Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Badai Kembali Datang


__ADS_3

"Hen, ada yang mau aku omongin. Kamu ada waktu sore ini?"


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Hendi. Tetapi, lelaki blasteran tionghoa itu masih asik dengan laptopnya.


Tok ... tok ... tok


"Masuk," perintahnya.


Terlihat Hanna memasuki ruangan seraya membawa setumpuk dokumen. Untuk sejenak pria itu menghentikan pekerjaannya. Matanya terus mengamati jari wanita cantik itu.


"Huft ... sudah 2 minggu berlalu dari sejak aku melamarnya. Tapi, dia masih belum memakai cincin itu, bahkan membahas perihal malam itu pun tidak." ujarnya dalam hati, ia terdengar menghela napas panjang.


"Kenapa pak? Cape?" tanya Hanna yang sudah duduk di depannya.


"Mmm ... iya, kenapa? Mau mijitin?" ledeknya dengan senyum memesonanya.


Hanna beringsut mendekati pria itu, dia berdiri di belakang kursi. Tangan mungilnya mulai meraba pundak kokoh di depannya. Seketika Hendi merinding, mendapat sentuhan yang tiba-tiba. Matanya terpejam, merasakan pijatan lembut.


"Ah, jago juga dia mijit. Nggak salah pilih gue," gumamnya dalam hati.


"Gimana? Enakkan?" tanyanya.


Hening, tak ada jawaban. Hanna mencondongkan kepalanya melihat wajah atasannya itu, tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Hendi membalikkan kursi, hingga menghadap Hanna. Ditariknya wanita itu ke dalam pelukannya.


Sedetik kemudian mereka terlibat adegan panas, dengan tubuh Hanna berada di pangkuan Hendi. Setelah bergulat dengan bibir seksi, tangan pria itu mulai bergerilya menuju dua gundukan yang sedari tadi terlihat menantangnya.


Tapi, dengan cepat Hanna menahan tangan itu turun ke bawah. Dia segera melepaskan cengkraman tangan kiri Hendi yang berada di bekalang kepalanya.


"Tidak sekarang," bisiknya tepat di telinga Hendi. Napas mereka saling memburu, menahan gejolak rasa yang membuncah.


"I love you," Hendi menempelkan bibirnya pada telinga wanita itu.


Diam, tak ada jawaban. Untuk sejenak mereka saling menenangkan degupan jantung, dengan dahi yang masih menempel satu sama lain. Hanna mengambil sesuatu dari saku roknya, dan memberikannya pada Hendi.


Pria itu menatapnya tak mengerti. Cincin yang seharusnya dipakai, malah ia letakkan di tangan pemberinya.


"Jangan bilang kamu ...." Hendi tak kuasa meneruskan dugaannya.


Tak lama kemudian, Hanna mengulurkan tangan kirinya. Memberi kode dengan matanya, meminta pria itu untuk memakaikannya.


"Kamu serius?" tanyanya masih tak percaya.


"Jika kamu serius, aku bisa 2 rius." ucapnya seraya tersenyum.


Mata Hendi berbinar, ia segera menyambut tangan itu dan memakaikan cincin di jari manisnya. Lalu, mengecup lembut punggung tangan Hanna. Mereka pun berpelukan, menyatukan cinta yang mulai tumbuh tanpa dapat dibendung.


"Makasih yaa," kata Hendi di sela pelukannya.


Wanita itu hanya mengangguk, hanyut dalam pelukan pria berdada bidang itu.


"Malam ini, kita dinner yuk." ajak Hendi saat keduanya sudah kembali duduk saling berhadapan.

__ADS_1


"Kamu bukannya ada meeting sore ini?"


"Aku usahain pulang cepet, tunggu aku jam 7 ya. Jangan lupa dandan yang cantik," ujarnya seraya mencubit lembut hidung Hanna.


"Jadi, aku selama ini nggak cantik?"


"Ya nggak gitu, sekarang kamu adalah wanita paling cantik di dunia ini."


"Hahahah ... gombal banget sih kamu."


"Serius, selama ada kamu di hadapanku tak akan aku memandang yang lain."


"Kalo aku nggak di hadapan kamu?"


"Mmm ... makannya kamu harus selalu ada bersamaku,"


"Yee ... mana bisa? Kita kan belum sah," Hanna bangkit dari tempat duduknya.


