
Hendi dan Sekertarisnya Hanna, tampak keluar dari lobby. Setelah sebelumya bertemu dengan manager di sana, membahas terkait pengadaan bahan baku yang diimport lewat perusahaan mereka.
"Syukur deh, mereka masih tetap berada dipihak kita meskipun banyak perusahaan lain berebut proyek ini." kata Hendi saat melangkah menuju mobil.
"Semua berkat kamu yang tak disangka alumni perusahaan sini," lanjutnya melirik Hanna.
"Ah engga juga, Pak. Memang kantor kita pantas mendapatkan kepercayaan dan proyek ini." kilah wanita yang berjalan tepat di belakang atasannya itu.
"Ngomong-ngomong kenapa si Ansell pindah bagian?"
"Kurang tahu, Pak. Bukan urusan saya juga," ucapnya datar. Dalam hati ia pun sebenarnya menanyakan hal yang sama.
"Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Atau memang Ansell sengaja ingin menghindariku? Atau bisa saja Zea memaksanya untuk tidak lagi berhubungan denganku," bisik Hanna dalam hati.
"Hubunganmu dengan dia gimana?"
"Hubungan apa? Ya jelaslah kami tak ada hubungan apa-apa selain masa lalu yang memang pernah saling terikat satu sama lain," jelas Hanna.
"Maksudku dengan Reyhan."
"Oohh, saya kira Ansell."
"Setelah saya pikir-pikir pesona kamu kuat juga yah? Hampir setiap lelaki yang dekat denganmu, tak bisa menahan diri untuk tidak memilikimu." Hendi menelisik wajah wanita yang kini berjalan di sampingnya itu, karena dia memperlambat langkah kakinya.
Hanna hanya terdiam, entah kenapa ia tak suka dengan kata-kata itu. Karena dari ketiganya, tak ada yang berjalan mulus.
"Adakah memang yang terbaik telah Tuhan persiapkan untukku?" tanyanya dalam hati.
Mereka pun sampai di parkiran mobil, ketika hendak membuka pintu. seorang satpam tergopoh menghampiri mereka. "Maaf permisi, Pak, Bu." ucapnya sopan.
"Iya ada apa, Pak?" tanya Hendi melihat serius pria bertubuh kekar itu.
"Pak Michael meminta saya menahan Ibu ini," katanya terlihat segan.
"Menahan saya? Memangnya saya kenapa?" tanya Hanna penasaran.
"Anu Bu, tadi ..." pak satpam tampak ragu mengatakannya, terlebih dia mengenal mereka berdua karena sering datang ke perusahaan ini.
"Sebenarnya ada apa, Pak? Kenapa mau menahan sekertaris saya?" Hendi kini maju menghampiri satpam itu.
"Lalu, siapa Michael? Apa maksudnya dia menyuruh anda menahan wanita ini?" lanjutnya menatap tajam pria di depannya.
"Pak Michael itu sepertinya anak Pak Martin, Pak." bisik Hanna di telinga Hendi.
"Eehhmm," Hendi berdehem membenarkan posisi dasinya yang tiba-tiba terasa sesak.
__ADS_1
"Pak Michael kehilangan dompetnya, kemungkinan tadi jatuh saat mendorong mobil ini." jelasnya.
Sontak Hanna dan Hendi saling berpandangan. Mereka menyapu sekitar mencari benda yang dimaksudkan.
"Jadi pria arogan tadi itu Pak Michael?" bisik Hanna dalam hati.
"Saya sudah bolak-balik menyisir area ini Pak, Bu. Tapi, dompet beliau belum juga ketemu. Apakah mungkin Ibu melihatnya? Atau mungkin menyimpannya?"
"Pak, kalaupun saya menemukannya pasti langsung saya kasihkan ke Bapak. Nggak mungkin saya bawa apalagi tilep," jawab Hanna sedikit sewot.
Tak lama pak satpam terlihat menerima telepon.
"Nggak ada, Pak. Saya sudah bertemu dengan pemilik mobilnya," ucap pria berkumis tebal itu.
"Apa? Digeledah? Anu pak ...." Dia tak melanjutkan perkataannya saat melirik Hendi yang mengangguk.
"Ba-baik, Pak. Siap laksanakan!" serunya lalu ia menutup teleponnya.
"Jadi Bapak disuruh menggeledah barang-barang kami? Bukan main, kami tamu loh, Pak." Hanna protes tak terima.
"Justru karena kamu tamu makannya saya perintahkan seperti itu," ucap seorang pria tengah berjalan menghampiri mereka.
