Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Impian Dadakan


__ADS_3

Agra yang penasaran dengan latar belakang Hanna, segera menghubungi sang ayah. Dia pernah mendengar cerita tentang seorang gadis muda yang pernah menjadi sekertaris Pak Martin. Dia dari kalangan biasa, tapi akan dijodohkan dengan anak dari bosnya itu.


"Halo, Ayah. Agra mau konfirmasi sesuatu. Ayah masih ingat nggak gadis yang dulu katanya mau dijodohin sama anak Pak Martin?"


"Gadis yang akan dijodohkan dengan anak Pak Martin? Michael atau David?"


"Ya nggak tahu. Agra kan dengar dari ayah. Katanya pak bos sendiri yang bilang."


Hening, orang tua itu tampak berpikir sesuatu. Kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun lalu membuat otaknya sedikit cedera. Sehingga ada beberapa ingatan yang hilang.


Agra yang masih muda dan juga tampan itu, dipaksa menggantikan sang ayah untuk bekerja di perusahaan gemilang grup. Hutang ayahnya yang begitu banyak kepada pak Martin membuatnya tak punya pilihan lain.


"Kata ayah, dulu ayah sangat terkejut mendengar berita itu sekaligus simpati dengan kesederhaan keluarga Delopez. Secara kan Pak Martin itu bos besar dan sekertarisnya hanya gadis biasa. Tapi karena dedikasi, cara kerja serta tanggung jawabnya membuat dia ingin menyandingkan dengan salah satu anaknya. Agar bisa bersinergi meneruskan perusaahaannya," jelas Agra panjang lebar berusaha membantu sang ayah mengingatnya.


Hening lagi tak ada jawaban.


"Ayah?"


"Iya, Ayah lagi mikir ini kapan ayah pernah ngomong seperti itu."


"Haish ayah. Ya udah deh, Agra lanjut kerja dulu yah." katanya seraya mematikan panggilannya.


Sang ayah tidak tahu pekerjaan sampingan anaknya, yang dia tahu Agra bekerja sebagai supir pribadi dari anak Pak Martin.


Pria berhidung mancung itu, kemudian bergabung dengan teman-temannya di ruang tamu.


"Si bos udah naik?" tanyanya pada salah satu rekannya.


"Udah, baru aja." jawabnya sambil menyulut sebatang rokok.


"Kenapa kali ini sasaran si bos wanita baik-baik, Gra?"


"Nggak tau. Gua malah ngerasa ada yang aneh aja tentang nih cewek," katanya seraya merebahkan tubuhnya di sofa.


"Aneh gimana maksud lu?"


"Latar belakang dia ada sedikit yang belum ter ...."


Tiba-tiba ponselnya berdering, segera ia merogohnya dari dalam saku celananya.


"Bokap. Bentar yah," ujarnya seraya berjalan keluar rumah.


"Iya yah, ada apa?"


"Ayah baru ingat, Gra. Dulu itu, ada sekertaris Pak Martin cantik banget, masih muda, badannya bagus, pintar juga." ceritanya dimulai.


"Terus yah?" tanya Agra nggak sabar.


"Pak Martin memang pernah bilang, ingin menjodohkan dia dengan anaknya, si Michael yang saat itu masih kuliah di luar negeri. Tapi ternyata si gadis itu sudah punya pacar partner kerjanya sendiri," jelasnya.


"Akhirnya Pak Martin memberinya pilihan, salah satu dari mereka harus keluar karena tidak boleh mempunyai hubungan pribadi sesama rekan kerja. Sebenarnya sih bukan hanya itu maksudnya, dia berharap keduanya tidak ada yang mau keluar dan memilih mengorbankan hubungannya. Karena mereka adalah karyawan terbaik di perusahaan itu. Tapi di luar dugaan, si gadis malah memilih keluar dan akhirnya menikah dengan lelaki itu." sambungnya mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


Agra berusaha mencerna perkataan sang ayah, dan menautkan dengan latar belakang perempuan yang sekarang sedang di kamar tuan Michael itu.


"Jangan-jangan perempuan itu yang dimaksud ayah," batinnya.


"Namanya siapa yah?" tanya Agra.


"Nah itu dia, ayah lupa siapa ya namanya?"


Pria itu menepuk jidatnya frustasi, sedikit lagi jika benar Hanna adalah yang dimaksud ayahnya maka ia harus bicara kepada bosnya itu.


"Hanna Kartika bukan yah?"


"Hanna Kartika?" ejanya pelan.


