Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Bertemu Orang Dari Masa Lalu


__ADS_3

"Selamat siang, Pak Ansell!" Hendi memasuki ruangan bertuliskan manager itu, diikuti Hanna di belakangnya.


"Waah ... selamat siang Pak Hendi dan Ibuu ...."


Belum sempat Ansell melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba mulutnya tercekat, matanya tertegun kepada seorang wanita yang berdiri tepat di belakang Hendi. Hatinya bergemuruh tak karuan, dia mengenal betul sosok wanita yang tengah berdiri kaku dengan mata menatap tajam ke arahnya.


"Hanna?!" Pekiknya dalam hati.


"Selamat siang, Pak Ansell." Sapanya mencoba tersenyum meski sedikit dipaksakan. Dia sibuk mengatur gejolak di dada, rasanya ingin lari putar badan. Dejavu menghampirinya mengingat tempat dimana cinta pertama kalinya bersemi, antara dia dan Ansell saat mereka pertama bertemu.


"Kenalkan Pak Ansell, ini Hanna Kartika sekertaris saya sekaligus calon istri saya." Hendi memegang pundak wanita itu, dengan wajah sumringah. Hanna menempelkan pundaknya di badan Hendi dan tersenyum ke arah Ansell.


"Ca-calon istri?!" Matanya terbelalak memandang mereka bergantian.


Pria berkumis tipis itu, mengernyitkan dahinya bingung sekaligus kaget. Apa yang harus dia katakan? Rasanya ingin sekali memeluk mantan istrinya itu dan meminta maaf atas segala yang telah terjadi. Dan yang lebih penting menggelitik hatinya, tentang anak mereka Aeleasha.


Tapi, mulutnya seolah terkunci dengan kata calon istri. Dia mendadak ragu, benarkah ini Hanna yang ia kenal? Wanita yang pergi membawa cintanya, membawa luka dihatinya dan membawa buah cinta mereka.


"Pak Ansell, anda baik-baik saja?" Hendi menepuk pundaknya yang berdiri mematung memandangi Hanna.


"Oh, iya, sorry Pak Hendi. Sa-saya mendadak teringat kenangan lama, calon istri anda ini mirip sekali dengan istri saya yang hilang." Tuturnya mengusap wajahnya. Keringat dingin membasahi dahinya.


Deg ... hati Hanna berdesir, mendadak matanya panas dan wajahnya memerah. Dia menunduk mengalihkan pandangan ke sekeliling, untuk menyembunyikan gelisah di hatinya.


"Istri Pak Ansell hilang?Bagaimana bisa, Pak?" Hendi bertanya dengan nada heran dan menatap ke arah Hanna. 


"Iya Pak, sudah dua tahun yang lalu. Ah, maaf saya malah curhat ini. Aduuh, maaf ya pak, Bu. Silahkan duduk Pak Hendi dan ... Bu Hanna," Matanya tak lepas dari wanita di depannya itu.


Hendi merasa ada sesuatu yang aneh. Terlebih ketika Hanna meminta tolong padanya, untuk mengakuinya sebagai calon istri.


Awalnya sempat ragu, tapi karna dia memohon dan berjanji akan menceritakan semuanya setelah meeting selesai. Akhirnya Hendi pun mengikuti kemauannya, meskipun dalam hati dia sangat senang dan berharap ini adalah awal cairnya hati Hanna untuk bisa menerima setiap perhatian kecil darinya. Walau berpura-pura, nyatanya Hendi sangat menikmati perannya dan berharap ini akan menjadi kenyataan.


Sejurus kemudian mereka pun serius membahas kontrak kerja yang di ajukan Hendi. Meskipun Ansell sesekali mencuri pandang pada Hanna dengan penuh kerinduan, membuat Hendi merasa canggung dan sedikit kesal.


Tepat pukul empat sore Hendi dan Hanna berpamitan kepada Ansell.


"Terimakasih banyak pak Ansell, saya sangat berharap segera mendapat kabar baik."

__ADS_1


"Oke siap, Pak. Saya akan hubungi anda nanti, setelah diskusikan dengan direktur."


"Sampai jumpa Pak Ansell." Ucap Hendi seraya menjabat tangan pria di depannya itu.


Sebenarnya sudah sejak tadi dia ingin meninggalkan ruangan. Rasanya tak sabar menunggu penjelasan dari Hanna, perihal situasi canggung ini.


Sepeninggal tamunya, Ansell diam termenung dia sangat yakin itu adalah Hanna, wanita yang pergi meninggalkannya.


"Tapi, kenapa dia bersikap sangat dingin? Seolah tidak mengenalku. Apa mungkin dia amnesia? Tapi, jika dilihat dari sorot matanya, dia pun menahan sesuatu, apa dia sangat membenciku?" Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Ansell.


"Hanna, kamu harus tau menderitanya aku tanpamu, aku sudah mencarimu kemanapun. Tapi tidak pernah menemui hasil, dan aku selalu berharap dapat bertemu denganmu di lain waktu. Dalam hati yang sama-sama sudah bisa melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru." bisiknya dalam hati.


"Aku sadar sudah menyakitimu dengan semua kebohongan ini, tapi aku terpaksa melakukan itu. Karena aku tak sampai hati melukai Zea, meskipun pada akhirnya tindakanku malah melukai kalian berdua. Aku pun terlanjur mencintaimu, aku yakin kau tak akan mau jika aku Jujur telah memiliki istri." sesalnya.


