Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Kebencian


__ADS_3

Sebuah mobil silver tampak berhenti di halaman rumah Hanna, seorang wanita cantik bertubuh tinggi, dengan rambut sebahu dan kacamata coklat keluar dari dalamnya.


Untuk sesaat ia melihat sinis mobil hitam yang terparkir di depannya. Lalu, melenggang menuju pintu rumah bercat kuning gading itu.


Tak lama langkahnya terhenti, melihat banyaknya sendal dan dua pasang sepatu pantofel. Matanya melirik jendela, berharap bisa menangkap bayangan orang di dalamnya. Tapi, nihil, kaca nako yang lumayan tebal dan hitam itu menghalangi pandangannya.


"Sedang ada acara apa mereka?" tanyanya dalam hati.


Ia yang penasaran melihat sekeliling, mencari seseorang yang bisa ditanyai.


Kebetulan, ia melihat seorang tetangga sebelah sedang menyapu halamannya.


"Bu, maaf permisi." ucapnya seramah mungkin.


"Iya, siapa yah?" tanyanya waspada.


"Saya mau tanya, lagi ada acara apa ya di sebelah? Mau masuk nggak enak," katanya dengan senyum tipis.


"Saya juga nggak tau, Bu. Tadi sih saya liat ada dua laki-laki dan satu perempuan yang dateng," jelasnya sambil melirik rumah Bu Ratna.


"Jangan-jangan mereka mau ngelabrak si Hanna itu kali ya, Bu?"


"Ngelabrak? Kayanya engga deh, pakaiannya rapi dan bagus-bagus tadi. Laki-laki yang satunya juga masih muda dan ganteng. Saya malah pikirnya mungkin mau ngelamar Hanna. Kok jadi ngelabrak sih, Ibu dapet info dari mana?" tanyanya menelisik penampilan modis wanita yang tak dikenalnya itu.


"Ibu nggak tau? Di tempat kerjanya si Hanna, dia sering banget dilabrak. Kerjaannya godain suami orang terus kan," tuturnya dengan mimik mengejek.


"Syukur deh kalo ada laki-laki bodoh yang mau nikahin dia. Biar tobat tuh kelakuannya," imbuhnya lagi.


"Memang Ibu siapa? Tau betul kehidupan Hanna?" tanyanya heran terus memperhatikan wanita itu.


"S-saya hanya kenal sepintas saja dengan dia," jawabnya gugup.


"Memang sih, beberapa tahun yang lalu Hanna itu sempat membuat kami terkejut karena pulang membawa bayi. Dan info dari keluarganya dia sudah nikah siri di sana. Padahal anaknya kalem, baik dan ramah juga, kami nggak nyangka dia bisa seperti itu."


"Nah kan, jangan percaya penampilan luar Bu, nggak menjamin kelakuannya bener juga." Perempuan itu tambah semangat mencemooh.


"Tapi, kita juga nggak boleh Bu menilai orang hanya dari luarnya saja. Kita kan nggak tau apa yang sebenarnya terjadi," kata tetangganya itu mencoba netral.


"Iya Bu, kita kan nggak tau juga apa jangan-jangan itu anak haram atau hasil dari merebut suami orang kan?." Dengan melipat kedua tangan di dada dia melirik lagi rumah Hanna.


"Nggak tau ya Bu, kalo masalah itu. Tapi beberapa bulan lalu ada ayahnya si Anin dateng kok. Dia bawa barang banyak banget dan kata Bu Ratna juga, orang itu sekarang sudah tanggung jawab sering mengirim uang untuk anaknya." jelasnya dengan tangan menopang di sapu.

__ADS_1


Deg. Hati wanita itu tersentak ada rasa sakit di ulu hatinya. Wajahnya terlihat memerah menahan kesal.


"Baiklah saya permisi Bu," ucapnya tiba-tiba berlalu dari hadapan tetangga Hanna itu.


Dia berjalan mendekati pintu rumah dengan emosi yang menyala. Perkataan tetangganya itu menyulut api yang selama ini dipendamnya.


"Permisiii!" teriaknya.


Semua orang yang di dalam menengok ke arah pintu. Belum juga Hanna menjawab permohonan aneh dari calon mertuanya itu, ia dikejutkan seseorang yang menggedor pintunya keras.


"Permisiii!" teriaknya lagi lebih kencang.


'Sebentar ya Bu, Pak, saya bukakan pintu dulu." Ratna bergegas membukakan pintu. Matanya menyipit melihat sesosok perempuan yang tak dikenalnya berdiri di depannya.


"Maaf, cari siapa ya, Mba?" tanyanya ramah.


Wanita itu tanpa disuruh langsung menerobos masuk, matanya tertuju pada tamu yang juga sedang melihat ke arahnya.


