Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Luluh


__ADS_3

Setelah mereka sampai di rumah sakit segera Hendi membawanya ke UGD. Saat ia akan ikut masuk bersama Siska, seorang perawat mencegahnya.


"Silahkan Bapak ke ruang pendaftaran dan tunggu di luar ya," ucapnya sambil menutup pintu.


"Sebentar, sus." Hendi menahan pintunya.


"Ada yang perlu saya bicarakan, sebentar saja." Dia memohon dengab kedua tangan menelungkup dan akhirnya suster mengijinkannya masuk.


Chandra dan Viona saling berpandangan heran.


"Sus, maaf, tolong lakukan tes HIV pada istri saya." pintanya dengan suara pelan.


"Belum pernah dilakukan sebelumnya?"


"Belum sus," jawab Hendi.


"Baiklah kalau begitu, ada lagi?"


"Sudah sus," jawab Hendi melihat ke arah Siska yang tengah di tangani dokter dan beberapa perawat.


"Silahkan, Bapak tunggu di luar yah." kata suster membukakan pintu untuknya.


Pria itu pun berjalan keluar, matanya bertemu dengan kedua orang yang sedari tadi menungguinya.


"Gimana Siska, Hen?" tanya Viona tak sabar.


"Belum tau mereka masih memeriksanya," jawab Hendi sambil duduk di kursi tunggu.


"Oh iya, Hendi mau ke pendaftaran dulu ya Om, Tante." katanya seraya berlalu dari keduanya.


Mereka hanya mengangguk. Sambil terus mondar-mandir di depan pintu besar itu.


"Ini semua karena Hendi tidak pernah memperhatikan istrinya, sepertinya aku liat rumah tangga mereka jauh dari kata harmonis, Pi." Viona terlihat khawatir akan kesehatan Siska dan anak yang dikandungnya.


"Apa si yang sering mereka ributkan?"


"Mami juga nggak tau, kadang nanya Siska tuh anak juga diem. Terakhir dia curhat tidur di kamar tamu itu aja," jelasnya.


"Papi tau nggak, tadi pas Mami nemuin dia pingsan di lantai kamarnya, ada bantal dan selimut di sofa. Apa jangan-jangan mereka tidur terpisah?" lanjutnya melihat sang suami.


Chandra terlihat diam, keningnya berkerut. Sorotnya tajam melihat pintu di depannya.


"Kayanya nggak mungkin, Mi. Tadi liat kan sepanik itu dia pas tau Siska pingsan."

__ADS_1


Viona hanya mengangkat bahunya.


Beberapa menit berlalu terlihat pintu terbuka, dokter dan satu perawat keluar dari sana.


"Gimana dok?" tanya mereka mendekat.


Di kejauhan terlihat Hendi berlari ke arah mereka, semakin membuat Chandra yakin kalo keponakannya itu sebenarnya peduli pada istrinya.


"Gimana istri saya, dok?" tanyanya dengan napas yang memburu.


"Ibu Siska sudah sadar, dia kekurangan cairan dan lambungnya pun kosong. Tolong lebih diperhatikan lagi asupan makanannya, apalagi dia sedang hamil kekurangan cairan bisa berbahaya untuk janinnya." jelas sang dokter, mereka bertiga hanya diam saling melirik.


"Saya sudah resepkan beberapa obat dan vitamin untuk ibu dan bayinya. Tapi biarkan pasien dirawat beberapa hari untuk menormalkan kembali tubuhnya." lanjutnya seraya berpamitan.


Namun langkahnya terhenti dan berbalik, "Oh iya, untuk tes HIV hasilnya negatif. Tapi, jika ingin memastikan lebih lanjut lagi bisa melakukan serangkaian tes lainnya."


"I-iya dok, terimakasih informasinya." Hendi sedikit membungkukkan badannya.


"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat, silahkan keluarga bisa mendampingi." Suster mengajak mereka untuk masuk.


"Sebentar Hen, kenapa kamu minta dokter untuk melakukan tes HIV?" tanya Chandra dia menahan lengan ponakannya itu sementara Viona sudah berjalan mendahului mereka.


"Loh, tangan kamu panas? Kamu demam?" Chandra memegang dahi Hendi yang berkeringat serta menelisik wajahnya yang pucat.


"Aku nggak papa Om," ucapnya sambil masuk ruangan ia menghindari pertanyaan pertama tadi.