Hanna memandang sinis lelaki itu. Ia menyerahkan tas kepada satpam dan menyaksikan barang-barangnya diacak paksa.
Hendi menyodorkan tas laptopnya, namun Michael mencegahnya.
"Saya dan dia datang bersama, apa anda tidak curiga kita berkomplot?" tanyanya melirik pria itu.
Lalu sejurus kemudian tas Hendi pun diperiksa. Tapi nihil. Mereka tak menemukan apapun di tas keduanya.
"Sudah lihat cctv?" tanya Hendi.
"Cctv sedang dalam perbaikan Pak," jawab satpam yang mulai salah tingkah.
"Perusahaan sebesar ini memperbaiki cctv aja nggak cukup sehari!" sindir Hanna sinis, dia kemudian berjalan menuju mobil dan masuk tanpa permisi.
Hendi terlihat sedang bercakap-cakap dengan Michael.
"Anak bos kelakuan random banget. Masa iya nuduh tamu ngambil dompetnya, dikira gue cewe apaan kali." gerutu Hanna yang masih saja kesal.
"Baiklah saya minta maaf, sudah bersikap tidak sopan dengan anda dan sekertaris itu. Saya permisi," ucap Michael seraya meninggalkan Hendi disusul satpam yang membungkukkan badannya.
Lantas Hendi menuju mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.
"Kamu cek semua cctv yang ada wanita itu! Saya yakin tadi menjatuhkannya di sana." perintah Michael kepada satpam tadi.
__ADS_1
Dia terlihat mengawasi ruangan navigasi itu yang berisi beberapa layar cctv. Matanya menyipit saat wanita yang dimaksud memasuki ruangan manager.
"Ada apa dia menemui Laura?" tanyanya dalam hati.
Sejurus kemudian pria blasteran bule bermata biru itu, pergi meninggalkan ruangan dengan langkah besar menuju ruangan sang adik.
"Siapa wanita dan pria tadi?" tanyanya saat sudah di hadapan Laura.
"Siapa maksudnya?" Laura tampak berpikir.
"Oohh Kak Hanna Kartika dan atasannya itu?"
"Kamu mengenalnya?"
"Dia dulu karyawan sini. Saat Laura kuliah dia cukup banyak membantu skripsiku dan mengajari beberapa hal tentang perusahaan ini. Kenapa memangnya?"
"Gara-gara mobil mereka Kakak jadi telat menemui Jessica di bandara tadi!" sesalnya merebahkan tubuhnya di sofa.
"Lalu, Kakak tidak bertemu dengan Jessica?"
"Ya enggaklah, pesawatnya sudah take off." gerutunya dengan wajah kesal.
"Berapa lama Jessica di New York, Kak?"
"Entahlah, bisa tiga atau empat mungkin." Michael tampak menatap langit-langit, kata-kata yang dihafalkan semalaman pupus sudah. Belum sempat ia utarakan pada gadis incarannya.
"Wait, jadi lupa kan soal wanita itu. Gara-gara dia juga Kakak kehilangan dompet, La." Dia bangkit dari duduknya berkacak pinggang.
"Saat akan membayar kopi tiba-tiba dompet Kakak nggak ada di celana. Kamu tau si waitress bicara apa ketika Kakak memberinya uang receh? Ganteng-ganteng pelupa. Sial kan!"
"Hahahahaa," Laura sang adik tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi sang kakak yang tak terima dicap pelupa.
"Terus apa hubungannya dengan Kak Hanna?"
"Ah sudahlah, membicarakan dia jadi tambah kacau mood!" Seru Michael seraya pergi meninggalkan ruangan sang adik.
Ia membanting jas hitamnya di sofa. Meraih figura kecil di meja kerjanya.
"Semakin jauh harapanku untuk mendapatkanmu Jessica," gumamnya lirih.
"Semua gara-gara dia! Liat aja, kau akan menjadi mangsaku selanjutnya," kata pria berhidung mancung itu menyeringai devil.
"Wajahnya tidak terlalu buruk, bibir tipisnya terlihat eksotis." Tiba-tiba ia membayangkan wajah Hanna seraya menggigit bibir bawahnya.
Dia meraih telepon di depannya.
__ADS_1
"Agra, cepat cari tau mantan karyawan yang bernama Hanna Kartika! Dia tadi kesini bersama bosnya. Cari tau juga latar belakang dan perusahaannya sekarang!" perintahnya pada seseorang di sebrang sana.
Bersambung...