Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Cinta Satu Malam


__ADS_3

Warning! 21+


Cinta yang belum usai, kembali dipertemukan dalam waktu yang tidak tepat. Akankah kembali bermuara? Atau hanya sebatas mengalir tanpa bekas?


Hendi sampai di depan sebuah rumah mewah dua lantai, lama menunggu tak ada tanda-tanda gerbang itu akan dibuka. Lalu ia turun dari mobil, kepalanya celingukan mencari bel. "Satpamnya kemana ini?" Gumamnya. Ia lantas kembali ke mobil mengambil ponsel.


"Halo, aku udah di depan." Kata Hendi menatap ke atas, matanya menangkap bayangan dari lantai dua.


Selang tak berapa lama, terlihat Siska membuka gerbang, "bawa masuk aja mobilnya Hen," ucapnya penuh senyum bahagia.


Hendi menjalankan mobil, memasuki halaman rumah bernuansa putih abu itu.


"Di dalam ada siapa?" Tanyanya saat ia sudah berdiri di depan pintu.


"Nggak ada siapa-siapa, bantuin aku angkat barang di lantai dua yah pliiss." Pinta Siska setengah manja.


"Iya, iya. Kamu mau pindahan kemana?" Tanyanya lagi ketika menyusuri tangga.


"Ada rumah saudaraku yang tidak dipakai, rencananya akan tinggal di sana untuk sementara waktu." Siska berjalan di depan Hendi dengan tubuh seksi hanya berbalut dress ngetat selutut.


Mata pria itu, tak henti memandang lekukan tubuh yang disuguhkan di depannya. Berulangkali ia memejamkan mata, tapi tubuh itu semakin jelas di pelupuknya.


Pandangannya terhenti pada sebuah luka memar di leher dan lengan atas wanita itu.


"Leher dan lengan kamu kenapa?" Tanyanya menarik lengan Siska pelan.


"Oh ini ... emm ... nggak papa ko." Kata Siska menghindar.


"Kita harus cepat, sebelum pria psikopat itu datang." Ucapnya seraya mempercepat langkahnya.


Mereka sampai di beberapa tumpukan kardus, Hendi melihat sekeliling. Kamar besar nan mewah itu tampak berantakan, seolah telah terjadi peperangan beberapa waktu lalu.


"Ini kenapa?" Tanyanya heran.


"Nanti aja aku ceritanya yah, sekarang tolong bantuin aku angkatin kardus-kardus ini Hen." Pintanya. Terlihat air tergenang di sudut mata indahnya.


Hendi pun segera mengangkat salah satu kardus yang paling besar, dan memindahkannya ke mobil. Mereka pun larut dalam keheningan, sibuk bolak balik memindahkan beberapa barang.


Pria tinggi putih itu, sesekali mencuri pandang pada wanita mantan pujaan hatinya yang tengah sibuk membereskan sisa barang-barang yang berserakan.


Pikirannya menerawang jauh di atas awan, ketika belahan dada Siska tak sengaja terlihat. Ia memejamkan mata, "Hendi, lu mikir apa sih?" Batinnya berkecamuk.


Setelah semua barang berhasil pindah ke dalam mobil, segera Siska menutup kamar dan menuruni tangga. Terlihat Hendi tengah menatap figura besar di ruang tamu, dan sepasang pengantin tampak bahagia di dalamnya. Lelaki tinggi besar dan kekar itu tampak merangkul wanita di sampingnya. Tanpa kata Siska melewatinya, dengan mata yang sudah basah menganak sungai.


"Pernikahanmu sedang tidak baik-baik aja?" Tanya Hendi saat mereka sudah di dalam mobil. Sedari tadi dia menahan pertanyaan itu, dan akhirnya terlontar juga.


Hening, tak ada jawaban. Hanya ada isak tangis. Siska memalingkan wajah menatap keluar jendela. Hendi merasa tidak enak atas pertanyaannya. Ia lalu, menyodorkan tisu yang diambil sehelai oleh wanita itu.


