Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Akar Masalah Reyhan


__ADS_3

Hanna menepis tangan Reyhan yang menggengamya erat, matanya terlihat berkaca-kaca memandangi pria di depannya tak percaya.


"Ternyata ... kamu tidak setulus itu Rey," ucap Hanna tercekat.


"Aku tulus, aku benar-benar ingin menikah denganmu, Hanna." Reyhan kembali meraih tangan itu mencoba meyakinkan.


"Tapi tolong, sembunyikan dulu statusmu dan juga Anin. Setelah sudah sah nanti kita bisa bicara lagi dengan keluargaku," jelasnya penuh harap.


"Aku dan Anin sepaket, Rey. Mana bisa aku sembunyikan dia?"


"Bukankah kamu dulu menganggapnya adik?"


Hanna tergelagap mengalihkan pandangan, ya dulu memang dia teramat sangat membenci gadis kecil itu. Tapi lambat laun, rasa itu terkikis terlebih saat ia menatap matanya lekat, ada kerinduan yang mendalam dirasakannya.


"Hanna, satu hal yang harus kamu tau, alasan terbesarku resign dari kantor itu karena kamu. Aku tak sanggup melihat kamu dan Hendi yang semakin dekat setiap harinya. Hati aku sakit, Han." Reyhan menatap Hanna lekat.


"Aku sudah susah payah mencoba bicara pada ibuku perihal dirimu waktu itu. Beliau memang menentangnya, meskipun begitu aku terus meyakinkannya. Hingga akhirnya aku menyerah melihatmu memilih dia," lanjutnya melihat wanita itu terus terdiam.


"Ya, kamu menyerah tanpa usaha dan menghilang tanpa kata." timpal Hanna kembali menyapu halaman dengan mata sipitnya.


"Aku pun berpikir, percuma memperjuangkanmu seorang diri. Terlebih ibuku tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Sakit bagiku akan lebih sakit bagimu jika tahu semua ini. Maka dari itu aku memilih pergi," ucapnya dengan guratan kesedihan.


"Lantas bagaimana sekarang? Kenapa kamu berubah pikiran dan memberi harapan?"


"Karena aku baru ingat, kamu pernah berbohong perihal anak yang kau anggap adik itu. Mungkin kita bisa melakukannya di dwpan ibuku. Namun, Hendi menjadi penghalang terbesar saat itu. Setelah tahu dia mencampakkanmu, barulah aku mempunyai keberanian untuk mengatakan ini dan berharap bisa hidup bahagia kelak bersamamu." Reyhan terus menatap bola mata indah di depannya itu.


Hanna menarik napas panjang, dadanya terasa sesak sekarang. Lalu ia memijat pelipisnya yang juga terasa pening.


"Aku tidak bisa," ucapnya kemudian dan melangkah pergi meninggalkan halaman rumah itu.


"Hannaa tungguu!" seru Reyhan yang berusaha menahannya.


"Aku tidak bisa berbohong soal statusku, jika mereka tahu setelah kita sah betapa hancurnya hati ibumu nanti. Karena aku, bukan menantu yang sesuai ekspektasinya." Wanita itu membalikkan badannya beridiri tepat di pintu gerbang.


"Reyhaan, kenapa di luar?" tanya seorang wanita paruh baya mendekati mereka.


Hanna gelagapan, entah harus bersikap seperti apa. Jantungnya berdegup beringsut mundur beberapa langkah.


"Eh, ada tamu. Cantik banget, Rey. Pacar kamu?" tanya sang mama tersenyum ramah pada Hanna.


"Iy...."


"Bukan Tante perkenalkan saya Hanna temannya Reyhan," serobot Hanna seraya berjalan mendekati perempuan itu dan mengulurkan tangannya.


"Hanna?" ulangnya seolah tak asing dengan nama itu.

__ADS_1


"Maaf Tante, saya permisi yah tadi cuma mampir sebentar mau nanyain sesuatu sama Rey." Hanna berpamitan dengan membungkukkan sedikit badannya.


Sang Ibu hanya mengangguk kebingungan melihat mereka berdua. Terlebih anaknya juga hanya diam mematung melihat kepergian Hanna.


"Hei, bengong! Anterin itu cewek, kasian kan udah malem pulang sendiri." Sang ibu berkata dengan mendorong tubuh Reyhan ke dalam mobil.


Pria itu segera menjalankan mobilnya menyusul Hanna.


Ia segera menepi saat wanita itu di samping mobilnya.


"Hanna kita harus bicara," Reyhan berkata dari dalam mobil.


Tapi, wanita itu menghiraukannya akhirnya Reyhan turun dari mobil dan langsung menarik lengan Hanna.


"Kamu apa-apaan tadi di depan Mama? Kenapa membuat semuanya jadi makin runyam?" berondong pertanyaan Reyhan meluncur bebas.


"Biar aku perjelas, kamu mencintai aku tapi tidak bisa menerima statusku gitu kan?"


"Bukan aku Hanna, aku sama sekali tidak mempermasalahkan diri kamu dan masa lalu itu. Tapi mamaku dia selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya,"


"Oke sudah jelas, aku bukan yang terbaik untukmu. Jadi buat apa kisah ini dilanjut? Kita sudah ada bayangan akan seperti apa pernikahan ini kelak, iya kan?"


