Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Sebuah Tekad


__ADS_3

Zea sangat antusias tatkala Agra, asisten Michael menemuinya tempo hari. Pria itu menawarkan pekerjaan yang luar biasa bagus menurutnya.


"Sekali mendayuh dua tiga pulau terlampaui," bisiknya girang.


"Girang sekali Bu, ada apa?"


Asih sang baby sitter anaknya, nyeletuk dari belakang tanpa disadarinya melihat majikannya senyum-senyum sendiri.


Mereka tengah di dapur menyiapkan sarapan.


"Kamu bakal naik gaji, Mba!" serunya memegang pundak wanita itu.


"Beneran Bu? Maa Syaa Allah, terima kasih banyak Buu." jawabnya penuh syukur.


"Kamu doain aja, proyek ini berjalan lancar. Kerjaku juga nggak berat cukup datang seminggu sekali dan dapat uang 3x lipat dari gaji sekarang," pekiknya dengan mata berbinar.


"Ya Allah Bu, enak banget atuh yah. Emang kerjanya ngapain?" tanyanya penasaran.


"Ngawasin kantor cabang sebuah perusahaan besar ya sekelas manager gitu lah," ucapnya sambil meletakkan sepiring sosis asam manis di meja makan.


"Perusahaan apa?" Ansell tiba-tiba menyambar pembicaraan mereka dari balik pintu kamar.


Zea terdiam, dalam hatinya masih kesal perihal keributan tengah malam itu.


"Aku tanya perusahaan apa?" ulangnya seraya mendekat ke meja makan.


"Mba, tolong bangunin anak-anak dan mandiin mereka." kata Zea kepada wanita berumur 40an itu.


"Baik Bu," jawabnya seraya berlalu meninggalkan mereka berdua.


Lagi-lagi Zea terdiam, menata piring dan menyiapkan susu untuk anak kembar mereka.


"Kamu nggak mau jawab pertanyaan aku?"


"Udah deh, berisik. Makan tinggal makan aja," jawabnya dengan nada kesal.


"Loh, salah yah kalo suami pengen tau kerjaan istrinya?"


"Tadi kan kamu udah denger, aku jadi manager di sebuah anak perusahaan besar."


"Ada yah manager yang datang cukup seminggu sekali? Jadi manager itu berat Ze, dia harus bertanggung jawab memimpin, mengarahkan dan sanggup bekerja sama dalam tim untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan visi perusahaan. Aku aja yang sudah ...."


"Yang sudah mantan manager gitu?" sela Zea sinis.


"Aku nggak mungkin kan berdiam diri, melihat suamiku diturunkan jabatannya? Jadi, sebagai istri yang baik ya harus membantu menstabilkan perekonomian dalam rumah tangga ini," lanjutnya melihat Ansell terdiam.

__ADS_1


"Yang pentingkan gaji aku nggak turun, lagian tanggung jawab aku juga tidak seberat saat jadi manager."


"Iya udah terserah kamu, aku akan tetap menerima tawaran ini."


"Nggak masalah, aku hanya ingin tau dimana kamu kerja dan dengan siapa? Itu aja."


"Nanti juga kamu tau. Aku jalan duluan," jawabnya seraya berdiri dari duduknya.


Ansell hanya meliriknya penuh curiga, nafsu makannya tiba-tiba hilang. Ia meletakkan sendok dan garpunya di atas nasibyang baru beberapa suap dimakannya. Lalu menuju kamar mengambil tas dan kunci mobilnya.


***


"Pembuluh darahnya pecah, dan ini ...." Dokter tak melanjutkan kata-katanya saat melihat Belinda tersungkur ke tepi ranjang.


Laura yang sigap menopang tubuh ibunya.


"Ini lebih buruk dari tempo hari yang hanya terjadi penyumbatan. Tapi, untungnya kalian tidak terlambat membawanya ke rumah sakit, sehingga upaya pengobatan semoga masih bisa menyelamatkan nyawanya." terang pria paruh baya itu.


"Kami akan melakukan operasi bedah mikro (clipping aneurysm) dan teknik minimal invasif endovaskular (coiling aneurism). Clipping aneurysm merupakan prosedur untuk menutup aneurisma. Silahkan anda mengisi formulirnya," lanjut Pak Dokter menjelaskan.


"Tolong lakukan yang terbaik, Dok," pinta Michael memegang tangan pria itu.