"Tapi aku tak menyangka pertemuan tadi seolah kita tidak pernah bertemu, seolah kita tidak pernah terikat satu sama lain, seolah kita tidak pernah saling mencintai. Dan menjadi asing, padahal ada buah hati di antara kita. Sebagai bukti bahwa kita pernah saling berbagi kehangatan." Hatinya terus menyesali apa yang terjadi.


"Aku merindukanmu Hanna." gumamnya pelan


Tiba-tiba air matanya menetes, menahan sesak di dadanya.


*********


Hendi dan Hanna berhenti di sebuah restoran, mereka duduk saling berhadapan. Semenjak di mobil tadi keduanya terdiam cukup lama. Hendi yang masih bingung dengan apa yang sudah terjadi, memilih diam dan membiarkan Hanna untuk meredam amarahnya. Sampai mereka duduk di restoran pun wanita itu masih saja terdiam.


"Hanna, boleh aku bertanya sesuatu?" Akhirnya pria itu tak dapat lagi menahan rasa penasarannya.


"Iya, Pak, maafkan saya sudah memaksa untuk berbohong tadi." Wajahnya tertunduk, menyembunyikan genangan air di pelupuk matanya.


"Kamu kenal dengan Pak Ansell?" Tanyanya kemudian.


Hanna terdiam, menarik napas panjang air mata perlahan menetes di pipinya. Sebenarnya dia belum siap jika harus menceritakan masa lalunya kepada pria lain. Dia berpikir Reyhan adalah orang yang akan tau masa lalunya, tapi takdir berkata lain, Hendilah sepertinya yang harus tau, setelah apa yang mereka alami hari ini pasti cukup membuatnya bertanya-tanya.


Hendi merasa bersalah, dia tidak sanggup jika melihat wanita menangis.


"Maafkan saya, jika pertanyaan tadi membuatmu tak nyaman mari kita tak membahasnya lagi." ucapnya pelan.


"Tak apa, Pak. Saya hanya ... tak pernah membicarakan hal ini dengan siapa pun. Sudah cukup lama, jadi bingung mau mulai dari mana."

__ADS_1


"Tapi, sekali lagi maaf, saya tak sengaja mengetahui sesuatu yang kamu sembunyikan tentang anakmu." ujarnya hati-hati.


Hanna terkejut, bagaimana Hendi tau dia sudah memiliki anak?


"Maaf, aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu dengan ibumu saat beliau datang ke kantor beberapa waktu lalu, benarkah anak itu adalah anakmu?" lanjutnya.


Wanita itu tertunduk malu dan masih terdiam.


"Jadi selama ini Hendi tau masa laluku dan dia masih bersikap seolah-olah tidak tau apapun? Ah bodohnya aku ..."


"Jika kamu mau menceritakannya denganku, aku akan menjadi pendengar yang baik. Tapi, jika itu memang rahasiamu aku pun akan membantu dengan diam."


"Iya, dia adalah anaku ... dan Ansell adalah ayah kandungnya." Akhirnya kata-kata yang sedari tadi menyumbat mulutnya tumpah sudah.


Jelegeeeerrr ...!


Bak petir menyambar hati Hendi. Bagaimana bisa Ansell yang baru saja mereka temui adalah mantan suami Hanna.


"Kebetulan macam apa in? Takdir apa dibalik semua ini?" tanyanya dalam hati.


"Aku dan Ansell menikah tiga tahun lalu secara siri. Karna ibuku tak merestui hubungan kita. Tapi, bodohnya aku tetap menikah dengannya, hanya karna laki-laki itu sudah banyak membantuku dalam mengejar karir." Ucapnya sembari terisak.


"Selama menikah dengannya, tak ada kejanggalan yang terlihat semua berjalan normal. Hanya saja Ansell sering ke luar kota untuk meeting dan aku sama sekali tak curiga apapun terhadapnya. Hingga suatu hari aku hamil dan melahirkan, saat itulah awal mula badai menerpa rumah tanggaku." Lanjutnya tergugu. Hendi reflek memegang jemari Hanna dan mengusapnya pelan.


"Istri pertamanya datang ke tempatku melahirkan, ternyata selama ini dia telah memiliki istri dan sudah lima tahun menikah. Tapi, masih belum memiliki anak, sehingga hidupnya terasa hampa. Dia sangat bahagia sekali setelah sekian lama, akhirnya bisa memiliki anak," Hanna menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu melanjutkan kisahnya.


"Aku sangat kecewa dengan kebohongan yang sangat menyakitkan itu. Akhirnya memilih pergi meninggalkannya, membawa anaknya, luka di hati dan segala rasa amarah. Aku bertekad melupakan dia dan semua kisah ini." Wajahnya sudah berubah memerah, dengan napas tak beraturan. Hendi terdiam, masih membisu tak menyangka kisah kelam masa lalunya akan terungkap dengan cara seperti ini.


Air mata Hanna semakin deras, hatinya sesak menahan amarah dan rasa sakit yang kembali hadir mengingat peristiwa itu.


Hendi mengambil tisu dan pindah duduk di samping wanita itu, dia menyeka air yang mengalir di pipi mulusnya. Tanpa sadar Hanna merebahkan kepalanya di dada Hendi dan laki-laki itu mengusap lembut rambutnya.


Wajah Hendi mendadak merah.


"Aku harus membuat perhitungan dengan Ansell," gumamnya dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2