Reyhan menghela napas frustasi, hubungan yang semula indah mendadak menjadi runyam karena sebuah status. Ia segera menuntun Hanna memasuki mobilnya.


Akhirnya mobil melaju perlahan, cukup lama mereka terdiam suasana menjadi hening tanpa kata masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


Terkadang hidup ini tak adil, mereka hanya memandang manusia lainnya dari status sosial dan masa lalu. Tak pernah sekali pun berpikir proses yang telah dilaluinya sehingga sampai di titik itu.


Hanna mendesah pelan, mencoba menenangkan dadanya yang gemuruh menahan emosi. Lagi-lagi status jandanya dipandang sebelah mata. Seolah wanita paling berdosa yang dihindari calon mertua.


"Siapa sih yang ingin gagal dalam pernikahan? Gue rasa semua orang menginginkan hubungan yang harmonis sampe maut memisahkan. Namun, takdir bisa saja berkehendak lain. Karena sekeras apapun usaha kita mencoba, jika Allah tak mengijinkannya maka tak akan kita dapatkan. Sebaliknya sekuat apapun kita menolak jika hal itu memang milikmu maka, akan tetap menjadi milikmu selamanya." Hanna bergumam dalam hati.


Mobil berhenti tepat di sebuah gerbang kostan. Saat Hanna hendak membuka pintu Reyhan menahannya seraya berkata," Aku minta maaf, jika hal tadi menyinggung perasaanmu."


Tanpa menjawab Hanna membuka pintu dan pergi meninggalkannya. Pria itu hanya bisa memandangi punggungnya yang menghilang di balik gerbang hitam.


Reyhan mengusap kasar wajahnya, menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan.


"Akar masalah ini akhirnya muncul juga," bisiknya dalam hati.


Dia lantas melajukan mobilnya dengan kencang, membelah jalanan malam. Berbaur dengan puluhan kendaraan lainnya, hatinya kembali berkecamuk.


"Bakti pada orang tua, atau tetap bertahan pada pilihannya?" bisik Reyhan dalam hati.


***

__ADS_1


Keesokan harinya


Alarm berbunyi tanpa henti membuat jengah telinga Hanna. Segera ia mematikannya dan melirik jam.


"Ebuseett, jam delapan!" pekiknya terlonjak dari kasur. Semalam dia susah tidur memikirkan semua perkataan Reyhan.


Segera ia menuju kamar mandi, mengguyur cepat tubuhnya. Beberapa menit kemudian keluar dengan tergesa-gesa.


"Gue harus jadi janda kaya! Biar semua orang tak ada yang merendahkan. Tapi gimana caranya yah? Kawin sama aki-aki yang bentar lagi mati? Dih ogah ah," cerocosnya sambil menyisir rambutnya.


"Kerja apa ya yang ngasilin duit banyak? Apa gue jualan aja kali yah? Tapi jualan apa yaa? Nggak mungkin jual diri, gini aja udah dipandang rendah apalagi sampe iihh amit-amit." Wanita itu bergidik geli.


Saat tengah termenung memikirkan pekerjaan yang cocok untuknya, pintu kamar kost-nya digedor seseorang. Ia terlonjak karena terkejut, suara itu lumayan keras.


Lalu dia mengintip di jendela, "Eehh kunyuk! Ngapain gedor-gedor?" sentak Hanna ternyata Sinta yang di depan sana.


"Eh, kunyang cepet buka pintunya! Gue bawa berita heboh ini!" teriaknya.


Dengan cepat Hanna membuka pintu dan Sinta langsung menerobos masuk.


"Sini buruaann! Liat nih." Sinta menyodorkan ponsel miliknya.


Terlihat postingan seseorang yang tak dikenalnya terpampang di sana. Struk sebuah bar ternama dengan nominal 2.2 juta, dan foto dua orang tengah berpelukan mesra di kamar hotel.


Sinta yang menyadari kelemotan sahabatnya itu menoyor kepalanya, "Lu liat deh, nama siapa yang tercetak di struk?"


Hanna menyipitkan matanya untuk melihat jelas nama itu, dan sejurus kemudian matanya terbelalak saat nama Hendi Satya Diningrat tertera di sana.


"Pak Hendi ini?" tanyanya nggak yakin.


"Lu liat juga deh pakaian cowo ini, bukannya itu kemeja yang kemaren Pak Hendi pake yah?"


Hanna terdiam, dia sangat yakin wanita itu bukan Siska istrinya.


"Jadi parah gini bos lu, nyuk. Gimana nasib perusahaan nanti kalo berita ini tersebar coba?"


"Itu akun temen lu?"


"Bukan, gue juga nggak kenal tapi setelah stalking di akunnya ni cewe kayanya cewe panggilan deh. Banyak soalnya postingan kaya gjni dengan cowo beda-beda," terang Sinta bergidik jijik.


Hanna terhenyak, hatinya terus bergumam. "Segitu menderitanyakah Hendi? Hingga dia lari ke alkohol dan wanita penghibur? Atau memang inilah tabiat aslinya?"


Bersambung


Jangan lupa like, vote dan komentarnya Akak 🙏🤗

__ADS_1


Salam sehat dan bahagia selalu.


Terimakasih sudah mampir sarangeoo😚


__ADS_2