Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Hati Yang Mengeras


__ADS_3

Langit senja merayap di cakrawala, sinar jingganya menyusup melewati ventilasi rumah sederhana itu. Terlihat empat orang dewasa dan satu anak kecil tengah duduk di ruang tamu.


Gadis kecil nan imut, tengah sibuk dengan mainan di tangannya. Imajinasinya tertuang dalam dialog singkat antara dirinya dengan si pinky, boneka yang baru saja dinamainya.


"Oooh, jadi nama boneka ini pinky?" tanya Reyhan mendekati gadis itu.


"Iya om, om mau kenayan?" tanyanya polos.


"Boleh, om juga mau kenalan sama gadis kecil ini. Namanya siapa?" Reyhan menyentuh lembut ujung hidung Anin lalu mengulurkan tangannya.


"Anin Om," jawabnya seraya menjabat tangan Reyhan.


"Anin, Om boleh peluk tidak?"


"Mmm ... boyeh!" Laki-laki berjas hitam itu langsung memeluknya.


Semua mata tertuju pada mereka berdua, termasuk Hanna yang kini diam mematung. Ansell merasa Reyhan sudah selangkah lebih maju dari dirinya, yang sempat mendapat penolakan dari Anin.


"Bu, ada yang mau Hanna bicarakan." Ujar wanita itu mengajak sang ibu menuju ke ruangan lain.


"Ibu tinggal dulu ya, Ansell dan Reyhan. Tolong titip Anin," ucapnya pada mereka berdua yang masih fokus menatap gadis kecil di depannya. Sejurus kemudian anggukan kompak terlihat dari keduanya.


Suasana sempat hening sejenak, hanya ekor mata mereka yang saling melirik.


"Gue Ansell, ayah kandungnya Lea. Eh sory maksud gue Anin," ucapnya meralat sebutan untuk anaknya. Dia mengulurkan tangannya.


"Gue Reyhan, calon suaminya Hanna." Jawabnya seraya menjabat tangan Ansell.


"By the way, selamat yaa! Semoga langgeng." ucap Ansell kemudian, yang dijawab hanya anggukan dari Reyhan.


"Titip Anin dan ... Hanna," lanjutnya sedikit tercekat saat menyebut nama mantan istrinya itu.


"Pastinya, gue bukan si brengsek Hendi." terangnya mengalihkan pandangan ke gadis kecil itu.


"Gue denger lu cerai sama istri pertama?"


Ansell mengangguk, menyembunyikan raut wajahnya.


"Saran dari gue sih, kesian anak dari pada lu ngarepin yang nggak pasti mending yang pasti-pasti aja."

__ADS_1


Ansell seolah tertohok dengan ucapan Reyhan, yang memang sengaja menyindirnya.


Suasana canggung kembali terasa di keduanya, tak berselang lama Hanna dan sang ibu kembali membawa makanan dan minuman. Mereka pun makan bersama dalam diam, hanya celotehan Anin yang menjadi pusat perhatian semuanya.


Menjelang malam Ansell pun berpamitan, ia menyodorkan sebuah amplop tebal kepada Ratna.


"Apa ini?" tanyanya dengan kedua alis berkerut menatap Ansell.


"Saya mohon jangan ditolak, Bu. Mungkin ini tidak seberapa dibanding yang telah ibu berikan kepada anak saya. Tapi, ijinkan saya menggantinya walau tidak seberapa," jelasnya seraya meraih tangan yang sudah mulai keriput itu dan mencium punggung tangannya.


"Tidak perlu repot-repot, anin kan juga cucu saya dan sudah saya anggap anak sendiri malah. Gunakan uang ini untuk keperluanmu dan juga anak-anakmu yang lain." tukas Ratna menyodorkan kembalu ke tangan kekar Ansell


"Tolong Bu, jangan ditolak." Ansell memohon setengah berlutut, hingga akhirnya Ratna pun menerima amplop itu.


Tak berapa lama laki-laki itu pergi setelah sebelumnya membelai dan mengecup kening Anin yang sudah tertidur. Gadis kecil itu, memiliki mata yang sama dengannya.


Hanna menunduk, entah apa yang ia rasakan. Tapi, satu yang pasti hatinya seolah tergerak dan terdorong oleh sebuah rasa yang belum bisa dijelaskan.


"Ayo, kita juga harus pulang," ajak Reyhan meraih pundak Hanna.