Hanna terbelalak melihat tamu yang kini bertemu pandang dengannya. Begitu pula Reyhan, wajah wanita itu masih tergambar jelas di benaknya.


"Zeaa ..." gumamnya lirih.


"Aku cuma penasaran aja, lelaki macam apa yang akan menjadi suamimu. Oohh ternyata dia, kalo tidak salah kita pernah bertemu kan? Baguslah, setidaknya dia bukan suami orang kan?" tanyanya dengan senyum sinis.


"Kamu itu nggak kapok-kapok yah bikin masalah! Apalagi sekarang?" Kini Reyhan berdiri dari tempat duduknya.


Kedua orang tuanya heran melihat pemandangan tegang itu. Juga dengan Bu Ratna yang memegangi Anin.


"Ini ada apa sebenernya? Siapa wanita ini Hanna?"


"Dia ... dia istrinya Ansell." jawab Hanna melirik calon mertuanya.


"Siapa Ansell?" Kini kedua orang tua Reyhan bersuara.


Suasana hening sejenak.


"Jadi nggak ada yang mau memperkenalkan mantan suaminya itu? Atau jangan-jangan kamu sembunyiin status jandamu itu yah? Mereka belum tau kamu janda?" gaya meledeknya semakin berani.


"Mba cantik, Maa Syaa Allah, kamu itu cantik loh. Apa nggak malu masuk menerobos rumah orang dan membeberkan aib yang punya rumah?" Bu Ratna terlihat menghampiri Zea.


"Ibu yang baik hati, apa nggak malu juga minta-minta uang pada mantan menantunya itu?"

__ADS_1


Deg. Hatinya tersentak. Ia mulai menyadari siapa wanita yang sedang di hadapannya ini.


"Saya heran, kamu istrinya tapi nggak memahami niat baik suamimu. Dia bertanggung jawab pada anaknya, tanpa saya minta. Saya yakin, dia kembali padamu juga karena niat baiknya untuk bertanggung jawab pada anak-anaknya."


"Ada bekas istri, tapi tak ada yang namanya bekas anak. Selamanya anak ini adalah darah daging Ansell," lanjutnya seraya tersenyum mengusap kepala Anin.


Wajah Zea terlihat kembali merah, ia melirik kesal Hanna.


"Lebih baik anda keluar, etikanya tolong dipakai meski tidak berpendidikan tapi setidaknya punya hati nurani." Reyhan menimpali.


"Tidak berpendidikan? Jaga mulutmu! Mending kamu jagain tuh calon istri kamu jangan sampai penyakitnya kumat godain suami orang!" serunya kesal.


"Astagfirullahaladzim," gumam Ratna lirih matanya terlihat berkaca-kaca.


"Mba, maafkan anak saya jika di masa lalu sudah menyakitimu. Tolong jangan lagi ganggu dia," pintanya.


"Nggak cuma di masa lalu, masa kini pun dia masih saja menyakiti saya! Saya peringatkan, jangan lagi berharap apapun dari suami saya termasuk uangnya. Kami pun punya kehidupan yang lebih penting dari kalian!" serunya seraya berbalik menuju pintu.


"Satu hal yang harus kamu ingat! Bukan saya yang memulai semua ini, suamimu itu yang tidak bisa menghargai pernikahannya. Jadi, mending kamu jaga baik-baik suamimu itu!" gertak Hanna.


Sebelum keluar dia sempat melirik kedua orang tua Reyhan yang nampak syok melihat semua ini. Dalam hati Zea bersorak, sekali tepuk banyak nyamuk yang masuk perangkapnya.


Hanna terduduk lemas di sofa, begitu pula Bu Ratna ia memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Sudah Bu, jangan terlalu dipikirkan. Terakhir kali dia ke kantor juga seperti itu, teriak-teriak seperti orang gila." Reyhan mencoba menenangkan calon mertuanya itu.


Papa dan mamanya Reyhan hanya diam membisu saling berpandangan.


Pikiran mereka mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Wanita macam apa yang telah anakku pilih ini?" bisiknya dalam hati.


"Maafkan saya Bu, jika harus menyembunyikan status dan anak saya lebih baik pernikahan ini tidak pernah terjadi. Saya dan Anin adalah satu paket, tak ada yang bisa memisahkan kami. Saya mohon pamit, terimakasih atas niat baik Ibu dan Bapak."


Hanna bangkit dari duduknya menuju kamar. Air yang sedari tadi tergenang di pelupuk matanya tumpah membasahi pipi. Hatinya sesak, bahunya terguncang menahan tangis.


Bersambung...


Si congcorang nangka napa nongol di saat yang tidak tepat ya readers? Geget dah!


Yuk jempol atau love-nya dipencet dulu 😚 isi amunisi buat othor yaa 🙏

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2