"Apa dia sakit? Apa yang dia sembunyikan? Kenapa dia meminta dokter melakukan tes HIV?" bisiknya dalam hati, berondong pertanyaan singgah di kepalanya.


***


Keesokan harinya di ruang rawat.


Siska terkejut saat membuka mata terlihat pria yang begitu membencinya tengah tertidur. Tubuhnya duduk di kursi dengan kepala telungkup di tepi ranjang.


"Nggak salah dia tidur deket aku?" gumamnya.


Flashback on


"Kamu tidur di kasur!" serunya saat melihat Siska hendak berbaring di sofa.


"Kenapa? Beberapa hari ini aku udah terbiasa ko tidur di sofa," ucapnya sambil menarik selimut.


"Buruan nggak usah banyak omong!" bentaknya.

__ADS_1


Sejak hari itu Siska tidur di kasur sementara Hendi di sofa, hampir tak ada kata di antara mereka saat keduanya di dalam kamar. Ketika berpapasan pun suaminya, akan melengos membuang muka.


Pernah suatu ketika Siska sengaja memakai lingerie keluar dari kamar mandi. Hendi yang hendak tidur pun sejenak terpaku melihat penampilan istrinya itu. Tapi tak terjadi apa-apa, hatinya bak sudah tertutup gunung es. Dingin dan keras.


Sekeras apa pun Siska mencoba, tak pernah sekalipun kelembutan yang dulu dirasakannya ia temukan kembali pada diri Hendi. Yang ada hanya penolakan dan sikap cuek layaknya tak pernah saling kenal.


Pernah suatu ketika wanita yang mulai keliatan gemuk itu, protes mengenai sikapnya yang tak kunjung berubah.


"Kamu itu keterlaluan ya, Hen! Nggak bisa apa nganggep aku ini ada?"


"Kamu memang ada di dekatku, tapi tidak dalam hatiku. Caramu menjebakku, mempermalukan dan menginjak harga diriku tak bisa kumaafkan." Hendi mendengus kesal.


"Aku sudah berkali-kali minta maaf dan lagi aku juga tengah mengandung anakmu. Dimana hati nuranimu?"


"Kamu mendahului takdir, jadi terima nasibmu. Kalo tidak suka silahkan keluar dari sini." Lelaki itu lantas menarik selimutnya dan memaki di bawah sana.


Air mata yang selalu keluar diam-diam itu, kini tak dapat lagi dibendung. Hatinya sudah di ambang batas kesabaran, luka yang ada semakin menganga. Bahtera indah yang diimpikannya menikahi pria kaya pupus sudah.


Sejak hari itu, ia tak lagi memperhatikan kesehatannya. Jam makan sering tidak teratur, ia pun tak lagi minum vitamin yang diberikan Viona. Tubuhnya semakin lemas dan puncaknya siang itu ketika dirinya tak sanggup lagi berjalan.


"Jika aku keluar dari rumah ini sekarang, maka aku tak akan mendapatkan apa-apa. Akan kutunggu kamu lahir, kita liat apa yang bisa kubawa untuk membesarkanmu nanti." bisiknya dalam hati dengan pilu.


Flashback Off


"Kamu sudah bangun?" Hendi membuka mata saat menyadari Siska tengah menatapnya.


"Su-sudah," jawabnya gugup sambil membetulkan duduknya dengan canggung.


"Tetaplah di sana, biar kuambilkan makananmu." Hendi mengambil nampan yang berisi bubur dan buah di meja.


Tak lama pemandangan langka pun tersuguhkan di sana. Seorang suami yang dingin, cuek dan membencinya, tiba-tiba menyuapkan bubur meski dengan wajah yang datar. Siska yang hanyut dalam kesyahduan yang entah nyata atau fana itu, menurut saja dengan terus melihat Hendi.


"Kerasukan apa ni orang?" gumamnya dalam hati.


Saat tengah menyuapi Siska dengan canggung, Chandra masuk ke dalam ruangan. Dia tampak hendak kembali keluar.


"Masuk aja om, sudah hampir selesai." kata Hendi menyuapkan bubur terakhir pada istrinya.


"Apa ini?" tanya Chandra meletakkan sebuah kertas di atas kasur.


Bersambung.....


Kertas apa ya kira2 gaes? Duh jangan2 Hendi ketauan? 😥

__ADS_1


Jangan lupa favorit dan likenya yaaa readers baik hatii 😚


Terimakasih.


__ADS_2