Mereka pun larut dalam pikiran masing-masing, diam tanpa kata. Hanya ada suara penunjuk jalan di ponsel Siska. Hendi, membiarkan wanita di sampingnya menumpahkan air mata sepuasnya


Setelah berkendara kurang lebih satu jam, tibalah mereka di sebuah perumahan. Keduanya sibuk mencari jalan dan nomor rumah yang di berikan saudara Siska.


"Ini! Ini rumahnya, Hen!" Seru Siska berteriak dan menunjuk salah satu rumah.

__ADS_1


Setelah memastikan nomornya benar, mereka pun turun dari mobil dan Siska mengambil kunci dari dalam tasnya. 


Kembali keduanya sibuk menurunkan barang, terlihat keringat bercucuran deras di dahi Hendi. Saat ia meletakkan kardus di dalam kamar yang ditunjuk Siska.


"Berat banget yah? Nih, minum dulu." Siska menyodorkan segelas air dingin


"Lumayan, thanks yaa." Kata Hendi seraya meneguk habis tak terisisa.


"Gue minta cerai, laki-laki itu ternyata cuma mau menutupi kegilaannya melalui pernikahan ini." Kata Siska memulai pembicaraan. Dia duduk di kursi meja rias, sementara Hendi masih berdiri sambil menyeka keringatnya.


"Kegilaan gimana maksudnya?" tanyanya melirik wanita seksi itu tengah mengikat rambutnya hingga tengkuk lehernya terlihat putih mulus. Hendi menelan ludah dan mengalihkan pandangan.


"Kenapa pala gue jadi pusing begini yah?" batinnya.


"Dia gay,"


"What? Tinggi kekar kaya gitu gay?" tanyanya tak percaya.


Siska mengangguk, dan berjalan ke tumpukan kardus mengambil sprei dan memasangnya di atas ranjang setinggi lutut itu.


"Sejak menikah 3 bulan yang lalu, dia jarang sekali menyentuhku. Pulang selalu larut malam, dengan alasan banyak kerjaan. Bahkan weekend pun dia ke kantor. Sama sekali nggak ada waktu untukku," paparnya. Matanya kembali berkaca-kaca, dengan tangan yang sibuk menata setiap sudut kamar.


"Boleh minta tolong angkat kaca itu nggak?" pintanya menunjuk pada kaca setinggi 1 meter.


"Mau disimpan dimana? tanya Hendi, jalannya terlihat sempoyongan menahan kepalanya yang berat.


"Aduh," keluhnya menabrak tepi ranjang. Hampir saja kaca itu terlepas dari tangannya, untung Siska segera menangkapnya.


"Loh, kenapa?" Tanyanya.


"Ya udah istirahat dulu, mungkin kecapean. Tuh lihat, keringat dingin banyak banget."


Siska mengambil tisu dan segera mengelap dahi Hendi.  Sesaat tatapan mereka bertemu, dengan belahan dada tepat di depan pria itu. Jantungnya kembali berdebar. Wanita bermata coklat itu, melirik kemeja putih Hendi yang basah hingga dada bidangnya jelas terlihat.


"So-sorry, gue cuma ...."


Belum sempat Siska meneruskan kata-katanya, sebuah ciuman mendarat sempurna di bibirnya. Napas mereka memburu, seiring saling berpagutan kedua bibir itu. Siska terdorong, ketepi ranjang hingga kemudian dia menarik tubuh kekar itu ke atas tubuhnya.


Permainan panas pun di mulai, seiring teriknya sinar matahari di luar rumah. Kini, tubuh mereka sudah tak tertutup sehelai benang pun. Hanya suara ******* dan deritan ranjang berirama yang terdengar.


Wanita yang haus belaian, bertemu dengan pria yang selalu menahan nafsu jika dekat wanita yang disukainya. Pada akhirnya, pertahanannya jebol ketika dengan suka rela wanita itu memberikan kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan.


*******


Matahari mulai menggeliat, menampakkan sinar hangatnya. Jalanan sepi kembali ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang memenuhi kewajibannya. Terlihat seorang wanita buru-buru menghentikan sebuah angkutan kota.


Selang 20 menit, mobil berhenti pada deretan ruko tempatnya bekerja. Dia pun turun dan membayar pas ongkosnya. Lalu, ketika berjalan di antara deretan mobil tiba-tiba pintu sebuah mobil terbuka tepat di depannya. Hampir saja mengenai tubuh mungilnya.