"Tentu saja, kami akan lakukan upaya yang terbaik untuk Pak Martin."


Belinda dan Laura tak dapat menyembunyikan kesedihannya, air mata menganak sungai di wajahnya. Begitu pula Michael, terlihat air yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Ketika sampai di ujung lorong, mereka melepaskan pria hebat itu yang menjadi panutannya selama ini menuju meja operasi.


"Silahkan menunggu di ruang tunggu, proses ini akan membutuhkan waktu yang lumayan lama," kata suster menunjuk sebuah ruangan.


Namun, Belinda tak bergeming ia tetap di sana berdiri dengan wajah tertunduk dalam.


"Kau fokuslah pada perusahaan lepaskan proyek gilamu itu," ucapnya melihat Michael.


"Jangan bahas itu di sini, mari kita berdoa untuk kesembuhan daddy."


Muchael terlihat berlalu meninggalkan sang mommy dan adiknya. Ia berjalan menyusuri lorong, entah apa yang ada dalam pikirannya. Fokusnya terpecah, antara kata-kata orangtuanya dan ambisi yang menggebu.


"Aku harus membuat wanita itu bertekuk lutut di hadapanku, dia bertanggung jawab atas kejadian ini." bisiknya dalam hati.


***


Hanna kembali menuju kota tempatnya bekerja, meski badannya memberi sinyal tak baik ia pun tak menghiraukannya. Perjalanan yang lumayan memakan waktu, membuatnya mendengus kesal.


Dari kemarin belum ada kabar dari Reyhan, padahal saat ini ia sedang membutuhkan kekasihnya itu.

__ADS_1


Akhirnya setelah menimbang cukup lama ia menghubungi pria itu duluan.


"Halo, gimana kabarmu sayang?" sapa suara di sebrang sana.


"Aku baik, semalam aku pulang ke rumah mamah karena ada hal urgent yang harus kuurus."


"What? Naik apa? Terus sekarang kamu dimana? Masih di sana?"


"Naik bis, ini aku lagi jalan balik. Rey ...." suaranya tercekat, berat rasanya untuk menceritakan masalah pelik yang menimpanya.


"Kenapa? Mau aku jemput?" tawarnya.


"Kita sudahi hubungan ini aku tidak pantas untukmu," ucapnya reflek begitu saja.


Ia tak menyangka malah kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Ma-maksud kamu apa?" tanya Reyhan terbata.


"Kamu pasti tau maksud dari perkataanku. Masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari aku, dan yang terpenting sesuai kriteria ibumu. Seperti Sinta mungkin," lanjutnya kemudian dengan nada suara yang bergetar.


Hanna mengigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Emosi yang selama ini di tahannya hampir tumpah ruah sekarang.


Reyhan tampak terdiam, syok dengan pernyataan Hanna. Ia tak menyadari kedekatannya selama ini dengan Sinta diketahui kekasihnya itu.


"Hanna dengerin aku, aku sama Sinta nggak ada hubungan apa-apa. Kita sebatas temen, kamu tau itu kan? Sejak lama kita memang temenan dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu."


"Jangan bicara seperti itu, masa depan tak ada yang tahu. Mungkin hari ini kalian masih temenan, entah besok dan seterusnya." Hanna masih terus mendesak Reyhan.


"Sebentar, jangan-jangan ini hanya alasan kamu saja untuk berpaling dariku?"


"Untuk berpaling dari seseorang tak membutuhkan alasan, karena cinta bisa hadir tanpa permisi. Terbiasa bersama mungkin salah satu pemicunya," ucap Hanna lagi menyindir.


"Kamu dimana sekarang? Aku jemput, kita bicarakan baik-baik ini hanya salah paham, Han."


"Tak ada kesalahpahaman di sini, yang ada kesalahan yang dipaksakan. Terima kasih atas segalanya, Rey."


Hanna mematikan ponselnya. Dia berpikir Reyhan hanya akan menjadi penghalang langkahnya ke depan. Karena masalah ini, tak lagi bisa menggunakan hati.


Ia akan menutup hatinya entah untuk sementara atau selamanya, demi menghadapi pria psikopat seperti Michael.


Akankah Hanna menyetujui syarat yang diajukan Martin waktu itu? Lantas apa rencananya untuk menghadapi si pria arogan itu?


Stay tune!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2