"Ayah lupa Agra, malah sakit ini kepala Ayah."


"Maaf yah, ya udah ayah istirahat. Maaf udah ganggu ayah maksa pula," katanya sungguh-sungguh.


Ia sangat menyayangi sang ayah, karena hanya dia yang dimilikinya sekarang.


"Bentar deh, kalo nggak salah nama suaminya waktu itu Ansell Gra."


Deg! Dugaannya benar. Mangsa tuannya kali ini adalah wanita yang akan dijodohkan oleh orang tuanya dulu.


Michael tidak ingin berurusan dengan seseorang yang punya hubungan dengan keluarganya. Terlebih sang papa. Dia membuat Hanna sebagai pengecualian karena sudah lama tidak pernah menjalin kontak dengan papanya.


"Dia seorang manager di gemilang kan yah?"


"Oke-oke. Cukup informasinya yah, jangan lupa anak ayah juga ganteng. Assalamualaikum," ucapnya mengakhiri teleponnya.


Agra segera berlari menuju tangga, pikirannya saat ini adalah tuannya. Sudah pasti dia akan kena amuk karena melewatkan informasi sepenting ini.


"Woy kemana lu?" tanya seorang temannya melihat Agra lari tergesa-gesa.


"Wah ini gawat banget, bro. Gua mau ke bos dulu!" teriaknya di ujung tangga.


Sementara di dalam kamar


"Heh, aku bukan barang yaa! Yang seenaknya aja kau mau," ucap Hanna mencoba setenang mungkin.


Ponselnya kembali berdering, nama Reyhan masih terpampang di sana.


"Lepaskan aku, Michael!" teriaknya lagi.


Mencoba terus melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.


"Kau tau, karena kesalahanmu itu aku sudah kehilangan kesempatan berharga!" kata pria itu berjalan seraya menimang ponsel Hanna.


"Kesalahan apa?" tanyanya.


"Karena mobil brengsekmu itu, lupa?"

__ADS_1


"Astaga, itu bukan kesalahanku, tapi atasanku yang lupa."


"Sama aja, sebagai bawahan kenapa kamu tidak mengingatkannya?"


Hanna terdiam kehabisan kata-kata.


"Tolong, kalo mau cari mainan jangan aku Michael. Bagaimana pun, aku pernah mengabdi pada perusahaanmu selama beberapa tahun." kata Hanna memelas.


"Aku juga sebenarnya tidak ingin berurusan denganmu, tapi kamu sendiri yang memulainya."


"Ini kesalahpahaman, tidak semua hal yang kamu mau bisa datang saat itu juga."


Pria itu terdiam. Entah kenapa ada rasa tak biasa yang hadir saat melihat dan mendengar wanita itu bicara.


"Bagiku, apa yang kuinginkan harus aku dapatkan." katanya mendekapkan kedua tangannya di dada.


"Iya percaya, sultanmah beda. Tapi sultan ko seleranya rakyat jelata," oceh Hanna.


"Rakyat jelata pun tak masalah, yang terpenting ia mampu memuaskanku."


Michael mencoba menepis perasaan aneh yang datang, ia berusaha fokus menakuti wanita di depannya itu.


Wanita itu bergidik jijik melihat pria di depannya. Tatapannya yang mesum membuat lututnya gemetar.


"Apa yang kamu mau di dunia ini tapi belum kamu dapatkan?" tanyanya kemudian.


Hanna terdiam berpikir sesuatu.


"Kembali ke masa lalu, saat aku menjadi sekertaris ayahmu. Dan lebih memilih terus di sana dari pada menikah dengan pria sialan yang menghancurkan impianku." ucapnya menatap tajam Michael.


"Apa impianmu?"


"Menikah dengan pria kaya dan menjadi ratu. Agar hal ini tidak pernah saya alami," sambungnya asal.


"Haish gue ngomong apaan sih?" batinnya.


Kini Michael yang terdiam.


Tiba-tiba pintu diketuk pelan dari luar. Pria itu tampak tidak senang waktunya diganggu.


"Siapa?" teriaknya.


"Agra, bos. Ada sesuatu yang penting," teriaknya.


"Sialan." gerutunya.


Michael berjalan menuju pintu, sebelum itu ia menengok ke arah Hanna yang juga tengah melihat ke arahnya.


Bersambung


Huwaaa, kira2 impian dadakan Hanna bakal kenyataan nggak yah?

__ADS_1


Stay tune terus yaa bestiiee, jangan lupa jempol dan teman-temannya 🤗🙏


__ADS_2