"Sorry!" Serunya.


"Pak Hendi?" Hanna kaget melihat penampilan bosnya yang berantakan itu.


"Ha-Hanna?" Ucapnya tak kalah terkejut. Ia segera berlari menuju kantor membawa tas laptop dan jas yang di tentengnya. Hingga lupa menutup pintu mobil.

__ADS_1


"Pak, ini mobilnya belum ditutup!" Teriak Hanna.


"Sorry, tolong tutupin!" Pekiknya dari kejauhan. Dia sangat malu kepergok dengan penampilan yang super kusut.


"Aneh banget tuh orang, tumben penampilannya kusut banget." Gerutunya sambil menutup pintu mobil.


Ttooottt!!


Sebuah klakson memekakan telinga lewat di sampingnya. Terlihat Viona turun dari pintu kemudi, dan bergegas menghampiri Hanna.


"Heh! Kalian nginep dimana semalam? Gila! Rendahan sekali kamu yah, belum menikah sudah ngajak tidur bareng!" Ejeknya dengan tatapan jijik.


"Ti-tidur bersama? Maksud ibu apa?" tanyanya kebingungan.


"Nggak usah pura-pura polos dan sok suci di depan saya!" Ucapnya lantang.


"Bu, serius deh saya nggak paham apa maksud ibu. Tolong jelaskan, siapa yang ibu maksud rendahan?"


"Halah, jadi gini caramu menggaet pria kaya? Dengan tidur bareng, terus hamil gitu kan?"


"Astagfirullahaladzim," Hanna mulai kesal memandang frustasi Viona. Baru pertama kerja setelah cuti, sudah dihadapkan masalah.


"Ini masalah nggak sabaran banget yak datengnya. Nunggu gue duduk dulu ngapa, napas dulu gitu." Keluhnya dalam hati.


"Bu, saya baru pulang dari rumah mama semalam. Saya baru ngajuin cuti. Jadi nggak paham apa yang ibu maksudkan."


"Jadi, Hendi kamu bawa ke kampungmu? Di paksa nginep sama orang tuamu? Yang kesenengan mau dapet mantu orang kaya! Dipamerin tetangga-tetangga sekampung, gitu?" Ledeknya lagi.


"Astagfirullahaladzim, Bu! Istrinya bos loh, berpendidikan tinggi, cantik, tapi mulutnya tidak punya attitude sama sekali. Lancar banget ngerendahin orang." Pungkas Hanna kesal, dia sudah tak bisa diam saja mendengar Viona membawa-bawa kedua orang tuanya.


"Lha, emang rendah kan? Kamu nggak ngerasa?"


"Sama sekali engga, Bu. Maaf, Ibu salah alamat! Sebenernya punya dendam apa sih sama saya?"


"Dendam? Helooww, siapa kamu?"


"Terus kenapa Ibu nyerang saya terus? Salah saya apa?" Kali ini pelupuk matanya memanas.


"Lalu, kamu sama Hendi kemana? Dia tidak pulang dari kemarin lho!" Bola matanya membesar mengintimidasi Hanna.


"Lho, ko tanya saya? Kan tadi bilang, saya baru aja cuti. Ketemu pak Hendi pun barusan, Bu." Papar Hanna.


"Hanna!" Teriak Sinta dari kejauhan melambaikan tangan.


"Maaf, silahkan anda tanyakan pada pak Hendi jangan saya! Saya sama sekali tidak tau," ucapnya jutek. Dia segera menghampiri Sinta dan mereka pun masuk kantor bersama.


Dia baru saja meluapkan kekesalan yang selama ini dipendamnya, hatinya merasa sedikit lega. Meski bertanya-tanya, "dari mana Hendi semalam?"


"Kalo bukan sama Hanna, kemana perginya Hendi semalam?" Tanyanya dalam hati.


Dia melirik sinis dua perempuan yang membelakanginya.


"Punya karyawan pada berani-berani banget sama bosnya! Dasar kaum rendahan!" gerutunya kesal.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2