_1