Hanna mengangguk, matanya terlihat berkaca-kaca. Mereka pun juga berpamitan kepada ibundanya.


"Saya janji, Bu." Reyhan mencium punggung tangan calon mertuanya.


"Jangan mengulangi kesalahan yang sama ya, Nak." bisiknya tepat di telinga Hanna saat mereka berpelukan.


"Kesedihan apa ini?" tanyanya dalam hati.


Mobil Reyhan melaju dengan perlahan, meninggalkan desa kelahiran Hanna. Sedari tadi dia termenung masih membayangkan situasi canggung yang baru saja mereka lalui.


"Kamu nggak papa kan, sayang?" tanya Reyhan menggenggam jemari Hanna.


"Aku baik-baik aja," ucapnya lirih membalas senyuman manis pria di sampingnya itu.


"Bagaimanapun, Reyhan dan Ansell adalah dua orang berbeda. Aku yakin, kesalahan yang sama tak akan terulang kembali." bisiknya dalam hati berusaha meyakinkan kegundahannya.


"Persiapkan dirimu, aku tak akan pernah melepaskanmu selamanya, Hanna." bisik Reyhan di telinga wanita itu.


"Iiihh apaan sih? geli tau!" rengek wanita itu memicingkan matanya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia merasa bahagia.

__ADS_1


********


Pagi sekali Siska sudah berada di dapur, saat Viona baru saja memasuki ruangan yang didominasi warna hitam putih. Ruangan itu memang berada di lantai satu dekat dengan kamar tamu yang dipakai Siska.


Wanita itu memakai piyama merah dengan rambut basah. Matanya menangkap bayangan seseorang tengah memperhatikannya. Ia pun menoleh dan mendapati Viona tengah bengong melihat kearahnya.


"Kenapa Tante? Ko bengong di situ?" tanyanya saat tengah meletakkan sepiring besar nasi goreng.


"Eh-engga, kamu bangun jam berapa? Pagi gini udah siap aja nasgor," jawabnya setengah gugup seraya ngeluyur dan menenggak segelas air putih.


Ekor matanya terus memperhatikan wanita itu, matanya terlihat sembab dengan senyum dipaksakan.


"Nggak liat jam tadi, langsung aja ke dapur. Perut juga laper jadi nyari-nyari makanan hehe," jawabnya dengan seringai.


"Oohh, waah kayanya enak nih nasgor. Cepet bangunin Hendi, kita sarapan bareng."


"Nggak usah, Hendi langsung berangkat!" sahut pria berkemeja putih dengan dasi biru menghampiri kulkas dan menenggak sebotol air putih.


"Hendi! Kamu apa-apaan?" Viona terheran melihat pagi sekali keponakannya itu sudah rapi pakaian kerja.


"Apa-apaan gimana?" tanyanya melirik sinis Siska yang tengah menatapnya dengan sendu.


"Hen, Om kan sudah memberi cuti kamu pergilah liburan atau honeymoon ajak istri kamu kemana kek! Kalian kan pengantin baru masa mau kerja," protesnya.


"Halah, nggak penting! Buang duit aja," sanggahnya seraya beranjak meninggalkan mereka.


Siska segera mengejar suaminya itu, ia berharap bisa membujuknya.


"Hendi tunggu!" serunya. Laki-laki bertubuh kekar itu menghentikan langkahnya meski tanpa menoleh.


"Tolong, meski kamu membenciku setidaknya tunjukkan pada mereka kalo kita baik-baik aja." pintanya meraih jemari Hendi.


Pria itu menyeringai, membuang wajahnya menatap keluar rumah. "Kamu denger baik-baik yah! Saya tidak berniat untuk hidup berpura-pura denganmu, tidak sekarang nanti dan selamanya! Setelah kamu melahirkan anak itu pergi tinggalkan rumah ini, saya sudah siapkan istana untuk kalian." bisiknya di telinga Siska.


Langkahnya dipercepat menuju parkiran dan memasuki sedan hitam miliknya. Siska yang masih diam berdiri mematung, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya meraba perlahan perut yang berisi janin hasil menjebak pria kaya itu.


Hendi menggeser sedikit spion di depannya, "kamu pikir dengan menjebakku semua akan berjalan sesuai rencanamu. Tidak Siska! Hanya status yang akan kau dapatkan, tidak lagi tubuh ataupun hatiku." gumam Hendi melirik bayangan wanita yang kini telah sah jadi istrinya itu lewat kaca spion.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2