"Aku akan siapkan segalanya, kamu tinggal tunggu aja ke-sah-an kita." Pria itu berjalan mendekatinya, mendaratkan kecupan pada pipi kiri Hanna.


"Udah ah, aku turun yah. Nanti pada curiga lagi, kelamaan di sini." Wanita itu membuka pintu dan melambaikan tangan pada kekasih barunya itu.


Hendi hanya tersenyum, menatap wanita yang akhirnya bisa ia luluhkan.


"Tolong jawab, ini hal penting Hendi!"


Sebuah pesan masuk kembali, membuyarkan senyuman Hendi. Ia melirik dari layar notifikasi.


Dia pun menjawab pesan itu, "sorry, Sis. Sore ini aku ada meeting." tulisnya.


"Setelah meeting bisa kan?"


"Hhmm ... apa aku temui dia dulu yah? Sekalian kasih tau hubunganku dengan Hanna. Aku nggak mau dia salah paham, terlebih kejadian malam itu membuatnya semakin berani menghubungiku."


Kriiinnggg ....


Terlihat wanita itu mulai menelfonnya tak sabar menunggu jawaban Hendi.


["Ada perlu apa? Kalo cuma sebentar, kemungkinan bisa."]


["Oke, aku tunggu kamu di rumah."] ucap wanita itu kemudian menutup telponnya.


"Aku yakin, setelah kamu mendengar ini kata-kata sebentar itu tak akan ada." Siska menyeringai penuh kemenangan menatap alat tes kehamilan di tangannya.


******


Menjelang sore, Hanna buru-buru menutup laptopnya menyambar tas dan jaket ungu dari kursinya.


"Sinta, gue duluan yah!" ucapnya pada sahabatnya itu.


"Eeehh, mau kemana lu? Buru-buru amat?"

__ADS_1


"Kepo luu!"


"Idih, kepedean! Dokumen buat besok udah selesai emang?"


"Udah donk! Dadaaahh! teriaknya seraya berlalu dari pandangan Sinta.


"Etdah, girang banget tuh anak." gumamnya menatap pintu yang sudah tertutup.


Hanna berjalan menyusuri tangga, sesampainya di parkiran dia melemparkan pandangan mencari mobil sedan hitam.


"Sepertinya Hendi masih meeting, bagus! Gue punya waktu buat mandi dan ke salon."


Sementara mobil sedan hitam kinclong itu, baru saja terparkir di halaman rumah Siska si janda kembang.


Wanita itu, sudah menyiapkan makanan yang tertata di meja. Tak lupa dia berdandan maksimal, dengan mini dress merah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna.


Dia segera berlari membuka pintu, saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.


"Ah, rasanya sudah seperti menyambut suami pulang." katanya seraya merapikan dandanannya.


Hendi yang berdiri di depan pintu, sejenak terpana dengan kecantikan Siska. Wanita itu, tak banyak berubah dari dulu. Malah terlihat semakin kinclong dengan lipstik senada gaunnya.


"Kamu mau berdiri di situ terus?"


"Eh, sorry." ucap Hendi salah tingkah dan segera masuk kemudian duduk di sofa L minimalis itu.


"Makan yuk, aku udah masak loh." ajak Siska yang duduk persis di sebelahnya.


"Sorry, Sis. Aku nggak bisa lama-lama, ada janji juga setelah ini."


"Ih, apaan sih? Baru juga dateng, udah buru-buru aja. Nggak pengen nginep lagi?" godanya melirik nakal Hendi.


"Aku minta maaf atas kejadian malam itu, bener-bener di luar kendaliku."


"Tentu saja, Hen. Obat itu bekerja sesuai perintahku." bisik wanita itu dalam hati.


"Aku sih nggak papa, cuma ada sesuatu yang harus kamu tau."


"Tentang apa? Suami kamu?" Hendi menggeser duduknya menatap Siska serius.


Siska menyerahkan tespack ke tangan Hendi, yang disambut tatapan heran darinya. Perlahan dia membalikkan alat itu, terlihat dua garis merah di sana.


"I-ini maksudnya?"


"Iya, aku hamil. Hamil anak kamu, Hen." bisiknya di telinga pria itu.


Jleegeeerrr ... Hendi menatap Siska tak percaya. Tangannya gemetar, reflek menjatuhkan alat itu. Satu yang menjadi tujuan pikirannya saat ini, Hanna.


"Ha-hamil?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2